
"Siapa kamu? Kenapa kamu harus menghalangi aku untuk bunuh diri. lepaskan, Aku sudah lelah dengan hidup ini" Ucap Adelia di sela isak tangisnya.
Rendi masih diam tak bersuara. Pria itu hanya terus memeluk tubuh Adelia begitu erat. Sudah sangat lama Rendi ingin memeluk tubuh ini.
"Jangan seperti ini, Aku masih sangat mencintaimu" Ucap Rendi yang terdengar begitu lembu
Suara Rendi masih sangat Adelia kenali. Wanita itu terdiam sesaat Sambil meraba wajah Rendi yang saat ini sudah ada di hadapannya. "R..rendi" Ucap Adelia sambil terus terisak
Siapa sangka, Jika pria yang dulu pernah Adelia sia-siakan saat ini sedang memeluk erat tubuhnya. Sudah cukup lama Adelia tidak merasakan pelukan itu. Semenjak pertemuannya dengan Devan, Adelia memang tidak pernah menganggap keberadaan Rendi.
"Jangan seperti ini Del. Aku masih begitu mencintai kamu" Ujar Rendi sambil membelai lembut rambut Adelia
Kata-kata itu masih bisa terdengar begitu lembut seperti dulu. Adelia benar-benar merindukan kata-kata yang dulu sering Rendi utarakan padanya.
Namun Adelia sadar, Jika saat ini dia sudah tidak pantas untuk menjadi pendamping Rendi lagi. Mengingat keadaan Adelia yang sudah tidak seperti dulu lagi.
"Pergi Ren. Pergi dari sini. Aku sudah tidak pantas lagi mendapatkan cinta yang kamu punya. Sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa itu. Kamu masih berhak bahagia bersama dengan wanita yang sempurna"
"Tapi aku maunya kamu Del. Aku masih begitu mencintaimu"
"Pergi Ren. Aku sudah tidak pantas mendapatkan cinta itu lagi" Ujar Adelia sambil mendorong tubuh Rendi agar menjauh darinya.
Rendi tak menggubris perkataan Adelia. Pria kembali mendekat dan langsung memeluk tubuh Adelia dengan semakin erat."Aku tidak perduli Adelia! Satu hal yang harus selalu kamu tau dan kamu ingat baik-baik. Hingga detik ini aku masih begitu mencintaimu. Kembalilah bersamaku Adel"
"Pergi Ren! Masih banyak wanita sempurna yang bisa kamu cintai. Karna aku sudah tidak pantas mendapatkan cinta itu lagi"
"Jangan sepert ini Del. Dengarkan akau. Aku mencintaimu, Sangat! Aku mau mengajak kamu untuk rujuk kembali. Tanpa sku sadari. Ternyata aku sudah mengambil keputusan yang sangat salah karna sudah mau melepaskan mu" Ucap Rendi sambil terus memeluk erat Adelia
Rani yang sejak tadi memperhatikan Rendi dan Adelia seketika ikut menjatuhkan air matanya. Wanita itu juga ikut merasakan spa yang saat ini Adelia rasakan.
"Semoga kamu bisa mengambil keputusan yang tepat kak. Karna kamu juga masih berhak bahagia. Semua ini bukan akhir dari segalanya. Justru ini masih di permukaan. Perjalanan kamu masih sangat panjang kak" Ucap Rani sambil terus memperhatikan Adelia dan Rendi.
Tak berselang lama, Ponselnya berdering. Ada beberapa pesan masuk yang langsung membuat Rani mengangkat kedua sudut bibirnya.
[ Aku mau ngajak kamu ke pantai? Apa kamu mau? ]
[ Kalau kamu mau, Akan aku jemput ke rumah mu ]
[ Sekalian aku minta ijin pada kedua orang tuamu ]
Setelah membaca pesan itu. Rani langsung mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah kenapa pertemuan pertama mereka sudah sangat berkesan pada Rani. Wanita itu tersenyum saat mengingat kejadian saat pertemuannya yang pertama dengan pria yang bernama Leonal Ardiansyah, Atau biasa di panggil dengan sebutan dokter Leon.
Flashback Pertemuan Leon dan Rania
Seperti yang sudah di sepakati. Leon dan Rania akan bertemu setelah Rania pulang sekolah. Wanita itu meminta Rina untuk pulang terlebih dahulu, Karna Rania atau biasa di panggil Rani masih ada urusan yang sangat penting.
"Rin, Kamu pulang duluan ya. Aku masih ada urusan penting" Ujar Rani setelah suar bel pulang sudah di dengar.
Rani yang melihat tatapan tajam itu tentu saja merasa sangat tidak nyaman. Karna mau bagaimanapun, Rani tidak mungkin mengatakan pada Rina jika hari ini dia sedang ada janji temu dengan seorang pria yang baru saja dia kenal.
Karna kalau sampai Rina tau akan hal ini, Wanita itu akan menggagalkan seperti yang sebelum-sebelumnya sudah terjadi.
"Kok diem?" Tanya Rina sambil terus menatapnya tajam
"A...aku sedang ada acara osis. Iya, Aku sedang ada acara osis. Iya kan Fit" Ucap Rani sambil memberikan isyarat pada sahabatnya yang bernama Fitri untuk mengiyakan apa yang baru saja Rani katakan
Untungnya Fitri langsung paham dengan kedipan mata yang di berikan oleh Rani"Iya, Kita memang sedang ada urusan osis. Kalau lo mau ikut sih ayo ayo saja"
"Ogah. Mendingan gue pulang"
Setelah itu, Rina langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Kemudian Rani menatap Fitri dan langsung memeluknya"Makasih ya Fit. Kamu yang paling bisa mengerti aku"Ujar Rani sambil memeluk Fitri
"Sama-sama. Memangnya kalau boleh tau kamu mau kemana?"
"Biasalah. Ada panggilan hati"
1 Jam kemudian. Rani sudah tiba di tempat janjian mereka. Wanita itu turun dari ojek dan langsung masuk ke dalam sebuah cafe yang sudah ada Leon menunggu di sana.
Rani memicingkan kedua matanya untuk mencari pria yang sudah menunggunya sejak beberapa saat yang lalu. Tak lama kemudian, Netra Rani berhenti tepat di sebuah meja nomor 9 yang ada di paling ujung.
Melihat itu membuat Rani mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada sebuah akun yang bernama Leonal Ardiansyah.
[ Aku sudah sampai. Apa kamu yang ada di meja nomor 9? ] Send
Leon yang menerima pesan itu pun langsung mengangkat wajahnya dan mencari sosok wanita yang sejak tadi dia tunggu. Kemudian Leon mengangkat tangannya sambil memanggil nama Rania.
"Rania, Aku disini" Ucap Leon sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Setelah tiba di meja nomor 9. Rani masih berdiri dan menatap Leon yang saat ini juga sedang menatapnya.
"Kak Leon" Ucapnya yang terdengar begitu lembut pada indra pendengaran Leon
"Rania ya?" Jawab Leon sambil mengulurkan tangannya
"Silahkan duduk. Akhirnya kita bertemu"
Rani hanya mengangguk. Pertemuan pertama ini sudah membuat Leon langsung merasa menaruh hati pada wanita yang baru pertama kali dia temui. Entah kenapa senyuman yang Rania berikan langsung bisa membekas dan membuat Leon semakin jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Cantik sekali. Lebih cantik dari pada yang di foto" Ucap Leon sambil terus menatap Rani dalam
"Seperti bidadari tak bersayap yang baru aku temui" Ucap Leon yang terdengar begitu lembut
Rani yang di tatap seperti itu tentu merasa sangat malu, Apalagi kata-kata Leon yang sudah berhasil membuat nya merona dan berbunga-bunga.