Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa khawatir Bima dan Devan


" Aaaaaaa" teriak mereka secara bersamaan saat melihat mobil dari arah yang berbeda sedang melaju cukup cepat ke arah mobil Doni. sedangkan Doni tidak bisa mengendalikan mobilnya selain membelokkan setir pengemudi ke lain arah.


Brakkk.. Mobil itu menabrak sebuah pohon karna ternyata remnya blong.


Bertepatan dengan itu. ternyata di rumah Alundra entah kenapa fotonya Mala terjatuh dan pecah." Astagfirullah, Ada apa ya. kenapa perasaanku jadi gak enak" pekik Alundra sambil memegang dadanya.


Nara yang mendengar suara benda jatuh pun langsung menghampiri sumber suara yang berasal dari ruang tengah, " Ada apa bunda?" tanya Nara panik.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut sang bunda, Alundra masih terdiam memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada putrinya saat ini,


" Telfon adik kamu nak" ucapnya tiba-tiba.


Mendengar itu membuat Nara langsung mengambil ponsel dan menghubungi Mala pada saat itu juga, Telfonnya tersambung, namun sampai deringan ke tiga tidak ada jawaban dari yang punya.


Nara masih tetap berusaha menghubungi adiknya, sampai beberapa kali, namun tetap tidak ada jawaban. " Tidak di angkat bunda"


" Coba sekali lagi nak"


Nara pun mencoba menghubungi Mala sekali lagi. dan telfonnya di angkat namun yang terdengar bukan suara Mala. melainkan suara orang lain yang memberikan kabar cukup mengejutkan hari itu.


" Diangkat bunda," ucap Nara sambil memberikan ponselnya pada Alundra.


πŸ“ž [ Halo, ] ucap seseorang di ujung telfon


πŸ“ž [ Halo. ini siapa ya, kenapa bisa angkat telfon anak saya? ]


πŸ“ž [ Oh ibu keluarga korban ]


Mendengar kata korban, membuat Alundra melemas seketika


πŸ“ž [ Maksud bapak apa, korban? ]


πŸ“ž [ Iya bu, anak anda kecelakaan. dan sekarang sudah mau di bawa kerumah sakit BERLIAN ]


Alundra tak lagi menjawab ucapan orang yang ada fi ujung telfon. kakinya begitu lemas, dadanya terasa sesak. hingga membuat tubuhnya terpelosot ke lantai begitu saja,


Nara yang melihat itu jadi semakin panik dan penasaran, " Ada apa bunda?"


" A...adik kamu nak, adik kamu kecelakaan"


" A..apa, Mala kecelakaan. kita harus ke sana bunda"


Alundra bangkit dari duduknya dan langsung mengambil tas untuk melihat keadaan anaknya di rumah sakit.


Setelah tiba dirumah sakit, ternyata Mala masih di tangani oleh tim dokter, tak lama kemudian, Winarto dan juga andra datang secara bersamaan.


" Bagaimana keadaan Mala bunda?"


" Bunda juga gak tau ayah, dari tadi dokter belum juga keluar, bunda takut ayah"


" Yang tenang bunda, kita berdoa yang terbaik saja buat Mala"


Tak lama pintu ruang IGD terbuka, keluar seorang dokter yang tak lain adalah dokter Rendi. Kedua orang tua Mala langsung menghampiri dokter Rendi yang terlihat mengambil nafas berat,


" Bagaimana keadaan anak saya dokter?"


" Ikut saya keruangan ya bu, pak"


Alundra dan Winarto mengikuti langkah Rendi keruangan pribadinya, ada hal penting yang harus rendi sampaikan kepada mereka berdua.


Setelah tiba di ruangan pribadi dokter Rendi, kedua orang tua Mala masih di persilahkan untuk duduk terlebih dahulu sebelum Dokter Rendi memulai pembicaraannya.


Mendengar itu membuat wajah Alundra seketika menjadi pias, " A..apa dok, tapi anak saya masih bisa sembuh kan dok?"


" Bisa buk, walaupun kemungkinan besar untuk sembuh itu hanya sepuluh persen"


" Astagfirullah yah, anak kita,"


Tangis Alundra pecah dalam dekapan suaminya, sungguh berat nasib yang di alami putri bungsu mereka,


" Sabar bunda, setidaknya anak kita masih ada kemungkinan untuk bisa berjalan lagi"


" Tapi kemungkinan sembuhnya hanya sepuluh persen yah, bagaimana jika Mala mengetahui hal ini, pasti dia akan sangat terpukul, hiks...hiks..."


" Soal itu, kita pikirkan lagi nanti ya bunda, Sekarang kaki Mala harus di operasi dulu,"


" Telfon Bima yah" ucap Alundra di sela tangis isaknya.


Di aussie. saat ini Bima sedang mengurus orang yang sudah berani berkhianat padanya, seorang Bima tidak akan pernah melepaskan tikus yang sudah berani memberikan data pentingnya pada perusahaan lain.


" A...ampun pak, tolong jangan ikut sertakan keluarga saya dalam hal ini" ucap Yunus yang memohon pada Bima.


" Saya juga mohon ampun pak, saya tidak tau, jika perusahaan ini milik anda" timpal Budi dan bersimpuh dihadapan Bima


" Anda sudah tau sendiri bukan, bagaimana akibat orang yang sudah mengusik ketenangah seorang Albima sunder," ucap Bima yang terdengar begitu dingin.


Saat Bima hendak melayangkan satu pukulan pada wajah Budi. tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata ada panggilan masuk dari nomor yang iya kasih nama, " My Wife"


Melihat nama yang tertera di layar ponselnya, membuat Bima mengukir senyum yang teramat manis.


Pria itu keluar dan menjauh dari beberapa orang di sana,


Belum juga Bima membuka suara, ternyata yang dia dengar di ujung telfon bukanlah suara dari wanitanya, melainkan suara paruh baya yang cukup Bima kenal.


[ Papa, ini ponselnya Mala ya pa ? ]


[ Istrimu nak, ]


[ Istri Bima, iya kenapa dengannya pa, ada apa? ]


[ Dia kecelakaan nak, ]


Tanpa menjawab ucapan sang mertua. Bima langsung mematikan sambungan telfonnya dan segera melangkahkan kakinya pergi dari markas black flowers,


Ada beberapa pertanyaan yang timbul dari beberapa anggota black flower, karna tidak biasanya Bima meninggalkan markas tanpa sepatah katapun.


Bima langsung menelfon Rio agar menyiapkan pilot dan memintanya untuk segera mengurus penerbangannya ke indonesia saat ini juga, karna sangat tidak memungkinkan jika Bima melakukan penerbangan seorang diri disaat lagi shock seperti ini.


Sepuluh menit kemudian, Jet pribadi Bima sudah siap untuk segera take off, kali ini bukan hanya Bima, tapi Sunder juga Lina ikut serta menemani anaknya.


" Kamu tenang Bim, berdoa, supaya istri dan anakmu baik-baik saja" ucap Sunder sambil menepuk pundak Bima.


" Iya sayang, kita berdoa, supaya mereka baik-baik saja. mami percaya. istri kamu orangnya kuat" timpal Lina sambil memeluk Bima.


Biarpun hanya ibu sambung, namun Lina begitu menyayangi Bima, bagi Lina, bima sudah seperti darah dagingnya sendiri. karna, waktu Bima kecil. Lani juga sering menitipkan Bima padanya, saat lagi ada urusan mendadak.


Kecelakaan yang di alami Mala, Sindy dan Doni sudah menyebar kemana-mana, saat mendengar itu, membuat Devan segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit BERLIAN, tempat Mala saat ini di rawat,


" Semoga kamu baik-baik saja Mala" ucap Devan sambil terus mempercepat laju mobilnya.


Mendengar Mala kecelakaan. Entah kenapa membuat Devan merasa sakit, biar bagaimanapun Mala tetaplah wanita yang amat Devan cintai, Biarpun tidak bisa memiliki. Namun. Cintanya masih dia berikan pada wanita itu.