
Entah kenapa Mala selalu merasa tenang saat ada dalam dekapan Bima. Dekapan itu selalu mampu membuat Mala merasa nyaman.
"Janji ya my boy, Bawa Langit dan Bintang kembali. Aku sudah sangat merindukan nya" Ucap Mala dalam dekapan Bima
"Iya sayang, Aki janji akan segera membawa mereka kembali. Jangan menangis lagi ya" Pungkas Bima lembut sambil membelai rambut panjang Mala
Saat mendengar perkataan Bima. Mala mengangkat wajahnya dan menatap bola mata Bima yang kebiruan. "Aku benar-baner sudah tidak sanggup untuk menahan rasa ini my boy. Tolong segera bawa mereka kembali" Ucap Mala lagi yang terdengar begitu lirih
Mala kembali menangis dalam dekapan Bima. Rasa rindu terhadap kedua bayi mungil itu sudah sangat Mala rasakan. Apalagi luka bekas operasi Cesar masih sering Mala rasakan. Tapi hingga detik ini masih belum ada titik terang di mana keberadaan kedua bayi itu.
"Kamu makan ya my boy. Aku ingin kamu lekas sembuh dan bisa mencari keberadaan mereka" Ucap Mala sambil mengambil nasi dan menguapkan pada Bima
"Iya sayang. Kamu tenang saja, Cepat atau lambat, Langit dan Bintang akan segera kembali" Ucap Bima sambil menatap Mala
Bima makam dan langsung di lanjut dengan minum obat. Setelah itu, Bima mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang yang sudah dia perintah untuk terus mencari tau keberadaan si kembar.
Tak berselang lama, Orang di ujung telpon langsung menjawab panggilan Bima.
π:Halo tuan muda
π:Bagaimana, Apa sudah ada perkembangan tentang pencarian kalian?
π:Ada tuan. Tapi masih samar-samar. Kami masih mau melakukan penyidikan
π:Jika kalian kesulitan, Langsung hubungi saya
π:Baik tuan muda. Sejauh ini kami sudah hampir berhasil melacak keberadaan orang yang sudah membawa baby Twin
π:Apakah kalian sudah tau siapa pelakunya?
π:Sudah tuan. Hasil sidik jari dan juga beberapa bukti yang kita temukan, Kemungkinan besar yang membawa mereka pergi seorang perempuan dengan nama Nadia
π:Apa!! Nadia?
π:Iya tuan muda. Menurut penyidikan kami, Yang membawa mereka adalah Nadia. Kami masih melacak kemana dia melakukan penerbangan.
π:Terus lacak keberadaan mereka. Saya tunggu hingga sore
Setelah mengatakan hal itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Saat mendengar nama Nadia, Membuat Bima merasa sangat terkejut.
"Ada apa my boy?" Tanya Mala saat melihat raut wajah Bima yang terlihat marah
Mendengar suara Mala membuat Bima yang sudah emosi langsung reda kala mendengar sura lembut itu. Bima menatap Mala dalam.
"Kemungkinan besar yang membawa mereka berdua adalah Nadia sayang. Apakah kamu ingat dengan wanita yang sudah mengangkat telpon mu saat itu?"
"Apa!! Kamu sedang tidak bercanda kan my boy?"
"Tidak sayang, Menurut penyidikan orang suruhan ku, Nadia lah pelakunya"
Saat mendengar nama Nadia membuat Mala terdiam sejenak. Wanita itu masih mengingat jelas saat orang yang bernama Nadia datang dan menangis saat melihat keadaan Bima.
"Tunggu deh my boy, Aku baru ingat jika hari itu Nadia sempat datang. Tepatnya sebelum kejadian hilangnya Langit dan Bintang" Ujar Mala pada Bima
Bima yang mendengar perkataan Mala langsung terkejut dengan apa yang baru saja Mala katakan.
"Kamu serius sayang? Kenapa kamu tidak mengatakan sola ini sebelumnya?"
"Iya my boy, Aku serius. Aku pikir Nadia datang tidak ada maksud apa-apa. Tapi mungkin dia itu cinta sama kamu" Ucap Mala lagi
Ucapan Mala membuat Bima terdiam seketika. Pria itu tidak tau harus menjawab apa setelah melihat wajah lain Mala.
Akhirnya Bima mengubah topik pembicaraan mereka untuk menghindari pertanyaan lain nya yang akan Mala utarakan.
"Sayang, Aku bosan di dalam kamar terus. Kamu mau kan temani aku ke taman samping?" Ucap Bima sambil menatap Mala
"Ya sudah, Ayo. sesekali kamu memang harus berjemur" Jawabnya dan langsung membantu Bima bangun dari tempat tidur
Karna kondisi Bima masih kurang baik. Mereka memutuskan turun menggunakan eskalator yang memang di pasang oleh Sunder sejak rumah ini di bangun.
Melihat kedatangan Bima dan Mala, Sunder juga Lina yang sejak tadi sedang fokus mengobrol langsung menoleh ke arah mereka. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Tapi yang pasti mereka berdua tidak ingin jika obrolan ini sampai terdengar oleh orang lain. Lebih tepatnya oleh Bima.
"Bima, Mala. Kalian mau kemana?" Tanya Sunder saat melihat kedatangan Bima juga Mala.
"Bima mau ke taman pa. Bosan lama-lama di dalam kamar. Bima ingin segera sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa" Ucap Bima pada Sunder
"Iya sayang. Kalau kamu ingin segera sembuh, Kamu harus perbanyak gerak. Agar aliran darahnya juga lancar kan" Timpal Lina
Bima tak lagi menjawab. Pria itu hanya mengangguk paham dengan apa yang di katakan oleh maminya.
Saat ini Bima dan Mala sudah tiba di taman samping kediaman Sunder. Ini baru pertama kalinya Mala datang ke tempat ini. Mala duduk berdampingan dengan Bima.
Tiba-tiba saja Bima mengatakan hal yang langsung membuat dada Mala terasa begitu sesak setelah mendengar apa yang sudah di katakan oleh suaminya.
"Sayang" Panggil Bima Dengan suara lembutnya
"Iya my boy, Kenapa?" Jawabnya sambil menoleh ke arah Bima
"Nanti kalau aku sudah sembuh dan anak kita sudah kembali, Aku ingin kamu belajar bela diri juga hal lainnya" Pekik Bima sambil menatap kedua mata Mala.
"Maksudnya bagaimana my boy, Aku tidak paham?"
"Nanti, Aku akan mengajarimu banyak hal tentang menjaga diri. Aku ingin kamu menguasai apa yang aku bisa" Ucapnya
"Untuk apa aku harus melakukan semua itu Bim?"
"Untuk menjaga-jaga jika kemungkinan waktu itu sudah benar-benar datang"
"Aku mau kamu yang menjadi direktur di perusahaan milikku. Aku akan menyerahkan semua itu pada mu sayang. Oleh karena itu, Aku ingin kamu belajar bela diri serta hal lainnya. Karna dunia bisnis itu kejam" Ucap Bima sambil menggenggam tangan Mala.
Mala yang mendengar perkataan Bima langsung melepaskan genggaman tangan itu.
"Untuk apa Bim. Bukan kah ada kamu yang akan selalu melindungi ku? Bukan kah kamu tidak akan pernah membiarkan hal buruk itu terjadi"
"Aku tau sayang. Tapi itu hanya untuk berjaga-jaga. Karna tidak selamanya aku bisa ada di samping kamu" Ucap Bima yang terdengar begitu sendu
"Kenapa lagi-lagi kamu mengatakan hal itu Bim. Apa tidak bisa sehari saja kamu tidak membahas soal ini! Aku tidak sanggup jika hal itu benar-benar terjadi Bim. Apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu di samping ku. Hiks...hiks...."
"Kamu jahat Bim. Kamu jahat! Bukan kah dulu kamu sendiri yang mengatakan jika ucapan itu adalah doan, Itu sama saja kami berdoa untuk hal yang paling aku takutkan Bim. Aku mohon jangan pernah katakan itu lagai. Hiksss...hiksss..."
Melihat Mala seperti itu membuat Bima membawa wanitanya dalam dekapan hangatnya. "Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Bukan kah memang cepat atau lambat hal itu akan datang kepada ku sayang. Aku hanya ingin kamu mempersiapkan diri untuk hal itu" Ucap Bima sambil membelai Mala lembut
"Tapi aku tidak suka dengan apa yang sudah kamu katakan Bim. Aku benci kata-kata itu" Ucap Mala dan langsung pergi meninggalkan Bima sendiri.
Setelah kepergian Mala. Bima menundukkan wajahnya. Dadanya juga terasa mulai sesak. Kedua matanya juga terasa begitu panas.
"Maafkan aku sayang. Aku juga sangat tidak siap akan hal itu. Aku juga tidak sanggup untuk meninggalkan kamu juga mereka. Kalian adalah segalanya" Ucap Bima yang terdengar begitu lirih.
"Mala, Bima mana nak?" Tanya Lina saat melihat Mala masuk ke dalam rumahnya seorang diri dengan kedua mata yang terlihat basah.
"Ada di luar mana mi" Jawab Mala tanpa mau menoleh ke arah Mala
Setelah Mala sudah naik ke atas, Sunder dan Lina langsung saling lirik saat melihat Mala seperti habis menangis. Padahal tadi waktu keluar mereka masih terlihat baik-baik saja.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Sunder pada Lina
"Entahlah Pi. Biar mami cari tau" Balas Lina dan langsung bangkit dari duduknya.
Di saat Lina sudah menghampiri Bima. Tiba-tiba saja ponsel Bima kembali berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari Reno. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Dengan cepat Bima menekan tombol terima.
π:Halo. Ada apa?
π:Halo tuan muda. Saya mau mengabarkan jika wanita yang bernama Nadia saat ini sedang berada di Indonesia beserta kedua bayi tuan muda.
π:Minta seseorang untuk melacak keberadaan mereka di sana. Saya akan segera melakukan penerbangan ke indonesia.