
"Oke fine. Dasar wanita gila" Umpat Devan pada Nadia
"Eh hati-hati dengan ucapan anda. Nanti saya bikin anda tergila-gila baru tau rasa" Jawab Nadia sambil mengekor di belakang Devan
"Tidak usah ngimpi! Hal itu tidak akan pernah terjadi. Mana mungkin aku jatuh cinta sama wanita jadi-jadian seperti dirimu"
Mendengar itu membuat Nadia terlihat kesal"Awas saja nanti jatuh cinta ya. Akan aku tendang kamu" Ucapnya kesal
"Kalau mau ngimpi jangan terlalu tinggi. Rasa percaya diri kamu itu ternyata di atas rata-rata"
"Biarkan saja. Kita lihat nanti. 3 Bulan" Ucap Nadia sambil melirik pada Devan
Perkataan Nadia membuat Devan menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut kecil. Apa maksud 3 bulan dari perkataan Nadia? Tentu saja hal itu membuat Devan sangat penasaran.
"Apanya 3 bulan?" Tanya Devan sambil menatap Nadia
"Rahasia. Tapi akan aku pastikan 3 bulan" Ucap Nadia lagi
"Benar-benar wanita tidak waras. Omongannya kayak bahasa planet"
"Kita lihat saja nanti ya. Jangan sampai nanti kamu cinta mati sama wanita cantik yang kamu katakan wanita gila atau wanita tidak waras"
"Terserah kau saja mau mengatakan apa. Tapi yang pasti, Semua itu tidak akan pernah terjadi wanita gila" Gumam Devan dengan penuh penekanan
"Terus saja ngatai aku wanita gila. Aku doain semoga kamu ja" Ucapan Nadia terpotong karna melihat Devan terjatuh.
Hal itu tentu saja membuat tawa Nadia pecah saat itu juga"Hahahaha. Bagaimana pak Devan. Belum sempat aku berkata, Kamu sudah jatuh lebih dulu. Perkataan Nadia memang tidak bisa di remehkan" Seru Nadia sambil menatap Devan yang berakhir naas di atas lantai.
Melihat Nadia tertawa seperti itu membuat Devan merasa sangat kesal. Bisa-bisanya Nadia menertawakan Devan di saat dia sedang terkena musibah. Tiba-tiba saja Devan yang merasa kesal langsung menarik tangan Nadia dan membuatnya yang belum siap langsung oleng dan ikut terjatuh tepat di atas paha Devan.
Nadia membulatkan kedua matanya saat tanpa sengaja bibirnya mencium bibir Devan. Bahkan bukan hanya Nadia, Devan juga ikut membelalakkan kedua matanya.
Sedetik kemudian Nadia menjauhkan wajahnya dan menatap ke lain arah saat menyadari detak jantungnya kembali. "Astaga sebenarnya ada apa dengan jantungku. Kenapa selalu berdetak saat sedang bertatapan dengan Devan seperti tadi" Gumam Nadia pelan
Tanpa dia sadari, Ternyata saat ini Nadia masih duduk di pangkuan Devan. "Ehemm. Mau sampai kapan duduk di sini. Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya" Ucap Devan tepat di telinga Nadia
Nadia yang mendengar itu langsung bangun sambil membenarkan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. "Kepedean sekali, Siapa juga yang mau cari kesempatan dalam kesempitan" Gumam Nadia dan langsung jalan mendahului Devan
Nadia berjalan cepat sambil memejamkan kedua matanya. Rasanya jantung Nadia seakan mau lepas berasa di posisi sedekat itu dengan Devan.
"Ada apa sebenarnya dengan jantungku. Kenapa harus berdetak secepat ini. Tidak, Ini bukan cinta. Cintaku hanya untuk Bima. Iya untuk Bima seorang" Ucap Nadia pelan sambil meyakin kan dirinya sendiri.
Di Tempat Lain
Rendi baru saja tiba di rumahnya. Pria itu pulang terlambat karna tadi masih membantu menangani Baby Bintang yang keadaannya sempat menghawatirkan.
"Assalamualaikum ma" Ucap Rendi setelah masuk ke dalam rumahnya dan menemukan mama Sandra sedang menggendong baby Tania.
Ini adalah pertama kalinya Rendi pulang telat. Karna biasanya kalau sedang jaga malam Rendi akan pulang tepat waktu. Tapi tidak dengan hari ini.
Rendi mendekat pada Sandra dan langsung mencium punggung tangan mamanya penuh hormat"Iya maaf ya ma. Tadi Rendi masih harus menangani pasien yang sedang darurat. Makanya Rendi pulang telat" Ucapnya sambil mengambil alih Tania
"Uuuhh anaknya papa sudah mandi ya. Sudah wangi ternyata" Ujar Rendi sambil mencium kedua pipi anaknya.
Di saat seperti ini, Tiba-tiba saja Rendi teringat akan Adelia. Wajah Tania memang begitu memiliki kemiripan yang banyak dengan Adelia. Kedua bola matanya membuat Rendi semakin teringat akan Adelia.
"Ma" Panggil Rendi sambil menoleh pada Sandra
"Iya Ren. Ada apa?"
"Rendi mau berbicara sesuatu sama mama. Tapi Rendi berharap mama akan menyetujui apa yang akan Rendi katakan" Ucap Rendi sambil terus menatap mama Sandra
"Tergantung apa yang akan kamu katakan Ren. Apa memangnya?" Tanya Sandra penasaran
"Rendi mau kembali lagi dengan Adelia ma. Jujur, Rendi masih begitu mencintainya ma. Selain itu, Ini Rendi lakukan juga Demi Tania. Walau bagaimanapun Tania pasti sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu"
Mendengar perkataan Rendi membuat Sandra mengerutkan keningnya"Kami tidak sedang bercanda kan Ren. Kamu yakin mau kembali dama wanita gak tau diri itu?" Tanya Sandra sambil menatap Rendi
"Rendi yakin ma. Ini semua Rendi lakukan juga demi Tania ma. Tania sangat membutuhkan sosok seorang ibu"
"Tapi bukan berati harus Adelia Ren. Sifa kan bisa!"
"Tidak bisa ma. Sifa sudah memiliki pilihan hatinya sendiri. Dia bahkan sudah mau menikah dalam waktu dekat" Terang Rendi
Betapa terkejutnya Sandra mendengar apa yang baru saja Rendi katakan. Karna mau bagaimana pun, Sandra masih berharap jika Sifa menjadi anak menantunya.
"Apa!! Jangan bohong kamu Ren!"
"Siapa yang berbohong ma. Rendi mengatakan hal yang sebenarnya. Sifa memang akan segera menikah dengan Wilson. Laki-laki yang mencintainya"
"Ini pasti gara-gara kamu yang tidak pernah memberikan cinta terhadap Sifa. Heran mama tuh sama kamu Ren, Bisa-bisanya masih menyimpan rasa pasa Wanita seperti Adelia. Dia itu tidak pantas untuk kamu cintai Ren. Sadar" Sentak Sandra dan langsung berlalu dari hadapan Rendi.
Namun langkahnya terhenti saat suara Rendi bisa dengan jelas terdengar pada indra pendengaran Sandra. "Apa aku bisa memilih dengan takdir yang sudah di gariskan untuk ku ma. Apa Rendi bisa memilih untuk siapa Rendi memberikan hati. Bahkan segala cara sudah Rendi lakukan. Tapi apa yang Rendi dapat, ayang ada perasaan Rendi semakin dalam terhadap Adelia. Apalagi setelah melihat keadaan Adelia yang begitu menyedihkan. Rasanya Rendi ingin sekali membawa Adelia dari hidupnya yang begitu menyedihkan" Ucap Rendi yang terdengar sangat lirih
Mendengar itu membuat Sandra membalikkan tubuhnya dan menatap Rendi. Karna memang sebelumnya Sandra tidak pernah tau bagaimana keadaan Adelia saat ini.
"Apa maksud kamu? Hidup Adelia menyedihkan. Memangnya apa yang terjadi padanya?" Tanya Sandra sambil mengerutkan keningnya
"Adelia buta ma" Terang Rendi pilu
"Apa!! Buta?" Jawab Sandra terkejut