
Setelah mendapatkan 2 buah tiket. Bima dan Mala masuk ke dalam bioskop. Sebenarnya Bima begitu deg degan sekaligus takut. Ini pertama kalinya Bima menonton film horor seperti ini.
Bima duduk berdampingan dengan Mala yang begitu antusias ingin menonton film horor yang berjudul 'Antara duka dan Luka'
Keringat dingin sudah mulai memenuhi kedua telapak tangan Bima saat film sudah mulai di putar. dan
"Aaaaaaa" Teriak Bima saat penampakan hantu seorang wanita mulai terlihat dan seakan menghampirinya
Mala yang melihat itu langsung tertawa cukup keras. Bagaimana tidak, jika expresi Bima terlihat begitu lucu.
"Cemen" Ucap Mala tepat di telinga kiri Bima
Mendengar itu membuat Bima merasa begitu kesal dengan Mala. Tapi apa yang Mala katakan memang benar adanya. Bima cemen
1 Jam kemudian. Film sudah berakhir. Hal itu membuat Bima benar-benar merasa bisa bernafas lega.
"Akhirnya filmnya habis juga" Ucapnya
Setelah memastikan semua orang sudah keluar. Bima dan Mala juga ikut keluar mengekor di belakang orang-orang.
"Kamu itu cemen banget deh Bim. Masa iya sama kayak gitu saja takut hahahhahha"
"Kamu ketawain aku? Emang bener-bener menyebalkan ya kamu itu"
"Lagian kamu Bim. cowok takut sama hantu. Hahahha"
"Tutup gak mulutnya. nanti aku gigit baru tau rasa kamu tuh"
"Tapi kamu bener-bener lucu Bim. Apalagi wajah kamu tadi pas liat hantunya. Tau gitu tadi aku foto deh, Biar kamu bisa lihat sendiri seperti apa lucunya. Hahahhahhah"
Melihat Mala menertawakan dirinya membuat Bima benar-benar melakukan apa yang baru saja dia ucapkan. Pria itu menarik tangan Mala masuk ke dalam bioskop lagi dan langsung mencium bibir Mala serta sedikit menggigitnya.
"Jangan nakal kalau tidak mau aku gigit" Ucapnya tepat di daun telinga Mala
Mala terpaku saat Bima benar-benar menggigit bibirnya. Wanita itu masih tidak menyangka ternyata Bima tidak main-main dengan ucapannya.
"Dasar pria mesum" Ucapnya
"Biarin aja. Siapa suruh ketawain aku"
Mala tersadar saat suara Leon menerpa indra pendengarannya. Mengingat akan hal itu membuat Mala tersenyum.
"Mala" Panggil Leon pelan. Namun Mala tidak merespon panggilan itu. Mala masih begitu fokus pada bayangan kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Cepat sadar sayang" Ucap Mala sambil menggenggam tangan Bima
"Aku sangat merindukanmu My boy. Aku sangat merindukan suara lembut serta perhatian kamu yang begitu besar"
"Kenapa aku baru sadar jika ternyata aku sudah sangat bergantung denganmu my boy. Aku sudah seperti separuh dari hidupku. Aku mohon cepat bangun demi aku, Langit dan Bintang" Ucap Mala dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Mala memejamkan kedua matanya yang terasa begitu panas. rasanya tidak sanggup melihat Bima terbaring lemah seperti ini
Melihat Mala begitu sedih membuat Leon mengambil ponselnya. Pria itu akan mengabadikan momen yang mungkin selama ini Bima nantikan
Setelah itu dengan cepat Leon meletakkan kembali ponselnya sebelum Mala menyadari jika Semua yang Mala katakan sudah di simpan jelas dalam memori ponsel Leon.
"Eheem"Leon berdehem dan membuat Mala menyadari keberadaannya
"Eh dokter Leon. sudah lama dokter" Ujar Mala dengan suara seraknya
"Belum kok. Tapi ya sudah cukup melihat dan mendengar semua yang kamu katakan. terimakasih kamu sudah mau mencintai Bima seperti apa yang selalu dia harapkan"
"Itu memang sudah menjadi tugas saya untuk mencintai Bima. ini sudah sepantasnya Bima dapatkan"
Mendengar itu membuat Leon tersenyum ikut bahagia dengan apa yang Mala katakan.
"Saya permisi dulu" Ucap Leon setelah selesai memeriksa keadaan Bima
Di Tempat Lain
Saat ini Adelia berdiam diri di dalam kamarnya. Semenjak kecelakaan itu dan mengakibatkan dirinya kehilangan penglihatannya membuat Adelia tidak lagi bisa pergi kemana-mana. Wanita itu hanya bisa menghabiskan waktu di dalam kamarnya saja.
"Aakkgghhh. Kenapa hidupku jadi seperti ini. Aku menyesal dengan kehidupan yang aku pilih. Aku kehilangan anakku. Aku kehilangan Devan juga Rendi. Aku kehilangan semuanya karna ambisi ku sendiri" Ucap Adelia penuh penyesalan
"Seandainya waktu itu aku tidak bertemu dengan Devan. Mungkin hidupku tidak akan menyedihkan seperti saat ini. Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup. lebih baik aku mati menyusul anakku" Ucap Adelia lagi
Ibu dan kedua adik Adelia yang melihat itu membuat mereka juga ikut merasakan apa yang Adelia rasakan saat ini. "Kasian kak Adel bu" Ucap salah satu dari mereka.
"Ini semua karna wanita yang bernama Mala. Aku akan membalaskan apa yang sudah terjadi pada kak Adel. Gara-gara orang suruhan ayahnya dia membuat kak Adel tertabrak dan jadi buta seperti saat itu" Ucap Rina
"Itu semua karna kesalahan kak Adel sendiri Rin. Dia yang sudah merusak hidupnya sendiri. Tidak ada yang bisa di salahkan dalam hal itu" Ucap Rani saudara kembarnya
"Tapi ini semua tidak akan terjadi jika waktu itu orang suruhan ayahnya Mala tidak datang ke rumah kita. Suatu saat aku akan memberi mereka semua pelajaran. Tunggu saja tanggal mainnya"
"Jangan sampai kamu melakukan hal yang akan membuat kamu menyesali semuanya Rin. Kita semua sama-sama tau bagaimana kak Adel saat terobsesi untuk bisa mendapatkan kak Devan kembali. Bahkan kamu juga tau tentang kejadian malam itu. Malam dimana kak Adel menjebak kak Devan di sebuah hotel" Ucap Rani lagi
Mendengar pembicaraan kedua putrinya membuat Ibu mereka mengerutkan keningnya. Karna selama ini dia tidak pernah tau jika Adelia sudah menjebak Devan. Yang dia tau hanyalah Adelia begitu terobsesi pada Devan.
"Apa maksud kalian. Malam itu Adelia menjebak Devan? Jangan bilang kalian berdua ikut andil dalam hal itu?"
Pertanyaan sang ibu membuat mereka berdua terdiam tanpa mai berbicara tentang apa yang sudah mereka ketahui.
"Kita berangkat dulu bu. Ada tugas kerja kelompok di rumahnya temen" Ucap Rina dan langsung menarik tangan Rani
Setelah keluar dari dalam rumahnya. Rina menghentikan langkahnya. "Jangan pernah katakan pada ibu jika kita ikut dalam rencana kak Adel malam itu" Pekiknya
Mendengar itu membuat Rani mengerutkan keningnya."Kita. Kamu aja kali Rin, Aku gak ikut-ikutan" Ujar Rani dan langsung berlalu dari hadapan saudara kembarnya.
Memang selama ini hanya Rani satu-satunya anak yang tidak pernah nyeleweng seperti Rina dan Adelia.
Di Aussie
Setelah kepergian dokter Leon. Ternyata ada Nadia yang datang dan masuk ke dalam ruangan ICU menemui Mala yang saat ini duduk di samping Bima.
"Bima. Bangun Bim. jangan seperti ini. Aku tau kamu kuat aku tau kamu pasti bisa melewati semua ini" Ucap Nadia tiba-tiba tanpa memperdulikan keberadaan Mala di sana