
" Gawat bos" ucap seseorang yang baru tiba di kediaman pria yang dia panggil dengan sebutan bos.
" Apanya yang gawat, kalau bicara yang jelas"'balas orang itu.
" I...itu bos, sepertinya saya ketahuan oleh pihak atasan saya"
Mendengar itu membuat si bos langsung membuang batang rokok yang baru dua kali dia hisap. " Bagaimana bisa, kamu tidak melakukan dengan cara yang saya berikan?"
" S...sudah bos. tapi apa anda tidak tau siapa pemilik asli perusahaan itu?"
" Pemiliknya patrio kan?"
" B...bukan bos, pemilik yang asli adalah Albima sunder"
" A...apa, dasar bodoh. kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang, hahh" ucapnya sambil memukul meja keras
" Ma..af bos. saya pikir bos sudah tau tentang hal ini. bagaimana ini bos, tolong saya" pekiknya memohon.
" itu urusan kamu sendiri. dasar tidak bisa di andalkan"
Tak lama kemudian ada pesan masuk pada ponsel salah satu dari mereka. Mata sang bos membulat saat melihat isi dari pesan itu, " Ada apa bos?"
" Keluarga saya dalam bahaya" jawabnya dan langsung keluar dari tempatnya saat ini.
Memang selama ini yang semua orang tau bahwa pemilik perusahaan Melani group adalah milik seorang Patrio, hanya beberapa orang tertentu yang tau siapa pemilik asli dari perusahaan itu.
Bima memang sengaja merahasiakan kebenarannya dari semua orang, termasuk papi dan mami Lina.
Di perusahaan Melani Group
" Bawa istri dan anak si tikus juga bosnya kehadapan saya sekarang" ucap Bima yang terlihat nampak begitu serius.
" Baik pak" ucap Rio dengan menundukkan kepalanya.
Saat ini Bima terlihat begitu marah, apa kurangnya dia pada keluarga Yunus, tega-teganya pria itu mencuri data penting perusahaan dan memberikannya pada lawan bisnis Bima.
Sebelum Rio datang, ternyata orang suruhan yang lain tiba dengan membawa Yunus dan budi pada hadapan Bima. pria itu langsung bersimpuh meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan.
" Maafkan saya pak. saya terpaksa melakukan ini. bapak tau sendiri kan jika saya butuh uang buat biaya rumah sakit ibu saya"
Bima melirik tajam ke arah Yunus, mendapat tatapan tajam seperti itu membuat Yunus menundukkan kepalanya, " Dasar tidak tau di untung, kamu lupa. siapa yang selama ini membantu kamu membayar biaya rumah sakit, hah!" ucap Bima dengan suara lantang.
Bima benar-benar murka, apa kurangnya Bima menjadi seorang bos selama ini. terkadang memang ada saja orang yang memanfaatkan kebaikannya.
" Maafkan saya pak"
" Simpan kata maafmu itu. Untung saja Rio segera menyadari tentang hal ini, kalau tidak. apa mungkin kamu akan mencuri data yang lebih penting,"
" Cambuk dia, potong satu jarinya, dan taruh di sel pertahanan di markas black flower, seorang penghianat tidak pantas dibiarkan berkeliaran" ucap Bima dengan nada yang terdengar begitu dingin.
Deg! Yunus yang mendengar itu langsung menunduk dengan wajah yang terlihat begitu pias dan memucat.
" Baik tuan" ucap salah satu anggota Black Flower.
Seorang Bima memang tidak akan mengotorkan tangannya sendiri hanya untuk manusia tidak tau diri seperti Yunus, kecuali menyangkut keluarganya. Maka Bima akan turun tangan sendiri.
" Aaaaaa, Ampun" pekik Yunus kesakitan
Budi yang melihat itu langsung menunduk dengan wajah yang terlihat memucat, pria itu menelan susah ludahnya. menyaksikan bagaiman cambukan itu mendarat di area tubuh Yunus.
" Ya ampun, ternyata aku salah orang" batin Budi yang melihat ngeri kejadian di depan matanya
β’
β’
β’
Hari ini Mala memutuskan untuk menonton film terbaru bersama ketiga sahabatnya. karna kemarin memang sudah janjian dengan mereka bertiga.
" Iya nak. hati-hati ya, kamu naik apa?"
" Nanti di jemput sama mereka"
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. membuat Mala langsung melangkahkan kakinya keluar dari kediaman orang tuanya.
" Bunda Mala pamit ya, itu sepertinya mereka sudah datang" ucap Mala sambil mencium punggung tangan sang Bunda.
"Hati-hati dijalan ya sayang,"
Setelah tiba di dalam mobil Dino, Mala mengirimkan pesan singkat untuk Bima, Karna biarpun wanita itu belum mencintainya, Namun Mala sangat menghargai status Bima sebagai suaminya.
Mala mengirimkan sebuah pesan singkat yang langsung Biru pada saat itu juga,
Memang seperti itulah Bima, pria itu akan langsung membaca pesan yang setiap kali Mala kirim untuknya.
Tak lama, ada panggilan masuk dari nomor Bima, dengan cepat Mala mengusap tombol berwarna hijau dan langsung mendengar suara lembut khas lelakinya.
π [ Sayang, apa kamu sudah berangkat? ]
π [ Ini baru saja mau berangkat my boy, kenapa? ]
π [ Tidak papa sayang, hati-hati ya. perasaan aku gak enak ]
π [ Iya my boy, terimakasih ya sudah mengingatkan aku ]
π [ Iya sayang, selamat bersenang-senang ya ]
π [ Iya my boy. Cepat ke indonesia ya ]
Setelah mengatakan hal itu. Mala menutup sambungan telponnya, Wanita itu duduk di samping kursi pengemudi menemani Doni. sedangkan Sindy dan Mega duduk di kursi penumpang
Satu jam kemudian, mobil Doni sudah tiba di sebuah plaza yang begitu besar, Di dalam sudah lengkap dengan berbagai macam tempat bermain, pusat pembelanjaan, salon, klinik kecantikan. bioskop. Resto dan cafe juga ada.
Karna jam sudah menunjukkan pukul 11:30. oleh karena itu, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu, sebab filmnya baru akan di mulai satu jam kedepan.
" Kalian mau pesan apa?" tanya Mala pada mereka bertiga
" Pesannya samain aja Mala"
" Baiklah"
Mala memesan chicken katsu untuk makan siang kali ini. karna. entah kenapa wanita itu tiba-tiba menginginkan Chicken katsu yang ada saladnya.
Seperti inilah gambar Chicken katsunya.
Selain itu, Mala juga memesan Dessert untuk makanan penutup, wanita itu memesan Dessert dengan tida rasa yang di mix.
Seperti inilah gambar Dessertnya.
Tiga puluh menit kemudian. pesanan mereka sudah datang, dari penampilannya saja sudah terlihat. jika Chicken katsu sama Dessertnya begitu nikmat.
Di tempat lain saat ini Rendi sedang mengajak Sifa untuk ikut bersamanya, Pria itu tidak ingin ada rahasia antara dirinya dengan Sifa. setelah memikirkan dengan matang. Rendi memutuskan untuk memberitahu Sifa tentang hal ini, karna mau bagaimanapun jika mereka jadi menikah. maka anak itu juga akan menjadi anak Sifa.
" Kita mau kemana dokter Rendi, bukannya mau makan siang ya?" tanya Sifa di saat mobil Rendi melewati Restoran yang baru saja mereka cari
" Kita ke suatu tempat dulu ya. ada hal penting yang harus aku kasih kau" pekik Rendi sambil fokus mengemudi.
" Hal penting?" tanya Sifa memastikan
" Iya, ini sebuah rahasia besar, aku percaya kamu bisa menyimpan rahasia ini"
Mendengar ucapan Rendi membuat Sifa mengangkat kedua sudut bibirnya, seperti mimpi bahwa Rendi mau mempercayai menyimpan sebuah rahasia.