
Saat Bima mau mencium Mala. tiba-tiba pria itu tersadar jika mereka berdua masih di area pemakaman. Dengan cepat Bima mendorong kursi roda Mala agar segera pergi dari tempat itu. Namun saat sudah di dalam mobil, suara petir kembali terdengar dan membuat Mala memeluk Bima erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada Bidang milik Bima.
Jantung Bima kembali berdegup kencang saat mendapat tatapan serta pelukan erat seperti ini. Biarpun bukan pertama kalinya mereka berpelukan, tapi entah kenapa kali ini menurut Bima rasanya beda.
Bima bisa merasakan ada getaran cinta dan sayang dari diri Mala. bukan hanya itu, tatapan Mala terlihat begitu hangat dan begitu dalam padanya.
Hingga tanpa sengaja satu pertanyaan berhasil lolos begitu saja dari mulut Bima. Dan hal itu membuat Mala merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari pada biasanya.
"Apakah kamu sudah mulai cinta atau sayang sama aku, Istriku?"
Mendengar pertanyaan Bima membuat jantung Mala semakin berdetak tak karuan. apalagi tatapan Bima yang terlihat begitu dalam, serta suara lembut itu mampu meluluhkan hati Mala.
"Sepertinya begitu suamiku" Jawab Mala tanpa sadar
Jawaban Mala mampu membuat Bima bersorak riang dalam hati. ingin rasanya pria itu mengatakan kepada dunia, jika wanitanya sudah mulai luluh.
"Benarkah sayang? apa aku tidak sedang bermimpi? kalau pun ini hanya mimpi, izinkan aku tertidur selamanya"
"Tidak suamiku, ini bukan mimpi. ini adalah nyata, aku memang sudah mulai mencintai kamu, semenjak 2 minggu ini, aku merasakan hal yang berbeda"
"Jika ini nyata, biarkan aku bisa merasakan semua ini selamanya istriku. aku sangat mencintaimu" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut pada indra pendengaran Mala
"Aku juga mencintaimu my boy"
Bima tersenyum bahagia. Akhirnya setelah sekian lama cinta itu bisa tumbuh juga dari wanita yang sudah menjadi istrinya.
Hujan semakin deras. Bima tanpa sadar mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Mala. Wanita itu memejamkan kedua matanya dan membuka mulutnya. memberi akses bibir Bima untuk bisa leluasa menciumnya.
Kali ini menjadi ciuman kedua untuk mereka selama menikah, mungkin yang pertama tidak membuat kesan untuk Bima. tapi untuk ciuman kali ini akan selalu membekas jelas dalam ingatan Bima, karna Mala ikut membalas ciumannya.
Cukup lama mereka masih begitu menikmati ciuman itu, hingga tanpa mereka sadari ternyata hujan sudah reda, serta hari sudah mulai malam.
Bima melepaskan bibirnya dari bibir Mala saat merasa tubuhnya sudah mulai menginginkan hal yang lebih dari itu, tapi kesadaran Bima masih mengingatkan jika dirinya tidak akan melakukan itu sebelum Mala melahirkan.
Ya, Bima sempat berjanji pada dirinya sendiri, jika akan meminta haknya sebagai suami nanti setelah Mala melahirkan.
"Terimakasih sayang" Ucap Bima lembut
Setelah itu. Bima menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. karna biasanya kalau habis turun hujan jalanan akan licin.
"My boy" Panggil Mala dengan nada manjanya
"Iya sayang, kenapa?"
"Aku lapar my boy"
Mendengar ucapan Mala membuat Bima mengulum bibir menahan tawa. "Istriku lapar ya, bentar ya sayang kita cari butik dulu, kamu harus ganti baju. setelah itu baru kita cari makan"
"Iya my boy, aku juga sudah kedinginan"
Di tempat lain, tepatnya di sebuah Restoran. Sifa sedang menunggu pesanan yang dia minta untuk di take away. karna memang tidak mau meninggalkan Tania terlalu lama. oleh karena itu, Sifa memutuskan untuk membawa makanan itu pulang.
Namun, saat pesanannya sudah datang. Sifa baru mengetahui jika di Restoran itu tidak bisa bayar menggunakan kartu Atm. harus membayar secara tunai, sedangkan Sifa tidak memegang uang tunai sedikit pun.
"Maaf bu, di sini hanya menerima pembayaran tunai"
"Gimana ya mbk, kebetulan saya gak bawa uang tunai. di dekat sini ada ATM gak ya?" Tanya Sifa yang mulai bingung
"Ada sih bu, cuma jauh"
"Duh gimana ya"
Di saat Sifa sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang mengalihkan perhatian Sifa.
"Berapa Bill nya? biar saya yang bayar" ucap pria itu
"Eh gak usah mas, nanti ngerepotin lagi" Ujar Sifa merasa tak enak hati
"Gak apa mbk, dari pada mbk nya harus jauh-jauh ke ATM, jadi berapa Bill nya?"
"350 pak" Jawab pelayan itu sopan.
"Terimakasih pak"
Setelah kepergian pelayan itu, Sifa melirik Wilson dengan tak enak hati, tidak kenal tapi mau membayarkan makanan pesanannya.
"Duh makasih banyak ya mas, saya boleh minta nomor ponselnya gak, nanti uangnya saya transfer"
"Iya sama-sama mbk. boleh, mana ponselnya biar saya catat"
Sifa memberikan ponselnya pada Wilson. sebenarnya begitu malu akan kejadian ini, Bisa-bisanya Sifa tidak membawa uang tunai, padahal biasanya wanita itu tidak pernah lupa membawa uang tunai di dalam dompetnya.
"Sekali lagi terimakasih ya mas"Ucap Sifa dan berpamitan pada Wilson. namun saat Sifa mau melangkah kan kakinya, suara berat Wilson menghentikan nya.
"Tunggu"
Mendengar itu membuat Sifa berhenti dan kembali menoleh ke arah Wilson. "Iya mas, ada apa?"
Wilson mendekat"Kenalin, nama saya Wilson"
"Saya Sifa" balas Sifa sambil membalas uluran tangan Wilson.
"Em Sifa, kamu pulang naik apa?"
"Aku mau pesan ojek sih mas, kebetulan tempat tinggal saya tidak jauh dari sini"
"Dimana emang?"
"Apartemen Lavender City" jawabnya
"Kebetulan banget dong ya, saya juga tinggal di sana"
"Oh ya,"
"Iya Sifa, bagaimana kalau kamu bareng saya saja, kebetulan kita satu arah kan"
"Gak usah lah mas, saya gak mau merepotkan mas Wilson"
"Sudah tidak apa, tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, lagian di luar juga hujan kan"
Cukup lama diam, akhirnya Sifa menerima tawaran dari Wilson untuk pulang bersama dengannya, karna tidak mungkin jika Sifa lebih lama lagi, sebab tadi Sandra bilang akan pulang setelah maghrib.
"Boleh deh mas, maaf ya baru kenal sudah merepotkan"
"Tidak masalah, ayo"
Meninggalkan Sifa dan Wilson, saat ini Devan mendapat kabar dari Vino, jika mobil milik Doni memang ada yang sengaja membuat rem nya blong, hingga membuat mereka kecelakaan waktu itu.
Devan mengambil ponselnya yang berdering, ternyata ada telpon masuk dari Vino, dengan cepat Devan mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
π :Ada apa Vin?
π : Ada hal penting yang harus kamu tau Van
π : Hal penting! apa?
π : Ini soal kecelakaan yang di alami Mala,Sindy dan Doni
π : Bicara yabg jelas, jangan bertele-tele
π : Ada yang merencanakan kecelakaan itu
π : Apa! siapa?
π : Belum tau Van, tapi yang pasti kecelakaan itu ada yang merencanakan. aku baru dapat kabar dari pihak bengkel, jika rem mobil Doni blong
Setelah mendengar itu membuat Devan langsung mengakhiri sambungan telponnya. "Siapa yang sudah berani melakukan ini" Ucap Devan yang terlihat marah
TERIMAKASIH YANG SUDAH SINGGAH, JANGAN LUPA LIKE KOMEN YA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT.
BACA JUGA KARYA AUTHOR YANG BERJUDUL "SINGLE MAMY" ππ»