
Reno keluar dari ruangan rawat Bintang dengan mengepalkan kuat kedua tangannya. Antara benci dan juga lelah dengan keadaan yang selama ini dia hadapi. Harus menggunakan topeng di depan semua orang selama bertahun-tahun.
Setelah keluar dari ruangan Bintang. Reno ternyata tidak langsung pulang, Pria itu masih berjalan menuju kantin. Setelah itu, Reno mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang di layar ponselnya tertera dengan nama Sepupu.
Reno langsung menekan tombol panggil dan tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon langsung mengangkat panggilannya.
π:Halo kak. Kakak dimana?
π:Indonesia
π: Hah di indonesia? Aku juga di indonesia
π:Yang bener. Sama Bima?
π:Pastinya kak. Aku kesini sama Bima
π:Nanti kita harus bertemu
Belum sempat Reno menjawab perkataan Viona. Tiba-tiba saja Andre datang dan langsung berjalan ke arahnya. Melihat kedatangan Andre membuat Reno dengan cepat memutuskan sambungan telponnya.
"Kamu kesini gak ngajak-ngajak Ren" Ujar Andre dan langsung duduk di samping Reno
"Iya maaf. Tadi aku kebelet pipis. Terus setelah dari kamar mandi aku liat kantin. Akhirnya aku kesini untuk memesan kopi. Apa kamu mau sekalian aku pesankan?" Tanya Reno yang tidak ingin Andre curiga
"Boleh lah" Jawabnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Sebenarnya Andre sudah tau apa yang ada di dalam hati Reno. Karna memang cukup sering dia memperhatikan Reno yang diam-diam menatap tajam Bima dengan penuh kebencian.
Walupun Andre tidak tau pasti apa yang sudah membuat Reno melakukan semua itu. Beruntung karna Andre selalu menukar kembali obat-obat Bima yang Reno tukar dengan obat yang Reno siapkan.
Setiap kali Reno menukar obatnya Bima, Pasti Andre akan selalu menukarnya kembali dengan obat asli resep dari Leon.
Dan hal itu yang hingga detik ini menjadi pertanyaan terbesar dalam benak Andre. Sebenarnya apa yang sudah membuat Reno berkhianat seperti itu.
Mendengar perkataan Andre, Reno langsung berjalan ke arah penjual kopi. Pria itu memesan 2 cangkir kopi untuknya dan juga untuk Andre.
Andre menatap kepergian Reno dengan sejuta pertanyaan"Sebenarnya hal besar apa yang kamu sembunyikan Reno" Ujar Andre sambil terus menatap Reno
Di Restoran
Vino yang mendengar semua cerita Devan ikut merasa simpati atas apa yang sudah terjadi pada sahabatnya. Sebagai seorang sahabat, Tentu saja Vino juga bisa merasakan apa saja yang sudah Devan ceritakan.
"Sabar Van. Jika memang kalian berjodoh, Yakinlah, Suatu Ucap takdir akan mempersatukan kalian kembali. Aku percaya itu" Ucap Vino sambil menepuk pelan punggung Devane
"Aku tau Vin. Tapi harus sampai kapan aku menunggu takdir menyatukan kita kembali" Ucap Devan yang terdengar sangat lirih
"Sudahlah Van. Mungkin apa yang Nadia katakan memang ada benarnya, Lebih baik kamu lupakan Mala. Dari pada kamu harus terus-terusan merasakan luka" Ucap Vino lagi
"Melakukan tidak semudah kamu mengatakan Vin. Aku sudah berusaha melupakan Mala, Tapi entahlah, Waktu sering mempertemukan kami tanpa di sengaja"
"Ikuti saja alur skenario yang sudah di tuliskan buat kamu Van"
Devan tak lagi menjawab. Pria itu hanya mengangguk pelan sambil melirik ke arah Vino dengan wajah sendunya.
"Benar itu Van. Jangan terlalu bucin. Karna itu hanya akan membuat kamu terluka terus menerus" Timpal Nadia
Mendengar itu membuat Devan menoleh cepat pada Nadia."Heemm. Jangan hanya menasehati orang lain. Karna bercermin itu perlu" Gumamnya sambil menoleh ke arah Nadia
"Terserah kau saja"
Tanpa terasa mereka bertiga sudah lebih 1 jam mengobrol. Vino yang baru menyadari satu hal akhirnya pamit terlebih dahulu, Karna memang hari ini dia sedang ada jadwal fitting baju pengantin bersama dengan Mega dan juga kedua orang tuanya.
"Maaf ya Van, Sepertinya aku harus cabut dulu. Soalnya masih ada urusan habis ini"
"Iya Vin. Semoga lancar sampai hari H ya. Tidak ada halangan dan juga rintangan"
"Aminnn. Cepet move on lo. Kalau gue liat-liat sepertinya kalian cocok. Si gagal move on di satukan. Nanti bisa saling bucin" Ujar Vino sambil mengangkat kedua sudut bibirnya dan menepuk pelan punggung Devan
Mendengar itu membuat Devan melirik ke arah Nadia sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya"Ogah banget. Sama dia? Gak mau gue sama wanita jadi-jadian dam gila sepertinya" Jawab Devan cepat
"Eehhh Devan, Tidak usah sok kegantengan. Memangnya kamu pikir aku mau? Amit-amit jabang bayi"
"Dasar wanita menyebalkan!"
"Gak sadar kalau situ lebih menyebalkan" Jawab Nadia yang tidak mau kalah
Devan tak lagi menjawab. Sejenak suasana menjadi hening. Tak berselang lama, Devan mendengar pembicaraan yang langsung membuatnya merasa sangat penasaran. Pasnya orang yang sedang berada tak jauh dari tempat duduknya sedang menyebutkan nama Albima Sunder.
Mendengar itu membuat Devan meminta Nadia untuk diam dan tak banyak bicara. Karna nama Albima sunder adalah nama saudara sepupunya.
"Apa kalian sudah menemukan cara bagaimana menghancurkan Albima sunder?" Tanya seorang wanita kepada anak buahnya
"Mohon maaf nona. Saya masih belum bisa menemukan titik kelemahan Albima" Jawabnya
"Aku tidak mau tau, Bagaimanapun caranya, Kamu harus bisa menemukan titik kelemahan Bima yang bisa menghancurkan nya"
"Saya tau nona. Albima sangatlah mencintai istrinya. Saya pernah mendengar jika bagi Albima, Istrinya adalah dunianya. Jika kita melukai dunia Albima, itu sudah pasti menjadi titik kelemahan pria itu" Ucap anak buahnya lagi
"Jadi dia juga bisa mencintai seorang wanita sebesar itu. Baiklah, Sepertinya kita memang perlu melakukan sesuatu terhadap wanitanya" Ucap Viona sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Devan dan Nadia yang posisinya memang cukup dekat tentu saja bisa mendengar semua yang baru saja Viona bicarakan dengan orang suruhannya.
Mendengar itu membuat Devan dan Nadia saling pandang"Wanitanya Bima? Itu artinya yang mereka maksud adalah Mala" Ucap Nadia pada Devan
Devan yang baru menyadari perkataan itu langsung mengepalkan kuat kedua tangannya. Karna mau bagaimanapun Devan tidak rela jika sampai Mala terluka.Rasa cinta Devan masih begitu dalam.
Nadia yang menyadari perubahan raut wajah Devan serta kedua tangan yang mengepal kuat membuat wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah ikut campur, Biarkan saja Bima yang menghadapi semuanya. Bukankah Mala dalam bahaya karna ulahnya"
"Tapi aku tidak mau jika sampai Mala kenapa-napa. Aku ma"
Belum sempat Devan menyelesaikan perkataannya, Nadia sudah menimpali seperti biasa"Masih sangat mencintainya. Udah tau" Ucap Nadia sambil menggelengkan kepalanya
"Udah tau aku kalau kamu itu memang bucin parah" Ucapnya
Perkataan Nadia membuat Devan menatapnya tajam. Nadia ini memang benar-benar menyebalkan.
"Kenapa liatin aku seperti itu?"
"Kesel ja. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita gila dan menyebalkan seperti kamu"