Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa sakit Devan


( Warning 21+, Bocil di harapkan skip )


Setelah memutus sambungan telponnya. Bima menatap Mala yang sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Betapa malunya Mala saat ini. Wanita itu sudah salah paham dengan nama my Queen.


"Sayang, sampai kapan kamu mau menutup wajahmu dengan tangan seperti itu. Apa kamu tidak mau melihat wajah tampan suami mu" Ucap Bima pada Mala


"Gak mau. Aku malu Bim. lagian kenapa kamu memberi nama kontak mami dengan nama mu Queen. Kan aku jadi salah paham"


"Ya kan mami memang ratu sayang. dan kamu princes nya"


"Kamu keluar sana my boy. Aku malu"


"Sudah, buat apa malu sama suami sendiri sayang. itu artinya kamu sudah mulai sayang sama aku"


"Iya, tapi tetap saja aku malu my boy"


Bima mendekat ke arah Mala. pria itu membawa Mala dalam dekapannya. "Aku sayang sama kamu istriku" ucap Bima yang terdengar begitu lembut


"Aku juga sayang sama kamu my boy"


Bima menatap Mala begitu intens dan begitu dalam. Tak lama kemudian lampunya mati serta hujan angin yang tiba-tiba datang menerpa kota itu. serta suara petir yang membuat Mala semakin mengeratkan pelukannya.


Entah apa yang ada dalam pikiran Bima saat ini. Tapi yang pasti Bima begitu menikmati wangi rambut Mala yang sedang ada dalam dekapannya.


Bima mengangkat wajah Mala untuk menatap ke arahnya. Pria itu mendekatkan bibirnya dengan bibir ranum Mala. Sedangkan Mala memejamkan kedua matanya dan menikmati ciuman Bima yang semakin mendalam.


Ciuman Bima semakin turun hingga ke leher jenjang Mala. Satu tangannya dia gunakan untuk memainkan kedua benda squisy milik Mala. dan Entah kenapa. kali ini tubuh Mala merespon setiap sentuhan yang Bima berikan. hingga tanpa sadar Mala mengeluarkan suara haram itu yang mampu membuat tubuh Bima menginginkan hal yang lebih dari pada itu.


"Ahhh" Satu ******* berhasil lolos dari mulut Mala.


Mendengar itu membuat Bima mengangkat kedua sudut bibirnya. Bima memberikan beberapa tanda kepemilikan di bagian dada Mala yang sudah polos. tangannya masih begitu setia meremas kedua benda kenyal itu.


Kali ini Mala benar-benar menikmati setiap sentuhan Bima. Apalagi cuaca hujan serta mati lampu seperti ini membuat dua manusia ini semakin menikmati apa yang sedang mereka lakukan.


"Aahhhhhh" Lagi-lagi suara itu keluar dari mulut Mala. dan hal itu membuat celana Bima terasa semakin sesak.


"Aku menginginkanmu sayang" Ucap Bima tepat di telinga Mala sambil menggigit daun telinga wanita itu. Mala hanya mengangguk dengan ucapan Bima.


Apa kali ini mereka akan melakukan penyatuan?


Karna merasa begitu geli dengan apa yang Bima lakukan. Akhirnya "Ahhhhhhh" ******* itu kembali terdengar di indra pendengaran Bima


"Aku suka suara itu sayang, sebutlah namaku" Ucapnya lembut


Kali ini tangan Bima turun ke bawah dan memainkan Milik Mala, Hingga membuatnya menjadi semakin basah karna ulahnya. "Aaahhh my boy" Ucap Mala saat tangan Bima memainkan miliknya.


β€’


β€’


β€’


"Sayang, malam ini kita Dinner yuk?" Ucap Vino pada Mega


"Boleh, Dinner dimana mas?"


"Di restoran pelangi saja bagaimana. katanya di sana makanannya enak loh sayang"


"Boleh deh mas"


Di saat Vino sedang merencanakan Dinner bersama dengan Mega. Tiba-tiba Sindy datang bersama dengan Doni


"Aku ikut dong kak. sudah lama juga kan gak Dinner bareng. Ya ya ya"


"Gak bisa, ini kan acara romantisan"


"Ayolah kak, Aku ikut boleh ya. ya ya" Ucap Sindy memohon pada Vino


Melihat wajah iba Sindy membuat Vino tidak tega."Oke, tapi kamu harus ngajak teman cowok. Masa iya mau jadi nyamuk"


"Kalau soal itu kak Vino tenang saja. Ada Doni yang selalu siap kalau soal makan-makan. asal di traktir" Ucap Doni tiba-tiba


"Iiih siapa juga yang mau ngajak elo. gak sudi ya gue bareng cowok kek elo itu Don" Ujar Sindy


"Yee gue sudah berbaik hati mau membantu. kalau Elo gak mau ya sudah, gue tinggal ajak cewek cantik"


"Memangnya ada cewek yang mau sama elo?"


"Masa?"


"Iya, kalau Elo emang ada cowok yang mau sama lo?"


"Ya ada lah. orang gue cantik begini"


Vino dan Mega yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. tiada hari tanpa bertengkar diantara mereka berdua.


"Kamu mau ikut apa nggak Sindy?


Suara Vino berhasil membuat mereka berdua berhenti saling ejek.


"Ya maulah kak"


"Ya sudah, kalau mau nanti bareng sama Doni"


Hal itu membuat Sindy langsung melihat ke arah Doni yang sudah mengeluarkan lidahnya" Weee"


"Don, jangan mulai deh" Ucap Mega pada Doni


Di tempat lain.


Adelia kembali terlihat marah di saat mengingat tentang anaknya.


"Kamu akan rasakan pembalasan aku Van. Gara-gara kamu aku kehilangan anakku, kamu juga harus merasakan hal yang sama. Aku akan membuat kamu merasakan apa yang aku rasakan"


Wanita itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang yang sudah berkomplot dengannya.


πŸ“ž: Halo. Ada apa?


πŸ“ž: Laksanakan rencana kita


πŸ“ž: Oke


Setelah mengatakan hal itu. Adelia mengakhiri sambungan telponnya. kira-kira apa yang menjadi rencana Adelia kali ini


"Lihat saja Van. Kamu akan merasakan apa yang aku rasakan" Ucap Adelia sambil melihat foto Devan di ponselnya


Sedangkan Wilson. saat ini pria itu masih terus terbayang wajah Sifa. Entah kenapa senyuman Sifa masih terbayang jelas pada benaknya.


"Kenapa aku terus-terusan terbayang wajah Sifa. Senyumannya juga begitu membekas" Ucap Wilson sambil menghembuskan nafasnya


Tak lama kemudian. Ada pesan masuk dari nomor tidak di kenal


Kring....


Sifa


[ Mas Wilson, saya Sifa. tolong kirimkan nomor rekeningnya ya, saya mau mengganti uang yang tempo hari ]


[ Bagaimana jika gantinya dengan Dinner saja ] Send


Sifa


[ Dinner? Dimana? ]


[ Di restoran pelangi jam 19:00 ] Send


Sifa


[ Oke ]


Melihat balasan itu, Entah kenapa membuat Wilson merasa begitu senang. Apa Wilson sudah menaruh hati pada Sifa. Seorang dokter yang hanya beberapa kali ini Wilson temui.


Wilson bersiap untuk Dinner bersama dengan Sifa. Pria itu terus saja tersenyum saat mengingat wajah cantik Sifa.


"Dia benar-benar cantik dan anggun" Ucap Wilson


Di tempat lain saat ini Devan masih saja memikirkan Mala. Entah kenapa pria itu merasa hatinya begitu sakit saat wajah Mala melintas di ingatannya.


"Kenapa hati ku terasa begitu sakit saat mengingat Mala seperti ini" Ucap Devan sambil mengusap dadanya yang terasa begitu nyeri. semua perkataan Mala masih terus terngiang pada indra pendengaran nya


"Apa benar kamu sudah melupakan aku Mala, Tapi kenapa rasanya aku begitu sulit untuk sekedar melupakan kamu" Lirihnya begitu sendu