Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa terkejut Nadia


"Mal lagi, Ayolah Van belajar move on" Ucap Nadia penuh penekanan terhadap Devan


"Entahlah Nad. Sepertinya susah. Kenangan aku bersamanya terlalu indah" Ucap Devan yang terdengar sangat lirih


"Kenangan indah memang susah untuk di lupakan Van, Tapi apakah kamu selamanya harus memendam rasa sakit itu. Apa kamu kuat dan sanggup merasakan hal itu terus-menerus" Ucap Nadia sambil menatap Devan


"Sudah, Lebih baik sekarang kamu makan lagi, Tidak usah memikirkan hal itu dulu." Ucap Nadia pada Devan


"Sini buka mulutnya, Buka mulutnya, Biar aku suapi ya" Ucap Nadia sambil menyuapkan nasi beserta sup ayam jahe itu pada mulut Devan.


Anehnya, Devan malah menuruti perkataan Nadia. Pria itu benar-benar membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Nadia.


"Makan yang banyak. Menghadapi nasib yang menyedihkan juga butuh tenaga" Ucap Nadia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Devan terkekeh mendengar perkataan itu"Kamu benar Nad. Butuh tenaga ekstra untuk menghadapi hidup yang sangat konyol ini" Balas Devan pelan


"Sekarang giliran kamu yang harus buka mulut. Ayo sini aku suapi" Ucap Devan pada Nadia


Nadia juga mengikuti perkataan Devan. Wanita itu membuka mulutnya dan menerima. suapan pertama dari Devan. Laki-laki pertama yang menyuapi Nadia dengan kelembutan seperti itu.


Tanpa sengaja Nadia menoleh pada Devan dan tatapan itu tepat di kedua manik mata Devan. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Namun tidak ada yang mau memutuskan pandangan itu.


"Cantik. Tampan" Ucap mereka secara bersamaan


Tanpa sadar mereka sudah saling memuji. Nadia mengangkat kedua sudut bibirnya mendengar perkataan Devan. Begitu juga Devan yang juga ikut mengangkat kedua sudut bibirnya saat mendengar perkataan Nadia.


"Baru sadar" Ucap mereka secara bersamaan lagi


Sedetik kemudian. Mereka terkekeh dengan apa yang baru saja mereka katakan. "Lucu ya" Ucapnya secara bersaman lagi


Di tempat lain


"Mi, Apa Bima sudah ada menghubungi mami?"Tanya Sunder pada Lina


"Belum pi, Mami telpon juga tidak bisa" Jawab Lina sambil menoleh pada Sunder


"Biar papa telpon asisten rumah, Mereka berdua tentu akan pulang ke rumah papa" Ucap Kakek Lustama yang sejak tadi juga ikut bersama dengan mereka di sana


"Ita pa, Coba papa hubungi salah satu dari mereka. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana" Jawab Sunder cepat


Mendengar itu membuat kakek Lustama mengambil ponselnya dan langsung menghubungi asisten rumah nya. Tak butuh waktu lama, Seseorang di ujung telpon langsung menjawab panggilannya.


πŸ“ž:Halo tuan. Ada yang bisa saya bantu?


πŸ“ž:Apa Bima ada di sana?


πŸ“ž:Ooh tuan muda. Iya tuan besar, Tuan muda ada di sini. Tapi saat ini tuan muda membawa kita semua jalan-jalan.


πŸ“ž:Jalan-jalan?


πŸ“ž:Ita tuan. Tuan muda mengatakan katanya biar kita tidak stres


πŸ“ž:Ya sudah. Nanti tolong katakan pada Bima jika saya menelpon


πŸ“ž:Baik tuan.


Setelah itu. Sambungan telponnya terputus. Kakek Lustama langsung mengatakan pada Sunder dan juga Lina tentang apa yang dia dengar dari asisten rumahnya.


"Bagaimana pa?" Tanya Sunder penasaran


"Bima sedang membawa mereka liburan" Jawab Kakek Lustama sambil menoleh pada mereka berdua.


Tak berselang lama, Yasmine dan Wijaya keluar dan membawa barang-barang mereka. Sesuai yang sudah di rencanakan, Mereka berdua memang akan kembali ke indonesia hari ini juga.


"Wijaya, Yasmine. Kalian benar-benar mau kembali hari ini?" Tanya Sunder saat melihat Yasmine dan Wijaya membawa barang-barang mereka


"Iya kak. Sudah satu minggu lebih kan aku disini. Tidak enak meninggalkan rumah lama-lama" Jawab Yasmine sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Mendengar itu membuat Sunder dan Lina saling lirik"Kan ada Devan disana?" Ucap Sunder


"Devan gak bakal pulang ke rumah kak. Palingan saat ini dia sedang ada di apartemennya"


"Oh ya. Sama dong dengan Bima. Anak itu memang tidak mau tinggal bersama dengan kami. Bima lebih memilih tinggal sendiri di apartemen"


"Ya begitulah anak jaman sekarang kak. Lebih mementingkan dunianya sendiri"Ucap Wijaya


Setelah itu, Sunder dan Lina pamit pada kepada kakek Lustama untuk mengantar Yasmine dan Wijaya ke bandara. Karna ini memang waktu penerbangan tinggal 30 menit lagi.


"Pa. Aku sama Yasmine balik duluan ke jakarta ya" Pamit Wijaya pada kakek Lustama


"Iya, Kalian hati-hati ya. Kalau sudah sampai kabari papa"


"Pasti pa" Jawab Wijaya dan Yasmine secara bersamaan dan langsung mencium punggung tangan Kakek Lustama.


Di Tempat Lain


Saat ini Mala sedang menggendong Bintang yang sudah membuka kedua matanya. Tidak henti-hentinya Mala mengangkat kedua sudut bibirnya. Akhirnya malaikat kecilnya sudah bangun juga.


"Bim, Aku bahagia sekali, Akhirnya Bintang sudah sadar" Ucap Mala sambil membelai lembut pipi Bintang.


"Aku juga sangat bahagia sayang. Akhirnya Bintang sudah sadar ya. Aku ikut bahagia liat kamu bahagia sayang"


"Terima Kasih kami sudah selalu setia temani aku ya My boy" Ucap Mala sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Tidak perlu berterima kasih sayang, Ini memang sudah menjadi tugas aku. Melihat kamu bahagia adalah salah satu tujuan hidupku" Ucap Bima yang terdengar sangat lembut


"Aku beruntung memiliki kamu My boy. Kamu benar-benar seperti pelangi buat aku yang sangat merindukan pelangi itu"


"Istriku sayang, Bukan hanya kamu yang beruntung, Bahkan aku juga merasa sangat beruntung karna sudah bisa memiliki kamu. Kamu adalah hal yang paling penting dalam hidupku. Kamu lebih berharga dari pada harta yang aku miliki"


Mendengar perkataan Bima membuat Mala mengangkat kedua sudut bibirnya. Wanita itu merasa benar-benar bahagia. Akhirnya dia di pertemukan dengan sosok suami seperti Bima.


Seorang laki-laki tampan yang sangat mencintai dan juga menyayanginya melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Bahkan Bima rela melakukan apapun demi Mala.


Bima benar-benar membuktikan kebesaran cinta yang dia miliki untuk wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Setelah cukup lama menunggu, Akhirnya Bima juga bisa merasakan cinta itu dari sosok Mala.


"Aku mencintaimu my boy" Ucap Mala sambil menatap Bima dalam


"Aku lebih mencintaimu sayang, Kamu segalanya"


"Oh ya sayang, Aku sudah meminta Reno untuk melaporkan Nadia ke polisi" Ucap Bima pada Mala


"Benarkah. Apa kamu sudah ada bukti kuat untuk melaporkan Nadia?" Tanya Mala


"Kalau soal itu, Kita serahkan pada Reno sayang. Reno sangat bisa di andalkan"


"Aku mau Nadia mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang sudah dia lakukan dengan mereka berdua"


Di tempat Lain


Nadia dan Devan masih terus bertatapan. Tanpa terasa, Jantung Nadia berdegup sangat kencang. Wanita itu memalingkan wajahnya agar detak jantungnya tak semakin cepat.


Entah kenapa tatapan Devan sudah mampu membuat jantung Nadia berdegup sangat kencang. Apakah wanita itu sudah mulai merasakan getaran cinta. Entahlah. Hanya Nadia yang tau soal itu.


"Ada apa dengan jantungku. Kenapa harus berdegup kencang seperti ini" Ucap Nadia dalam batinnya.


Tak berselang lama, Ponsel Nadia berdering. Ada panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Wanita itu memicingkan kedua saat melihat siapa yang menelponnya.


"Siapa? Kok gak diangkat?" Tanya Devan karna Nadia membiarkan telpon itu


"Oooh bukan siapa-siapa. Aku tidak kenal nomornya" Jawab Nadia sambil meletakkan kembali ponselnya


Namun lagi-lagi ponselnya terus berdering. Dan hal itu dengan terpaksa membuat Nadia mau tidak mau harus mengangkat telpon itu.


πŸ“ž:Halo. Siapa


πŸ“ž:Apa benar ini dengan ibu Nadia?


πŸ“ž:Iya saya sendiri. Ini siapa ya?


πŸ“ž:Saya dari pihak kepolisian mau mengabarkan, Jika siang ini ibu Nadia kami tunggu di kantor polisi


πŸ“ž:Untuk apa ya pak?


πŸ“ž:Ibu datang saja. Ada seseorang yang sudah melaporkan ibu atas dasar penculikan bayi


πŸ“ž:Apa!!


Betapa terkejutnya Nadia saat mendengar apa yang baru aja orang di ujung telpon katakan. Ternyata Mala dan Bima tidak main-main dengan perkataan mereka tempo bari. Jika Nadia akan mendapat hukuman dari apa yang sudah dia lakukan.