
Devan melihat ke arah mobil yang nampak seorang perempuan keluar dari dalam mobil itu, Mata Devan memicing untuk melihat siapa perempuan itu," Mala" ucap devan tanpa sadar.
Perempuan itu memanglah Mala, saat ini Mala datang sendiri tanpa ada Bima di sampingnya, sebab saat ini Bima sedang ada urusan dengan kakek Lustama di sebuah Restoran, Karna terlalu lama menunggu akhirnya Mala memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Terlalu bosan terus menunggu di Restoran itu, Mala memutuskan keluar dan memesan taksi online untuk membawanya kesebuah tempat yang terbesit dalam benaknya.
Sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan manis yang dia lewati bersama orang-orang yang dia sayangi.
Saat ini Mala sedang ada di sebuah danau yang entah kenapa untuk hari ini sangat sepi dengan pengunjung.
Mala menyusuri jalan danau lalu duduk di sebuah kursi yang terlihat kosong. " Rasanya kangen banget sama tempat ini" ucap Mala sendu.
Begitu banyak kenangan di danau ini, kenangan yang selalu Mala rindukan. kenangan bersama ketiga sahabatnya juga Devan tentunya.
Mala duduk, ingatannya kembali pada saat pemakaman anak Adelia satu jam yang lalu. wanita itu masih mengingat jelas bagaimana Adelia mengatakan kebenaran yang selama ini sudah membuatnya mengambil langkah yang sangat salah.
Karna video itu, Mala pergi dari kehidupan Devan. laki-laki yang amat dia cintai." Kenapa dulu akau langsung pergi begitu saja tanpa mencari tau tentang hal yang sebenarnya. maafkan aku mas. maafkan aku yang sudah salah mengambil keputusan, Aku terlalu cinta hingga membuatku cemburu berlebihan,"
" Sudahlah. sudah tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah berlalu, aku sudah menjadi istri dari seorang Albima, laki-laki yang benar-benar memberikan aku cinta dan kasih sayang yang sangat tulus, aku harus bisa melupakan mas Devan, saat ini sudah ada Bima yang harus aku cintai."
tanpa Mala sadari ternyata Devan bisa mendengar semua yang dia bicarakan, karna memang posisi Devan tidak terlalu jauh dengan Mala.
Devan yang mendengar itu seketika merasa dadanya terasa begitu sesak, ternyata dugaannya benar, jika istri dari sepupunya adalah wanita yang amat di cintainya.
Setengah jam kemudian Mala bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat danau. Mala begitu menikmati tenangnya danau sore ini. hingga tanpa sadar kaki Mala terpleset dan tubuhnya terjatuh ke dalam danau itu, " Aaaaaa, tolong" ucap Mala sambil melambai-lambaikan tangannya.
Karna biarpun Mala menjadi orang kaya, namun dirinya tidak pernah bisa berenang. hal yang tak pernah bisa Mala lakukan.
Devan yang melihat itu langsung berlari ke arah Mala dan menyemburkan tubuhnya agar bisa secepatnya menyelamatkan wanita yang dari tadi dia perhatikan.
Wanita yang menurut Devan parasnya begitu mirip dengan Malanya, dan ternyata hal itu memang benar, dia adalah Mala seorang wanita yang teramat Devan rindukan.
Devan berenang dan membawa Mala ke pinggiran danau. Karna terlalu banyak kemasukan air membuat Mala tak sadarkan diri.
" Hei bangun" ucap Devan sambil menepuk-nepuk kedua pipi wanita yang ditolongnya.
Sudah beberapa kali Devan menepuk kedua pipi Mala. namun wanita itu belum juga sadarkan diri. hingga terbesit dalam benak Devan untuk memberikannya nafas buatan. saat Devan sudah mendekatkan bibirnya pada bibir Mala, tiba-tiba wanita itu membuka kedua matanya.
Deg, melihat Mala membuka matanya membuat Devan seketika menghentikan hal yang akan dia lakukan. Jantungnya berdegup begitu kencang. hal itu tentu saja membuatnya mengingat saat-saat bersama Mala.
Bukan hanya Devan. Mala juga merasakan hal yang serupa dengan ptia itu, Jantungnya berdegup begitu kencang, hal itu membuat Mala teringat akan kejadian di dalam kantor waktu dirinya pertamakali bekerja sebagai office girl.
pandangan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat, Jika boleh meminta, Devan berharap waktu berhenti berputar untuk saat ini. pria itu masih sangat merindukan hal-hal seperti ini, Devan benar-benar merindukan wanitanya. wanita yang sudah pergi meninggalkannya." Kak Devan" ucap Delisa sambil mendorong tubuh Devan agar menjauh dari tubuhnya.
" Maaf, saya gak bermaksud untuk mencium kamu. tadi saya hanya ingin memberikan nafas buatan" ucap Devan canggung
" Iya tidak apa-apa kak. terimakasih sudah menolongku"
Biarpun Devan sudah tau jika Delisa benar-benar Mala, namun pria itu masih terus pura-pura tidak tau apa-apa.
Melihat itu membuat Devan dengan sigap menggendong tubuh Mala ala bridal, Wajah Devan terlihat panik melihat wanita itu meringis kesakitan.
Pria itu membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga hanya memerlukan waktu tiga puluh menit untuk tiba di rumah sakit,
" Dokter tolong" ucap Devan
Mala di bawa keruangan IGD, wajahnya terlihat begitu pucat. tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan IGD itu, " Keluarga ibu Mala" ucap dokter itu.
" Iya dokter. bagaimana keadaannya. ?"
" Syukurlah keadaan ibu Mala sudah baik-baik saja, dan sekarang sudah sadarkan diri"
" Apa saya sudah boleh masuk dokter"
" Silahkan pak, istri anda sudah menunggu"
" Maaf dokter dia bukan istri saya"
" Oh, maaf pak. saya pikir dia istri anda, karna tadi anda terlihat begitu panik. "
Devan tak lagi menjawab ucapan yang keluar dari mulut dokter itu. memang tidak bisa di pungkiri jika dirinya begitu menghawatirkan keadaan Mala beberapa menit yang lalu.
Di tempat lain saat ini Rendi sedang menggendong bayi perempuan itu, Rendi tidak membawanya kerumah orang tuanya. pria itu membawa bayinya ke apartemen yang tidak ada satu orang pun yang tau tentang Apartemen miliknya.
Dokter Bella baru saja datang untuk membantu mengurus bayi mungil itu, karna memang Rendi meminta dokter Bella untuk mengurus bayi itu selama dirinya pergi kerumah sakit, dan kebetulan sore itu Rendi mendapat telfon dari orang rumah sakit ada pasien gawat yang membutuhkan dokter itu.
" Maaf Rendi aku baru datang"
" Tidak apa Bella, aku titip Nadia sebentar ya, kalau kamu mau makan dan istirahat silahkan saja ya, anggap seperti rumah sendiri"
" Baik Ren, sudah sana cepat pergi. kasian pasien yang sudah menunggu kamu"
Rendi keluar dari dalam Apartemennya, pria itu menitipkan bayi perempuan yang dia beri nama Nadia pada dokter Bella.
" Kakek, dimana Delisa" ucap Bima saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak ada di restoran itu.
" Loh, bukannya tadi duduk di sana Bim? tapi kok udah gak ada"
Melihat Mala tidak ada di tempat sebelumnya membuat Bima panik, telfon Mala tidak bisa di hubungi, bagaimana bisa di hubungi, telfon Mala saat ini tertinggal di danau saat tenggelam beberapa saat yang lalu.
" Dimana istri Bima kek." Bima menjadi semakin panik.
Pria itu memutuskan untuk menghubungi orang rumah kakek Lustama, namun ternyata orang dirumah kakek lustama mengatakan jika tidak ada Mala dirumahnya.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE,KOMEN SAMA VOTE YA KAK, MAAF JIKA ADA BANYAK TYPO😁. TERIMAKASIH YANG SELALU SETIA HADIR