
"Tidak perlu sok manis! Siapa wanita itu?" Tanya Mala dengan nada dinginnya.
Bima mendekat sambil mengangkat sebelah alisnya"Wanita? Wanita siapa sayang?"Ucapnya lembut seperti biasa
"Iya wanita itu siapa! Wanita yang sudah berani mengangkat telpon aku tadi pagi. Emang kamu lagi ngapain sama wanita itu!?"
"Sebentar sayang, Aku gak paham. Kamu tadi pagi telpon aku?"
"Iya" Ucap Mala masih sama seperti sebelumnya.
Mendengar itu membuat Bima mencoba mengingat-ingat lagi siapa wanita yang sudah bersamanya pagi tadi.
"Apa mungkin Nadia yang sudah angkat telponnya Mala"Ucapnya dalam batin.
"Ayo jawab Bim, kenapa kamu diam saja!"
"Sayang, dia itu bukan siapa-siapa. Dia hanya teman lamaku yang kebetulan datang menemui ku ke kantor"
"Teman lama? Siapa namanya. perasaan kamu tidak pernah cerita punya teman seorang perempuan"
Bima mengambil nafas panjang, mungkin ini salah satu hormon ibu hamil, Gampang sekali sensi. Pria itu semakin mendekat ke arah Mala yang saat ini masih stay di atas ranjangnya. dari pagi setelah mendengar seorang wanita yang mengangkat telfon Bima, Entah kenapa membuat Mala begitu malas untuk sekedar beranjak dari sana.
"Sayang. aku memang tidak pernah cerita apapun soal dia. Soalnya aku baru bertemu lagi setelah sekian lama. Dia hanya teman masa kecilku. Namanya Nadia" Bima mencoba berbicara secara lembut pada pada Mala. bahkan lebih lembut dari pada biasanya.
"Aku gak percaya. Coba kamu telpon dia, aku ingin tau bagaimana reaksinya saat mendapat telpon dari kamu"
Mendengar itu membuat Bima panik, Bagaimana jika Nadia mengatakan hal yang tidak-tidak. Hal itu membuat Bima mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
Flashback Kantor
Beberapa jam yang lalu. Tepatnya setelah Bima selesai meeting. Pria itu kembali ke dalam ruangannya. dan ternyata Nadia masih setia menunggunya di dalam sana.
"Kamu masih disini Nad?" Tanya Bima pada Nadia
"Iya, aku masih disini karna aku mau menanyakan sesuatu hal penting sama kamu Bim" Jawab Nadia sambil melirik ke arah Bima yang masih berdiri di dekat sofa
Mendengar itu membuat Bima mengerutkan keningnya"Tanya sesuatu hal penting! Apa itu Nad?"
Nadia bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan ke arah meja Bima dan mengambil sebuah foto yang sudah membuatnya merasa begitu sakit.
"Apa ini Bim. Kami sudah menikah?"Tanya Nadia dengan begitu sendu
"Iya, Aku memang sudah menikah Nad, Memangnya kenapa?"
"Kenapa kamu bilang Bim! Apa kamu lupa dengan apa yang sudah kita janjikan dulu"
"Janji! Bukankah kamu sendiri yang sudah mengingkari janji itu. Kenapa kamu tidak datang disaat kita sudah berumur 15 tahun. Bukan kah kamu sendiri yang berjanji akan kembali setelah usia kita sudah menginjak 15 tahun"
"Asal kamu tau Nad. Selama belasan tahun aku menunggu kamu. Aku datang ketempat dimana dulu kita membuat seuntai kata janji. Tapi kamu tidak kunjung datang. Kabar pun tidak pernah aku dapat dari kamu"
"Jangan pernah salahkan aku jika aku mengingkari janji kita" Ucap Bima lagi
"Tapi kamu sudah berjanji akan selalu menungguku sampai kapan pun itu Bim. Hiks..hiks.."
"Sudah Nadia. Lupakan semua janji yang pernah kita ucapkan. Saat ini aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku"
Mendengar perkataan Bima membuat hati Nadia terasa di tusuk oleh pisau yang begitu tajam. Dunianya terasa seakan berhenti berputar untuk saat ini.
"Apa kamu tau, apa alasanku kenapa tidak datang waktu itu Bim!"
Mendengar itu membuat Bima menoleh ke arah Nadia. Satu Alasan yang sudah membuat Bima melupakan apa yang dulu mereka rencanakan.
"Perlu kamu tau Bim. Selama bertahun-tahun aku berusaha sembuh demi kamu. Aku sampai menjalankan pengobatan ke luar negeri. Dan semua itu untuk kamu Bim. Tapi kenapa kamu begitu jahat Bim.Hiks..hiks.."
"Maafkan aku Nadia. Tapi kamu datang di saat yang tidak tepat. Saat ini hatiku sudah milik istriku. Maafkan aku" Ucap Bima sambil menundukkan wajahnya
"Tapi aku cinta sama kamu Bim. aku rela jika harus menjadi istri kedua"
"Jangan gila kamu Nad. Sudah aku katakan. aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Aku minta sekarang kamu pulang, Aku masih banyak pekerjaan"
"Sampai kapanpun, kamu hanya milikku Bim. Aku akan merebut kamu dari istrimu bagaimanapun caranya"
"Cepat pergi. Dan jangan pernah datang kesini lagi" ucap Bima berubah menjadi dingin
Flashback off
"Aku tidak punya nomor Nadia sayang" Ucapnya lembut. Karna memang benar adanya jika Bima tidak memiliki nomor Nadia
"Jangan bohong kamu Bim!"
"Untuk apa aku bohong sayang. Aku hanya memiliki nomor wanita yang berati dalam hidupku"
Mendengar itu membuat Mala kembali Emosi."Siapa wanita yang paling berarti buat kamu Bim, Sini mana ponselnya. Aku mau tau, siapa saja wanita itu"
Perkataan Mala membuat Bima mengulum bibir menahan tawa. Apa istrinya sedang cemburu. "Ini, lihat saja sayang"
Mala mengambil ponsel Bima. Wanita itu mulai membuka semua kontak yang ada di dalam ponsel Bima. Mata Mala memicing saat melihat nama yang tertulis 'My wife dan my Queen' Kalau my Wife sudah pasti nomor ponselnya. tapi bagaimana dengan my Queen.
Entah apa yang merasuki Mala hari ini. tapi yang pasti wanita itu tidak suka jika ada Wanita lain dalam hidup suaminya. apalagi setelah menemukan nomor kontak dengan nama my Queen.
Dengan cepat Mala menekan tombol panggil pada nomor itu. Tak butuh waktu lama, Nomor itu berdering dan langsung di angkat saat itu juga. Mala langsung mendengar suara wanita yang tidak asing pada indra pendengarannya.
π: Halo Bim. Ada apa sayang?
Mendengar suara itu Mala melirik ke arah Bima yang sudah bertawa dalam diam, "My boy, ini mami?" tanya Mala pada Bima yang sudah tertawa. Bima tak menjawab. Pria itu hanya mengangguk di sela tawanya.
π: Halo Bim. Kamu masih di sana kan?
Mala memberikan ponsel itu pada Bima dengan memohon. "Ayolah my boy, bantu aku. kamu ngomong sama mami ya, jangan bilang kalau aku yang telpon"Ucapnya memelas.
Melihat raut wajah istrinya membuat Bima merasa tidak tega. Akhirnya pria itu mengambil alih ponselnya dari tangan Mala
π: Bim, Halo
π: Iya mi, maaf ya mi. Bima salah telpon, Hehe
π: Oh, mami pikir ada apa. Bagaimana kabar kalian disana? Kapan nginep di sini Bim?
π: Gak ada apa-apa kok mi. Nanti ya mi, nanti Bima sama Mala akan mengatur waktu buat nginep di tempat mami. mungkin Weekend ini ya mi
π: Oke sayang, mami tunggu ya
Setelah itu sambungan telponnya terputus. Bima menatap Mala yang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menahan rasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan.
TERIMAKASIH YANG SELALU HADIR KAK. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN. VOTE. SAMA RATE YAππ»