Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Raja gombal


"Seandainya waktu itu aku tidak pergi meninggalkan Nara dan juga bayi dalam kandungannya. Mungkin saat ini aku sudah bisa bahagia bersama dengan mereka" Ucap Nathan yang terdengar sangat lirih


Ternyata memang benar apa yang sudah di katakan pepatah. Penyesalan akan datang di saat kamu sudah benar-benar kehilangan. Dan saat ini Nathan sedang merasakan hal itu. Menyesal karna sudah meninggalkan wanita sebaik Nara hanya demi wanita seperti mantan istrinya yang hanya gila harta.


Apa itu semua adalah karma yang di berikan untuk Nathan. Entahlah. Hanya tuhan yang tau tentang semua itu.


Nathan keluar dari halaman rumah Nara dengan membawa luka yang terasa amat sakit. Pria itu memejamkan kedua matanya karna sudah merasa sangat panas. Tanpa sadar, Nathan menjatuhkan air matanya.


Rasanya benar-benar sakit saat orang yang masih di cintanya tidak mau menganggapnya. Apalagi Nara sudah tidak membolehkan Nathan untuk menemui Dania lagi.


Nathan sadar jika ini memang berawal dari dirinya sendiri. Jika waktu Nara mengatakan jika dirinya hamil, Nathan mau tanggung jawab. Mungkin semua ini tidak akan pernah Nathan rasakan.


Nathan sadar, Jika dia sudah membuang berlian demi sampah seperti mantan istrinya yang hanya mencintai hartanya saja.


"Aku benar-benar menyesal sudah memilih pergi kala itu Nar. Seandainya saja waktu bisa di putar, Mungkin aku akan memilih untuk bertahan dan bertanggung jawab atas kehamilan kamu" Ucap Nathan yang terdengar sangat lirih.


Sedangkan Nara, Dia masuk kembali ke dalam rumahnya sambil menahan rasa sesak di dada. Kedatangan Nathan membuatnya teringat akan kejadian 1 tahun yang lalu.


Kejadian paling buruk yang pernah Nara alami selama hidup. Apalagi gara-gara hal itu sempat membuat Nara benar-benar down dan depresi. Hingga harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa.


Nara mengambil nafas panjang sebelum terus ke ruang keluarga. Dia tidak tau jika kedua orang tuanya dan juga suaminya sampai tau akan hal ini.


"Siapa yang datang sayang?" Tanya Alundra saat melihat Nara sudah kembali


"Eem gak tau bunda. Orang salah alamat" Ucap Nara ngasal.


"Oh salah alamat. Bunda pikir siapa"


"Bukan siapa-siapa kok bunda. Oh iya, Nara ke kamar mandi dulu ya bunda, Kebelet" Ucap Nara dan langsung berlalu dari sana


Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi karna sudah tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya. Kedatangan Nathan benar-benar membuatnya kembali mengingat luka itu. Luka yang sudah susah payah Nara buang.


Dan kini luka itu harus kembali dia rasakan karna melihat wajah Nathan. Wajah laki-laki tak tau diri yang sudah sangat Nara benci. Tapi satu hal yang dia ingat dan dia sesali. Kenapa harus pria seperti Nathan yang menjadi ayah dari anaknya.


"Kenapa pria itu harus datang dan membuat luka yang sudah aku tutup terbuka lagi. Kenapa dia harus kembali ke indonesia. Aku benar-benar membencinya. Dan kenapa juga harus dia yang menjadi ayah dari Dania" Ucapnya sambil terisak


Luka masa lalu sudah membuat Nara sangat membenci Nathan. Karna hal itu, Nara harus merasakan depresi dan tidak tau saat kedua orang tua angkatnya pergi untuk selamanya.


"Jangan harap aku akan membiarkan mu menemui Dania Nathan. Kaena kamu tidak pantas di sebut sebagai ayah dari Dania"


"Jangan Nangis Nara. Jangan mengingat luka itu lagi. Jangan biarkan air matamu jatuh karna pria seperti Nathan" Ucap Nara pada dirinya sendiri


Di Tempat Lain


Nadia menggeliat saat mendengar suara alarm dari ponselnya. Wanita itu memang selalu memasang alarm karna suka bangun kesiangan..


Nadia megerjab beberapa saat. Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Nadia sendiri.


"Kemana Devan"Ucapnya sambil bangun dari tidurnya


Setelah itu, Nadia mengambil ponselnya dan mencari nomor kontak Devan. Dia langsung menghubungi Devan saat itu juga. Tak butuh waktu lama, Devan langsung mengangkat panggilannya


πŸ“ž:Halo Van. Kami kemana. Aku bangun kok kamu sudah tidak ada? Apa kamu sudah sembuh?


πŸ“ž:Aku ada di apartemen. Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja


πŸ“ž:Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja. Sudah ya. Kamu kalau mau pulang bawa saja mobilku. Aku tutup telponnya


πŸ“ž:Tunggu tunggu. Sherlock


πŸ“ž:Hmmm


Setelah itu, Devan langsung memutuskan sambungan telponnya. Beruntung karna Devan langsung mengirimkan alamat apartemennya pada Nadia.


Melihat lokasi apartemen masuk. Nadia langsung keluar dari dalam penginapan tanpa cuci muka. Entah kenapa dia merasa khawatir terhadap Devan. Karna mau bagaimanapun, Semalam Devan sedang demam tinggi. Dan paginya Nadia sudah tidak menemukan keberadaan Devan di sana.


"Ada apa dengan Devan" Ucap Nadia sambil naik ke dalam mobil Devan


Wanita itu melajukan mobilnya menuju lokasi apartemen yang sudah di kirim oleh Devan.


Seperti biasa. Jika pagi jalanan di jakarta memang suka macet. Apalagi di jam pagi seperti ini. Jam jamnya orang berangkat kerja dan juga sekolah.


"Aduh kenapa harus macet segala sih. Gak tau apa kalau aku lagi buru-buru" Ucap Nadia sambil memencet klakson mobil


Di Rumah sakit


Bima menatap Mala yang saat ini sedang menatap Bintang. Pria itu membelai lembut Rambut Mala penuh sayang.


"Sayang. jangan sedih terus ya. Kamu harus tersenyum" Ucap Bima yang terdengar sangat lembut


Mendengar perkataan Bima membuat Mala menoleh ke arah Bima sambil mengusap kedua matanya"Bagaimana aku tidak sedih my boy, Rasanya sangat perih saat melihat anak sekecil Bintang sudah harus merasakan ini. Jika boleh memilih, Lebih baik aku yabg ada di posisi Bintang" Ucap Mala yang terdengar sangat lirih


"Sayang, Percayalah, Bintang ini anak yang sangat kuat. Percayalah, Dia akan segera sembuh. Bintang itu kuat sayang" Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala


"Tapi tetep saja aku tidak tega liatnya my boy. Bintang terlalu kecil harus merasakan ini"


"Sudah sayang. Lebih baik kita doakan yang terbaik buat Bintang ya"


Di Luar


Di saat Wilson sedang menenangkan Sifa, Berbeda dengan Leon. Setelah mendengar jika Bintang sudah selesai melakukan transfusi darah, Leon tidak ada hentinya menggombal pada wanita yang ada di sampingnya. Wanita yang saat ini sudah menjadi kekasihnya.


"Sayang, Kamu tau gak?" Tanya Leon pada Rani


"Gak tau kak" Jawab Rani polos


"Yah, Kok gak tau sih sayang"


"Kan kak Leon belum bilang apa pertanyaannya"


"Ooh iya ya, Aku lupa sayang"


"Kak Leon masih muda tapi kok udah pelupa" Ucap Rani sambil menatap Leon


"Bagaimana saya bisa tidak lupa sayang, Yang ada di pikiran aku itu cuma kamu seorang" Ucap Leon sambil memainkan sebelah matanya


Mendengar itu membuat Rani tersipu malu. Sejak kapan Leon pinter menggombal seperti ini. "Kak Leon seperti raja gombal deh" Ucap Rani pada Leon dengan wajah yang bersemu merah