Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Menjalankan Rencana


Viona berjalan lebih mendekat pada Reno. Jika memang apa yang sudah Reno katakan benar adanya. Maka, Viona dan Reno akan merasa sangat menyesal sudah melakukan semua itu terhadap Bima.


"Kamu benar juga Ren. Sepertinya kita memang harus mencari tau akan hal ini. Kalau memang Andika benar-benar dalam dari semuanya, Aku tidak akan pernah memaafkan nya" ucap Viona sambil duduk di sebelah Reno.


"Masih sakit tangannya?"


"Masih lah kak. Pakek nanya lagi"


"Iya-iya maaf. Sini kakak obati" titah Viona sambil mengambil kotak p3k dari laci yang ada di depannya.


Reno merengek saat Viona mulai mengusapkan kapas yang sudah di berikan cairan alkohol itu pada lengannya. "Pelan-pelan kak, Perih tau" ucapnya sambil sedikit menjauhkan tangannya dari Viona


"Yeee. gitu aja jerit. Lebay deh. Badan doang gede!"


5 Menit kemudian, luka Reno sudah kembali ditutup oleh kain perban setelah selesai di obati oleh Viona.


"Sudah malem, Langsung tidur saja" ucap Viona pada Reno


"Iya kak, Ini juga mau langsung tidur" jawab Reno dan langsung berdiri dari duduknya.


*****


Tanpa terasa sudah 6 jam lebih perjalanan dari indonesia ke Aussie. Saat ini jet pribadi milik Bima sudah Landing di bandara Aussie. Bima memijat ruang di antara kedua alisnya. Kedua matanya terasa cukup berat. Bagaimana tidak, Sepanjang perjalanan dia tidak benar-benat bisa tertidur nyenyak. Bayangan Mala terus mengganggu pikirannya.


Bima membangunkan Devan, Leon dan juga Nadia. Saat ini jam di Aussie sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari.


"Kak Devan, Leon, Nadia. Ayo bangun. Kita sudah sampai di bandara" ucap Bima sambil menepuk pundak Devan dan juga Leon.


Devan yang merasa tidurnya sudah terganggu langsung membuka kedua matanya. Mengerjab untuk beberapa . "Kita sudah sampai ya Bim" titahnya sambil menoleh ke arah Bima.


"Sudah kak. Lebih baik kita turun sekarang, Sudah ada anak buahku yang menjemput" ucap Bima pelan


Bima menoleh ke arah Leon yang sedang tersenyum sendiri. Ternyata pria itu masih berkelana dalam mimpi"Ada apa dengannya? Kenapa malah senyum-senyum sendiri seperti itu" ucap Bima yang merasa sangat heran dengan tingkah Leon.


"Leon, Bangun. Kita sudah sampai di Aussie" ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Leon


Leon yang merasa tidurnya terganggu tentu saja ngedumel. Sedang mimpi indah bersama dengan Rani malah di ganggu.


"Apaan sih Bim! Kamu itu ganggu aja deh. Orang lagi enak-enak mimpiin ayang juga" protes Leon sambil menatap Bima


"Otak kamu itu sudah mulai mesum ya. Bangun! Kita sudah sampai. Cepat turun"


"Iya, Bawel ah"


Setelah semuanya keluar dari jet pribadi milik keluarga Bima, Mereka langsung masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu di sana.


Di tengah perjalanan, Tidak ada pembicaraan dari mereka. Devan menatap fokus ke arah jendela, Sedangkan Bima, Leon dan juga Nadia masih fokus dengan pikiran mereka masing-masing.


1 jam kemudian. Mobil itu sudah tiba di salah satu apartemen tempat tinggal Bima. Tempat yang sudah pernah membuat Mala menatap takjub tempat itu. Bahkan Mala sempat mengira jika itu bukan apartemen, Tapi istana.


Bima berjalan menyusuri setiap koridor apartemen. Begitu juga dengan yang lain ikut mengekor di belakang. Setelah tiba di dalam Apartemen Bima. Devan terdiam sesaat. Menatap setiap foto yang ada di sana. Memperhatikan beberapa foto yang langsung mampu menggores hatinya.


Kenapa rasanya begitu sakit saat melihat foto pernikahan mereka. Rasanya aku tidak bisa melihat foto itu, Hatiku benar-benar berdenyut nyeri. ucap Devan dalam batinnya


"Kak, Kok diam saja. Ayo duduk" ucap Bima sambil menyadarkan Devan yang masih setia menatap foto pernikahan yang ada di depannya.


"Ooh iya" jawabnya dengan kedua mata yang masih setia melirik foto yang menggores hatinya.


"Aku tidur di mana Bim. Ngantuk tau" celoteh Leon pada Bima


"Tidur aja di sofa" jawab Bima sambil mengulum bibir


"Ck! Tega amat sama aku Bim. Pokoknya aku mau tidur di kamar kamu" ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar Bima


Melihat itu membuat Bima menarik baju Leon"Gak ada ya, Kamar itu hanya khusus buat aku dan juga Mala. Tidak ada yang boleh tidur di sini"


"Jahat sekali sih kamu Bim. Masa iya mau membiarkan aku tidur di ruang tamu"


"Gausah manja. Ini bantal sama selimutnya"


"Lalu aku tidur di mana Bim?" tanya Nadia sambil menoleh pada Bima


"Kamu tidur di kamar tamu saja Nad. Di sana" ucapnya sambil menunjukkan kamar tamu


"Baiklah. Sepertinya masih ada waktu buat istirahat sejenak"


Setelah itu Nadia berlalu dari sana. Masuk ke dalam kamar tamu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Menatap sekeliling rungan di san.


Kamar tamu ini lebih dominan dengan cat putih salju. Semua barang-barang di sana juga serba putih. Seprei putih, Lemari putih. Sangat dominan dengan khas seorang wanita.


"Kamar ini indah sekali" ucap Nadia


"Seandainya aku bisa memiliki Bima. Mungkin aku bisa menikmati keindahan apartemen ini terus"


Sedangkan Bima. Pria itu masuk ke dalam kamarnya, Mengambil nafas dalam sejenak"Lebih baik aku mandi saja, Rasanya badanku sangat tidak nyaman" ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah tiba di dalam kamar mandi. Bima mengisi air pada Bathtub. Meneteskan aroma terapi dengan wangi bunga Lily. Menikmati aroma itu sambil memejamkan kedua matanya.


Jam terus berputar sangat cepat, Bima, Devan, Leon serta Nadia sudah siap untuk menjalankan rencana mereka hari ini.


"Bagaimana, Kalian sudah siap?" tanya Bima sambil memperhatikan mereka satu persatu


"Siap. Kita akan melakukan semuanya"


"Iya, Hari ini aku akan membalaskan rasa sakit hati yang sudah Andika lakukan selama ini" timpal Nadia dengan raut wajah yang terlihat sangat marah


Setelah itu, Mereka semua berangkat dengan menggunakan dua mobil. Nadia jalan dengan membawa mobil sendiri sesuai apa yang sudah mereka sepakati kemarin. Jika Nadia yang akan menjadi umpan untuk menjebak Andika sanjaya.


Karna nomor ponsel Andika sudah tidak bisa di hubungi, Akhirnya Nadia memutuskan untuk datang langsung ke rumah Andika. Setelah tiba di sana, Ternyata rumahnya terlihat tidak ada satu penjaga pun.


"Sepertinya hari ini akan menjadi hari terakhir Andika" ucap Nadia sambil menepikan mobilnya.


Wanita itu turun dan memastikan jika di sana memang tidak ada penjaga. Akhirnya Nadia memberikan isyarat pada Bima dan yang lain agar langsung masuk dan menjalankan rencana mereka.


"Sekarang saatnya" ucap Bima pada Devan dan juga Leon yang langsung paham.