Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Tidak sanggup kehilangan


Bima benar-benar tidak menyangka jika Reno sudah menjadi duri dalam daging. Ternyata sebagus itu Reno menggunakan topengnya di depan semua orang. Bahkan Bima saja tidak menyadari hal itu.


"Kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang Andre?" Tanya Bima sambil menatap Andre


"Maafkan saya tuan. Saya baru mengatakannya sekarang karna saya masih mencari bukti yang kuat dan mencari apa alasan Reno melakukan semua itu tuan. Saya juga tidak menyangka jika Reno tega-teganya melakukan hal itu" Ucap Andre


Perkataan Andre membuat Bima teringat akan setiap kejadian yang membahayakan dirinya. "Saya baru ingat. Jika waktu itu saya memang merasa ada yang aneh sama Reno. Dia sempat menerima telfon dari seseorang yang saya sendiri tidak tau siapa itu. Tapi yang pasti ketika melihat keberadaan saya di sana, Reno langsung terlihat sangat terkejut. Seperti orang ketakutan"


"Jadi ternyata memang selama ini ada banyak rahasia yang dia sembunyikan. Untuk saat ini kita pura-pura tidak tau apa-apa Andre. Pelan-pelan kita bongkar apa yang selama ini Reno lakukan. Akan saya pastikan jika Reno menyesali semua perbuatannya" Ucap Bima sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Terimakasih Andre. Kalau tidak ada kamu tidak tau bagaimana nasib hidup saya. Terimakasih. Saya berharap semoga kamu akan selalu setia" Ucap Bima sambil menepuk punggung Andre


"Tuan Bima tenang saja. Saya masih cukup tau diri. Saya banyak butang budi pada tuan Bima. Jika tidak ada tuan Bima. Tidak tau seperti apa nasib saya saat ini. Mungkin saya sudah menjadi gelandangan di luaran sana" Ucap Andre sambil menundukkan wajahnya


"Saya keluar dulu ya. Jangan lupa, Apapun yang kamu tahu tentang Reno, Langsung kasih tau saya" Ucap Bima dan langsung keluar dari sana


"Baik tuan" Jawabnya sopan


Setelah keluar dari kamar tamu, Bima kembali ke dalam kamarnya sendiri. Bima naik ke atas tempat tidurnya dan langsung memeluk tubuh Mala yang sudah terlihat sangat lelap dan damai dalam tidurnya. Kedua matanya terlihat sembab karna terlalu lama menangis.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang sudah menyakitimu" Ucap Bima sambil mendaratkan satu kecupan singkat pada kening Mala


****


Tanpa terasa malam sudah berlalu. Pagi ini Bima bangun terlebih dahulu. Biarpun kedua matanya masih terasa sangat berat, Namun Bima menahannya karna ingin memberikan kejutan buat Mala.


Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Bima keluar dari dalam kamarnya. Pria itu turun dan menyusuri beberapa anak-anak tangga di sana. Masuk ke dalam dapur yang ternyata disana sudah ada beberapa asisten di rumah kakek Lustama.


"Pagi tuan muda" Sapa mereka secara bersamaan sambil menundukkan wajahnya


"Pagi juga" Balas Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Mau bikin apa tuan muda. Biar saya yang buatkan" Ucap salah satu dari mereka


"Tidak usah. Saya mau bikin kan nasi goreng buat istri saya. Saya ingin memberikan kejutan untuknya. Karna sebenarnya kemarin adalah hari ulang tahunnya. Hari yang seharusnya bikin dia bahagia malah menjadi duka. Jadi hari ini saya ingin memberikannya kejutan" Ucap Bima sambil menyiapkan bumbu-bumbunya.


"Minta tolong ambilkan udang ya. Lalu di bersihkan sekalian"


"Baik tuan. Ada lagi?"


"Sudah itu aja. Nasinya ada kan? Kalau banyak, Biar nanti sekalian saya masak banyak buat kalian juga"


"Yang bener tuan muda. Kalau nasinya sih banyak tuan"


"Tolong ambilkan ya. Bawa kesini" Pinta Bima sambil terus sibuk mengupas bawang


"Iya, Karna memang saya tinggal sendiri di apartemen sejak masih remaja. Oleh karena itu saya sudah cukup bisa memasak. Apalagi hanya membuat nasi goreng. ini adalah hal yang sangat muda" Ucap Bima di sela kesibukan masaknya


Wangi nasi goreng sudah tercium. Bima memasukkan udang sayuran dan juga nasi ke dalam wajan. Kemudian mengaduk dengan sangat lihai.


"Dari wanginya saja sudah membuat perut saja kirim pesan tuan" Ucap salah satu dari mereka yang sejak tadi memperhatikan Bima memasak


"Kirim pesan bagaimana. Memangnya bisa perut kirim pesan?" Tanya Bima sambil terus mengaduk nasi gorengnya


"Lapeer. Gitu katanya tuan"


"Bibi ini bisa aja deh. Boleh minta tolong ambilkan piring yang sudah saya siapkan tadi bi"


"Ini tuan muda"


Bima menerima piring itu. Kemudian mematikan kompornya. Bima menaruh nasi goreng pada piring itu. Piring yang sudah Bima siapkan sebelum dia mulai memasak.


"Bibi siapkan nasi gorengnya buat yang lain ya. Saya naik dulu. Semoga suka sama nasi goreng buatan saya" Ujar Bima dan langsung keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi nasi goreng dan juga segelas susu coklat. Karna memang Mala tidak menyukai susu putih.


Di dalam kamar


Bima meletakkan nampan itu di atas nakas. Kemudian menatap wajah Mala yang masih terlihat sangat lelap. Sejenak Bima memperhatikan pipi kanan Mala. Pipi yang sudah menjadi korban Bima malam tadi.


"Maaf kan aku sayang. Maafkan aku yang sudah menyakitimu. Aku janji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi. Itu adalah pertama dan terakhir aku menamparnya sayang" Ucap Bima sambil mengusap pipi kanan Mala


Mala yang merasa tidurnya terganggu langsung menggeliat. Mengerjab beberapa saat dan samar-samar menatap ke arah Bima.


"Selamat pagi wanitaku" Ujar Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Selamat pagi my boy. Kamu sudah bangun?"


"Sudah sejak tadi sayang. Aku sudah bawakan kamu sarapan. Sekarang kamu cuci muka dulu ya. Nanti langsung makan. Sudah aku masakin nasi goreng udang. Kamu menyukainya bukan"


"Kamu masih ingat kalau aku suka nasi goreng udang?"Tanya Mala pada Bima


Bima menatap Mala sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Tentu saja sayang. Apapun yang kamu sukai, Tentu aku ingat semuanya. Ayo sekarang kamu cuci muka. Aku tunggu di balkon ya" Ucapnya sangat lembut


Mala hanya mengangguk dan langsung pergi ke dalam kamar mandi. Sedangkan Bima, Pria itu langsung berjalan menuju balkon. Saat sudah tiba di balkon, Tiba-tiba saja perkataan Devan terngiang pada indra pendengarannya.


Kalau sampai kamu menyakitinya lagi, Jangan salahkan aku jika aku mengambil dia kembali dari pelukan mu.


Mengingat kata-kata itu membuat Bima mengambil nafas berat. Karna mau bagaimanapun, Bima benar-benar tidak mau kehilangan Mala. Wanita yang teramat Bima sayangi.


Aku tidak sanggup jika harus kehilangan kamu sayang. Dan aku benar-benar tidak mau hal itu sampai terjadi