Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Mala di culik?


" Kakek" ucap devan dan langsung memeluk orang yang ada di depan matanya


" Kemana saja kakek selama ini, devan sangat merindukan kakek" ucapnya lagi


Awalnya kakek lustama hanya terdiam belum membalas pelukan yang diberikan oleh devan. namun di detik kemudian pria tua itu membalas pelukan sang cucu dengan sangat erat, mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu, semenjak hilangnya naura dan wijaya pergi dari rumah kakek lustama, sejak saat itu juga devan tidak pernah lagi bertemu dengan sang kakek.


" Kakek juga sangat merindukanmu cucuku, apa kabar kamu van?"


" Devan baik kek, kakek apa kabar?"


" Kakek juga baik van, bagaimana kabar orang tua kamu?"


" Ya begitulah kek, mama dan papa masih sering mengingat adik devan yang hilang beberapa tahun yang lalu" ucap devan sendu.


Mendengar itu, membuat tuan lustama jadi panik, ada rasa bersalah yang timbul dari dalam hatinya." Maaf ya cucuku. kakek harus pergi. ada banyak hal yang harus kakek urus, permisi" setelah mengucapkan hal itu, kakek lustama benar-benar berlalu meninggalkan devan yang masih menyimpan perasaan sedih karna mengingat adiknya yang bernama naura.


" Ta....tapi kek, ada banyak hal yang mau devan tanyakan pada kakek" ucap devan dengan sedikit berteriak, namun kakek lustama tidak memperdulikan ucapan sang cucu.


" Maafkan kakek cucuku " ucap kakek lustama dalam batin


Devan sendiri masih terdiam melihat kepergian kakeknya. kakek yang dulu selalu menjadi tempatnya bermanja, " Kakek, devan sangat merindukan masa-masa saat bersama kakek" lirih devan pilu.


Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman orang tua rendi saat ini sandra sedang mengintrogasi rendi karna kejadian hari itu.


" Bagaimana ren, apa kamu sudah siap bertunangan dengan sifa?"


" Entahlah ma, rendi masih bingung"


" Masih bingung bagaimana? jangan memberi harapan palsu pada dokter sifa rendi. dia seorang wanita, jangan pernah membuatnya berharap lebih padamu"


" Rendi tidak memberi harapan palsu ma, hanya saja rendi masih belum siap"


" Belum siap? lalu kenapa kemarin kamu bisa ada di kamar berdua dengan sifa, hah? jangan bikin mama dan papa malu ren"


" Rendi kan sudah bilang ma, rendi dan dokter sifa tidak melakukan apa-apa. kita hanya tidak sengaja terkunci dari luar. makanya dokter sifa dan rendi terpaksa harus bermalam di sana sampai ada orang yang buka pintu."


" Ren, jangan bikin mama marah, Mama mau kamu secepatnya perjelas hubungannya dengan dokter sifa"


" Baiklah ma. berikan rendi waktu satu bulan"


" Oke. mama kasih kamu waktu satu bulan dari sekarang" setelah mengatakan hal itu, sandra berlalu dari kamar rendi. hari ini rendi memang tidak pergi ke rumah sakit, karna tidak ada jadwal untuknya.


Sedangkan di aussie saat ini kondisi bima kembali ngedrob lagi, beberapa jam yang lalu saat tiba di kediaman dokter leon wajah bima sudah terlihat pucat dan berjalan sambil menahan rasa sakit.


" Leon" ucap bima sambil berjalan bertatih-tatih dan di papah oleh angga


" Dokter leon tolong" Teriak angga, tak lama kemudian pintu rumah leon terbuka.


" Ya ampun bim, wajah kamu pucat sekali bim, ayo cepat bawa bima ke ruang tindakan ngga"


" Baik dokter "


Angga tak menjawab, pria itu hanya mengikuti perintah yang di berikan oleh dokter leon. " Ini alasan aku tidak mengizinkan kamu buat pulang tadi malem bim, dan apa yang aku takutkan akhirnya terjadi" ucap dokter leon panik


Di saat bima kritis perasaan mala mendadak tidak enak, tiba-tiba saja wanita itu mengingat bima" Ada apa ya. kenapa perasaanku tidak enak begini" Mala mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi bima, nyambung namun tidak ada jawaban.


Satu kali, dua kali. panggilan itu masih tetap tidak ad tanggapan. hingga akhirnya mala memutuskan untuk mengirim pesan singkat untuknya.


[ Bim, kamu baik-baik saja kan.? kenapa telfonku tidak di jawab, aku khawatir bim]


Send. pesan terkirim dan sudah centang dua namun tidak di baca oleh bima.mala mencoba berpikir positif. wanita itu hanya uring-uringan seorang diri di apartemen bima. hingga terlintas sebuah ide untuk datang ke kediaman orang tua bima.


" Dari pada di sini sendiri, lebih baik aku ke rumah mami"


Mala memang tidak pernah ke rumah sang mertua, tapi wanita itu tau di mana alamatnya. namun sebelum pergi mala masih menyempatkan untuk mengirim pesan singkat untuk suaminya.


[ Bim, aku mau kerumah mami ya, nanti kalau kamu sudah pulang langsung jemput aku di sana saja ]


Setelah mengirim pesan itu mala keluar dari apartemen. tanpa dia sadari ternyata ada seseorang yang sedang mengintainya. [ tes, target sudah keluar ] ucap seseorang yang memberitahu salah satu temannya.


Mala berjalan sambil memegang perutnya, memasuki lift. di sana ada beberapa orang yang juga ingin menaiki lift. namun salah satu dari mereka adalah orang suruhan dari musuh besar tuan sunder.


[ Target sudah di depan mata tuan ]


[ Bagus. ikuti dia terus jangan sampai lolos, akhirnya aku bisa menemukan titik lemahmu tuan sunder. hahahahahahh ] Balas orang di ujung telfon.


Mala masih tidak menyadari jika dua orang yang ada di dalam lift itu sedang mengikutinya. salah satu dari mereka saling lirik saat pintu lift sudah terbuka,


" Sepuluh menit lagi " ucap salah satunya.


Sepuluh menit kemudian tepat di saat mala sudah tiba di basement, wanita itu di bekap dan di bius hingga tak sadarkan diri. dan ternyata di sana sudah ada anggota lain yang sedang menunggu di dalam mobil. setelah mala berhasil di masukkan kedalam mobil itu, salah satu dari mereka meminta agar langsung jalan menuju lokasi tempat yang akan di buat untuk menyekap mala.


[ Beres tuan, target sudah ada di tangan kita ]


[ Kerja bagus ]


" Dokter, ini ponselnya pak bima dari tadi bunyi terus" ucap angga sambil menyerahkan ponsel bima pada leon


Leon mengambil dan membuka pesan yang ternyata dari mala,


"My wife"


[ Bim, kamu baik-baik saja kan.? kenapa telfonku tidak di jawab, aku khawatir bim ]


[ Bim, aku kerumah mami ya, nanti kalau kamu sudah pulang langsung jemput aku di sana saja ]


" Ternyata kalian sudah mempunyai ikatan batin," ucap leon pelan.


Di saat leon mau meletakkan ponsel bima, ada pesan masuk dari nomor tidak di kenal. mata leon memicing saat membuka pesan itu, ternyata nomor itu mengirimkan sebuah gambar wanita yang sedang di ikat di atas kursi, dengan mulut di tutup. " I...ini kan istrinya bima " ucap leon terbata