
" Bagaimana jika kamu menikahi sifa ren, mama lihat sepertinya wanita itu menaruh hati padamu" ucap sandra pada rendi.
" Aku belum siap untuk menikah lagi ma, memang aku juga melihat ada cinta dalam diri sifa. tapi entah kenapa setiap bersamanya aku tidak pernah merasakan apapun" balas rendi
" Rendi, bukankah cinta akan datang dengan sendirinya, ayolah nak, mama sudah ingin menimang cucu seperti teman-teman mama" balas sandra sendu
" Baiklah ma. aku akan mencoba menjalaninya dulu"
Mendengar jawaban dari rendi senyum merekah terukir dari bibir sandra. rendi memang selalu menuruti permintaan orang tuanya. pria itu berlalu dari hadapan sang mama, hari ini rendi ada janji temu dengan salah satu pasiennya.
" Rendi pamit dulu ma, 1 jam lagi ada janji sama pasien" rendi mengambil tangan mamanya dan menciumnya sebelum berangkat kerumah sakit.
" Ini kan hari sabtu nak,"
" Iya ma, tapi rendi sudah mengatur janji dari minggu lalu"
Setelah mengatakan hal itu, rendi keluar dari kediaman orang tuanya. setelah sampai di dalam mobil ponselnya berdering ada panggilan masuk dari sifa. rendi mengusap layar yang berwarna hijau.
" Iya ada apa sifa?"
" Maafkan aku rendi, hari ini aku tidak bisa membantu kamu di rumah sakit, aku lagi gak enak badan, uhuk...uhukk" ucap sifa yang terdengar sedikit serak
" Kamu sakit? ya sudah gak papa, nanti setelah urusan di rumah sakit selesai aku akan kesana"
Setelah beberapa obrolan selesai, sambungan telefon pun terputus, rendi dan sifa memang cukup dekat sejak sifa bekerja di rumah sakit keluarga rendi, karna sering bersama perasaan cinta itu mulai tumbuh dalam hati sifa, tapi tidak dengan rendi. pria itu hanya menganggap sifa sebagai rekan kerjanya. namun sifa menyalah artikan kebaikan rendi selama ini.
30 menit kemudian, rendi sudah tiba di rumah sakit keluarganya, pria itu memarkirkan mobilnya dan langsung menyusuri setiap lorong rumah sakit itu. ada beberapa yang menyapa rendi, rendi hanya mengulas senyum sebagai balasan.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di rumah sakit, rendi langsung keluar untuk menemui sifa di rumahnya. namun sebelum ke rumah sifa pria itu berhenti di sebuah swalayan di sekitar taman kota. karna terlalu buru-buru sampai rendi tidak sadar jika ada seorang wanita yang berjalan ke arahnya.
Bruukkkk
Barang bawaan wanita itu terjatuh berhamburan di atas lantai, rendi membantu memungut setiap barang yang ada di depan kakinya, ternyata rendi belum menyadari siapa wanita yang sudah dia tabrak. " Maaf saya gak sengaja mbk, lagi buru-buru" ucapnya sambil menyerahkan beberapa barang yang dia pungut
" Iya tidak apa-apa mas, saya juga kurang hati-hati" ucap perempuan sambil menerima barang yang di sodorkan rendi
Seketika keduanya sama-sama kaget saat melihat siapa orang yang ada di depan matanya. " R......rendi" pekik adelia terbata
" Adelia, K...kamu"
" Awwwhhhh" lirih adelia sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
" P....perut aku sakit sekali" ucapnya dengan wajah yang mulai memucat
Rendi membantu adelia berdiri lalu membawanya keluar dari swalayan itu, rendi membawa adelia ke dalam mobilnya. dengan cepat rendi membawa ke klinik yang ada di dekat swalayan. setelah tiba di sana rendi memapah mala yang masih terus memegang perutnya.
" Dokter tolong" Pekiknya setelah sampai di depan ruang IGD
Adelia di baringkan di atas ranjang klinik itu, dokter yang menangani adelia sempat mengambil napas panjang, karna sempat ada darah yang mengalir, tapi untungnya kandungan adelia tidak kenapa-napa.
" Untung saja bapak membawa istri bapak tepat waktu, kalau tidak, mungkin janin yang ada dalam kandungannya sudah tidak bisa tertolong lagi"
" Maaf dokter, dia bukan istri saya" ucap rendi datar dan tanpa menunjukkan perasaan khawatir sedikitpun, biarpun sebenarnya rendi masih menghawatirkan keadaan mantan istrinya, terlebih lagi rendi masih sedikit yakin jika anak dalam kandungan adelia adalah darah dagingnya.
" Oh maaf pak, saya pikir dia istri anda, karna tadi saat datang kesini saya liat wajah anda terlihat sangat mencemaskan keadaannya"
Rendi tak lagi menjawab ucapan dari dokter yang ada di hadapannya, setelah memastikan keadaan adelia baik-baik saja, pria itu berniat untuk segera pergi dari sana, namun sebelum rendi berlalu adelia menarik tangan pria itu sambil mengeluarkan sedikit air matanya.
" Maafkan aku rendi, aku menyesal, sangat menyesal" lirihnya sendu
" Tidak usah membahas yang sudah berlalu, kita jalani saja yang sekarang, yang lalu biarlah menjadi masa lalu, Aku permisi. ada hal penting yang harus aku urus" pekik rendi dan langsung pergi dari hadapan adelia, namun perkataan adelia sempat membuat rendi menghentikan langkahnya beberapa saat.
" Asal kamu tau, sebenarnya anak dalam kandungan aku ini adalah anak kandungmu rendi" pungkasnya dengan suara parau. Namun pria itu hanya menghentikan langkahnya beberapa saat tanpa berniat menoleh ke arah adelia, rendi melanjutkan langkahnya meninggalkan wanita itu yang sudah sedikit terisak.
" Kenapa hidupku jadi seperti ini, hiks...hiks..." Lirihnya sangat pilu
Di tempat lain. sifa sedang tertidur di atas ranjang kontrakannya, wanita itu hanyalah tinggal seorang diri. tidak ada satu orang pun yang merawatnya. Karna sifa besar di salah satu panti asuhan di jakarta, setelah lulus kuliah dan menjabat sebagai dokter umum di rumah sakit keluarga rendi, sifa tak lagi tinggal di panti asuhan itu. sifa memilik mengontrak agar lebih dekat dengan tempatnya bekerja.
Saat wanita itu berniat untuk membeli obat di sebrang jalan kontrakannya, tak sengaja ada mobil hitam yang hampir menabrak tubuhnya, Karna keadaan sifa masih pusing, akhirnya wanita itu terjatuh tepat di samping mobil yang hampir menabraknya, tak lama kemudian keluar dua orang paruh baya dari dalam mobil, orang itu turun dan menghampiri sifa yang sudah duduk lemas.
" Maaf saya tidak sengaja," ucap pria paruh baya itu
" Kamu tidak apa-apa kan? kamu terlihat pucat sekali" pekik wanita paruh baya itu dan menyibak anak-anak rambut yang menutupi wajah sifa, hingga wanita paruh baya itu tidak sengaja melihat sebuah tanda hitam di telinga kiri sifa,
Melihat itu membuat yasmine terdiam untuk beberapa saat, wanita itu masih ingat jelas dengan tanda lahir yang di miliki oleh anak perempuannya yang sudah hilang beberapa tahun yang lalu, " Naura" ucapnya tanpa sadar.
Rendi yang melihat dari kejauhan langsung menepikan mobilnya dan menghampiri sifa yang sudah terlihat semakin pucat,
" Sifa ngapain kamu disini, tadi kam aku sudah bilang jika secepatnya aku akan menemui mu" ucap rendi dengan nada khawatir
Pandangan sifa sudah mulai buram, hingga tak lama wanita itu pingsang dalam pangkuan yasmine.