
Mendengar perkataan sang mama membuat Devan langsung memutuskan sambungan telponnya. Ada rasa kesal dari dalam hati Devan. Bisa-bisa nya sang mama memintanya untuk melakukan kencan buta.
"Apa-apaan sih mama. Masa minta aku untuk kencan buta. Ada-ada saja" ucap Devan sambil keluar dari dalam lift
Sungguh Devan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Yasmine katakan. Hal ini memang bukan pertama kali Yasmine lakukan. Dulu sebelum Devan membawa Mala ke tempat mereka, Yasmine dan Wijaya memang sudah sering membuat Devan melakukan kencan buta dengan wanita-wanita yang sama sekali tidak Devan minati.
Semua wanita yang pernah melakukan kencan buta dengannya hanyalah wanita-wanita yang cuma mengincar harta Devan saja. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar tulus.
"Mama ini ternyata belum juga berubah. Masih sama seperti dulu" ucap Devan lagi sambil terus melangkahkan kakinya menuju basment.
Devan mengambil nafas dan membuangnya kasar. Karna dia tau betul bagaimana kedua orang tuanya. Jika sudah meminta Devan untuk melakukan hal itu, Itu artinya kedua orang tuanya memang benar-benar ingin Devan move on dari Mala.
Seperti halnya dulu saat Devan sedang terpuruk karna ditinggalkan oleh Adelia tepat di hari pernikahan mereka. Rasa malu dan juga sakit hati membuat Devan menjadi sosok dingin dan tidak mau menikah hingga bertahun-tahun.
Pagi ini jalanan tidak terlalu macet. Tanpa di sadari, Ternyata mobil Devan sudah tiba di rumah sakit BERLIAN milik keluarga GRAHAMA.
"Selamat pagi tuan Devan" sapa satpam di sana yang memang sudah mengenal baik Devan.
"Pagi pak. Minta tolong mobil saya ya pak" ucap Devan sambil memberikan. kunci mobilnya
"Siap tuan. Kalau boleh tau siapa yang sakit?"
"Anak saya" jawab Devan dan langsung masuk ke dalam rumah sakit.
Sedangkan Rendi, Pria itu masih terus memperhatikan Adelia yang menggendong anak mereka dengan penuh sayang. Melihat Adelia seperti itu membuat hati Rendi berdenyut nyeri.
"Seandainya saja waktu itu kamu tidak melakukan h itu Del, Mungkin saat ini kamu masih bisa hidup seperti sebelumnya. Semoga saja semua kejadian ini akan membuat kamu sadar" ucap Rendi dalam batinnya
"Ren, Terimakasih kamu sudah mau mengatakan hal ini padaku. Terimakasih banyak ya Ren" ucap Adelia yang terdengar sangat lirih
"Sama-sama Del. Maafkan aku yang baru saja mengatakan kebenaran ini. Aku benar-benar minta maaf Del"
"Iya Ren. Aku mengerti kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang"
"Del" panggil Rendi pada Adelia
"Iya Ren, Ada apa?"
"Apa kamu mau kembali bersamaku lagi? Demi Tania, Kita besarkan dia bersama-sama" seru Rendi yang langsung membuat Adelia terdiam.
Kedua matanya seketika menjadi sayu dan berkaca-kaca. Melihat otu membuat Rendi tidak mengerti. Apa ada yang salah dengan perkataan Rendi.
"Kenapa kamu malah sedih Del. Apa perkataan aku ada yang sala" tanya Rendi sambil menggenggam satu tangan Adelia
Namun dengan cepat Adelia melepaskan genggaman tangan itu"Jangan Ren. aku sadar jika aku sudah tidak pantas buat kamu lagi. Lihat aku Ren, Aku hanyalah wanita buta yang hanya bisa menghabiskan waktu di tempat ini. Aku sudah tidak seperti dulu lagi Ren" ucap Adelia dengan kedua mata yang sangat berkaca-kaca.
Mendengar itu membuat tangis Adelia semakin pecah. Rasa bersalah semakin besar dari dalam hatinya. Satu hal yang Adelia sesali. Kenapa dia tidak pernah menyadari kebesaran cinta Rendi selama ini.
"Aku mohon Del, Kembalilah bersamaku lagi" ucap Rendi lagi sambil terus menggenggam tangan Adelia.
"Tapi apa aku masih pantas menjadi bagian dalam hidup kamu Ren. Menjadi sosok beruntung yang masih begitu kamu cintai"
"Tentu Del. Kamu masih sangat pantas untuk hal itu. Aku janji akan mencarikan donor kornea mata buat kamu. Supaya kamu bisa kembali melihat dunia lagi. Melihat aku dan juga Tania" seru Rendi yang terdengar sangat lembut menyapu indra pendengaran Adelia.
Perkataan Rendi semakin membuat tangis Adelia pecah. Tidak pernah menyangka jika Rendi akan mengatakan semua itu pada dirinya.
"Terimakasih tuhan. Terimakasih karna engkau sudah mempertemukan aku dengan laki-laki seperti Rendi. Aku beruntung karna pria yang menjadi ayah dari anakku adalah sosok yang memiliki cinta begitu besar untukku" ujar Adelia dalam batinnya.
Bima dan Andre sudah tiba di salah satu gedung yang menjadi tempat Bima untuk bertemu Viona. Sosok wanita yang sudah berhasil mengancam Bima dan membuatnya benar-benar datang ke tempat ini.
Malam tadi Bima memang mendapatkan sebuah pesan ancaman dari wanita yang bernama Viona. Setelah membaca pesan itu, Bima langsung mengiyakan ajakan temu Viona. Karna Viona sudah mengirimkan pesan dan mengatakan jika dia akan mengatakan sebuah rahasia besar yang mungkin akan langsung membuat Mala pergi dari kehidupan Bima selamanya.
Viona dan Bima memang sudah saling mengenal sejak lama. Karna memang dulu mereka adalah teman saat sekolah menengah atas. Namun Bima tidak pernah tau jika Viona adalah anak dari musuh besarnya sendiri.
"Kamu bisa langsung ke rumah sakit Dre. Jangain Mala sesuai dengan apa yang aku pinta" ucap Bima pada Andre.
"Baik tuan. Jika ada apa-apa tuan bisa langsung hubungi saya"
Setelah keluar dari sana, Andre sekilas melihat sosok Reno di sana. Melihat itu membuat Andre mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Bima. "Jiiih, dasar musuh dalam selimut" ucap Andre dalam batinnya sambil menulis pesan singkat pada Bima.
Dtttt....Dttttt...
Mendengar ponselnya berdering, Bima mengambil ponselnya dan membuka pesan yang ternyata dari Andre.
[ Tuan muda, Reno memang benar-benar ada di tempat ini. Hati-hati tuan, saya akan meminta mereka untuk siaga ]
"Awas saja kamu Reno. Akan aku tunjukkan bagaimana konsekuensi menjadi duri dalam daging" ucap Bima pelan sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
Di rumah sakit
Devan terus menyusuri koridor rumah sakit. Dari kejauhan, Devan bisa melihat Leon yang sedang bersama dengan Rani di taman itu "Itu kan Rani. Ternyata Rani ada di sini. Apa itu artinya Mala juga ada di tempat ini. Tapi kan tadi Sifa mengatakan jika Bima dan Mala belum datang" seru Devan sambil terus menyusuri koridor.
Setelah tiba di ruangan Bintang, Devan langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Mala yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh ke arah pintu yang sudah menampakkan Devan berduri di sana.
"Ngapain kamu kesini mas. Bukan kah kamu lebih mementingkan wanita itu! Pergi kamu" ucap Mala sambil menatap tajam Devan yabg masih berdiri di ambang pintu
Pria itu mengambil nafas panjang."Maafkan aku Mala. Aku benar-benat minta maaf"
"Aku tidak butuh kata maaf itu mas. Kamu sudah membuat aku benar-benar kecewa. pergi kamu"