Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Alasan Dendam Andika Sanjaya


Bima terus menatap Reno yang kini sedang berjalan ke arahnya. Ada rasa kecewa yang terbesit dalam benak Bima. Ternyata selama ini tidak pernah ada ketulusan dari diri Reno. Tapi kenapa Bima tidak menyadari akan hal itu. Kenapa Bima tidak bisa merasakan keanehan Reno selama ini.


"Selamat pagi tuan Muda. Apa hari ini kita jadi pergi ke rumah sakit?" Tanya Reno yang terdengar sopan


Bima tak langsung menjawab. Pria itu sejenak masih menatap Reno"Dasar duri dalam daging. Akan aku perlihatkan bagaimana seorang Albima. Bukan kah selama ini kamu sudah tau jika aku tidak akan melewati batas jika mereka tidak mengusik hidupku lebih dulu" Ucap Bima dalam batinnya


"Tuan, Kenapa tuan Bima menatap saya seperti itu? Apa kita jadi pergi ke rumah sakit?" Tanya Reno lagi


"Ooh tentu saja Reno. Kamu siapkan mobil. Saya akan memanggil Mala sebentar"


"Baik tuan muda" Jawab Reno dan langsung berlalu dari hadapan Bima


Sungguh Bima tidak pernah menyangka jika sosok Reno ternyata adalah seorang penghianat. Setelah melihat tubuh Reno menghilang di balik pintu utama, Bima kembali naik ke atas untuk memanggil Mala.


Menyusuri anak-anak tangga yang ada di sana dengan perasaan yang teramat marah serta kecewa terhadap Reno. Jadi selama ini semua yang Reno lakukan hanyalah sebuah sandiwara.


"Sayang, Apa kamu sudah siap ke rumah sakit?" Tanya Bima sambil memeluk Mala dari belakang


""


Mendapat pelukan seperti itu membuat Mala kaget. "My boy. Kamu mengagetkan aku saja" Ujarnya sambil menambah sedikit lip tin pada bibinya.


"Maaf ya sayang kalau aku mengagetkan kamu. Apa mau bawa Langit sekalian?" Tanya Bima pada Mala


"Iya My boy. Sebaiknya kita bawa Langit. Tapi apa di rumah sakit itu memperbolehkan bawa anak kecil?"


"Aku juga tidak tau sayang. Tapi lebih baik jangan deh. Di rumah sakit kan ada banyak virus. Aku takut nanti malah Langit yang sakit"


"Yaudah. Aku liat Langit sebentar ya. Dari kemaren aku gak liat dia sama sekali" Jawab Mala pelan


"Iya sayang, Aku tunggu kamu di bawah ya" Ujar Bima lembut sambil meninggalkan satu kecupan singkat pada kening Mala


Wanita itu hanya mengangguk pelan sambil menatap kepergian Bima yang sudah menghilang di balik pintu.


Setelah kepergian Bima, Mala memejamkan kedua matanya yang terasa sangat berat. Mungkin karna terlalu lama menangis membuat mata itu sembab.


"Ya allah. Masih terasa seperti mimpi ayah sama bunda sudah tidak ada. Rasanya sangat sulit di percaya jika sekarang aku kembali menjadi yatim piatu" Ucap Mala sambil mengambil nafas berat.


Setelah itu, Mala keluar dari dalam kamarnya. Mala masuk ke kamar yang ada di sebelah. Di sana sudah ada Langit yang masih terlihat sangat lelap dalam tidurnya.


"Selamat pagi sayang. Maafin mommy ya, Hari ini mommy harus ke rumah sakit liat adik kamu sayang. Tapi nanti sore mommy sudah pulang bersama dengan Bintang. Langit baik-baik di sini sama mbk Asih ya" Ucap Mala sambil mencium Langit penuh sayang.


"Mbk, Hari ini saya harus ke rumah sakit lagi. Saya titip Langit ya. Tolong jagain dia dengan baik. Kalau ada apa-apa mbk bisa langsung hubungi saya atau Bima"


"Baik nona. Hati-hati di jalan" Jawab mbk Asih sambil tersenyum pada Mala


"Iya mbk, Saya berangkat ya"


Di Tempat Lain


Sifa dan Leon saat ini masih di rumah sakit. Mereka berdua di minta Bima untuk menjaga Bintang di sana. Karna melihat keadaan Mala yang begitu terpukul serta shock membuat Bima memutuskan agar Mala menenangkan diri terlebih dahulu di kediaman kakek Lustama.


"Kak Leon. Aku ke kantin dulu ya. Laper, Dari semalam gak makan" Ujar Sifa sambil menoleh pada Leon


"Oooh yaudah. Sama sekalian beliin aku juga ya Sif. Laper juga kayaknya"


"Siap kak. Kak Leon mau aku beliin apa?"


"Samain saja lah Sif"


Di saat Sifa sudah bersiap untuk pergi ke kantin, Tiba-tiba saja Wilson datang dan membawa paper bag di tangannya. Melihat kedatangan Wilson membuat Sifa mengukir senyum.


"Mas. Kamu kesini kenapa tidak bilang-bilang?"


"Iya maaf ya Sif. Aku kesini bawakan kamu makan, Pasti kamu belum makan kan?" Ucap Wilson lembut sambil duduk di sofa ruangan Bintang.


Sifa mengangguk pelan"Iya mas. Dari semalam aku belum makan. Terima Kasih ya mas kamu sudah bawakan aku makanan" Ucap Sifa sambil mengeluarkan isi dari paperbag


"Iya sama-sama calon istri" Ujar Wilson sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Mendengar itu membuat kedua pipi Sifa merona. Entah kenapa di sebut dengan kata calon istri membuatnya merasa sangat bahagia.


Jantungnya kembali berdetak cepat saat melihat senyuman yang terukir indah dari raut wajah Wilson. Hal itu membuat Wilson jadi terlihat semakin tampan.


"Sepertinya ada yang lagi bucin nih" Goda Leon yang berada tak jauh dari posisi mereka


"Ayo kak Leon sini. Kita makan sama-sama. Sepertinya mas Wilson membawa makanan yang banyak"


"Oooh tidak perlu Sifa. Lebih baik aku ke kantin saja dari pada disinj jadi obat nyamuk"


Setelah mengatakan hal itu Leon benar-benar bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat melihat kedatangan pujaan hatinya di sana.


Melihat Rani tentu saja langsung membuat Leon merasa sangat bahagia. Akhirnya dia tidak akan menjadi obat nyamuk di antara Sifa dan Wilson yang terlihat sedang di mabuk cinta.


"Sayang. Kamu kesini gak ngabarin aku?"Tanya Leon pada Rani


"Iya maaf ya kak Leon. Aku datang tanpa memberitahu dulu. Aku sudah bawakan kak Leon makanan yang aku masak sendiri loh"


"Oh ya, Kamu bisa masak sayang?"


"Ya bisalah kak. Masak cewek gak bisa masak. Mau makan di mana?"


"Kita cari tempat yang romantis ya sayang. Masa mau makan disini. Bau obat gak enak"


"Ya kan ini rumah sakit kak. Pasti bau obat lah. Kalau di rumah makan baru bau makanan" Ujar Rani sambil terkekeh


"Kamu itu bisa saja deh sayang. Kita makan di taman rumah sakit ini saja bagaimana?"


"Aku ikut kak Leon saja. Jangan kan ke taman rumah sakit. Ke KUA pun aku siap" Ucap Rani sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Sayang, Sejak kapan kamu bisa gombal?" Tanya Leon sambil menatap Rani yang sudah tersipu malu setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan pada Leon


"Sejak kenal sama kak Leon" Jawabnya dan langsung berlalu dari hadapan Leon


Melihat Rani malu-malu seperti itu membuat Leon mengangkat kedua sudut bibirnya. Leon mengekor dan berjalan cepat mengejar Rani.


Di Tempat Lain


"Bagaimana. Apa semuanya sudah sesuai apa yang saya mau?" Tanya seorang wanita pada anak buahnya


"Sudah nona. Semua sudah saya kerjakan sesuai apa yang anda mau. Oh iya nona, Maaf saya lupa mengatakan jika tadi Andika sanjaya mengabari saya"


Mendengar nama Andika Sanjaya membuat Viona menoleh ke arah anak buahnya"Apa katanya?" Tanya Viona penasaran


"Andika Sanjaya mengatakan jika dia akan melakukan planning B. Karna planning A yang sudah dia lakukan berhasil namun Albima masih bisa selamat"


"Berikan saya nomor Andika. Saya akan berbicara dengannya"


"Sudah saya kirim ke nomor anda nona" Ucapnya


Dttt...Dtttt


Mendengar ponselnya berdering. Viona langsung membuka pesan yang dikirimkan anak buahnya. Viona langsung menghubungi Andika sanjaya.


Tak berselang lama, Panggilan itu langsung terjawab oleh Andika. Viona dan Andika memang sudah saling mengenal. Kara mereka memiliki tujuan yang sama. Melihat kehancuran Albima.


πŸ“ž:Halo. Siapa?


πŸ“ž:Aku Viona.


πŸ“ž:Kemana saja kamu Vio. Kenapa beberapa hari ini tidak ada menghubungiku?


πŸ“ž:Ponselku hilang. Ini baru beli ponsel lagi. Bagaimana. Apa yang akan menjadi rencana kamu buat menghancurkan Albima?


πŸ“ž:Ada satu cara.


πŸ“ž:Apa itu?


πŸ“ž:Kita culik istrinya


πŸ“ž:Memangnya kamu yakin hal itu bisa membuat Bima hancur


πŸ“ž:Tentu saja. Bukan kah kamu pernah mengatakan jika Bima sangat mencintai istrinya. Itu adalah satu-satunya cara buat menghancurkan Bima


πŸ“ž:Baiklah. Aku ikut aja apa yang akan menjadi rencana kamu. Tapi yang pasti hal itu harus bisa membuatnya hancur


Setelah itu, Sambungan telpon terputus. Andika tersenyum licik saat membayangkan sebuah rencana yang terbesit dalam benaknya. Andika memang tidak pernah tau seperti apa wajah dari Albima Sunder.


"Kita lihat saja nanti Bima. Aku akan membuatmu menyesal, Sangat menyesal" Ucapnya sambil menikmati buah apel di tangannya.


Di saat seperti ini, Membuat Andika teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepatnya kejadian yang sudah membuatnya sangat membenci Albima dan ingin. melihatnya hancur.


"Kamu sudah membunuh tunangan ku Bima. Oleh karena itu, Kamu juga harus tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kamu cintai" Ujar Andika sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


Mengingat tentang tunangannya membuat Andika mengusap dadanya yang terasa berdenyut nyeri. "Kenapa Latisa harus melakukan itu. Kenapa harus calon istriku yang melakukan hal konyol itu hanya demi Bima" Ucapnya


Flashback 3 tahun yang lalu


Andika yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba saja mendapat sebuah panggilan masuk yang membuatnya merasa sangat terkejut.


Bagaimana tidak terkejut jika kabar yang dia dengar adalah kabar tentang kematian calon istrinya. Wanita yang akan Andika nikahi dalam waktu 2 minggu mendatang.


Mendengar ponselnya berdering, Andika langsung mengambil ponsel itu. Awalnya memang Andika tidak menggubris karna tidak mengenal nomor yang sedang menelponnya. Namun karna nomor itu terus-terusan menghubunginya. Akhirnya Andika terpaksa menjawab.


πŸ“ž:Halo. Siapa?


πŸ“ž:Saya dari pihak kepolisian mau mengabarkan. Jika gadis yang bernama Latisa di temukan meninggal di sebuah gedung yang sudah lama tak terpakai


πŸ“ž:Apa!!!


Mendengar kabar itu, Seketika lutut Andika terasa sangat lemas. Dunianya seperti berhenti berputar"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi" Ucapnya yang terdengar sangat lirih


Dengan cepat Andika menuju lokasi yang sudah di katakan orang tadi. Andika melajukan motornya dengan sangat cepat. Bahkan sesekali dia hampir menabrak pengendara di depannya.


"Maaf maaf" Ujar Andika saat hampir menabrak pengendara didepannya.


Pria itu tidak menghiraukan setiap umpatan yang dia dengar. Yang ada di pikiran Andika saat ini adalah. Bagaimana caranya dia bisa segera sampai ke lokasi.


45 Menit kemudian. Andika sudah tiba di depan gedung yang di katakan orang tadi. Dengan langkah cepat Andika mendekat ke tempat yang mana di sana sudah ada beberapa polisi yang menunggu kedatangan Andika.


Betapa terkejutnya Andika saat melihat kondisi Latisa. Benar-benar menyedihkan. Ada beberapa bagian yang terpisah dari tubuhnya.


"Siapa yang sudah melakukan ini!" Tanya Andika sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kami tidak tau pak.Tadi ada seseorang yang mengabarkan jika ada mayat di sini. Tapi kami tidak menemukan siapapun"


"Ini barang-barang korban yang kami temukan" Ucap polisi itu sambil memberikan barang-barang Latisa.


Kedua mata Andika memicing saat melihat ada foto Bima di sana. Andika mengambil foto itu dan membaca tulisan yang ada di belakang foto.


{ Aku mencintai mu Bim. Tapi kenapa kamu tidak pernah membalas perasaan ku. Kenapa kamu hanya menganggap aku seperti serpihan debu yang tak pernah terlihat. Aku sangat mencintai mu. Bahkan aku rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan cintamu Bim. Termasuk mengorbankan nyawaku }


Setelah membaca itu, Dada Andika terasa sangat sakit. Bagaimana tidak sakit. Dia baru mengetahui hal itu. Jadi selama ini Latisa tidak mencintainya. Melainkan mencintai Albima. Seorang keturunan Mafia terkaya di kotanya.


Andika meletakkan kembali foto itu. Kemudian Andika mengambil ponsel Latisa. Lagi-lagi Andika merasa sangat terkejut saat membaca chatting Latisa dengan Bima.


[ Bim. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi kenapa kemu tidak pernah membalas cintaku Bim. ]


[ Aku mau kamu datang ke gedung tak terpakai yang ada tak jauh dari kampus kita. Kalau kamu tidak datang, Akan aku pastikan kamu tidak melihat aku lagi ]


[ Bim. Kamu beneran tidak mau datang untukku. Baiklah. Mungkin kamu memang menginginkan kematianku ]


[ Selamat tinggal Bima. I Love you so much ]


Membaca semua pesan yang Latisa kirimkan pada Bima membuat Andika menaruh dendam pada Bima. Di samping rasa sakitnya, Andika juga menyalahkan Bima dalam hal ini.


"Kita lihat saja Bim. Apa yang akan kamu lakukan jika melihat wanita yang amat kamu cintai mati seperti Latisa. Wanita yang rela mati karna kamu!" Ucap Dika lagi sambil mengusap kedua matanya