
" woy van, ngapain lo senyum-senyum sendiri? kesurupan lo"
" jangan berisik" lirih devan dengan nada dinginnya.
fino dan devan pun segera berangkat ke tempat meeting, dan ternyata di sana sudah ada wilson yang menunggu.
ya, devan meeting bersama wilson. pewaris utama perusahaan atmaja yang bergerak di bidang kontruksi.
" maaf pak wilson saya terlambat, soalnya tadi masih ngantar istri saya ke kampusnya" ucap devan setelah sampai di meja yang telah di pesan sebelumnya.
" tidak apa-apa pak devan, saya juga baru saja sampai"
Wilson adalah laki-laki yang ramah, tidak dingin seperti devan, pria itu memiliki wajah tampan, hidung mancung, rambut klimis, dan juga pintar di berbagai bidang,
perusahaan atmaja berdiri sejak 1tahun setelah meninggalnya lina, istri dari bapak atmaja,
setelah keluarga Atmaja memilih jalan damai dan membebaskan devan, keluarga adiwijaya memberikan modal usaha untuk atmaja,
dari situlah atmaja memulai perusahaannya hingga maju pesat akhir-akhir ini.
apalagi setelah di kelola oleh wilson. perusahaan itu semakin menjulang tinggi.
" silahkan dimulai meeting nya pak"
wilson pun langsung memulai meeting, ternyata benar apa kata orang, bahwa direktur utama perusahaan atmaja begitu kompeten, sepertinya ini akan menjadi proyek yang sangat menguntungkan.
mala dan ketiga sahabatnya sedang menuju warung bakso yang menjadi langganan mereka sejak masuk ke kampus ini,
karna jarak dari kampus tidak terlalu jauh, alhasil mereka hanya perlu jalan kaki untuk tiba di sana.
biarpun warungnya tidak terlalu besar, namun warung bakso mang jajang selalu ramai dengan pengunjung, selain murah, baksonya juga enak.
" mang pesen bakso 4 porsi ya" ucap doni sopan.
" baik den, di tunggu ya"
setelah cukup lama menunggu akhirnya mang jajan datang membawa nampan yang berisi 4 porsi bakso.
" wah enak nih, makasih mang jajang"
" sami-sami neng" balas mang jajang,
" Fix no debat, bakso mang jajang mah tidak ada lawan, selalu enakk, sering-sering traktir lo don" ucap sindy dengan menyantap baksonya yang sudah dia campur dengan saos juga sambel.
" Enak di elo, eneg di gue, gaya lo minta traktir mulu, sekali-sekali kek elo yang traktir kita-kita, ya gak gays"
" sudah sudah jangan mulai, kita lagi makan" timpal mega yang sudah mulai terganggu dengan dua manusia di depannya.
Mereka pun makan dalam hening, setelah selesai makan bakso ternyata di luar mendung, pertanda jika sebentar lagi hujan akan turun.
" eh kayaknya mau hujan deh,"
" iya nih, honey kamu di jemput sama suami apa gimana"
" eem, kayaknya pesen taksi atau ojol deh, soalnya mas devan lagi ada meeting. gak bisa jemput"
" yaudah kalo gitu kamu bareng kita aja honey, kebetulan aku bawa mobil" tawar doni pada mala
" Iya mal, lebih baik elo bareng kita aja, nebeng sama si doni," timpal mega
" Yaudah deh, udah sore juga"
Akhirnya mala mengiyakan ajakan sahabat-sahabatnya untuk pulang bersama,
Tak banyak bicara doni langsung balik ke kampus buat mengambil mobilnya. sedangkan mala dan yang lain masih stay di warung mang jajang sambil menunggu doni,
Tanpa terasa ternyata di luar sudah turun hujan, tak lama kemudian doni pun datang,
tin...tin...
doni membunyikan klakson mobilnya untuk memberi kode pada ketiga wanita yang sedang menunggunya di dalam.
mendengar klakson mobil ketiga wanita itu pun keluar dan memasuki mobil doni yang sudah terparkir di depan warung mang jajang.
" honey ini kamu mau diantar kemana?"
" baiklah honey"
karna jarak antara kampus dengan rumah utama kediaman adiwijaya tidak terlalu jauh, oleh karena itu mereka hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba ke sana.
setelah tiba di kediaman orang tua devan, mala pun turun dan mengajak ke tiga sahabatnya.
" selamat sore non mala," ucap salah satu pelayan
mala tersenyum ramah. " oia mbk, apa mama ada?"
" ada non, tuan juga ada di dalam"
mala tak lagu menyaut, wanita itu segera masuk dengan ketiga sahabatnya yang mengekor di belakang
"wih gila, ini rumah apa istana, gede bener, gue pikir rumah mala yang dulu udah gede, ternyata ada yang jauh lebih gede" ucap sindy sambil geleng geleng menatap takjub rumah orang tua devan,
" woy petasan, ngapain elo geleng-geleng gitu" lirih doni mengagetkan sindy
" berisik lo kaleng rombeng" balas sindy kesal
" udah udah, jangan berantem terus" timpal mega yang selalu jadi penengah di antara mereka.
Mereka pun tiba di ruang tamu rumah devan
" Assalamualaikum ma, pa" ucap mala sopan dan mencium punggung tangan kedua mertuanya
melihat kedatangan mala, yasmine menyambut dengan sangat heboh,
" sayang, kenapa kamu kesini gak bilang-bilang mama nak, devan mana?' tanya yasmine sambil memeluk menantu kesayangannya
" iya maaf ya ma, mala ga telfon dulu, rencananya malam ini mala sama mas devan mau nginep disini ma, tapi mas devan mas ad meeting, mala kesini di antar sama sahabat-sahabat mala ma"
mala melirik ketiga sahabatnya, dan memperkenalkannya pada sang mama mertua.
" honey aku boleh numpang toilet gak, kebelet" ucapan doni membuat yasmine sedikit mengerutkan keningnya.
" honey? Kok doni manggil mala honey?"
tanya yasmine penasaran
" eh, maaf tante, saya sudah biasa panggil mala honey, soalnya dia selalu jadi guru yang baik buat saya, gak ada maksud apa-apa kok tante" jelas doni pada kedua mertua mala yang terlihat begitu penasaran.
" oh ya sudah, katanya mau ke kamar mandi, kamar mandinya ada di ruang tengah, dari sini tinggal lurus aja terus belok kanan ya"
" baik tante, terimakasih"
setelah kepergian doni mala melirik mala minta penjelasan tentang yang di bilang doni. soal guru yabg baik.
" sayang ,mama masih belum terlalu paham, maksudnya jadi guru yang baik gimana ya sayang"
" oh jadi doni itu kan anaknya suka tidur ma, jadi setiap jam pelajaran, dia gak tau fokus. alhasil aku yang selalu jadi sasaran dia buat minta penjelasan"
yasmine pun mengangguk paham.
sore berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07:30 malam, namun devan belum juga pulang, mala sudah memasak berbagai macam masakan yang dia bisa,
dari wangi dan tampilan nya saja sudah sangat terlihat jika semua masakan mala rasanya pasti sangat lezat,
devan akhirnya datang dengan wajah yang sedikit di tekuk.
" kenapa kamu van, pulang pulang muka kayak koran bekas, lecet amat, " ucap papa devan dengan menatap heran anaknya.
devan tetap berjalan ke arah mala, tanpa menggubris ucapan orang tuanya.
tanpa basa basi pria itu menghampiri mala dan langsung menanyakan tentang laki-laki yang tadi memanggil istrinya dengan sebutan honey.
" sayang siapa laki-laki yang panggil kamu honey?"
Terimakasih selalu setia kak, jangan lupa baca juga karyaku yang lain ya.
✓Terpaksa menikahi calon adik iparku
✓ Love me, kapten