
Betapa terkejutnya Nadia saat mendengar apa yang sudah di katakan seseorang di ujung telpon. Ternyata apa yang Bima dan Mala katakan waktu itu benar. Mereka tidak main-main untuk hal itu.
π:Saya harap ibu Nadia datang ke kantor polisi hari ini. Terimakasih
Setelah itu sambungan telponnya terputus. Nadia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
Devan yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya "Ada apa?" Tanya Devan sambil menatap Nadia
Nadia masih tak menjawab. Wanita itu menoleh ke arah Devan tatapan sendunya. Dan hal itu tentu saja membuat Devan semakin penasaran.
"Ada apa. Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat seperti itu?" Tanya Devan lagi
"A...aku"
"A....aku"
Entah kenapa Nadia merasa lidahnya seakan kelu untuk sekedar mengucapkan apa yang baru saja dia dengar.
"Aku apa Nad? Ayo bicara yang benar. Aku tidak paham?" Ucap Devan sambil mendekat pada Nadia
"Aku di panggil ke kantor polisi" Ucap Nadia yang terdengar sangat lirih
"Apa! Jadi tadi yang menelpon adalah polisi. Tapi karna apa kamu di panggil ke kantor polisi?" Tanya Devan penasaran
"Iya. Tadi itu polisi yang menelpon. Aku di panggil karna mantan istri tercintamu itu"
"Mantan istri tercintaku! Maksud kamu Mala?"
"Iyalah. Siapa lagi kalau bukan wanita itu. Bener-bener dia ya. Padahal kan biarpun aku membawa kedua anaknya, Aku sudah memperlakukan mereka dengan baik. Aku gak jahatin mereka"
"Tolong aku Van. Aku gak mau di penjara" Ucap Nadia sendu
Devan terdiam beberapa saat"Kapan kamu yang di minta datang?" Tanya Devan sambil menatap Nadia
"Hari ini. Mereka memintaku datang hari ini" Ucap Nadia
"Ya sudah. Aku yang akan mengantarmu. Mandilah dulu. Tidak mungkin kan kamu pergi ke kantor polisi dengan berantakan seperti ini"
Mendengar perkataan Devan membuat Nadia menatap dirinya sendiri. Benar apa kata Devan, Tidak mungkin Nadia datang kesana dengan kondisi seperti ini.
"Tapi kan aku gak punya baju ganti Van. Aku lupa gak bawa yang di penginapan"
"Mandi saja. Masalah baju biar aku belikan"
"Serius Van. Terimakasih ya Van" Ucap Nadia dan tanpa sadar memeluk Devan sangat erat.
Dan hal itu membuat Devan menatap Nadia begitu dalam. Hingga tatapan mereka bertemu kembali. "Maaf maaf. Aku terlalu bahagia" Ucap Nadia sambil melepaskan pelukannya
"Santai aja. Sudah sana cepat mandi. Nanti bajunya aku taruh di kamar"
"Iya" Jawab Nadia lalu langsung masuk ke kamar Devan dan mandi di sana.
Setelah masuk ke dalam kamar Devan, Nadia cukup terkejut dengan interior di sana. Menurut Nadia kamar Devan terlihat sangat elegan, Classic dan juga modern. bener-benar bagus.
"Astaga. Ini kamar bagus sekali" Ucap Nadia sambil terus menatap sekeliling kamar itu
"Interiornya membuat aku jatuh cinta dengan kamar ini" Ucap Nadia lagi.
Di Tempat Lain
Di saat Bim sedang menatap Mala, Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Reno. Melihat nama di layar ponselnya membuat Bima dengan cepat menjawab telpon itu.
π:Ada apa?
π:Begini tuan, Saya sudah membuat laporan seperti yang tuan mau. Sepertinya sebentar lagi akan ada seseorang yang menghubungi tuan
π:Siapa maksud kamu?
Setelah mendengar itu Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu menatap Mala yang saat ini juga sedang menatapnya.
"Ada apa my boy. Kenapa kamu liatin aku seperti itu?" Tanya Mala karna penasaran dengan tatapan Bima
"Nadia sudah di laporkan ke polisi sayang. Dan mungkin saat ini dia sedang ada di sana. Tapi benar apa yang di katakan Reno. Sepertinya sebentar lagi kak Devan akan menghubungi kita."
"Benarkah Nadia suda di laporkan ke kantor polisi? Memangnya untuk apa mas Devan menghubungi kita?"
"Ya tentu saja untuk partnernya lah sayang. Aku yakin, Kak Devan akan melakukan banyak hal supaya Nadia bisa keluar dari tahanan"
"Kalau sampai itu beneran. Mas Devan ini bener-bener keterlaluan. Masa iya masih mau membela wanita yang sudah menculik anaknya sendiri" Ucap Mala lagi
"Ya kita lihat saja sayang" Ucap Bima pada Mala
Apa yang baru saja Bima katakan memang benar. Karna tak lama kemudian, Ponsel Bima kembali berdering, Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Devan.
"Kak Devan telpon sayang" Ucap Bima sambil menunjukkan ponselnya pada Mala
"Angkat saja. Aku juga ingin mendengar apa yang akan dia katakan" Ujar Mala
Akhirnya Bima menjawab telpon itu. Dari suara Devan, Bima sudah bisa menebak jika saat ini Devan sedang ingin tawar menawar dengan nya.
πHalo kak. Ada apa?
π:Kita perlu bicara
π:Bicara apa kak. Bicara saja
π:Tidak bisa lewat telfon. Kita harus bertemu
π:Tapi Bima lagi dirumah sakit kak.
π: Yasudah. Aku kesana sekarang
Devan memutuskan sambungan telponnya. Pria itu menatap wajah Nadia yang terlihat sendu"Tenanglah. Aku tidak akan membiarkan kamu di penjara" Ucapnya sambil menggenggam tangan Nadia
"Tapi aku takut Van. Bagaimana kalau nanti hasil akhir tetep aju harus di penjara? Karna mau bagaimana pun, Di sini aku juga salah"
"Kalau tau itu tidak benar kenapa kamu melakukannya?"
"Karna aku pikir gak dapat bapaknya, Anaknya pun boleh kan" Ucap Nadia pelan
"Tapi sayangnya dia bukan anak Bima. Mereka berdua adalah anak-anakku" Ucap Devan
Mendengar itu membuat Nadia tertawa"Jangan ngarang. Kalau ngimpi jangan ketinggian. Karna jatuh itu sakit Van. Ada ada saja mengaku mereka anaknya. Dari wajahnya saja sudah terlihat jik mereka mirip dengan Bima. Lagian hasil tes DNA kemarin juga sudah terlihat. Jika DNA kamu dengan mereka tidak cocok. Haha ada ada saja kamu ini" Ucap Nadia di sela tawanya
"Eh Nadia. Gak usah sok tau. Kita lihat saja nanti. Sudah ayo kita berangkat. Akan aku tunjukkan jika aku tidak bermimpi mengatakan jika mereka berdua adalah anak-anakku" Gumam Devan sambil menarik tangan Nadia
"Baiklah. Kita lihat saja nanti. Hahaha" Wanita itu masih terus tertawa dan membuat Devan merasa sangat kesal.
"Mau terus menertawakan aku? Oke fine, aku biarkan saja kamu di penjara" Ucap Devan dan langsung mempercepat langkahnya
Mendengar itu membuat tawa Nadia seketika berhenti. Karna mau bagaimanapun, Nadia tentu tidak mau di penjara. Wanita itu berlari dan memeluk tubuh Devan dari belakang. Hal itu sempat membuat Devan terkejut.
"Iya iya maaf ya pak Devan. Gak akan ketawa lagi deh" Ucap Nadia sambil memeluk Devan dari belakang.
"Apa-apaan ini. Lepasin gak! Ini tempat umum Nadia. Malu di lihat banyak orang" Ucap Devan sambil mencoba melepaskan tangan Nadia dari perutnya
"Tapi aku tidak malu. Biarkan saja mereka yang mau melihat. Mereka kan punya Mata. Aku tidak akan melepaskan jika kamu masih mau membiarkan aku dipenjara, Aku tidak akan melepaskan ini"
"Oke fine. Dasar wanita gila" Umpat Devan dan langsung melangkahkan kakinya kembali
"Eh hati-hati sama ucapan anda. Nanti saya buat anda tergila-gila baru tau rasa" Ucap Nadia sambil mengekor di belakang Devan