
"Apa kamu sudah melupakan aku?" Tanya Devan yang terdengar begitu pilu.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Devan membuat Mala mengangkat wajahnya.
"Menurut kamu bagaimana? Apa wajahku masih terlihat mencintaimu?"Ucap Mala tanpa ekspresi
"Segampang itu kah kamu melupakan aku Mala?" Kali ini Devan terdengar begitu Lirih
"Kenapa tidak kak. Bima sudah menjadi suami paling baik sedunia. Dia laki-laki yang tak pernah membuat aku kecewa sedikitpun"
Panggilan Mala pada Devan membuat pria itu mendekat. Kakak? Wanita itu memanggilnya dengan sebutan kakak!
"Kak! Kamu panggil aku kak?"
"Iya, karna memang kak Devan adalah sepupu suamiku. Permisi kak, aku harus kembali"
Mala berbalik dan berniat ingin menjalankan kursi rodanya kembali. Namun, tiba-tiba saja Devan menghadang dan memeluknya begitu erat.
"Biarkan aku memelukmu sebentar Mala. Aku sangat merindukan mu" Pekik Devan sambil memeluk Mala.
Mala terdiam, Wanita itu mencoba terlihat seperti orang yang tidak perduli. walaupun sebenarnya masih ada cinta yang tersisa dalam hatinya. Mala sudah berniat untuk melupakan Devan selamanya.
"Tolong jangan seperti ini kak. Tolong hargai aku sebagai istri dari saudaramu sendiri"Ujar Mala sambil mendorong tubuh Devan agar menjauh darinya.
"Tolong Mala. Ijinkan aku memelukmu sebentar saja. seandainya kamu masih menjadi istriku. pasti aku akan sangat bahagia karna akan menjadi seorang ayah"
Deg! Mendengar itu membuat Mala memejamkan kedua matanya. Akhirnya wanita itu membiarkan Devan memeluknya untuk beberapa saat. Mungkin ini memang akan menjadi pelukan terakhir untuk mereka berdua.
"Sudah kan! Biarkan aku pergi"
Devan melepaskan pelukannya. Pria itu mengambil nafas berat dengan kenyataan pahit yang sedang menimpa hidupnya.
"Kenapa kita harus seperti ini sayang"
Ucapan Devan membuat Mala kembali membalikkan kursi rodanya. "Bukan kah memang ini yang kamu mau. Aku minta mulai sekarang lupakan aku, Karna aku juga sudah melupakan mu" Ucap Mala dengan dingin.
"Bagaimana jika aku masih berharap kita di persatu kan kembali?
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi!"
"Tapi aku percaya. jika memang jodoh, sejauh apapun kamu menghindar. kita pasti akan di pertemukan kembali di waktu yang tidak di tentukan"
"Tapi aku berharap jodohku hanyalah Bima, Bukan kamu"Ucap Mala dan langsung berlalu dari hadapan Devan.
Mendengar semua yang keluar dari mulut Mala membuat Devan merasa hatinya begitu sakit. Masih berasa seperti mimpi semua ini terjadi dalam hidupnya.
"Bagaimana bisa aku melupakan kamu sayang. Sedangkan bayangan kamu saja selalu melintas dalam ingatanku"Lirih Devan begitu pilu.
Flashback off
Devan masih terus memperhatikan Mala hingga jet pribadi itu benar-benar take off meninggalkan kota Jakarta.
"Semoga kita masih bisa di perjodohkan sayang" Ucap Devan sambil terus memperhatikan jet itu hingga benar-benar pergi.
Di tempat lain saat ini Sifa dan Rendi sedang mengurus Tania berdua. Hal itu membuat Sifa kembali membayangkan hal indah. Seperti pasangan lengkap dengan kehadiran seorang anak.
"Sifa" Panggil Rendi pada Sifa yang sedang mengganti popok Tania.
"Iya Ren, Kenapa?"
"Aku mau kita menikah secepatnya"
Perkataan Rendi membuat Sifa membulatkan kedua matanya. Apa Sifa sedang bermimpi? atau Sifa hanya salah dengar!
"A..apa! Bisa kamu ulangi lagi Ren?"
"Aku mau kita menikah secepatnya. Karna mau bagaimanapun Tania butuh orang tua yang lengkap"
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, Demi Tania aku mau kita secepatnya menikah"
"Apa kamu sudah mencintaiku?" Tanya Sifa sendu
"Bukankah cinta bisa tumbuh dengan seiring nya waktu"
"Maaf Rendi. Tapi aku tidak mau menikah tanpa adanya cinta dari hati kamu, Lebih baik sekarang kamu keluar, Tania mau tidur"
Di tempat lain. Saat ini Adelia ternyata sedang bertemu dengan seseorang di sebuah Cafe. Adelia menemui seseorang yang selalu menelponnya. Seseorang yang dia beri nama KOMPLOT di kontak ponselnya.
"Bagaimana, Apa kamu sudah mengirimkan teror itu pada rumah Devan?"
"Kamu tenang saja, semuanya sudah aku urus"
"Kenapa kamu mau membantu aku untuk balas dendam?"
"Siapa yang membantu kami, Aku melakukan semua ini karna diriku sendiri. Karna Devan, Aku kehilangan wanita yang aku cintai"
"Apa maksud kamu?"
"Gara-gara perusahaan tempat aku kerja bangkrut. membuat kekasihku pergi meninggalkan ku"
"Apa hubungannya dengan Devan?"
"Hubungannya adalah. Devan yang sudah membuat perusahaan itu bangkrut. Hingga sampai saat ini aku tidak bisa menemukan pekerjaan"
"Itu artinya kita punya tujuan yang sama"
Adelia mulai menyusun rencana baru bersama pria itu. Kira-kira siapa yang sudah menjadi komplotan Adelia untuk balas dendam pada Devan?
Wilson baru saja tiba di rumahnya. Pria itu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah beberapa bulan ini tidak Wilson tempati. Hari ini rasanya tubuh Wilson begitu lelah. Apalagi masalah perusahan nya yang membuat Pria itu terasa begitu lelah.
Namun, di saat Wilson ingin memejamkan kedua matanya. Entah kenapa malah wajah Sifa terlintas begitu saja"Kenapa aku malah ingat sama Sifa" Gumamnya sambil tersenyum.
Wajah cantik Sifa terbayang jelas pada ingatan Wilson."Tapi memang senyumnya itu sangat manis"Tanpa sadar Wilson tak henti-hentinya mengangkat kedua sudut bibirnya. Apa Wilson menyukai Sifa?
Tanpa terasa, Malam berlalu begitu saja. Mala menggeliat saat sinar matahari sudah mulai masuk lewat celah gorden Apartemen milik Bima.
"Kamu sudah bangun sayang"Ucap Bima yang sudah terlihat rapi.
Mala mengerjab untuk beberapa saat. Wanita itu masih menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.
"Kamu mau kemana my boy?" Tanya Mala dengan suara khas bangun tidur.
"Aku ada meeting sebentar sayang. Kamu mau mandi sekarang apa aku selesai meeting?"
"Kalau kamu mau meeting, sudah jalan saja my boy. Aku bisa mandi sendiri kok"
"Yang bener kamu bisa mandi sendiri?"
"Iya suamiku, kamu tidak perlu khawatir. aku bisa, biarkan aku mandiri ya my boy"Titah Mala dengan suara manjanya.
"Baiklah, Aku sudah siapkan makan untuk kamu sarapan ya sayang. Aku pergi dulu. Cup"
Setelah meninggalkan satu kecupan pada kening Mala, pria itu keluar dari dalam kamarnya. Namun, saat Mala ingin mengikat rambutnya, tiba-tiba Bima kembali sambil senyum-senyum.
"Kok kembali my boy, Ada yang ketinggalan?"
Bima tersenyum sambil mendekat ke arah Mala, Pria itu mencium bibir Mala dan membuat Mala membulatkan kedua matanya.
"Transfer energinya kelupaan sayang, bisa-bisa aku kekurangan semangat'
"Kamu ini kebiasaan deh my boy"
"Biarin. Aku berangkat dulu ya sayang, I Love You"
"I Love You More my Husband"
TERIMAKASIH YANG SELALU SETIA HADIR. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT, SAMA RATE YA๐๐ป
BACA JUGA KARYA AUTHOR YANG LAIN๐๐ป