Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Tidak pernah perduli


" Sayang, sekarang kamu makan lalu minum obat" ucap Bima yang terdengar begitu lembut seperti biasa


" Iya my boy"


Bima menyuapkan nasi pada Mala, saat ini mereka hanya berdua di kamar rawat inap Mala, karna yang lain sudah pulang sejak satu jam yang lalu,


" Sayang. ayo buka mulutnya" pinta Bima saat mau menyuapi wanitanya


Namun, wanita itu masih terdiam dengan tatapan kosong, hingga tak lama butiran bening itu jatuh begitu saja. Entah kenapa rasanya begitu berat saat mengetahui fakta bahwa dirinya mengalami kelumpuhan, biarpun hanya sementara, tapi sulit untuk Mala menerima sebuah kenyataan pahit itu,


" Hey, kamu kenapa sayang, kok nangis?" ucap Bima sambil mengusap kedua pipi Mala yang sudah mulai basah


Mala masih terdiam, tidak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya, kenyataan pahit bagaikan mimpi buruk yang kembali terjadi dalam hidupnya.


" Sayang, lihat aku, tatap mataku. percayalah, suatu hari nanti kamu pasti bisa berjalan lagi"


" Iya tapi kapan Bim, kapan. kenapa hidup ku selalu terlihat menyedihkan, hikss hiks"


" Aku tau ini berat sayang, tapi kamu gak perlu khawatir. ada aku yang akan selalu setia mendampingi kamu. aku tidak akan pernah membiarkan kamu menjalani semua kenyataan pahit ini seorang diri"


" Apa kamu tidak malu memiliki istri yang tidak berguna sepertiku?"


Mendengar itu membuat Bima membawa Mala dalam dekapannya, dekapan yang selalu mampu membuat Mala merasa tenang.


" Sayang, harus berapa kali aku katakan, aku mencintai kamu bukan karna kelebihan yang kamu miliki. tapi karna kamu memang pantas mendapatkan cinta ku. cinta yang begitu tulus dan tanpa syarat"


" Lalu bagaimana jika semua orang tau bahwa seorang Albima mempunyai istri cacat dan tidak berguna"


" Aku tidak pernah perduli dengan apapun yang orang lain pikirkan, yang aku perduli hanya satu."


" Apa?"


" Bagaimana caranya agar kamu bisa mencintaiku" ujar Bima lagi


" Ajari aku untuk itu Bim"


" Aku akan berusaha sayang, aku akan berusaha menumbuhkan rasa itu dalam hati kamu" pekik Bima lembut sambil mencium kening Mala.


" Terimakasih ya my boy"


" Untuk apa sayang"


" Untuk semuanya. untuk segala hal yang kamu lakukan untuk ku, untuk sebuah perasaan yang kamu berikan terhadapku. aku janji. aku akan selalu berusaha mencintai kamu"


Mala memeluk Bima sambil kembali terisak dalam dekapannya. " Maafkan aku my boy" ucapnya di sela isak tangisnya


" Maaf, maaf untuk apa sayang?"


" Maaf untuk semuanya, maaf karna sampai saat ini aku belum bisa mencintai kamu"


" Tidak apa sayang," pekiknya lembut sambil membelai rambut Mala.


Bima melepaskan dekapannya. pria itu kembali mengingat jika istrinya harus segera minum obat lalu istirahat, karna dokter menyarankan untuk tidak tidur terlalu malam.


" Sekarang kamu makan dulu ya sayang, habis itu minum obat lalu istirahat"


Mala hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bima, biar bagaimanapun, dirinya harus minum obat agar bisa segera keluar dari rumah sakit ini. " Sini buka mulutnya, Aaaaa"


Mala membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Bima, namun tiba-tiba entah kenapa wanita itu mengingat Devan, wajah Devan terlintas begitu saja dalam bayangan Mala.


" Kenapa tiba-tiba aku mengingatnya " Gumam Mala dalam batinnya.


" Eh, gak papa kok my boy"


Tanpa terasa malam berlalu begitu saja, pagi ini Mala terbangun lebih dulu, wanita itu mulai mengerjab untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya,


Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Mala menoleh ke arah samping, Wanita itu tersenyum saat mendapati sosok yang sudah menguatkan dirinya, sosok laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya.


" Bim, ternyata kamu masih setia menemaniku hingga pagi, aku beruntung memiliki kamu, kamu yang terbaik" ujar Mala sambil membelai rambut Bima yang masih lelap dalam tidurnya.


Pria itu tidak merasa terganggu sedikitpun, Bima masih terlalu damai dalam mimpinya.


1 jam kemudian, ada seorang perawat masuk yang akan melakukan pemeriksaan terhadap Mala, " Selamat pagi mbk Mala"


" Pagi sus," balas Mala pelan


Saat mala berniat membangunkan Bima. perawat itu malah menghentikan niatnya, " Jangan mbk"


" Maksudnya sus?"


" Jangan di bangunin, kasian mbk. biarkan saja suami mbk tidur"


" Gak papa sus. kan saya mau di periksa, masa iya suami saya di biarkan tidur begitu, kam gak sopan"


" Udah gak papa mbk, semalem saya liat suami mbk jagain mbk sampek jam 3 pagi. waktu pergantian sif, saya sempat memeriksa ke adaan mbk Mala, dan ternyata suami mbk belum tidur dari semalem katanya" terang perawat itu pada Mala


" Yang bener sus"


" Iya mbk, saya gak bohong, kalo gitu saya permisi ya"


Mala tak lagi menjawab, wanita itu hanya memandang Bima dengan tatapan yang terlihat begitu sendu, " Secinta itu kah kamu terhadapku Bim, sampai-sampai kamu rela tidur hingga menjelang pagi hanya ingin memastikan keadaan ku" gumamnya sambil membelai lembut kepala Bima


Di tempat lain, saat ini Sifa sedang membantu Rendi untuk mengurus anaknya, karna memang sejak kepergian dokter Bella, Sifa yang ikut andil mengurus bayi mungil itu, Sifa memutuskan untuk tidak tinggal di kediaman kakek Lustama. wanita itu sudah keluar dari kediaman kakeknya dengan alasan lebih enak tinggal di kontrakan yang dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja.


" Uluh sayang, kamu haus ya?" ucap Sifa saat bayi kecil yang ada di gendongannya itu mulai menangis,


" Rendi, tolong jagain Tania dulu ya, aku mau bikinin dia susu. sepertinya Tania haus" ujar Sifa lagi sambil mau menyerahkan bayi Tania pada Rendi.


" Sudah, biar aku saja yang membuatkan nya susu"


" Yang bener, memang nya kamu bisa?"


" Bisalah, bikin susu doang, tunggu sebentar ya"


Mendengar itu Sifa hanya mengangguk sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. wanita itu mulai membayangkan jika suatu saat dirinya sudah menikah dengan Rendi. punya anak dan hidup bahagia.


Hal itu mulai terbayang jelas dalam benak Sifa, " Keluarga yang sangat harmonis " ucap Sifa tanpa sadar


" Siapa keluarga yang harmonis" tanya Rendi yang baru saja selesai bikin susu untuk anaknya.


Sifa mendadak tersadar saat mendengar suara bariton milik Rendi. " Eh enggak, maksud aku kak Bima sama kak Mala" ucap Sifa pelan


" Oh tak kira siapa, ini susunya"


Rendi memberikan botol susu pada Sifa, jika di lihat seperti itu. mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia,


Sedangkan Devan, saat ini pria itu menatap ke arah langit yang begitu terang. Devan berdiri di atas balkon kamar Apartemennya, semua perkataan Wilson masih terngiang jelas pada indra pendengarannya,


" Apa benar kamu masih mencintaiku sayang" lirihnya pilu