
Pandangan Devan tidak sedetikpun lepas dari wanita di depannya, untungnya saat ini semua orang sedang fokus pada makanan mereka masing-masing. sehingga tidak ada orang yang menyadari jika Devan selalu memperhatikan istri dari sepupunya.
Hanya Adelia yang melihat jelas akan hal itu. karna saat ini Adelia memang duduk di samping suaminya,
Tiba-tiba suara Devan membuat Bima dan Mala saling lirik karna Devan meminta gitar yang ada di tangannya,
Mendengar itu membuat Bima langsung memberikan gitarnya pada Devan yang jaraknya memang tidak terlalu jauh,
" Bim, sini gitarnya. Biar aku yang nyanyi" ucapnya sambil mengambil alih gitar itu.
Devan mengambil nafas pelan sebelum memulai lagunya, Pria itu juga menatap Mala dengan tatapan yang terlihat begitu sendu.
🎶 Inikah kisah cinta yang aku sesali.
Kini kau tinggalkan diriku.
Ku tau ini semua kesalahanku.
Yang selalu membuatmu terluka.
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku🎶
🎶 Selama jantung ini berdetak
ku akan selalu menjagamu
hingga akhir waktu🎶
🎶 Selama nafas ini berhembus
tak akan ada cinta yang lain
hingga tua bersama
Ooooo🎶
🎶 Ku mohon kembalilah dalam pelukanku
lihatlah diriku tanpamu
Maafkanlah sayangku
dengarkan janjiku🎶
🎶 Selama jantung ini berdetak
ku akan selalu menjagamu
hingga akhir waktu🎶
🎶 Selama jantung ini berhembus
tak akan ada cinta yang lain
hingga tua bersama🎶
Jangan lupa bacanya sambil nyanyi ala riski febian ya, hehe
" Kenapa suaranya masih sebagus dulu" ucap Mala dalam batin sambil terus memperhatikan Devan yang membawakan lagunya dengan sungguh-sungguh.
Pria itu benar-benar menghayati lagu yang baru selesai dia nyanyikan, sebuah lagu yang selalu mampu membuatnya mengingat mantan istri yang amat di cintainya.
" Wah kak, ternyata suara kak Devan bagus" puji Bima dan membuat Devan mengangkat kedua sudut bibirnya.
" Masih lebih bagus suara kamu kok Bim,"
" Papa, mama sama kakek masuk duluan ya. kalian lanjutin saja, jarang-jarang kan kalian kumpul seperti ini" ucap Wijaya dan langsung meninggalkan taman bersama istri dan sang papa.
Semua yang ada disana menyetujui usulan yang keluar dari mulut Sifa.
Sepuluh menit kemudian permainan itu pun dimulai, kali ini Sifa yang memulai putaran pertama, dan ternyata putaran itu langsung mengarah pada Rendi. Sifa memberikan sebuah pertanyaan yang mampu membuat pria itu terdiam untuk beberapa saat sambil melirik ke arah Adelia.
" Rendi, Siapa sebenarnya wanita yang kamu sayangi saat ini?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Sifa mampu membuat Rendi terdiam. pria itu masih enggan untuk sekedar menjawab, " Mama" ucap Rendi tiba-tiba
Lalu Rendi yang kali ini melakukan putaran kedua, dan putaran itu berhenti tepat di hadapan Adelia. kali ini Rendi harus memberi pertanyaan untuknya.
sebelum bertanya, Rendi mengambil nafas terlebih dahulu. " Siapa laki-laki yang paling kamu cintai?"
" Tanpa aku menjawab, kalian sudah pasti tau. jika laki-laki itu pasti suamiku, Mas Devan" jawab Adelia yang tentu langsung mendapat tatapan tajam dari Devan, dan hal itu juga mampu membuat Rendi memalingkan wajahnya untuk bisa menahan rasa sakit di hatinya. karna sampai detik ini sebenarnya Rendi masih sangat mencintai Adelia.
Kali ini giliran Adelia yang memutar botolnya, dan botol itu berhenti tepat di hadapan Devan.
" Mas, adakan sedikit cinta dari hati kamu untukku?" tanya Adelia sendu
" Tidak ada" Balas Devan cepat dan dingin.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Devan, membuat Adelia menundukkan wajahnya seketika itu. " Kenapa aku harus menanyakan hal yang sudah aku tau jawabannya, bodoh kamu Adelia" Lirih Adelia dalam batinnya.
Dan kali ini Giliran Devan yang memutar botolnya, botol itu berhenti tepat di depan Delisa, istri dari Albima.
Devan melirik Delisa dengan tatapan yang begitu dalam." Siapa laki-laki yang paling berharga dalam hidup kamu?" tanya Devan dengan tatapan yang terlihat begitu dalam.
" Itu pasti kedua putraku juga my boy" Balas Mala sambil memeluk tangan lengan kekar suaminya.
Mendengar jawaban dari Mala. tersirat raut kecewa dari wajah Devan, entah kenapa Devan begitu berharap jika dirinya yang di sebutkan oleh Delisa atau Mala.
" Bodoh kamu Van, Bisa-bisanya berharap jika istri Bima akan mengatakan jika kamulah pria itu. dia bukan Mala Van, dia Delisa, istri dari sepupu kamu sendiri. dia hanya memiliki paras yang serupa dengan Mala. tapi dia bukan Malamu" Devan bermonolog dalam batinnya.
Kali ini Mala yang memutar botolnya, dan botol itu berhenti tepat di depan Sifa.
" Sifa, kapan rencana kamu menikah?"
" Itu tergantung pada calonnya kak, aku siap-siap saja" jawab Sifa sambil menatap rendi yang ada di depannya.
Kali ini Sifa memberikan sebuah pertanyaan pada Bima, karna hanya Bima yang beluk mendapatkan pertanyaan itu.
" Oke kak Bima, Seberapa besar rasa sayang kamu pada kak Delisa?"
Sebelum menjawab Bima memandang Delisa sambil menggenggam tangan wanita itu.
" Rasa sayangku pada istriku tidak bisa di ukur dengan apapun. tapi yang perlu kalian tau, aku sangat sangat sangat menyayanginya, istriku adalah duniaku" ucap Bima begitu tulus.
Mendengar itu membuat Devan menundukkan wajahnya. terlalu sakit untuk menatap pasangan suami istri itu. " Kenapa hatiku harus merasa sakit. padahal wanita itu kan bukan Malaku" Lagi-lagi Devan bermonolog dalam batin.
•
•
•
Tanpa terasa malam berlalu begitu saja, Mala menggeliat saat suara alarm mulai mengusik tidurnya, Wanita itu membuka kedua matanya dan mengerjab beberapa saat, setelah kesadarannya terkumpul sempurna Mala melirik ke arah samping yang saat ini sedang ada pangeran tampan yang selalu setia menemani tidurnya.
Mala tersenyum menatap wajah Bima yang begitu tampan. Wanita itu mengelus lembut rambut suaminya, laki-laki yang selama ini sudah memberikan bahu ternyaman untuknya bersandar,
" Terimakasih my boy. terimakasih atas setiap kesabaran dan kasih sayang yang selalu kamu berikan untukku.. Cup" Mala mencium singkat pipi kiri Bima, dan hal itu membuat jantung Bima berdegup begitu kencang.
Karna sebenarnya Bima juga sudah terbangun. namun pria itu pura-pura tidur saat melihat Mala sudah mulai menggeliat. " Aduh kenap jantungku terasa mau lompat" ucap Bima dalam batinnya.
Mala keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu langsung menuju ke arah dapur dan tanpa Mala sadari ternyata ada seseorang yang berjalan keluar dari dapur itu, tubuh Mala hampir terjatuh Namun tangan kekar orang itu menangkap cepat tubuh Mala,
Deg! Mata Mala membulat saat menyadari tangan siapa yang saat ini sedang menahan tubuhnya. mereka saling pandang dalam beberapa detik, pandangan yang begitu dalam dari keduanya, " Devan"batin Mala.
Ya, pria itu adalah Devan, pria itu keluar dari dalam kamarnya karna merasakan haus,