Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rina meninggal?


Devan terdiam setelah mendengar perkataan Wilson. Memang itu benar, Seperti apa yang pernah dia dengar dari Nadia. Jangan buang-buang waktu, Untuk orang yang sudah tidak mungkin bisa kembali dalam pelukan kita. Karna itu hanya akana melukai perasaan diri kita sendiri.


Devan mengambil nafas kasar. Melangkah keluar dan menjauh dari sana. Tak bisa di pungkiri, memang setiap kali melihat Mala dan Bima, Hati Devan berdenyut sangat nyeri.


Pria itu berjalan menuju taman dan memilih duduk di salah satu kursi panjang di sana. Memperhatikan taman rumah sakit yang begitu banyak orang berlalu lalang di sekitarnya.


Biarpun sedang berada di tempat yang cukup ramai. Namun, Devan merasa hatinya sangat hampa. "Kenapa begitu sakit saat melihat Bima mencium serta menggenggam tangannya seperti itu. Ingin rasanya ada di posisi Bima, Memberikan semangat untuk Mala" ucapnya sambil terus memperhatikan orang-orang di depannya.


Tiba-tiba saja Deva. teringat akan Bintang yang saat ini masih ada di ruangannya bersama dengan Sifa dan juga Leon.


Devan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Bintang yang ada di lantai atas, Ruangan VVIP nomor 3.


*****


Adelia dan Rendi masih menikmati suasana taman samping rumah Adelia. Senyuman merekah terlukis jelas dari kedua sudut bibir Rendi. Rasanya sangat bahagia saat bisa melihat Adelia tersenyum seperti itu.


Rendi mengambil tangan Adelia dan menggenggamnya cukup lama. Menatap wajah Adelia yang sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada polesan sedikitpun di wajahnya. Sudah terlihat alami. Sangat alami. Bahkan, Adelia terlihat lebih kuda dari pada umurnya.


"Del, Aku mohon, Mau ya rujuk kembali dengan ku. Kita urus Tania sama-sama Del. Karna mau bagaimanapun, Tania pasti akan lebih bahagia jika bersama dengan kedua orang tuanya"


"Tapi Ren. Aku sudah tidak pantas lagi menjadi pendamping hidup kamu. Kamu liat aku, Aku sudah tidak normal seperti dulu lagi Ren. Aku buta, Aku tidak bisa melihat. Bagaimana caranya aku bisa merawat Tania dan juga kamu dengan keadaan aku yang seperti ini!" ucap Adelia yang terdengar sangat lirih


Melihat itu membuat Rendi membawa Adelia dalam dekapannya. Mengusap lembut rambut panjangnya"Del. Kalau soal itu, Kamu tidak perlu khawatir Del. Ada aku yang bisa menjadi mata kamu. Menjadi kaki tangan kamu. Intinya kita lewati semuanya bersama"


"Tapi Ren, Apa kamu tidak malu memiliki istri buta sepertiku?"


"Untuk soa aku malu Del. Bukan kah cinta itu tak bersyarat. Aku tidak malu seperti apapun fisik kamu Del. Tapi sati hal yang harus selalu kamu tau, aku masih sangat mencintaimu Del. Kamu masih menjadi ratu dalam hatiku"


"Lalu bagaimana dengan mamam Sandra? Aku tau dan aku yakin, Dia tidak akan mau menerima aku dengan kondisi seperti ini"


"Sudah Del. Kami tidak perlu pikirkan soal mama, Itu akan menjadi urusan aku. Yang terpenting saat ini, Apa kamu mau rujuk lagi dengan ku? Demi Tania" ucap Rendi yang mengurangi perkataannya kembali


Akhirnya setelah cukup lama tak menjawab. Adelia memberikan jawaban yang tentunya langsung membuat Rendi mengukir senyuman termanisnya.


Adelia memberikan jawaban yang begitu membuat Rendi merasa sangat bahagia. Karna spa yang dia harapkan sepertinya Kan menjadi sebuah kenyataan.


"Iya, Ren. Aku mau rujuk kembali dengan kamu." Jawabnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Mendengar itu, Membuat Rendi langsung mengucap sukur. Akhirnya, Dia akan kembali lagi bersama dengan wanita yang masih begitu Rendi cintai. Wanita ibu kandung adri anaknya sendiri.


"Terimakasih Del. Terimakasih kamu sudah mau menerima aku kembali" ucap Rendi sambil mencium punggung tangan Adelia


"Sama-sama Ren. Terima Kasih kamu masih mau dengan wanita sepertiku. Aku janji, Mulai sekarang tidak akan lagi berbuat hal yang dulu pernah aku lakukan. Aku akan berubah Ren"


Dari kejauhan Rani yang baru saja datang memperhatikan kakaknya. Akhirnya, Setelah cukup lama tidak melihat senyuman kakaknya, Hari ini Rani bisa kembali melihat senyuman itu.


Rani mengangkat kedua sudut bibirnya sambil terus memperhatikan. Rendi dan juga Adelia di taman rumahnya. Di dana juga ada Rina yang menyaksikan.


Rina yang melihat kedatangan Rani, Entah kenapa merasa sangat kesal, Karna Rani sudah bisa memiliki kekasih yang tampan dan juga kaya. Entah kenapa hal itu selalu saja membuat Rina merasa sangat iri. Hingga satu akal jahat muncul dalam benaknya.


Rina tersenyum saat melihat ada sebuah mobil melaju cepat di sana. Melihat itu membuat Rina mendekat pada Rani dan langsung mendorongnya. Namun ternyata takdir berkata lain. Karna yang jatuh bukanlah Rani, Tapi dirinya sendiri.


"Aaaaaa" Teriak Rina saat mobil itu menabrak tubuhnya


"Rina!!" Teriak Rani saat melihat tubuh Rina sudah tertabrak dan begitu banyak darah yang keluar dari hidung serta telinganya.


Rani berlari dan langsung membawa Rina dalam pangkuannya. "Maafkan aku Ran, Maafkan aku yang selalu merasa iro terhadapmu. Maafkan aku yang selalu berusaha mengambil apa yang kamu miliki. Aku benar-benar minta maaf Ran. Tolong kamu berikan mataku untuk kak Adelia. A-ak-u. Selamat tinggal Rani"


Setelah mengatakan hal itu. Rina langsung memejamkan kedua matanya. Tangannya menjadi sangat lemas. Serta wajahnya seketika menjadi sangat pucat.


"Tolongg" teriak Rani saat melihat Rina seperti itu.


"Toloong" ucap Rani lagi


Rendi dan Adelia yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang dan melihat ke arah Rani di sana"Ada apa Ren. Siapa yang teriak-teriak minta tolong" tanya Adelia pada Rendi


"Kamu tunggu di sini ya Del. Aku akan melihat apa yang sedang terjadi"


Rendi langsung berlari menuju tempat Rani dan juga Rina. Betapa terkejutnya Rendi saat melihat keadaan Rina sudah di penuhi oleh darah segar yang terus mengalir dari hidung dan juga telinganya.


"Astaga, Rani. Rina kenapa?"


"Rina tertabrak mobil kak, Ayo cepat bantu aku bawa di ke rumah sakit kak."


"Iya-iya"


Rendi menggendong tubuh Rina dan membawanya ke dalam mobil. Kemudian pria itu langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit BERLIAN. Karna memang rumah sakit itu yang paling dekat.


"Bertahan Rin. Bertahan lah, Kita akan segera sampai di rumah sakit" ucap Rani sambil mengusap rambut saudara kembarnya.


Biarpun Rina selalu melakukan hal yang merugikan Rani, Tapi Rani tidak pernah merasa dendam. Rani masih begitu menyayangi Rina sangat tulus.


Mobil itu melesat dengan sangat cepat. Bahkan di atas rata-rata. Satu yang ada dalam benak Rendi. Dia harus secepatnya sampai di rumah sakit.


Setelah tiba di rumah sakit, Rendi kembali menggendong tubuh Rina dan membawanya ke ruangan IGD. Namun setelah sampai di sana, Rendi kembali memeriksa detak jantung Rina. Ternyata takdir berkehendak lain. Denyut nadi serta detak jantung Rina telah berhenti. Rina gak lagi bisa diselamatkan. Rina meninggal!