Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Hasil tes DNA


Dttttt Dtttt


Suara dering ponsel langsung berhasil membuat Leon mengangkat kedua sudut bibirnya. Bagaimana tidak, Jika wanita yang dia ajak untuk bertemu malah mengiyakan ajak itu


[ Boleh. Tapi aku besok masih sekolah ]


Membaca isi pesan itu membuat Leon mengangkat kedua sudut bibirnya. "Sepertinya sebentar lagi status jomblo ku akan segera berakhir" Ucap Leon sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya dan menatap terus ponselnya.


Bima dan Sifa yang mendengar perkataan Leon seketika langsung membuat mereka berdua mengurutkan keningnya. Ada apa dengan Leon? Kenapa terlihat begitu bahagia


"Ada apa dengan mu? Kenapa terlihat bahagia sekali?" Tanya Bima sambil menatap Leon


"Kepo" Jawab Leon sambil terus menatap layar ponselnya


?0??


"Iiihh, Ngeselin banget sih kamu Leon"


"Biarin. Emang ngeselin kok" Jawab Leon yang masih senyum-senyum sendiri


"Dasar tidak jelas" Cibir Bima pada Leon


"Biarin saja. Tapi yang jelas sebentar lagi sepertinya masa jomblo ku akan segera berakhir"


"Memang yakin ada yang mau?"


"Iiisshh. Dasar sahabat menyebalkan. Tidak ada gunanya aku mengatakan padamu" Umpat Leon pada Bima


Bima yang melihat raut wajah Leon hanya mengangkat kedua sudut bibirnya. Kemudian Bima mengajak Sifa untuk membawa mereka ke dalam kamar yang saat ini sedang di tempati Mala.


"Sifa, Kita sebaiknya tinggalkan dia sendiri. Sepertinya Leon sudah mulai mau bucin" Ucap Bima dan langsung bangkit dari duduknya


"Kak Bima, Jangan seperti itu, Kasian kak Leon. Biarkan dia melepaskan masa jomblonya" Ucap Sifa dan langsung mengekor di belakang Bima


Leon yang mendengar itu hanya melirik mereka berdua tajam "Dasar kakak adik menyebalkan"


Di dalam kamar


"Kak, Apa gak sebaiknya kita bangunin kak Mala" Tanya Sifa pada Bima


Bima tak menjawab. Pria itu menatap Mala yang terlihat begitu lelap. Hingga membuat Bima merasa sangat tidak tega untuk sekedar membangunkannya.


"Jangan Sif. Sudah tidak apa-apa. Kamu taruh Bintang di sebelah Mala. Tidak perlu bangunkan dia. Kasian. Sepertinya Mala begitu lelah. Sudah biar aku saja yang akan mengurus mereka"


"Apa aku bantu urus dulu sampai mereka tidur kak?" Tanya Sifa sambil meletakkan Bintang di dekatnya Mala


"Tidak perlu Sif. Kakak bisa kok. Terimakasih ya. Terimakasih juga atas apa yang sudah kamu lakukan. Itu semua benar-benar sangat membantu"


"Tidak perlu berterimakasih kak. Ini Sifa lakukan karna Sifa tau bagaimana perasaan kakak. Kak Bima berhak bahagia bersama dengan mereka" Ujar Sifa sambil memperhatikan Mala dan kedua anaknya


"Sekali lagi terimakasih ya Sif. Kamu yang sudah sangat membantu"


"Ita kak. Sudah tidak usah berterimakasih terus. Sekarang kakak tidur juga ya. Kayaknya mereka berdua sudah mulai mengantuk"


"Iya Sif. Kami juga tidur ya"


Flashback off


Mendengar cerita Bima membuat Mala mengerutkan keningnya. Masih belum terlalu paham dengan apa yang sudah Bima ceritakan.


"Sebentar my boy. Tadi kamu bilang jika Sifa yang sudah sangat berjasa dalam hal ini. Maksudnya bagaimana?" Tanya Mala begitu penasaran


"Iya sayang. Sifa sudah sangat membantu kita. Dia sudah menukar sempel rambut mereka dengan anak orang lain"


"Benarkah. Apa itu artinya hasil tes DNA itu tidak akan mengatakan jika mereka adalah anaknya mas Devan?"


Di saat Mala dan Bima bahagia karna kembalinya kedua anak mereka, Berbeda dengan Devan yang saat ini sedang merasa panik serta khawatir karna hilangnya Langit dan Bintang.


"Bagaimana, Apa kalian sudah mengecek rekaman CCTV di tempat ini?" Tanya Devan saat sudah tiba di ruangan CCTV


"Sudah tuan. Tapi tidak ada apa-apa di sini. Tidak ada satu hal pun yang mencurigakan dari rekaman ini. Semua ada di tahan normal"Ucap Alex pada Devan


Mendengar itu membuat Devan mengambil nafas berat. Kakinya terasa lemas saat tidak mendapatkan petunjuk apapun dari rekaman cctv itu.


Sedetik kemudian, Alex yang baru menyadari jika ada yang kurang dari rekaman CCTV itu langsung mengatakan pada Devan tentang apa yang dia lihat.


"Maaf tuan. Sepertinya ada yang aneh dari rekaman cctv ini" Ucap Alex pada Devan


"Apa maksud kamu Alex?"


"Lihat ini tuan. Disini ada rekaman yang terpotong. Disini 23:30 dan ini langsung 00:00. Ini berarti ada sekitar 30 menit rekaman cctv yang hilang" Ucap Alex sambil terus memastikan rekaman cctv itu.


Alex masih memutar ulang rekaman cctv yang menurutnya ada yang janggal.


"Sial. Siapa yang sudah melakukan ini. Mereka sudah benar-benar tidak meninggalkan sedikit jejak disini" Ucap Devan tang terlihat sangat marah


"Saya akan berusaha menemukan siapa pelakunya tuan"


"Cepat lakukan sekarang. Aku mau mereka di temukan sebelum hasil tes DNA itu keluar" Ucap Devan dan langsung pergi meninggalkan Alex yang masih terdiam.


"Akan saya usahakan tuan"


Setelah keluar dari ruang rekaman cctv. Devan kembali menemui Nadia yang sudah terlihat pucat setelah melihat kedatangan Devan.


"B...bagaimana Van?" Tanya Nadia dengan wajah pucat nya


"Bagaimana kamu bilang. Kalau sampai mereka berdua tidak di temukan, Siap-siap kamu akan aku jadikan sate" Ucap Devan dingin dan langsung pergi dari sana


Nadia yang mendengar hal itu tentu saja menjadi semakin pucat. Apalagi ekspresi wajah Devan terlihat sangat serius.


"T.....tapi Van. A....ku kan juga tidak menginginkan hal ini terjadi. A....aku juga sudah terlanjur menyayangi Bara dan Bisma"


Mendengar nama Bara dan Bisma membuat Devan menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Nadia.


"Bara dan Bisma! Siapa mereka?" Tanya Devan sambil menatap Nadia tajam


"Mereka adalah Langit dan Bintang. Maafkan aku Van. Aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak ingin hal ini terjadi" Ucap Nadia yang terdengar begitu lirih


"Kita lihat saja nanti. Kalau sampai mereka tidak di temukan. Maka kamu harus siap-siap aku jadikan satu atau gule. Sepertinya tubuh mu yang berisi akan sangat cocok buat di jadikan satu atau gulai"


Gleeeekkkk


Mendengar perkataan Devan membuat Nadia menjadi semakin pucat. Apalagi wajah Devan terlihat semakin begitu serius.


"Astaga serem sekali berurusan dengan orang sepertinya" Ucap Nadia dalam batinnya sambil menatap Devan


****


Tanpa terasa hari hari berlalu. Hari ini ada hari di mana hasil tes DNA itu sudah keluar. Devan sudah menunggu Nadia yang sudah pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA.


Tak lama kemudian. Nadia datang dengan wajah yang terlihat takut. Wanita itu takut saat melihat adanya Devan di sana. Karna mau bagaimana pun, Langit dan Bintang belum juga di temukan hingga detik ini.


"Ini hasilnya Van" Ucap Nadia dengan sedikit ragu-ragu untuk memberikan hasil tes itu pada Devan


Melihat amplop coklat itu membuat jantung Devan bertalu. Devan merasa sangat takut untuk sekedar membuka amplop itu.


"Semoga hasilnya cocok" Ucap Devan dalam batinnya