
"Bagaimana ini" ucap Andika yang mulai panik.
Memang selama ini Andika hanya beraninya dari belakang. Karna selama ini, Andika hanya bisa mengandalkan anak buahnya.
"Mereka tidak boleh menemukan aku ada di tempat ini. Tapi bagaimana bisa mereka tau jika aku ada disini. Ini kan tempat rahasia yang tak di ketahui oleh siapapun, kecuali, Nadia. Apa jangan-jangan wanita itu"
Belum sempat Andika melanjutkan perkataannya, Tiba-tiba saja dia melihat dua mobil yang sudah berhenti di depan tempat itu. Melihat Bima, Devan, Leon dan juga Nadia keluar dari mobil itu membuat Andika mendengus kesal.
"Argh, Kenapa mereka sudah sampai saja. Bagaimana ini! Sudah tidak ada waktu untuk aku pergi dari tempat ini. Dan mau tidak mau, Aku harus hadapi mereka bertiga" ucap Andika sambil memperhatikan mereka berempat.
Di Luar
"Kamu yakin Andika ada di sini, Nad?" tanya Bima sambil menoleh pada Nadia yang sudah mengekor di belakangnya.
"Yakin, Bim. Ini adalah satu-satunya tempat persembunyian Andika jika sedang menenangkan diri. Lebih baik kita masuk sekarang" ucap Nadia
Bima tak lagi menjawab, Pria itu hanya meminta Nadia untuk berjalan lebih awal, Mengingat Nadia yang tau tentang tempat ini. Mereka bertiga memutuskan untuk mengekor di belakang Nadia.
Setelah pintu terbuka, Benar saja di sana ada Andika yang sedang duduk santai sambil tersenyum miring. Menampakkan ekspresi seakan tidak ada rasa takut, Walaupun sebenarnya jantungnya hampir copot saat melihat raut wajah kemarahan dari Bima.
Pov Bima
Hari ini aku, Kak Devan, Leon dan juga Nadia mendatangi tempat di mana Andika sanjaya berada. Saat melihat keadaan Mala, rasanya kemarahan ku benar-benar berkobar. Bagaimana bisa aku harus kecolongan seperti itu, Wanita yang paling aku cintai terluka karna pria brengsek seperti Andika.
Setelah kita sampai di tempat Andika. Aku liat sosok itu tersenyum miring. Ku berjalan mendekat dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.
"Akhirnya kita bertemu juga brengsek" ucapku sambil berjalan ke arahnya.
"Sabar dulu, Bim" titah kak Devan sambil menepuk pelan pundakku.
"Batas kesabaranku sudah habis, Kak. Orang sepertinya harus di berikan pelajaran" ucapku
Tak mau buang-buang waktu, Aku pun langsung melayangkan satu pukulan pada pipi kiri Andika.
"Segitu saja kemampuan anda, Albima sunder" ucapnya sambil menunjukkan ekspresi senyum yang membuatku jijik.
"Kalau memang berani. Satu lawan satu" ucapnya yang terdengar seakan menantang ku.
"Kenapa tidak, Lho jual, Gue beli" balasku dan meminta kak Devan, Leon, Serta Nadia untuk menjauh.
Kali ini aku akan melampiaskan kemarahan yang sudah naik ke ubun-ubun pada Andika. Sosok bedebah yang sudah membuatku hampir kehilangan nyawa waktu itu, Serta membuat wanita ku harus terbaring lemah seperti saat ini.
Aku yang benar-benar marah langsung membabi buta Andika, Tidak ada kata maaf untuk siapapun yang sudah dengan berani mengusik ketenangan hidup keluargaku.
Bugh...Buhg.....Bug...
"Bedebah, Lho sudah melukai wanita yang begitu gue cintai, Rasakan ini!" ucapku sambil terus memukul Andika yang semakin tak berdaya. Ternyata dia tak sehebat yang aku pikirkan.
"Sudah Cukup. Jangan sampai kamu membunuhnya, Bim" ucap kak Devan yang mencoba menghentikan aksiku.
Satu hal yang ada di pikiranku saat ini, Membalaskan semua yang sudah di lakukan oleh Andika sanjaya. Tepat di pukulan terakhirku, Andika tak sadarkan diri. Namun sebelum itu, Ada satu hal yang dia ucapkan dan membuat aku selalu kepikiran akan perkataannya.
Dasar pria bodoh. Anda hanya akan menjadi bayangan yang tak kan pernah menjadi nyata
Perkataan itu tentu saja langsung berhasil membuatku terdiam. Apa maksud dari perkataan Andika, Aku tidak tau itu.
Tepat setelah mengatakan hal itu, Andika sudah tak sadarkan diri, Ah bukan bukan. Lebih tepatnya Andika sudah tak bernyawa lagi. Aku sudah benar-benar menghilangkan nyawanya.
"Astaga, Bim. Andika sudah tidak bernafas" ucap Leon sambil menoleh ke arah ku.
"Aku tidak perduli, Kak. Yang terpenting aku sudah membalaskan semua rasa sakit yang sejak kemarin sangat menghantuiku" ucapku.
Setelah itu, Kami berempat memutuskan untuk menghubungi polisi dan mengatakan jika ada sebuah insiden kecelakaan yang sudah menimpa Andika. Namun kami sengaja menelfon dengan menggunakan anonim. Atau lebih tepatnya tanpa tanda pengenal.
Tanpa terasa waktu terus berputar, Malam sudah datang. Kali ini aku ada di apartemen ku yang di Aussie. Aku merebahkan tubuhku sambil merenggangkan otot-otot tangan serta otot kaki yang sudah mulai terasa lelah. Hari ini rasanya memang sangat capek.
Aku yang masih terjaga akhirnya mengambil ponselku, Menghubungi sosok wanita yang saat ini sudah menjadi hidup dan mati ku. Siapa lagi kalau bukan Mala.
Saat ini di Aussie sudah jam 01:00 dini hari. Itu artinya di indonesia masih sekitar kurang lebih jam 20:00 malam. Karna memang perbedaan waktu selisih 6 jam antara Aussie dengan indonesia.
Hanya pada dering pertama, Aku bisa langsung melihat sosok yang menjadi sumber semangatku di layar ponselku, Rasanya aku benar-benar merindukan nya. Padahal baru juga kemarin aku yang pergi meninggalkan dia. Tapi entah kenapa saat ini rasa itu sudah menggebu-gebu.
π²:Assalamualaikum, My boy
π²: Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana keadaan kamu?
π²:Keadaan ku alhamdulillah sudah membaik, My boy. Kamu kok belum tidur?
π²:Aku gak bisa tidur, Sayang. Aku sangat merindukan mu. Aku ingin segera terbang ke jakarta.
π²:Di sana sudah malem kan, My boy. Istirahatlah, Aku tidak mau kamu sakit.
π²:Baiklah, Sayang. Kamu juga jangan lupa istirahat ya, Besok aku kembali. Love you sayang.
π²:Iya my boy, Love you more
Setelah itu, Mala langsung memutuskan sambungan telponnya. Cukup tenang rasanya melihat senyum nya sudah mulai terukir kembali.
Tanpa Bima sadari, Ternyata sejak tadi ada Devan yang mendengarkan obrolannya bersama dengan Mala. Devan yang tadi ingin mengatakan sesuatu tanpa sengaja menemukan Bima yang sedang melakukan panggilan Video bersama dengan Mala. Wanita yang hingga detik ini masih menjadi pemilik hatinya.
"Sakit ya, Sudah aku katakan, Lupain Mala. Move on, Karna aku tau, Kesempatan itu hanya tersisa 1% saja"
Suara itu membuat Devan membalikkan tubuhnya. Devan menatap sosok Nadia yang ternyata juga ikut mendengarkan pembicaraan Mala dengan Bima.
"Aku tau itu sakit, Karna bukan hanya kamu yang merasakan. Aku juga merasakan hal yang serupa. Benar-benar terluka saat melihat orang yang begitu kita cintai menjadi milik orang lain" ucap Nadia yang terdengar sangat lirih.
"Benar, Ternyata kita sudah gagal move on" ucap Devan dan langsung berlalu dari depan kamar Bima.