
Lutut Devan terasa sangat lemas saat mendengar penuturan perawat itu. Dadanya terasa berdetak nyeri. Ingin rasanya menggantikan posisi Mala saat ini.
"Kenap harus Mala yang terluka, Kenapa!" ucap Devan sambil terduduk lemas di atas lantai
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku saja yang terluka Mala, Kenapa kamu harus berkorban! Jika sampai kamu kenapa-napa. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri" ucap Devan lagi.
Sungguh Devan merasa sangat bersalah akan hal ini. Karna demi melindunginya, Mala sampai terluka dan harus segera di operasi.
Bima menatap Devan dengan sangat tajam. Pria itu mendekat sambil mengangkat kerah baju milik Devan"Ini semua gara-gara kamu, Kak! Seandainya saja Mala tidak menyelamatkan mu, Saat ini Mala pasti masih tetap baik-baik saja" ucap Bima dengan kedua mata merah
Devan tak menjawab apa-apa. Tidak tau harus mengatakan apa untuk saat ini. Karna memang apa yang baru saja Bima katakan memang benar adanya, Semua ini karna Mala melindungi Devan.
Tak berselang lama. Para tim medis keluar dengan mendorong brankar Mala. Ternyata wanita itu masih tetap menutup rapat kedua matanya. Wajahnya terlihat semakin pucat.
Melihat itu, Bima ikut mendorong brankar yang membawa tubuh Mala, Bima menggenggam tangan dingin istrinya dengan sangat erat. Dadanya terasa sangat sesak. Melihat Mala tak berdaya seperti itu tentu saja membuat Bima terluka.
"Aku mohon bertahan demi aku dan juga kedua anak kita sayang. Aku mohon bertahan" ucap Bima sambil mencium tangan Mala dengan penuh cinta dan sayang.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dokter"
"Bapak tenang saja, Saya dan para gim medis akan melakukan yang terbaik buat istri anda, Jangan lupa bantu doa ya"
"Pasti dokter" ucap Bima sambil melepas genggaman tangannya.
*****
Andre masih terus mengejar pelaku yang sudah menusuk Mala, Bagaimanapun caranya, Orang itu harus bisa Andre tangkap dan di bawa ke hadapan Bima. Pasalnya ini sudah menyangkut keselamatan dari istri tuan mudanya.
"Jangan lari kau brengs*k. Hadapi saya!" ucap Andre yang masih terus mengejar pria di depannya.
Andre meloncat hingga membuat tubuhnya berada di depan pria berbaju hitam itu, Baku hantam itu kembali terjadi di atas Rooftop rumah sakit. Karna memang pria berbaju hitam sudah lari ke atas Rooftop.
Setelah cukup lama beradu otot. Orang itu akhirnya tertidur lemah. Andre dengan cepat menghubungi Bima dan meminta tuan mudanya untuk segera datang ke Rooftop atas rumah sakit.
Bima yang mersa ponselnya berdering awalnya hanya tidak menghiraukan. Karna saat ini yang terpenting buat Bima adalah keselamatan Mala. Namun ponselnya lagi-lagi berdering dan sangat-sangat mengganggu.
Akhirnya Bima mengambil ponselnya dan melihat nama Andre yang tertera di layar ponselnya. Melihat itu, Bima dengan cepat langsung mengusap tombol hijau itu.
π:Ada apa Andre?
π:Tuan muda. Saya sudah berhasil menangkap pelaku yang sudah melukai nona muda,
Mendengar itu, Bima semakin mengepal kuat kedua tangannya.
π:Di makan kamu sekarang?
π:Rooftop rumah sakit tuan
Bima tak lagi menjawab. Pria itu langsung memutusakan sambungan telponnya dan menoleh pada Devan. "Kak, Tolong disini dulu dan jaga kemana-mana. Bima masih ada urusan penting sebentar" ucap Bima dan langsung berlalu dari hadapan Devan.
Bima mempercepat langkahnya menaiki setiap anak-anak tangga di sana. Kedua tangannya mengepal kuat, Serta kedua matanya merah. Amarah Bima seakan naik ke ubun-ubun.
"Akhirnya tuan muda datang juga"
Bima langsung mendekat dan menarik kerah baju pria itu"Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan hal ini? Jawab!" tanya Bima dengan ekspresi marahnya
Orang itu diam tak menjawab"Sekali lagi saya tanya, Siapa yang sudah menyuruh kamu melakukan hal ini?" tanya Bima lagi
Namun lagi-lagi orang itu hanya diam tak menjawab apa-apa. Dan hal itu tentu saja semakin membuat Bima merasa sangat marah.
"Baiklah, Jika kamu tidak mau menjawab. Jangan salahkan saya jika saya melempar tubuh ku dari atas Rooftop ini"
Orang itu masih diam. Mungkin dia mengira jika Bima hanya berusaha menggertak saja. Namun ternyata apa yang sudah bisa lakukan, Bima benar-benar mengangkat tubuh orang itu dan membuat tubuhnya bergelantungan di sana.
"Sekali lagi saya tanya, Siapa yang sudah menyuruh kamu melakukan hal ini!?" ulang Bima lagi
Pria itu merasa sangat ngeri saat melihat ke bawah. Dari atas Rooftop ini kemungkinan besar dia bisa langsung kehilangan nyawanya. Bahkan bukan hanya itu, Tubuhnya bisa di pastikan akan berserakan di bawah sana.
"Oke. Kalau kamu masih tidak mau menjawab. Siap-siap saja" ucap Bima lagi
Glekk
Pria itu menatap ngeri ke bawah. Tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sampai Bima benar-benar menjatuhkan tubuhnya dari atas gedung setinggi ini.
"Oke oke, Akan saya katakan! Tapi saya mohon turunkan saya dulu dari sini" ucap pria itu yabg terdengar sangat lirih.
Bima langsung menarik orang itu dan menidurkannya di sana"Ayo cepat katakan. Siapa yang sudah menyuruhmu?!" tanya Bima lagi
"Andika Sanjaya, Dia yang sudah membayar ku dan memintaku untuk melukai wanita itu, Karna wanita itu adalah sumber titik terlemah mu" ucap pria itu sambil menatap Bima.
Lagi-lagi Bima mengepalkan kuat kedua tangannya. Kali ini apa yang sudah Andika lakukan sudah benar-benar kelewatan. Bima menginjak pria itu dan langsung pergi dari sana dengan membawa amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
****
Reno masih terus terdiam. perkataan Bim sudah berhasil mengganggu pikirannya. Apa maksud dari perkataan Bima yang mengatakan jika Andika Sanjaya adalah pelaku asli pembunuhan ayahnya.
"Apa maksud dari perkataan Bima. Apa benar yang sudah membunuh ayah adalah Andika sanjaya. Tapi apa yang menjadi alasannya" ucap Reno sambil menatap sekeliling tempat itu.
Viona yang merasa ada yang aneh dengan Reno langsung mendekat"Ada apa Ren. Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?" tanya Viona sambil mendekat pada Reno
"Ini soal kematian ayah kak"
Viona mengerutkan keningnya."Memangnya ada apa dengan hal itu Ren. Jangan bilang kamu mau menghentikan rencana balas dendam kita terhadap Albima sunder" ujar Viona sambil duduk di sebelah Reno.
"Bukan kak. Tadi aku mendengar Bima mengatakan jika yang sudah membunuh ayah adalah Andika sanjaya"
"Lalu, Kamu percaya begitu saja dengan apa yang Bima katakan?"
"Bukan seperti itu kak. Aku sangat tau bagaimana Albima, Dia tidak pernah berbohong dalam hal apapun. Apalagi tadi sangat terlihat jelas jika dia sedang serius. Aku jadi curiga, Siapa Andika sebenarnya"