Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Pamit


Setelah tiba di area pemakaman, mala langsung turun dan menghampiri makam aluna. Wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


" Kak, maafkan mala. mungkin ini terakhir kalinya mala datang untuk berziarah ke sini, Selamat tinggal kak, doakan aku ya kak. semoga aku bisa melewati semua masalahku, Tapi kak aluna tenang aja ya. Suatu saat nanti aku akan kembali lagi"


" Maaf ya kak, mala gak bisa lama-lama. Mala masih ad urusan. Aku pamit kak, Assalamualaikum"


Setelah mengatakan hal itu, Mala langsung bangkit dan berlalu dari makam aluna, wanita itu kembali masuk ke dalam taksi yang tadi dan meminta pada sang supir untuk membawanya ke salah satu apartemen mewah yang ada di jakarta timur.


Karna jarak dari makam aluna ke apartemen cukup jauh. Mereka membutuhkan waktu 1 jam lebih untuk tiba disana. Setelah mobil taksi sudah tiba di basement apartemen. Wanita itu segera turun dan menyusuri lorong apartemen. Memasuki lift untuk segera tiba ke apartemen Milik devan.


Sebelum memasuki lift, langkah mala terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya. wanita itu menoleh dan mencari sumber suara yang tadi memanggilnya.


" Wilson!"


" Iya ini aku, hai, Apa kabar mala?" Tanya wilson dan mendekat ke arah mala.


" Aku baik wilson. maaf ya aku duluan, Soalnya lagi buru-buru" ucapnya dan langsung berlalu dari hadapan wilson. dengan berjalan sedikit tergesa, membuat wilson menautkan kedua alisnya.


" Ada apa ya. kenapa mala buru-buru seperti itu" pekiknya dan masih melihat punggung mala yang sudah memasuki lift.


Setelah pintu lift tertutup rapat wilson kembali melangkahkan kakinya, Hari ini wilson memang ada pertemuan kembali dengan devan. untuk membicarakan proyek yang mereka bangun berdua, Selama perjalanan menuju tempat pertemuannya dengan wilson belum fokus sepenuhnya. Masih memikirkan tingkah mala barusan.


1jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil wilson sudah tiba di depan kantor devan, karna kali ini mereka memang meeting di kantor devan, Wilson turun dari mobil dan menanyakan pada resepsionis di mana ruang meeting nya.


Setelah itu. wilson pun mengikuti arahan yang di berikan oleh resepsionis itu, dan ternyata di sana sudah ada beberapa karyawan devan yang sudah menunggu. Hingga beberapa saat kemudian devan masuk dan di ikuti fino yang mengekor di belakang.


meeting pun sudah di mulai. tapi wilson melihat devan yang nampak tidak konsentrasi. " Sebenarnya ada apa ya. tadi mala terlihat buru-buru. dan sekarang devan seperti banyak pikiran" wilson bermonolog dalam hati.


Di apartemen devan. ternyata mala sudah memasukkan semua barangnya ke dalam koper miliknya, sebelum dia keluar dari apartemen devan. mala meletakkan sepucuk surat yang dia letakkan di atas tempat tidur, tak lupa juga wanita itu meletakkan cincin nikah mereka.


" Oke, lebih baik aku cepat keluar dari sini sebelum mas devan kembali," ucap mala dan menghembuskan nafasnya panjang.


Ditengah perjalanan mala menghubungi ke tiga sahabatnya untuk datang ke apartemen milik andra, nanti jam 3 sore. mala mengambil nafas panjang, tak pernah terbayang sebelumnya jika dia akan pergi jauh dari tanah air.


Saat ini mala sudah berada di apartemen andra, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Hati mala semakin gelisah, rasanya cukup berat untuk meninggalkan orang-orang yang sangat dia sayang. bibi flo yang menyadari kegelisahan mala pun mendekat,


" Yang sabar nona, saya tau jika ini hal yang terberat buat anda, tapi saran saya lebih baik nona mengikuti kata hati nona" titahnya lembut.


" Iya bibi, Ini sangat berat untuk saya. Biarpun hati saya memang masih sangat menyayangi mas devan, tapi saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak lagi mencintai mas devan." lirihnya sendu.


Dada mala mulai sesat saat mengingat kejadian tadi di cafe senja. pelupuk matanya mulai basah. Namun dengan cepat mala menyeka air mata itu. hingga tak lama terdengar bunyi bel apartemen.


Ting...tong...


ting...tong...


ting...ting...


" Temennya nona mala ya?"


" Iya bi. kami temannya mala, mala nya ada kan? soalnya kita datang lebih awal, hehe" Ucap doni cengengesan


Bibi flo mempersilahkan mereka untuk masuk. seperti biasa doni selalu heboh saat bertemu dengan mala. karna terakhir mereka bertemu saat pergi kuliah dua hari yang lalu, Sebab mala sudah dua hari tidak datang ke kampus, Lebih tepatnya setelah dia mendapatkan foto-foto suaminya bersama wanita lain.


Waktu itu setelah teman-teman mala pulang, mala mendapatkan 1 pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. saat mala membukanya, ternyata isi dari pesan itu adalah foto devan bersama seorang wanita, yaitu adelia di sebuah rumah makan, Namun awalnya mala tidak menanggapi, toh di sana ada banyak pengunjung lainnya, dia pun tidak mempermasalahkan akan hal itu, di saat pikirannya mencoba biasa aja, tapi ternyata hatinya berkata lain, rasa cemburu itu ada. namun mala menahannya untuk tidak menanyakan hal itu pada devan.


Wanita itu mencoba bersikap biasa saja, bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa, Walaupun sebenarnya hatinya sudah mulai perih. Tapi sebisa mungkin mala bersikap biasa saja, Apalagi saat devan menanyakan soal doni. mala melihat ketidak seriusan saat devan menanyakan hal itu,


" Hai honey ku sayang, kenapa kamu sudah 2 hari gak datang ke kampus?, aku kangen tau honey" Ucap doni dan memeluk mala seperti biasa.


" Heh doni. elo dateng-dateng main peluk aja," timpal sindi pada doni


" Lah kenapa malah elo yang sewot petasan. orang honey gak masalah, iya kan honey?"


Mala tak menjawab. tiba-tiba mala terisak di depan ketiga sahabatnya, melihat itu membuat sindy menyalahkan doni." liat tuh don, gara-gara elo peluk bikin mala sampek nangis"


" Maaf honey, aku gak bermaksud seperti itu" lirihnya memelas


Bukannya berhenti, mala malah semakin terisak, dan meminta ketiga sahabatnya untuk mendekat, lalu mala peluk begitu saja, membuat mereka saling lempar pandang," Ada apa ya?" batin mega penasaran. pasalnya mereka tidak pernah melihat mala nangis, ini kali pertama mereka melihat sahabatnya seperti ini, cukup lama dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya mala membuka suara.


" Maafkan aku. hiks..."


" Maaf buat apa mala, kamu tidak pernah punya salah sama kita kok, iyan kan" Ucap mega sambil melihat ke arah sindy dan doni


" Iya honey, kamu tidak pernah punya salah sama kita, jadi gak perlu minta maaf" tambah doni


" Maaf karna aku harus pergi jauh, aku tidak bisa bersama kalian lagi. hiks...hiks..."


" Sore ini aku akan berangkat ke ausi. aku akan meneruskan kuliahku disana,"


" Kok kamu tega sama aku honey, lalu bagaimana denganku honey, huaaaaaa.. hiks...hiks..." Tangis doni pecah, memang selama ini doni selalu bergantung sama mala kalau tidak mengerti tugas kuliahnya.


" Kalau kamu pergi, bagaimana denganku honey, huaaaaa"


" Mal elo serius mau pindah kesana, tapi kenapa mal. kenapa tiba-tiba?" tanya mega pelan


" Iya ada sesuatu yang mengharuskan aku pergi. Aku sudah gugat cerai mas devan, karna_...." Mala


menggantungkan ucapannya


" Karna apa mal" Tanya sindy penasaran


" Maaf aku gak bisa memberitahukan alasan kenapa aku menggugat mas devan. tapi aku minta sama kalian jika mas devan atau kedua mertuaku menanyakan ku pada kalian. kalian jawab saja tidak tau. karna tidak ada yang tau soal ini, kecuali kalian dan kak andra, ayah,bunda dan kak nara juga tidak tau, jadi aku minta sama kalian untuk tidak memberitahu siapapun" terang mala pada mereka bertiga