Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Menyedihkan


Mala sudah mulai makan makanan nya. Wanita itu meminta Bima untuk membuka mulut karna mau Mala suapi"My boy. Ayo buka mulutnya, Kamu harus cobain ayam rica-rica ini. Enak banget my boy" Ucap Mala yang terdengar nyaring sehingga membuat Devan mendengar suaranya.


Devan yang merasa mendengar suara Mala langsung menoleh ke arah samping yang ternyata di sana ada Mala yang sedang menyuapi Bima dan terlihat sangat bahagia.


"My boy, Kamu harus cobain pakai nasi. Sumpah ini enak banget my boy" Ujar Mala dan menyuapi Bima lagi


" Aku mau kamu juga harus cobain chicken wing ini sayang. Rasanya juga sangat enak" Balas Bima sambil menyuapi Mala dengan penuh cinta


Begitu terlihat jika kedua orang itu terlihat sangat bahagia. Devan bisa melihat jelas Mala yang terus mengangkat kedua sudut bibirnya saat sedang bersama dengan Bima.


Pandangan Devan masih terus tertuju pada Mala. Tanpa sedetik pun mau berpaling dari sana. Nadia yang menyadari Devan juga langsung ikut menoleh ke arah pandangan Devan yang langsung menampakkan Bima sedang bermesraan dengan Mala serta dengan senyum yang begitu merekah dari kedua sudut bibirnya.


Dadanya terasa begitu sakit hingga sampai ke relung hatinya. Pandangan itu sudah langsung membuat Nadia menundukkan wajahnya. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat pemandangan itu.


"Bagaimana rasanya? Sakit bukan saat melihat orang yang sangat kita cintai sudah bahagia bersama dengan orang lain" Ujar Nadia tiba-tiba dan langsung membuat Devan menoleh ke arahnya.


"Benar Nad. Rasanya teramat sakit. Seperti luka di siram dengan air gaman. Perihnya benar-benar terasa hingga ke ulu hati" Pungkas Devan yang terdengar begitu lirih


"Benar Van. Bukan hanya kamu yang merasakan sakit itu. Aku tau bagaimana apa yang kamu rasakan saat ini" Seru Nadia pilu


Mereka berdua kembali menoleh ke arah Mala dan Bima yang masih terlihat saling bercanda tawa. "I Love you istriku sayang" Ucap Bima pada Mala sambil menggenggam tangannya lembut


"I Love you more suamiku" Balas Mala sambil menatap Bima dengan dalam


Karna di sana hanya ada mereka berempat. Tentu saja Nadia dan Devan bisa mendengar jelas apa yang saat ini mereka bicarakan. Namun sayangnya Mala dan Bima yang terlalu asyik berdua sampai tidak menyadari keberadaan Nadia dan Devan di sana.


"My boy, Lihat itu. Bintangnya sangat indah ya" Seru Mala sambil menunjuk pada bintang yang bertaburan di atas langit


"Iya sayang. Bintangnya sangat indah. Seperti kamu yang selalu indah di mata aku"Ucap Bima sambil terus menatap Mala dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


"Iiiiiihh gombal deh my boy" Ucap Mala sambil Noel hidung Bima


"Kok gombal sih sayang. Aku gak gombal, ltu kenyataan istriku. Kamu memang selalu terlihat indah di mataku. Aku sangat mencintaimu sayang"


"Terimakasih sudah mengijinkan aku untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupmu sayang" Ucap Bima lagi yang terdengar begitu lembut


Nadia yang mendengar perkataan Bima yang begitu lembut menatap iri pada Mala. Seharusnya kata-kata itu Bima katakan padanya, Bukan pada wanita lain.


"Harusnya aku yang ada di sana" Ucap Nadia tanpa sadar


"Gara-gara Andika. Hidupku benar-benar hancur"Ucap Nadia dengan kedua mata memerah


Devan yang melihat rau wajah Nadia langsung menatapnya. Pria itu tiba-tiba teringat jika akan membalaskan dendam Nadia terhadap pria yang bernama Andika sanjaya.


"Aku akan menepati janjiku" Ucap Devan sambil menatap Nadia


Nadia yang mendengar perkataan Devan seketika langsung menoleh ke arahnya. "Serius Van. Kamu gak sedang berbohong kan?" Tanya Nadia antusias


"Iya. Aku akan menepati janjiku waktu itu"


Karna terlalu senang. Nadia bangun dari duduknya dan langsung memeluk tubuh Devan dangat erat. Bahkan Nadia tidak sadar dengan apa yang saat ini sedang dia lakukan.


"Terimakasih Van. Kamu adalah malaikat penolongku" Ujar Nadia sambil terus memeluk Devan erat


"Sama-sama. Terima Kasih juga karna kamu sudah membantu aku kala itu" Seru Devan sambil membalas pelukan Nadia


Bima dan Mala yang mendengar suara sedikit bising serta tidak terlalu asing membuat mereka berdua menoleh ke meja Devan dan Nadia yang saat ini sedang berpelukan sangat erat.


Mala yang melihat Devan berpelukan begitu erat membuat wanita itu teringat akan perkataan Devan tadi saat di pantai.


Status kita memang sudah berubah. Tapi tidak dengan perasaan ku. Because you are the only one in my heart


Kata-kata itu tiba-tiba terngiang pada indra pendengaran Mala"Dasar pria buaya. Baru juga tadi yang mengatakan jika hanya aku lah wanita satu-satunya yang ada di hatinya. Tapi ini sudah berpelukan dengan wanita lain. Tapi tunggu deh, Kenapa aku seperti pernah melihat wanita itu ya. Tapi dimana" Mala bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap Devan dan Nadia yang masih belum melepaskan pelukannya


"Dua komplot sedang bersama. Sepertinya mereka berdua cocok kalau jadi pasangan" Ujar Bima tiba-tiba


"Maksudnya bagaimana my boy?. Kenapa kamu bilang 2 komplot. Aku tidak paham" Tanya Mala sambil menatap wajah Bima


Pria itu tak langsung menjawab. Bima masih mengambil nafas berat, Bima masih mikir 2 kali untuk mengatakan tentang Nadia pada Mala.


"My boy. Kok diam saja sih" Ucap Mala lagi


"Wanita itu adalah Nadia sayang"


Mendengar kata Nadia membuat Mala langsung merubah ekspresinya"Pantas aku merasa tidak asing dengan wajah wanita itu. Ternyata dia adalah orang yang sudah menculik kedua putraku" Ucap Mala dan langsung bangkit dari duduknya


Bima yang melihat Mala berjalan ke arah meja Nadia dengan wajah yang terlihat menahan amarah. Melihat istrinya seperti itu membuat Bima mengekor di belakang Mala.


Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba Mala membalik tubuh Nadia yang masih memeluk Devan sangat erat dan langsung menampar pipi kanan Nadia.


Plakkkk


Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi kanan Nadia. Ini baru pertama kalinya Mala melakukan itu.


Mendapat tamparan seperti itu membuat Nadia membulatkan kedua matanya. "Apa-apaan ini?" Tanya Nadia sambil mengusap pipi kanannya


"Kamu nanya? Apa-apaan! Itu belum seberapa Nadia. Karna apa yang sudah kamu lakukan lebih padah dari pada ini. Dan jangan harap aku akan membiarkan kamu lolos begitu saja. Karna aku akan membawa masalah ini pada jalur hukum" Ucap Mala dengan kedua mata yang terlihat merah


Devan yang melihat itu hanya bisa tercengang. dia tidak habis pikir jika Mala bisa melakukan hal yang tak pernah sedikitpun terbayang dalam benaknya.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti" Gumam Nadia yang masih mencoba mengelak


"Tidak perlu pura-pura tidak tau Nadia. Karna aku sudah tau semua yang kamu lakukan. Aku masih begitu ingat dengan wajah kamu yang begitu pasaran"


Mendengar perkataan Mala membuat Nadia meradang."Apa katamu. Wajahku terlihat pasaran. Jaga bicara kamu ya!" Ucap Nadia dan mengangkat tangannya untuk membalas tamparan Mala


Namun aksinya terhentikan saat tangan Bima dan Devan sama-sama menangkis tangan Nadia."Jangan pernah berani menyentuh wanitaku. Karna kamu akan langsung berurusan dengan ku, Suaminya" Ucap Bima dengan penuh penekanan


"Ingat Nadia. Aku tidak akan pernah membiarkan masalah yang sudah kamu perbuat. Aku akan membawa masalah ini pada jalur hukum. Bisa-bisanya kamu menculik bayi yang baru aku lahirkan" Ucap Mala lagi


Mendengar itu membuat Nadia menatap Mala dengan tajam"Berani kamu ya" Ucap Nadia sambil mengangkat tangannya kembali.


Namun tangan itu dengan cepat Devan tahan dengan tangannya. "Hentikan Nadia. Apa maksud kamu mau menampar Mala. Apa kamu lupa jika"


Perkataan Devan terpotong saat suara Nadia tiba-tiba menimpalinya. "Jika Mala adalah wanita yang amat kamu cintai. Iya kan!"Ujar Nadia dan langsung pergi dari sana


"Pria bucin tidak tau diri" Umpatnya yang terdengar begitu kesal


Entah kenapa Nadia merasa sangat tidak suka saat mendengar Devan membela Mala. Nadia benar-benar meradang saat kedua pria itu sama-sama membela Mala.


Wanita itu keluar dari dalam restoran dengan membawa perasaan perasaan yang teramat sakit."Aaaaarrrggggh. Dasar pria-pria menyebalkan. Apa hebatnya wanita itu. Kenapa mereka berdua begitu tergila-gila padanya. Perasaan aku tidak kalah cantik dengannya" Ucap Nadia setelah tiba di luar restoran


Sedangkan di dalam restoran. Bima yang mendengar perkataan Nadia langsung menatap Devan yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Aku ingatkan kak. Jangan cintai istri Bima. Karna saat ini Mala sudah menjadi milik Bima. Dan kakak hanyalah masa lalunya" Ucap Bima sambil menatap Devan tajam


Rasanya begitu sakit saat mendengar wanita yang amat di cintainya juga masih di cintai oleh mantan suaminya.


Mala yang melihat keadaan sudah semakin tidak kondusif membuat wanita itu mengajak Bima untuk kembali ke penginapan.


"Sudah my boy. Lebih baik kita kembali ke penginapan" Ucap Mala sambil menarik tangan Bima


"Lupakan istri Bima kak!" Ucap Bima penuh penekanan dan langsung melangkahkan kakinya turun dari Rooftop.


Devan yang mendengar perkataan Bima langsung memejamkan kedua matanya yang terasa perih. Jantungnya berdenyut nyeri. Pria itu menatap kepergian Mala dan Bima dengan penuh luka.


"Kenapa rasanya harus sesakit ini. Kenapa percintaanku harus menyedihkan seperti ini" Ucapnya sambil menundukkan wajahnya


Setelah itu. Devan juga ikut turun dari Rooftop. Pria itu terus menatap Mala dan Bima dengan rasa sakit yang teramat sakit hingga tembus ke relung hati. "Kenapa hubungan kita harus berakhir seperti ini Mala. Menjadi kakak dan adik ipar. Sungguh menyedihkan" Ucapnya sendu