
"Move on dan lupakan apa yang membuatmu luka" Ucap Nadia sambil menatap Devan
Mendengar kata Move on membuat Devan teringat pada Mala. Akhirnya Devan mendengar kata kata itu lagi. Apa memang ini sudah waktunya buat Devan move on dan lupakan semua masa lalunya bersama dengan Mala. Wanita yang begitu di cintanya.
"Kamu benar Nad. Aku harus move on. Tapi apakah aku bisa melupakan semua tentang masa lalu aku dan Mala. Sedangkan semua kenangan itu terasa indah dan sulit untuk aku lupakan" Ucap Devan sendu sambil menatap Nadia
"Selagi ada niat, Kenapa tidak. Semua kenangan indah terkadang memang sulit untuk di lupakan. Tapi apakah kamu sanggup jika seumur hidupmu hanya merasakan luka karna kenangan indah itu? Apakah kamu siap merasakan sakit yang jauh lebih dari pada saat ini" Ucap Nadia yang terdengar pelan namun langsung mampu membuat Devan terdiam untuk beberapa saat.
"Apakah kamu pernah mendengar kata pepatah. Cinta itu indah, Namun terkadang keindahan itu yang membuat kita terluka." Lanjut Nadia lagi
"Aku tau Nad. Ada juga pepatah mengatakan. Kejarlah apa yang membuatmu bahagia, Karna terkadang kita juga butuh berkorban untuk mendapatkannya" Ucap Devan sambil menatap Nadia
"Memang. Tapi saranku, Lebih baik kamu lupakan cinta yang tidak mungkin bisa kamu miliki lagi Van. Karna ya percuma saja. Buang-buang waktu"
Mendengar perkataan Nadia membuat Devan kembali menatapnya"Karna terkadang melakukan tidak semudah menjalankan. Gampang di mulut tapi sulit di hati" Ucap Devan pelan
"Dan aku yakin. Kamu juga hanya bisa menasehati. Tapi apakah kamu bisa melakukan apa yang baru saja kamu katakan terhadapku. Membuang perasaan terhadap Bima" Pungkasnya sambil menatap Nadia
"Sepertinya sih tidak bisa. Susah melupakan pria tampan sepertinya"Ucap Nadia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Memang tampan, Tapi suami orang. Hahah"Ucap Devan pada Nadia
"Tidak perlu menertawakan saya. Situ apa kabar, yang juga masih mencintai istri orang" Balas Nadia sambil terkekeh
"Lucu ya, Kita mencintai seseorang yang menjadi pasangan suami istri" Ucap Nadia lagi
"Kamu benar Nad. Ini benar-benar lucu"
Setelah itu Devan dan Nadia memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun sebelum masuk ke dalam kamarnya, Devan tak sadarkan diri. Dan di saat Nadia menyentuh keningnya, Ternyata Devan sedang demam tinggi.
"Van, Ya ampun kamu demam Van" Ucapnya sambil menyentuh Kening Devan dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Setelah tiba di dalam, Nadia menidurkan Devan pada ranjangnya. Lalu mengambil air dan mengompres Devan. Entah kenapa melihat Devan seperti itu membuat Nadia panik dan khawatir.
"Sadar Van. Astaga ini panas banget. Pasti karna Devan masuk angin" Ucapnya sambil meletakkan handuk di kening Devan
****
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Mala menggeliat saat mendengar suara gelak tawa kedu anaknya. Ternyata mereka berdua sudah bangun dan saat ini sedang di temani oleh Bima.
Wanita itu mengerjab beberapa saat dan menatap Bima yang saat sedang asik menemani kedua anaknya. Tiba-tiba saja Bintang yang tadi tertawa menjadi kejang-kejang dan membuat Bima sangat panik.
"Astaga, Bintang, Kamu kenapa sayang?" Tanya Bima saat melihat Bintang kejang dan suhu tubuh yang sangat tinggi.
Padahal sejak tadi Bintang itu baik-baik saja. Dan sekarang tiba-tiba saja kejang dan sangat panas.
Mala yang melihat itu langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju box bayi. Apalagi saat melihat raut panik Bima.
"Ada apa Bim?" Tanya Mala sambil mendekat pada mereka
"Bintang kejang sayang. Badannya sangat panas"
"Astaga. kita harus segera bawa Bintang ke rumah sakit Bim. Aku tidak mau sampai Bintang kenapa-napa" Ucap Mala panik
"Iya sayang, Aku siapkan mobil dulu ya"
Bima memberikan Bintang pada Mala. Raut wajahnya sudah benar-benar terlihat sangat panik. Pasalnya anak sekecil Bintang sudah kejang kejang dan suhu tubuhnya juga sangat panas.
Reno yang melihat Bima menyalakan mobil tentu saja merasa sangat penasaran, Karna tidak biasanya Bima menyiapkan mobil sendiri.
Melihat itu membuat Reno mendekat pada Bima"Selamat pagi tuan. Ada apa? Kenapa tuan muda terlihat begitu panik?" Tanya Reno penasaran
"Saya harus segera membawa Bintang ke rumah sakit. Saat ini dia sedang kejang dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Saya minta tolong kamu katakan pada mereka buat menjaga Langit. Saya harus segera pergi" Ucap Bima saat sudah melihat Mala keluar dari dalam
"Baik tuan. Hati-hati di jalan. Semoga Bintang baik-baik saja" Ucap Reno pada Bima
"Iya Reno, Terimakasih"
Setelah itu Bima melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, Karna terlalu panik, Bima melajukan mobilnya hingga di atas rata-rata. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu, Bagaimana caranya sampai ke rumah sakit dalam waktu yang sangat cepat.
Beruntung hari masih sangat pagi, Sehingga jalanan tidak terlalu macet, Sehingga Bima bisa leluasa untuk mempercepat laju mobilnya.
"Sabar ya sayang, Sebentar lagi kita akan segera sampai ke rumah sakit" Ucap Mala sambil terus menatap Langit yang suhu tubuhnya semakin tinggi.
"Cepat Bim, Suhu tubuh Bintang semakin tinggi. Aku benar benar takut terjadi sesuatu pada Bintang" Ucap Mala sambil menatap Bima
"Iya sayang. Kamu yang tenang ya, Berdoa saja semoga Bintang baik baik saja" Ucap Bima sambil menggenggam tangan Mala
"Aku takut my boy" Serunya yang terdengar begitu lirih
30 Menit kemudian, Mobil Bima sudah tiba di rumah sakit BERLIAN. Dengan cepat Bima turun dan membuka pintu mobil Mala.
Tak berselang lama, Rendi yang sedang berjaga malam keluar dari rumah sakit. Kedua matanya memicing saat melihat Mala yang keluar dari dalam mobil dengan wajah yang terlihat sangat panik.
Melihat itu membuat Rendi mendekat dan menghampiri Mala juga Bima. "Mala, Bima, Kenapa wajah kalian panik seperti itu?" Tanya Rendi sambil terus menatap mereka berdua
"Dokter Rendi, Tolong dokter. Anak saya kejang-kejang, Suhu tubuhnya juga sangat tinggi" Terang Mala pada Rendi
Mendengar itu membuat Rendi menyentuh kening Bintang"Astaga. Ini suhu tubuhnya panas sekali. Ayo cepat bawa ke ruangan IGD" Pinta Rendi sama Mala
Mala dan Bima membawa Bintang ke ruangan IGD dan di ikuti oleh Rendi yang mengekor di belakangnya. Melihat anak sekecil itu dengan suhu yang begitu panas membuat Rendi mempercepat langkahnya. Dia juga ikut panik saat tadi memeriksa keadaan Bintang.
Setelah tiba di ruangan IGD. Rendi langsung memeriksa keadaan Bintang. "Astaga. Sepertinya anak ini terkena DBD" Ujar Rendi sambil terus memeriksa bayi itu
"Sus, Tolong ambilkan darah golongan AB-. Trombositnya sangat rendah, Kita harus segera melakukan transfusi darah" Ucap Rendi pada suster yang ikut membantunya
"Maaf dokter, Untuk saat ini stok darah AB- di rumah sakit ini sedang kosong" Terang suster itu
"Kalau begitu kamu kasih tau kedua orang tuanya. Salah satu dari mereka pasti ada yang memiliki golongan darah itu"
"Baik dokter"
Setelah mendengar itu, Suster yang tadi langsung keluar dan menemui Mala juga Bima di luar ruangan IGD. Mala yang melihat pintu IGD terbuka langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan anak saya suster?" Tanya Mala panik
Suster itu tak langsung menjawab. Dia masih menatap Mala dan Bima sacara bergantian"Anak ibu terkena DBD. Dan trombositnya sangat rendah. Oleh karena itu kita harus segera melakukan transfusi darah, Dan kebetulan stok darah AB- di rumah sakit ini sedang kosong. Di antara kalian siapa yang memiliki golongan darah tersebut?"
Ucapan suster itu berhasil membuat Mala dan Bima saling lirik.Karna mau bagaimana pun, Golongan darah Mala bukan AB-. Apalagi Bima.
"Apa!!" Ucap Mereka secara bersamaan