Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa bingung Devan


"Adelia buta ma" Ucap Rendi yang terdengar sangat lirih


"Apa!! Buta?" Ucap Sandra yang sangat terkejut


Memang selama ini Sandra tidak terlalu perduli dengan apa yang sudah terjadi pada Adelia. Karna yang dia tau, Adelia sudah membuatnya benci karna apa yang telah Adelia lakukan terhadap anak satu-satunya.


Dulu memang Sandra begitu menyayangi Adelia karna memang Sandra tidak memiliki anak perempuan. Tapi rasa sayang itu hilang setelah Sandra melihat Rendi yang kala itu begitu terluka karna ulah Adelia.


"Syukuri. Itu mungkin adalah karma atas apa yang selama ini Adelia lakukan Rendi. Mama merasa mau tertawa saat mendengar berita tentang Adelia yang begitu menyedihkan"


"Mama!! Kok mama malah senang di atas penderitaan orang lain. Terlebih lagi dia adalah ibu dari cucu mama. Apa mama tidak merasa simpati atau minimal iba sedikitpun" Ucap Rendi pada Sandra


"Untuk apa aku harus merasa iba atau simpati pada wanita ular sepertinya. Dengar ya Rendi, Mau sampai kapan pun, Mama tidak akan pernah merestui jika sampai kamu kembali lagi sama wanita sialan itu. Mama sudah terlanjur sakit hati Ren"Ujar Sandra dan langsung berlalu dari hadapan Rendi.


Rendi tak lagi menjawab perkataan mamanya. Dia sudah cukup paham dengan karakter mamanya. Jika Sandra sudah mengatakan tidak, Maka tidak ada siapapun yang bisa merubah keputusan Sandra. Baik Rendi ataupun Grahama, Suaminya.


"Bagaimana caranya agar mama mau menerima Adelia kembali" Ucap Rendi sangat lirih


Tak berselang lama. Grahama yang sejak tadi menyaksikan dari atas tangga langsung berjalan menghampiri Rendi. Dia cukup tau bagaimana sifat keras kepala istrinya.


"Pa" Ucap Rendi sambil melirik pada papanya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Grahama yang melihat raut sendu Rendi hanya bisa menepuk pelan punggung anaknya. Karna Grahama tidak tau harus melakukan apa untuk membantu masalah Rendi.


Karna apa yang dulu sudah Adelia lakukan benar-benar membuat Sandra merasa sangat kecewa sekaligus terluka.


"Sudah. Kamu berdoa saja. Semoga suatu saat nanti mama kamu mau menerima Adelia lagi" Ucapnya lembut sambil menepuk punggung Rendi. Memberikan dukungan atas apa yang Rendi rasakan saat ini.


"Iya pa. Tapi jujur saja pa, Rendi masih sangat mencintai Adelia. Adelia benar-benar sudah menjadi pemilik hati Rendi pa" Ucap Rendi sendu


"Papa tau. Jika kalian berjodoh, Percayalah, Suatu saat nanti akan ada jalan yang akan mempersatukan kalian kembali" Ucapnya Grahama lagi


Di Tempat Lain


Bima dan Mala saat ini masih menemani Bintang yang sudah di pindah ke ruangan rawat. Setelah di lakukan pemeriksaan, Ternyata dokter menyarankan agar Bintang di rawat di dulu dalam waktu yang tak di tentukan. Dengan tujuan agar Bintang bisa mendapatkan penanganan eksklusif oleh pihak rumah sakit.


"My boy. Memangnya mas Devan beneran mau kesini?" Tanya Mala pada Bima sambil menatap pria itu


"Sepertinya seperti itu sayang. Tepat seperti apa yang Reno katakan" Ucap Bima lembut


"Tapi untuk apa dia datang kesini?"


"Ya tentu saja seperti apa yang aku katakan tadi sayang. Dia kesini pasti akan menegosiasi perihal masalah partnernya"


"Partner?Maksud kamu Nadia?" Tanya Mala penasaran sambil menatap Bima


"Ya siapa lagi kalau bukan wanita itu sayang. Dia kan Partnernya kak Devan" Ucap Bima lagi


Mala belum sempat menjawab tiba-tiba saja pintu ruangan rawat Bintang terbuka. Ternyata yang datang adalah Devan bersama dengan Nadia pastinya.


"Kok kak Devan tau kalau Bintang sudah di pindah ke sini?" Tanya Bima


"Tanya sama resepsionis tadi. Bagaimana keadaan Bintang?" Tanya Devan sambil mendekat pada Bintang yang saat ini sudah tidur kembali


"Alhamdulilah keadaan Bintang sudah membaik kak. Tapi dokter masih meminta Bintang di rawat di sini agar dokter bisa selalu mengecek keadaan Bintang secara berkala"


"Syukurlah kalau begitu. Kejadian sudah membuat aku tau kebenaran yang selama ini kalian sembunyikan. Masih tak habis pikir, Apa yang sebenarnya ada di pikiran kalian berdua. Menyembunyikan fakta bahwa Langit dan Bintang adalah anak kandung ku" Ucapnya sambil menatap Bima dan Mala secara bergantian


Nadia yang mendengar itu tentu saja cukup merasa sangat terkejut. Ternyata apa yang baru saja dia dengar dari Devan benar adanya. Devan tidak sedang mengada-ngada.


"Jadi apa yang tadi kamu katakan benar Van. Langit dan Bintang anak kampung kamu? Tapi kok bisa? Bukankah hasil tes DNA kemaren sudah menunjukkan bahwa hasilnya negatif. Kok bisa kamu mengatakan mereka anak kandung kamu?" Tanya Nadia begitu penasaran


"Ya bisa. Karna Sifa yang sudah menukar sampel mereka. Untung saja tadi pagi Sifa mengatakan jika Bintang membutuhkan donor darah. Kalau tidak, Mungkin sampai detik ini aku masih seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa tentang anakku sendiri" Ucap Devan sambil menatap Mala


Mala tak menjawab. Wanita itu memalingkan wajahnya. Entah kenapa setiap melihat wajah Devan, Mala selalu merasa sada rasa pedih dalam batinnya. Pedih karna mengingat saat dia hamil dulu.


"Sudah kak. Bukan kah semuanya memang sudah jelas. Cepat katakan, Untuk apa kak Devan datang kesini" tanya Bima sambil menatap Devan


Devan tak langsung menjawab. Pria itu masih menoleh dan menatap Bima sekilas. Lalu mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Kamu itu lucu Bim. Bagaimana bisa kamu masih tanya untuk apa aku datang kesini, Tentu saja aku ingin melihat kondisi anakku. Anak kandungku" Ucap Devan dengan penuh penekanan.


"Yakin hanya karna itu?" Tanya Bima sambil membalas tatapan Devan


"Tentu saja bukan hanya itu, Aku ingin mengajak negosiasi denganmu"


Mendengar perkataan Devan membuat Bima mengangkat sebelah alisnya. "Negosiasi perihal apa?" Tanya Bima yang pura-pura tidak tau


"Perihal laporan kalian atas Nadia" Ucap Devan pelan


Bima terkekeh dengan perkataan Devan"Untuk apa kamu negosiasi perihal itu, Bukan kah Nadia memang pantas di penjara atas apa yabg sudah dia lakukan. Ayolah kak, Jangan sampai kamu di bodohi nya" Ucap Bima lagi


"Tidak usah banyak bicara. Sekarang kita hanya perlu membuat sebuah kesepakatan saja"


"Kesepakatan apa yang kak Devan mau?" Tanya Bima lagi


"Cabut laporan kalian atas Nadia, Atau" Perkataan Devan terpotong karna Mala dengan cepat menimpalinya


"Atau apa mas?" Ucap Mala sambil menatap Devan dengan kedua kata yang terlihat menahan amarah.


"Atau apa mas. Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak mau mencabut laporan itu, Cepat katakan apa yang akan kamu lakukan mas?" Ucap Mala sambil terus Devan


Deg!


Devan melihat tatapan Mala entah kenapa merasa lidahnya begitu kelu. Tatapan itu baru kali ini Devan lihat dari seorang Mala. Dan hal itu membuat Devan bingung harus mengatakan apa