
Setelah kejadian Adelia, Entah kenapa aku merasa rumah tanggaku dengan Mala seperti diambang kehancuran. Mamang, Awalnya pernikahan ini terjadi hanya karena sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan buat aku dan juga istriku Mala. Tapi setelah aku jalani, Hari demi hari rasa cintaku terhadapnya mulai tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, Ada rasa ingin memiliki dia seutuhnya, Bisa memiliki hati juga raganya seutuhnya.
Tapi mungkin aku juga salah, Tak memikirkan bagaimana perasaan Mala saat mendengar aku masih mencintai Adelia yang sudah jelas menjadi istri orang lain, memang aku akui ada rasa tidak terima saat melihat Adelia di siksa oleh Rendi suaminya sendiri. Ku hentikan cepat mobilku yang saat itu kebetulan ada tepat di depan kejadian Rendi menyiksa Adelia, Karena sebelumnya Mala juga sempat bertemu dengan Adelia di rumah sakit, Akan tetapi mala tidak pernah tau bahwa Adelia adalah mantan kekasih ku dulu. Yang sempat hampir aku nikahi, Namun semua itu gagal Karna Adelia dijodohkan oleh orang tuanya..
Saat menolong Adelia aku bahkan tidak memperdulikan mala, sampai-sampai dia pergi Karna mungkin sudah kesal mendengar perkataan ku yang tanpa sengaja aku katakan, Akupun baru mengingatnya setelah sampai di rumah dan tidak menemukan keberadaan nya,
" Ma, Apa Mala sudah kembali??" Tanyaku kepada mama pelan..
" Loh, kamu ini gimana sih Van, bukannya tadi kalian pergi berdua, Kok bisa kamu gak pulang bersama Mala?" Aku mulai panik saat mama bilang Mala belum pulang, Terus Mala kemana,? Namun rumah mama Rara langsung terlintas di pikiranku.. Mungkin Mala ada disana.
Akhirnya tanpa membuang waktu, aku segera pergi ke rumah mama Rara dan berharap Mala memang ada di sana, Tapi setelah aku sampai di rumah mama Rara dan menanyakan keberadaan Mala ibu mertuaku itu terdiam tak banyak bicara, Hanya mempersilahkan aku masuk..
" Ma, maaf apa mala ada disini,? soalnya dia gak ada dirumah.." Namun ibu mertuaku gak langsung menjawab.. ku lihat ada rasa lesu di wajahnya. sampai akhirnya beliau buka suara..
" Devan, sebenarnya ada apa? Apa kalian berantem? " tanyanya pelan, Aku pun bingung harus menjawab apa....
"kenapa mama bisa bertanya seperti itu" Jawabku lembut..
" Tidak apa-apa nak. Soalnya tadi mala datang dengan mata sebam dan basah kuyup, Dan mama gak liat kamu bersama Mala, Apa kalian bertengkar??"
" Tidak ma, Hanya saja ada sedikit insiden yang membuat Mala salah paham. Apa Devan bisa bertemu dengan Mala?"
" Sebentar ya nak, Biar mama suruh Nara buat panggilkan Mala dikamar"
*****
" Nara...Nara.."
" Iya bunda, Ada apa?" Jawab kak Nara pelan,
" Bisa tolong panggilkan Mala, Ini Ada Devan datang"
Kak Nara pun mengangguk dan sekilas tersenyum ke arahku, Sebelum menikah dengan Mala, Aku sudah kenal baik dengan keluarganya, karena orang tua Mala adalah sahabat baik orang tuaku. begitu juga Nara. Dia adalah sahabatku sejak jaman SMP..
Nara datang lagi. tapi tak bersama dengan Mala, Apa istriku semarah itu, sampai tak mau menemuiku..
" Maaf Devan. tapi Mala menolak bertemu dengan kamu, tapi coba saja kamu sendiri yang kesana, siapa tau nanti mala mau keluar dan temui kamu"
Akhirnya aku pun segera pergi ke kamar mala, Aku mencoba untuk mengajak bicara mala pelan-pelan, dan berharap bisa dapat maaf darinya.. dan Alhamdulillah istriku mau memaafkan ku, tapi bodohnya aku mengulangi kesalahan yang sama, hingga akhirnya mala kembali marah padaku,
Malam itu, saat setelah Mala memberikan aku maaf, hubungan kami pun sudah bisa di bilang baik-baik saja, Dan tepat di tengah malam, aku mendapatkan pesan masuk dari nomor Adelia, Karena memang waktu kita bertemu kemarin aku sempat memberikan nomer telfonku padanya, aku pun datang ke alamat yang di berikan oleh Adelia. dan tanpa aku sadari, setelah aku bangun pagi ternyata aku sudah berada di sebuah kamar dengan Adelia, entah apa yang sudah kita lakukan, aku tak bisa mengingat kejadian semalam.
******
" A...adelia Bangun, Adelia ayo bangun" Ucapku dengan sedikit gelagapan
" Iya ada apa sayang, Apa kamu mau melakukannya lagi?" jawab Adelia dan memelukku
" Memangnya apa yang sudah kita lakukan Adelia?, Dan kenapa aku bisa ada disini?"
" Apa kamu sudah lupa dengan apa yang kita lakukan tadi malam sayang?" mendengar perkataan Adelia duniaku seakan berhenti berputar, entah apa yang sudah aku lakukan dengannya.
" Hah, Memangnya apa yang sudah kita lakukan Adelia,? Tak pernah terjadi apa-apa di antara kita, aku harus segera pergi, Mala pasti menghawatirkan ku" Ucapku tegas dan segera merapikan pakaianku
" Jangan pura-pura tidak ingat kamu Devan, kamu bahkan sudah melakukan nya terhadap ku" katanya lagi, Wajah Adelia seakan meyakinkan bahwa sudah terjadi sesuatu antara aku dan dia
" Pasti Mala akan sangat marah jika tau aku bersama Adelia, Tapi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku bisa satu kamar dengannya" gumamku dalam batin.
Setelah sampai di dalam mobil, aku baru menyadari bahwa handphoneku sudah mati entah sejak kapan. aku berusaha menghidupkan hpku, dan ternyata Banyak panggilan masuk dari Mala juga vino. Aku segera mencoba untuk menelfon Mala namun tidak ada jawaban, karena ini memang jam-jam sedang sibuk bekerja.
" Maafkan aku mala, aku sudah membuat kamu kecewa" Batinkulagi..
Tak pulang ke rumah mama, aku langsung pulang ke apartemen milikku, Sebab semua baju kerjaku ada di sana. Sesampainya ke apartemen aku segera mandi dan mengganti pakaianku. Tanpa membuang-buang waktu aku segera pergi ke kantor dengan menggunakan kecepatan tinggi, Karena perjalanan tidak terlalu macet, aku hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di kantor. Setelah sampai di kantor aku pun segera memarkirkan mobilku dan segera mencari keberadaan mala istriku.
" Mala, sayang" ucapku dan menghampirinya yang sudah sibuk bekerja. Namun tak ada jawaban dari Mala
" Sayang maafkan aku" Ucapku dengan suara parau.
" Maaf,! Maaf buat apa?" jawab Mala ketus
" Sayang, Tolong maafkan aku, Kamu pasti kecewa kan sama aku?"
" Nggak" jawab mala singkat,
" Dengerin dulu penjelasan aku sayang"
" Sudahlah mas, Tidak ada yang perlu di jelaskan, mau bagaimana saja itu terserah mas Devan."
" Sayang!! Tolong dengerin dulu penjelasan aku"
" Mas tolong, Ini kantor, Jangan Bahas masalah pribadi di sini, tidak enak jika ada yang dengar" Lirih Mala dan meninggalkanku yang masih mematung di tempat.
Baru kali ini aku melihat Mala acuh dan tak perduli padaku, Tidak ada semangat dalam hati, tidak bisa konsentrasi bekerja, Di samping memikirkan Mala, aku juga berusaha mengingat apa yang sudah terjadi saat bersama Adelia, Namun aku masih tidak bisa mengingat apa-apa. terakhir aku hanya mengingat saat Adelia memberikanku minuman..
tok...tok...tok...
" Iya masuk" Ucap Devan pelan...
" Devan, Lho kemana aja, Mala itu khawatir saat dia tidak menemukan kamu di sini, Sebenarnya kamu kemana sih van?!"
" Entahlah Vin, Gue bingung, Asal Lo tau, tadi pas gue bangun tiba-tiba gue tidur satu ranjang sama Adelia"
" Hah,!!Lho serius Van,?Apa yang sudah kalian lakukan?"
" Aku bahkan tidak bisa ingat apa-apa Vin, terakhir yang gue ingat gue di kasih minum sama Adelia, dan gue gak sadar lagi, tiba-tiba gue bangun pagi dan posisi gue sudah tidur bersama Adelia"
" Ya ampun Van, Bagaimana jika Mala tau,"
" Jangan sampai mala tau Vin, Gue benar-benar bingung, Baru kali ini mala benar-benar acuh dan tak perduli.
" Lagian Lo juga sih Van, sok-sokan mau nolongin Adelia, Bagaimana kalo sudah begini"
*****
Setelah jam 5 sore akhirnya jam kerja pun selesai,
Rasanya aku benar-benar bingung saat Mala tak menghiraukan ku, Tapi Alhamdulillah Mala masih mau memaafkan Ku saat acara pernikahan Nara, dan beberapa hari setelah pernikahan Nara, kebetulan aku ada pekerjaan ke luar kota, ku ajak Mala dan berniat untuk berbulan madu yang memang belum sempat terjadi setelah 3bulan pernikahan kita,