Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Istri


"Makanya kalau orang belum selesai ngomong di dengerin, jangan main menyimpulkan sendiri" Ujar Rendi pada Sandra.


Mendengar itu membuat tangis Sandra menjadi reda seketika itu, kali ini Sandra menatap tajam Rendi yang sedang duduk sambil sesekali melihat jam dari layar ponselnya."Ya cepat ngomong, jangan bertele-tele"


Rendi mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan cerita yang tadi sempat terpotong karna tangis Sandra yang tiba-tiba.


"Dia masih hidup ma" Ujar Rendi sambil melihat ke arah sang mama


Ucapan Rendi kembali membuat Sandra semakin menumbuhkan beberapa pertanyaan yang mulai terbesit dalam benaknya.


"Apa maksud kamu Rendi! dia masih hidup? mama gak paham"


"Iya ma, anak Adelia masih hidup dan sekarang ada di Apartemen"


"Tunggu-tunggu. Maksudnya anak Adelia masih hidup dan ada sekarang ada di Apartemen. apa itu maksudnya dia adalah anak kamu? bicara yang jelas!"


"Mama ini ngeleg banget sih, dari tadi bikin penjelasan Rendi muter-muter"Ucap Rendi sambil mengangkat sudut bibirnya.


Melihat itu membuat Sandra mendekat dan memukul Rendi"Sudah berani bilang mama ngeleg, mau mama kutuk jadi batu?Ayo cepat jelaskan!"


"Iya iya, tapi mama jangan ngelag-ngelag dong, kan Rendi capek jelasin mulu" Cerocos Rendi sambil mengusap lengan kirinya yang sudah jadi korban cubitan sang mama.


"Jadi, anak Adelia itu sebenarnya belum meninggal ma. Emang dokter yang pertama mengatakan jika anak Adelia sudah meninggal dalam kandungan, tapi setelah di lakukan operasi Cesar ternyata ada keajaiban. bayi itu masih di berikan kesempatan hidup, walaupun pada saat itu kondisinya begitu menghawatirkan." Ucap Rendi sendu


"Jadi, kenapa anak itu bisa ada sama kamu?"


"Iya, karna kebetulan Rendi ada di sana, aku perhatiin di depan ruang operasi tidak ad siapapun. Akhirnya aku putusnya untuk ke sana, tak lama setelah lampu operasi mati pintu terbuka, ada seorang dokter yang mengatakan jika Anak Adelia masih hidup"


"Terus"


"Kebetulan dokter itu adalah sahabat Rendi, dokter Bella namanya. Apa mama tau apa alasan aku membawa anak Adelia?"


"Ya nggak lah, kan kamu belum ngomong"


"Iya ya. Jadi gini ma. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah bertemu Adelia di sebuah mini market, lalu aku gak sengaja menabrak tubuhnya sampek buat dia jatuh. karna Adelia seperti menahan sakit, Akhirnya Rendi bawa dia ke klinik terdekat, tepatnya di klinik tempat Sifa di rawat waktu itu"


"Oh iya, mama ingat Ren. waktu itu mama sama papa juga sempat bertemu Adelia, saat menjenguk Sifa di klinik itu"


" Iya ma, karna memang hari itu Adelia juga di rawat di sana. aku yang sudah membawanya. tapi apa mama tau, saat Rendi mau pergi dari sana, tiba-tiba perkataan Adelia selalu terngiang dalam benak Rendi"


"Perkataan Adelia, apa memangnya?"


"Adelia mengatakan jika anak yang ad dalam kandungan nya adalah anak Rendi"


" Kamu serius? Adelia mengatakan hal itu. lalu apa kamu sudah melakukan tes DNA?"


"Sudah ma, dan hasilnya positif"


Mendengar ucapan terakhir Rendi membuat Sandra langsung bangkit dari duduknya"Antar kan mama ke sana" ucapnya


"Tapi Rendi harus kerja ma, nanti saja ya"


"Sekarang Rendi, kalau kamu tidak mau mengantar mama, kasih tau nama Apartemennya"


"Ya sudah, tapi mama jangan pernah kasih tau hal ini pada siapapun"


"Iya, udah cepetan"


"Apartemen Lavender city"


Sandra tak lagi menjawab, wanita itu langsung berlalu dari hadapan Rendi. Ada perasaan bahagia yang begitu mendalam, selama ini Sandra memang begitu menginginkan kehadiran seorang cucu.





"Van, kesini sebentar, mama mau tanya sesuatu"Ucap Yasmine saat melihat Devan baru turun dari menyusuri setiap anak tangga di rumahnya.


Tadi malam setelah bertukar cerita dengan Wilson, tiba-tiba Devan mendapat telfon dari sang mama. Wanita paruh baya itu meminta Devan pulang karna di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. sebab Wijaya ada pekerjaan mendadak di luar kota dan harus berangkat malam itu juga.


"Iya ma, ada apa?" Tanya Devan dengan nada lesu


"Kenapa kamu terlihat begitu tidak semangat seperti itu Van?"


"Entahlah ma, Devan seperti tidak ada semangat hidup"Lirihnya Sendu


"Ada apa ma, apa yang mau mama tanyakan sama Devan?"


"Jadi apa rencana kamu setelah ini Van?"


Devan mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang mama.


"Kamu pasti juga sudah tau kan, kalau istrinya Bima itu adalah Mala?"


"Oh soal itu"Balas Devan yang terdengar begitu lirih


"Mama tau ini berat nak, tapi apa kamu mau merebut Mala dari saudaramu sendiri? Biar bagaimana pun, Bima adalah saudara sepupu kamu Van"


"Entah lah ma, Devan juga bingung mikirnya. kenapa istri Bima harus Mala, wanita yang sangat Devan cintai"Ucapnya sendu


Melihat itu membuat Yasmine memeluk anaknya"Mama tau ini berat Van, tapi saran mama lebih baik kamu melupakan Mala, mungkin kalian memang tidak berjodoh"


"Susah ma, selama ini Devan sudah berusaha, tapi rasanya begitu sulit untuk melupakan nya"


"Apa cinta kamu sudah sedalam itu?"


"Sangat ma, aku begitu mencintainya. tapi kenapa semuanya jadi seperti ini ma"


"Sabar nak, jika memang jodoh tidak akan kemana. lebih baik sekarang kamu fokus kerja dulu"


"Iya ma, Devan pergi dulu"


Devan pergi dengan membawa sejuta luka, Batinnya terlalu sakit saat mengingat kembali jalan percintaan nya yang begitu rumit. bagaimana rasanya jika orang yang di cintai menghilang dan di pertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda. keadaan yang membuatnya harus selalu berusaha menahan rasa nyeri di hatinya.


Setelah keluar dari dalam rumahnya, ternyata Devan tidak langsung ke kantor. pria itu masih membelokkan mobilnya ke jalan Melati. Jalan menuju kediaman Winarto.


Setelah tiba di komplek perumahan kediaman Winarto, Devan menghentikan mobilnya dan turun dari dalam mobil.


Ternyata Devan masih memperhatikan Mala dari atas pohon yang ada di depan rumah Winarto.


"Kenapa rasanya begitu berat saat ingin melupakan kamu sayang"Ucap Devan sendu


Devan masih terus memperhatikan Mala yang duduk di atas kursi roda di dalam kamarnya, kebetulan kamar yang Mala dan Bima tempati saat ini ada di lantai bawah. Dan jendela kamar itu terbuka lebar, Hingga membuat Devan bisa melihat jelas apa yang Bima dan Mala lakukan saat ini.


"Kenapa mereka seperti sedang packing, apa mereka akan kembali ke Aussie" Lirih Devan sendu


"Kalau memang itu benar, itu artinya aku tidak akan bisa lagi melihat Mala seperti ini sebelum berangkat ke kantor"


Memang selama seminggu ini Devan sudah mempunyai hobi baru, yaitu manjat pohon di komplek tempat Mala tinggal.


Tidak jarang dirinya kena marah orang-orang sekitar, karna di kira akan mengintip orang-orang yang ada disekitar komplek, ada juga yang mengatakan Devan sebagai cowok mesum.


Namun Devan tidak pernah menghiraukan semua omelan para ibu-ibu di sana, yang terpenting buat Devan adalah bisa melihat Mala walaupun dari jarak jauh seperti ini.


Saat Devan kembali menoleh ke arah kamar yang menjadi tempat Mala. Tiba-tiba pria itu mendapatkan pemandangan yang membuat hatinya terasa nyeri.


"Memang sepertinya Bima sangat mencintai Mala, Mala juga sepertinya sudah mulai ada rasa sama Bima" Ucapnya sendu saat melihat Bima mencium kening Mala.


Setelah melihat pemandangan yang menyayat hatinya, Devan memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalannya ke kantor.


"Kenapa rasanya harus sesakit ini"Ucapnya sendu


Di dalam kamar. saat ini Bima sudah selesai packing semua barang-barang miliknya juga milik Mala. Mereka berdua memang akan terbang ke negara Aussie besok malam. karan mau bagaiman pun, semua pekerjaan Bima ada di negara itu. dan sudah 2 minggu ini Bima menyuruh Rio untuk mengurus semuanya.


Jam terus berputar, tanpa terasa hari sudah mulai sore. Saat ini Bima dan Mala sedang ada di makam papa dan mama Mala.


"Sayang, kita pulang ya, ini sudah mulai sore" Ujar Bima lembut


"Sebentar lagi ya my boy, aku masih ingin disini"


"Yasudah, tapi sebentar aja ya sayang, ini sudah mulai mendung, sepertinya akan turun hujan"


Mendengar itu membuat Mala mengangkat wajahnya, dan ternyata ucapan Bima memang benar adanya, langit sudah mulai mendung.


Hingga tak lama hujan mulai turun menerpa kota jakarta sore itu. suara petir membuat Mala memeluk tubuh Bima begitu erat.


Bima yang mendapat pelukan tiba-tiba membuat jantungnya berdetak cepat. Bima menatap Mala begitu juga dengan Mala yang reflek memeluk tubuh suaminya erat sambil menatap Bima begitu dalam.


Manik mata mereka bertemu, tidak ada satu dari mereka yang mau memutuskan tatapan itu, namun saat Bima mau mencium Mala, tiba-tiba pria itu tersadar jika saat ini mereka sedang ada di area pemakaman.


Dengan cepat Bima mendorong kursi roda Mala dan segera pulang dari area pemakaman. Namun saat di dalam mobil, tiba-tiba suara petir kembali membuat Mala memeluk Bima, karna memang Mala takut dengan yang namanya petir.


Jantung Bima kembali berdetak, biarpun ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan, tapi entah kenapa rasanya kali ini berbeda. Bima bisa merasakan cinta dari pelukan itu. dan Bima juga sudah bisa melihat dari tatapan Mala, jika wanita yang ada di hadapannya sudah mulai ada rasa untuknya"Apa kamu sudah cinta atau sayang sama aku, istriku?"


Kali ini giliran jantung Mala yang berdegup kencang saat mendengar Bima memanggilnya dengan sebutan istri.


UNTUK EPS INI PART PANJANG YA, SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITA YANG AKU HASILKAN DARI HALU SAJA😁


JANGAN PERNAH BOSEN BUAT BACA KARYAKU. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, LIKE,KOMEN,FAV,SAMA VOTE YA🙏🏻


BACA JUGA NOVEL BARU AKU YUK. JUDULNYA "SINGLE MAMY"