
" Terimakasih Bim kamu selalu ada di saat aku rapuh seperti ini" Ujar mala pelan.
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut mala membuat bima semakin mengeratkan dekapannya. " Tidak perlu berterimakasih sayang, sudah tugasku sebagai seorang suami untuk selalu menguatkan mu disaat hatimu rapuh,"
"Aku beruntung memiliki kamu Bim, maafkan aku yang sampai saat ini masih belum mencintaimu" ucap mala mengatakan hal yang sejujurnya,
Bima tersenyum dengan ucapan mala, pria itu masih terus mendekap istrinya tanpa mau melepaskan dekapan itu, " Aku tidak pernah memintamu untuk membalas perasaanku sayang, bisa menjadi bagian dalam hidupmu saja sudah lebih dari cukup untukku"
Mala membalikkan tubuhnya menatap Bima yang saat ini masih setia memeluknya, Baru pertama kali mereka saling bertatapan seperti itu. Mendapat tatapan lembut dari mala entah kenapa membuat jantung Bima berdetak cepat. Bukan hal baru bagi pria itu merasakan detakan jantung yang lebih cepat, Namun kali ini rasanya berbeda.
Bima memang sering memeluk mala, namu pria itu tidak pernah menatap kedua bola mata mala yang ternyata sangat indah, Apalagi bibir ranumnya yang berwarna merah ceri. Seketika Bima mendekatkan bibirnya pada bibir wanita yang ada di hadapannya.
Kini jarak bibir keduanya sudah sangat dekat, bahkan Bima bisa merasakan deburan nafas mala yang hangat, " Bolehkan?" Tanya Bima sebelum menempelkan bibirnya pada bibir ranum Mala.
Wanita itu tak menjawab hanya memberi anggukan pelan sebagai tanda jika mala mengizinkan bima untuk sekedar menciumnya. Mendapat respon seperti itu tentu saja membuatnya mengukir senyum tipis, senyum yang teramat manis.
Mala memejamkan kedua matanya saat Bima kembali mendekatkan bibir mereka, Setelah bibirnya menyatu sempurna, pria itu sedikit ******* bibir bawah mala yang rasanya sangatlah manis. Hawa dingin membuat ciuman mereka menjadi semakin intents, namun dengan cepat bima mengakhiri aksinya sebelum tubuhnya menginginkan hal yang lebih dari itu.
" Terimakasih sayang" ucap Bima setelah menyudahi ciumannya dengan Mala, Ciuman pertama yang pernah mereka lakukan.
Ciuman yang akan selalu membekas dalam ingatan Bima, Ciuman yang tidak akan pernah Bima lupakan seumur hidupnya, " Terimakasih sudah memberiku kesempatan merasakan kebahagiaan ini sayang, aku tidak akan pernah melupakan ciuman pertama kita," ujar bima dalam batinnya
Hari semakin larut, begitu juga dengan hujan yang semakin deras menyiram bumi yang seharian terkena panasnya sinar matahari. Bima masuk terlebih dahulu karna masih ingin ke dapur untuk mengambilkan minum buat istri tersayangnya.
Setelah kepergian Bima, Mala masih terus memandang derasnya air hujan, wanita itu menoleh ke arah samping karna melihat adanya bayangan tangan dari pantulan cahaya lampu, betapa terkejutnya mala saat melihat tangan siapa yang sedang bermain air hujan itu, Begitu juga dengan orang yang ada di balkon sebelah. Pria itu juga melihat ke arah mala yang saat ini sedang menatapnya, Hingga kedua manik mata mereka kembali bertemu dalam beberapa detik.
Deg, jantung mala seakan berhenti berdetak saat melihat keberadaan Devan di sana. begitu juga dengan devan yang saat ini menatap mala tanpa berkedip, hujan pun reda seketika itu. " Mala " ucapnya tanpa sadar.
Mendengar suara devan menyebutkan namanya membuat mala memalingkan wajahnya ke lain arah, hingga tak lama suara bima mengalihkan pandangan devan dari wanita itu.
" Sayang, ayo masuk, udaranya sudah semakin dingin.?" ucap bima dengan nada yang sangat lembut namun masih bisa di dengar jelas oleh devan.
Mala menuruti apa yang dikatakan Bima, Wanita itu masuk ke dalam kamarnya dengan di ikuti Bima yang mengekor di belakangnya sambil menutup pintu balkon itu.
Setelah tiba di dalam kamar mereka berdua langsung naik ke atas ranjang, Namun keduanya masih terjaga belum ada yang bisa menutup matanya masing-masing.
" Bim" panggil mala
Mendengar namanya di panggil membuat Bima menghadap ke arah wanita yang ada di sebelahnya" Iya sayang kenapa?" Jawabnya yang terdengar begitu lembut seperti biasanya, Bima memang selalu berbicara dengan nada yang sangat lembut. hal itu yang membuat mala selalu merasa nyaman berada di samping pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
" Waktu itu kamu pernah bilang akan menceritakan bagaimana masa kecilmu bukan, bagaimana kalau kamu cerita sekarang saja" Mala memekik sambil menghadapkan tubuhnya ke arah bima yang sudah memandang lebih dulu
" Tapi ini sudah sangat larut sayang, ini sudah waktunya kamu istirahat"
" Tapi aku masih belum ngantuk Bim, ya ya yaa," Ujar Mala memohon
Melihat wajah memelas sang istri membuat bima tidak tega, akhirnya pria itu membenarkan posisi sebelum memulai cerita tentang masa kecilnya, masa kecil yang cukup menyimpan banyak luka di relung hati Bima.
Bima mengambil nafas berat sebelum memulai cerita pahit yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu, sebenarnya sangat berat buat Bima untuk mengingat akan hal itu, hal yang hampir membuat sang papi kehilangan nyawanya, Itulah alasan kenapa bima harus menjadi seorang direktur di usianya yang masih sangat belia.
Flashback bima kecil
Beberapa tahun yang lalu saat usia Bima masih 12 tahun, keluarga bima mendapatkan serangan mendadak dari salah satu musuh besar Sunder ayahnya, Kala itu Bima, sifa dan kedua orang tuanya sedang duduk santai mengobrol di ruang keluarga di rumahnya yang kebetulan hari Weekend, Hari yang paling di tunggu buat semua orang yang kerja kantoran. hari libur dimana bisa menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing.
Tiba-tiba ada segerombolan orang datang menyerang mereka dan mengepung kediaman tuan Sunder, Karna ketidaksiapan akhirnya sunder tertembak tepat di ulu hatinya, Beruntung Bima dan Sifa pandai bela diri. Hingga mereka berdua bisa melawan semua musuh yang datangnya tiba-tiba.
Bima meminta maminya untuk segera membawa sang papi ke rumah sakit, agar segera mendapatkan penanganan, melihat begitu banyak darah yang keluar dari bekas tembakan di dada Sunder membuat Bima semakin membabi buta beberapa orang yang datang menyerang, sampai ada beberapa orang dari mereka yang terbunuh oleh tangan kecil Bima.
Setelah semua musuh sang papi pergi, Bima menyusul ke rumah sakit bersama sifa yang menemaninya, Dada Bima terasa sesak saat melihat keadaan ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Satu hal yang selalu Bima katakan di sela isak tangisnya. " Ya allah, Hamba mohon jangan engkau ambil nahkoda dalam hidupku, kami masih sangat membutuhkan nya ya allah, berikan hamba satu kesempatan untuk membahagiakannya,"
Itu yang selalu Bima ucapkan di setiap sujud nya, bahkan sujud di tengah sepertiga malamnya. Sejak saat itulah Bima yang lembut berubah menjadi seperti psikopat, Rasa takut kehilangan yang sudah merubahnya.