
Jangan cintai istri Bima kak. Dia sudah menjadi milik Bima. Lupakan istri Bima kak!
Kata-kata itu selalu terngiang jelas pada indra pendengarannya, Devan keluar untuk mencari ketenangan dan berharap bisa melupakan apa yang sudah Bima katakan.
Devan jalan ke pantai dan bermain air di sana."Aaaaaaa.. Bagaimana caranya agar aku bisa membuang rasa ini" Teriak Devan saat sudah tiba di pinggir pantai
"Kenapa aku harus terjebak percintaan yang rumit" Ucap Devan lagi
"Seandainya saja waktu itu Adelia tidak pernah melakukan hal konyol itu. mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama dengan Mala tanpa kehadiran Bima di antara kita"
"Aku benci kamu Adelia! Sangat membencimu" Ucap Devan penuh penekanan
"Malam. Ajarkan aku caranya untuk bisa membuang perasaan konyol ini. Aku ingin hidup normal tanpa adanya bayang-bayang masa lalu" Teriak Devan lagi
Tanpa terasa air mata Devan berhasil berhasil lolos begitu saja. Sungguh dadanya terasa sangat sesak saat teringat akan perkataan Bima saat di restoran tadi.
Kata-kata itu berhasil mengganggu pikiran Devan. Bagaimana caranya melupakan wanita yang amat di cintanya. Sedangkan perasaan Devan ternyata sudah sedalam itu.
"Apa yang harus aku lakukan! Kenapa rasanya begitu sakit saat melihat Mala terlihat bahagia bersama dengan saudara sepupuku sendiri. Kenapa harus Bima yang menjadi suaminya, Kenapa!!" Ucap Devan lagi
"Apa lebih baik aku mati?" Ucap Devan sambil berjalan ke tengah pantai
Devan masih terus berteriak tak jelas, Dia pikir sudah tidak ada siapapun yang akan mendengar semua curahan hati yang saat ini benar benar mengganggu pikirannya.
Tapi ternyata Devan salah. Karna tak jauh dari tempatnya, Ada Mala yang sejak tadi sudah mendengar semua yabg telah Devan katakan.
Di saat Devan sedang merenung meratapi garis takdirnya, Tiba tiba ada suara langkah kaki yang sedang berlari menuju ke arahnya. Namun Devan tidak mau tau siapa yang datang,
Pria itu terus berjalan tanpa mau menghiraukan panggilan seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. "Hei tunggu, Kamu mau kemana?"Panggil orang itu sambil terus berlari menuju tempat Devan
Mendengar suaranya yang begitu familiar membuat langkah Devan terhenti untuk beberapa saat. Tapi hanya beberapa saat, Karna pria itu kembali melangkahkan kakinya saat melihat syal yang tadi dia gunakan di bawa angin hingga hampir ke tengah pantai.
"Kenapa aku seperti mendengar suara Mala, Astaga, Itu sangat tidak mungkin. Untuk apa Mala ada disini jam segini. Palingan saat ini dia sedang tidur sambil pelukan dengan Bima"Ucap Devan dalam batinnya sambil kembali melangkahkan kakinya
Mala yang melihat orang yang dia kejar semakin berjalan ke tengah pantai membuat Mala semakin mempercepat langkahnya. Wanita itu tidak tau jika orang yang dia kejar adalah Devan.
"Astaga, Ada apa dengannya. Mau bunuh diri di situ. Hei tunggu, Berhenti di situ" Teriak Mala sambil terus mempercepat langkahnya
"Astaga. Ada masalah apa sampai dia mau bunuh diri" Ucap. Mala lagir
Di saat Mala sudah semakin dekat, Dia melihat ada ombak besae yang akan segera tiba di sana. Melihat itu membuat Mala menjadir panik"Ya ampun ombak, Ada apa dengan orang itu. Apa sudah bosan hidup, Main-main dengan keselamatan.Apa dia sedang putus cinta" Seru Mala lagi
Mala yang melihat ombak sudah semakin dekat membuatnya berlari dan menarik tangan pria yang sejak tadi di pikir mau bunuh diri"
Sedangkan Devan yang terlalu fokus pada syal itu sampai tidak menyadari jika ada ombak besar yang hampir membawa tubuhnya.
Karna Mala tidak terlalu kuat, Akhirnya mereka terjatuh di atas pasir dengan posisi Mala di bawah. Mata Devan memicing saat melihat ada Mala di kungkungannya.
"Apa aku sedang bermimpi? Jika iya, Lebih baik aku tidur selamanya. mimpi ini terlalu indah untuk aku lewatkan" Ucap Devan dalam batinnya.
Pria itu menatap kedua bola mata Mala yang saat ini juga sedang menatapnya"Aku tidak boleh menyianyiakan mimpi ini. Mimpi indah yang sudah sejak lama aku nantikan" Ucap Devan sambil meletakkan kepalanya pada dada Mala.
Ternyata dia benar-benar menganggap ini hanyalah sebuah mimpi. Tapi sayangnya ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang mungkin terasa sangat indah untuk seorang Devan adiwijaya
"Aku ingin selamanya ada dalam mimpi ini. Mimpi indah yang sudah sangat lama aku nantikan" Ucap Devan yang bisa terdengar jelas oleh Mala
Wanita itu membulatkan kedua matanya saat melihat Devan mendekatkan bibirnya dan langsung ******* bibir ranumnya."Aku sangat merindukan mu sayang. Jangan biarkan aku kembali pada dunia nyata yang begitu menyakitkan" Ucap Devan yang terdengar sangat pilu
Setelah mengatakan itu, Devan kembali mencium bibir Mala dengan kelembutan dan penuh rasa sayang. Sialnya Mala malah terdiam mematung dengan ciuman yang Devan lakukan. Ingatannya teringat pada masa-masa dia dan Devan masih ada dalam hubungan yang baik-baik saja.
Devan yang sudah menikmati ciumannya langsung merasa sangat kecewa saat merasa sudah kembali pada dunia nyata. Namun tiba-tiba saja dia menatap Mala dan menepuk pipi kanannya.
"Apa ini nyata. Jadi aku tidak sedang bermimpi?" Tanya Devan sambil menatap Mala
"Ini memang nyata mas. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan" Ucap Mala sambil menatap Devan tajam
Namun Devan tidak menghiraukan tatapan tajam itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah satu. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Devan menatap Mala dengan pandangan yang mengandung banyak arti. Hingga Mala sendiripun tidak dapat mengartikan pandangan itu.
Setelah cukup lama memandang, Devan langsung menarik tubuh Mala dan membawa wanita itu dalam dekapannya. Dekapan yang selalu terasa nyaman buat Mala.
Tapi dia masih sadar jika dekapan itu sudah tidak seharusnya terjadi. Hanya Bima yang boleh melakukan itu. Iya hanya Bima.
"Lepas mas, Tidak seharusnya kamu memelukku seperti ini mas" Ujar Mala sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Devan. Namun usahanya sia-sia. Karna Devan bukan melepaskan tapi malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan aku menikmati pelukan ini sayang. Pelukan yang sudah sangat lama aku rindukan. Aku benar-benar merindukan mu" Seru Devan sambil memeluk erat tubuh Mala
"Aku mohon jangan seperti ini mas. Status kita sudah berubah"
Mendengar perkataan Mala membuat Devan merasa sangat kesal. Kenapa lagi-lagi Mala mengatakan hal itu. Status memang sudah berubah, Tapi Devan masih tetap mencintainya sebesar itu.
"Lepaskan aku mas. Lepaskan" Ucap Mala lagi
Devan yang merasa sangat kesal dengan perkataan Mala langsung menatapnya dan kembali mencium bibir ranumnya. Pria itu benar benar membungkam mulut Mala dengan bibirnya.
Hal itu tentu saja membuat Mala membulatkan kedua matanya. Devan ini ternyata masih belum berubah, Masih sama mesum seperti dulu.
Devan semakin menciptakan sensasi nyaman dari ciuman itu. Ciuman yang semakin panas dan menuntut. Ingin rasanya Devan melakukan hal itu pada Mala. Namun dia masih cukup waras karna teringat akan Bima.
Setelah cukup puas dengan bibir Mala, Devan melepaskan pangutan bibirnya. "Maafkan aku" Ucap Devan sambil menatap Mala
"Gila kamu mas. Ternyata kamu masih semesum dulu. Bisa-bisanya menciumiku seperti tadi"
"Maafkan aku Mala, Aku terbawa suasana"
"Jangan lakukan itu lagi mas. Sekarang semuanya sudah berubah" Ucap Mala yang mengingatkan Mala
Setelah mengatakan hal itu, Mala langsung berlalu meninggalkan Devan yang sudah mematung setelah mendengar perkataan Mala tadi. Namun langkahnya terhenti saat suara Devan terdengar jelas pada telingannya
"Ajari aku bagaimana caranya melupakan kamu Mala" Ucap Devan yang terdengar sangat pilu
Mendengar itu membuat Mala membalikkan tubuhnya"Memangnya dulu aku mengajari mu bagaimana caranya mencintai. Jika itu bisa mas lakukan tanpa belajar. Tentunya mas Devan juga tau bagaimana caranya melupakan" Ucap Mala sambil menatap Devan
"Karna melakukan tidak semudah kamu mengatakan Mala. Susah. Oleh karena itu aku bertanya padamu. Ajari aku caranya melupakanmu" Ulang Devan lagi
"Kamu hanya perlu melakukan satu hal mas"
"Apa memangnya yang bisa aku lakukan untuk membuang rasa yang membuatku terluka ini!"
"Move on" Ucap Mala tanpa melihat wajah Devan
Setelah mengatakan hal itu. Mala benar-benar berlalu meninggalkan Devan yang masih mematung. Pria itu masih mencerna perkataan Mala. Move on! Apakah dia bisa?
"Aaaaaaarrrggj. Kenapa rasanya ini menyiksa ku" Teriak Devan dan bisa terdengar jelas oleh Mala
Sedangkan Mala yang mendengar itu hanya terus melangkahkan kakinya menuju penginapan"Maafkan aku mas. Semua ini mungkin sudah yang terbaik.Kita sudah tidak di takdirkan untuk berjodoh. Semoga kamu bisa bahagia" Ucap Mala sambil memejamkan kedua matanya yang terasa panas.