Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa takut Mala


Entah kenapa pria itu diam saja saat Nadia memeluk tubuhnya. Devan terdiam membeku dalam pelukan Nadia" Jangan pernah beranggapan jika dunia itu tidak adil. Apakah kamu pernah berfikir di luar sana banyak orang yang hidupnya jauh lebih tidak adil dari pada kita"Ujar Nadia sambil menepuk punggung Devan


Mendengar perkataan Nadia membuat Devan terdiam. Karna memang kata-kata itu benar, Terkadang memang hidup tidak seperti apa yang kita harapkan. Seperti arus sungai yang tidak selalu jernih. Akan ada saatnya air keruh itu datang.


"Kamu benar Nad. Tapi apakah aku salah jika berharap mereka berdua adalah darah dagingku"Ucapnya yang terdengar begitu lirih.


"Tidak ada harapan yang salah. Hanya saja kita sebagai manusia tidak boleh terlalu berharap akan hal yang belum tentu pasti. Sebelum rasa kecewa itu datang"


"Karna kalau yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mu. Nanti yang ada kamu akan merasa begitu kecewa. Sudahlah. Jalani hidup seperti air mengalir. Kamu hanya perlu mengikuti aliran arusnya" Ucap Nadia lagi sambil terus memeluk Devan


Devan masih diam dalam pelukan Nadia. Ini adalah pelukan pertama yang Devan dapatkan dari orang asing dalam hidup nya. Karna mau bagaimana pun, Nadia adalah orang asing yang baru 2 hari dia kenal.


Setelah melihat Devan sudah mulai tenang. Nadia melepaskan pelukannya. Wanita itu mengusap butiran bening yang sudah mulai membasahi kedua mata Devan.


"Jangan nangis. Nanti tampan nya bilang" Ujar Nadia sambil mengusap air mata Devan


Devan yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja langsung terdiam. Lagi-lagi Devan teringat akan Mala. Yang Nadia lakukan membuat Devan mengingatnya.


"Sudah. Jangan terlalu lama bersedih. Jadi laki-laki jangan cengeng. Lebih baik sekarang kamu pikirkan bagaimana caranya membantu aku agar bisa membalaskan dendam rasa sakit hatiku terhadap Andika sanjaya"


Mendengar perkataan Nadia membuat Devan seketika melirik ke arah wanita itu. Karna hingga saat ini Devan masih belum bisa menemukan cara yang pas untuk membalaskan dendam Nadia terhadap Andika.


"Aku masih belum bisa fokus sebelum hasil tes DNA itu keluar. Aku pulang dulu, Kamu jaga mereka baik-baik. Jangan sampai kamu menyakiti mereka, Karna kalau sampai hal itu terjadi, Kamu akan tau akibatnya" Ujar Devan dengan penuh penekanan terhadap Adelia.


"Kamu tenang saja. Aku masih punya hati, Jangan pernah mengira aku wanita jahat yang akan tega menyakiti anak kecil seperti mereka. Harus kamu ingat, Aku juga seorang ibu. Walaupun aku hanya merasakan sesaat" Ucap Nadia yang terdengar begitu lirih


Devan yang melihat raut wajah Nadia langsung terbesit rasa ingin tau. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan hidup Nadia. Karna biarpun Nadia meminta bantuannya untuk balas dendam, Pria itu belum mengetahui inti permasalahannya bagaimana.


"Sebenarnya kamu mau balas dendam dalam hal apa Nadia? Bukankah kamu belum bercerita apa masalah mu dengan orang yang bernama Andika sanjaya" Tanya Devan pada Nadia


Mendengar pertanyaan Devan membuat Nadia mengambil nafas panjang. Wanita itu masih mengingat jelas bagaimana Andika membuat hidupnya berantakan.


"Ceritanya sangat panjang Devan. Akan aku jelaskan kalau nanti kamu sudah tau apa hasil tes DNA nya. Karna mau cerita saat ini juga kamu gak bakal fokus"


"Baiklah, Terserah kamu saja" Ucap Devan dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Setelah tiba di dalam mobilnya. Devan menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menjauh dari gedung itu. Entah kenapa perkataan Nadia berhasil mengganggu pikirannya. Semua yang Nadia katakan memang benar adanya. Jika kedua bayi itu benar-benar mirip dengan Bima.


"Bagaimana jika mereka berdua benar-benar anaknya Bima. Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus mengatakan kepada mereka jika saat ini Langit dan Bintang sedang ada bersamaku. Tapi bagaimana jika mereka berdua langsung membawa Langit dan Bintang" Ucap Devan pada dirinya sendiri


"Aku belum sanggup jika seandainya mereka berdua melarang ku untuk bertemu dengan Langit juga Bintang. Entah kenapa saat pertama kali aku melihat wajahnya, Aku langsung jatuh cinta dan sayang pada mereka. Seperti ada ikatan batin yang sangat kuat"


****


Tanpa terasa, Jet pribadi yang membawa Bima, Mala dan Leon sudah Landing dan mendarat sempurna di tanah indonesia. Saat ini Leon dan Mala masih memejamkan kedua matanya, Sedangkan Bima, Di sepanjang perjalanan pria itu merasa begitu sulit walaupun sekedar memejamkan kedua matanya.


Perkataan Mala selalu saja terngiang pada indra pendengarannya. Mungkin apa yang sudah di katakan oleh Mala memang ada benarnya. Bima harus bisa semangat untuk orang-orang yang sangat bergantung padanya.


Setelah cukup lama terdiam. Akhirnya Bima membangunkan Leon namun tidak dengan Mala. Saat melihat wanita yang amat di cintanya tidur dengan sangat lelap membuat Bima merasa sangat tidak tega.


"Leon bangun. Kita sudah sampai di jakarta" Ucap Bima sambil menggoyang-goyangkan tubuh Leon


"Beneran kita sudah sampai Bim?" Tanya Leon dengan suara seraknya


"Iya, Cepat bantu aku membawa barang-barang. Aku akan menggendong Mala. Kasian dia terlihat begitu lelah" Ucap Bima dan langsung membopong tubuh Mala dengan sangat lembut.Pria itu tidak ingin jika wanita yang sangat di cintanya sampai terbangun karna ulahnya.


"Baiklah. Hati-hati, Jangan sampai calon istri masa depan ku terbangun" Ucap Leon yang sengaja ingin memancing kemarahan Bima


Sedangkan Bima yang mendengar itu langsung mendapat tatapan tajam persis seperti apa yang sudah Leon duga" Apa kaku bilang. Istri masa depan? Sekali lagi aku dengan kau mengatakan hal itu. Akan ku patahkan lehermu" Ucap Bima sambil menatap tajam Leon yang sudah mengulum bibir karna melihat raut wajah Bima


"Sadis sekali kau ini. Dasar bucin" Cibirnya


"Biarkan saja bucin. Dari pada jomblo"


"Dasar menyebalkan! Awas saja nanti. Aku akan segera menemukan jodohku" Pungkas Leon dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka


Mobil yang menjemput Bima langsung melaju menuju kediaman kakak Lustama, Di sana sudah ada Sifa yang menunggu kedatangan mereka bertiga.


Tepat di saat Bima ingin memejamkan matanya, Tiba-tiba saja ponsel Bima berdering, Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari orang suruhannya. Melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, Membuat Bima dengan cepat menekan tombol hijau.


πŸ“ž:Ada apa kamu meneleponku di tengah malam seperti ini?


πŸ“ž:Jadi begini tuan muda. Saya sudah menemukan keberadaan wanita yang bernama Nadia.


πŸ“ž:Dimana?


πŸ“ž:Di salah satu apartemen yang ada di daerah jakarta utara. Menurut informasi, Apartemen itu masih milik dari keluarga Lustama


πŸ“ž:Apa! Siapa yang sudah membawanya kesana


πŸ“ž:Devan Adiwijaya. Menurut penyidikan yang saya dapatkan. Devan adiwijaya saat ini sedang melakukan tes DNA pada kedua bayi itu


πŸ“ž:Apa! Dimana alamat rumah sakitnya?


πŸ“ž:Rumah sakit berlian tuan


Setelah mendengar hal itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Bima masih tidak habis pikir jika Devan sudah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan anggota keluarga.


"Apa om dan tante tau soal ini. Aku benar-benar tidak nyangka jika kak Devan melakukan hal ini" Ucap Bima yang membuat Mala terbangun


"Ada Apa my boy?. Kenapa kamu menyebutkan nama mas Devan" Tanya Mala dengan suara seraknya


"Kak Devan melakukan tes DNA kepada Langit dan Bintang"


"Apa?" Jawab Mala yang terlihat begitu terkejut.


Mau bagaimana pun. Mala tidak ingin sampai Devan tau jika mereka berdua adalah anak dari mantan suaminya. Yang tak lain adalah Devan adiwijaya. "Bagaimana ini my boy. Aku belum sanggup jika seandainya mas Devan mengetahui fakta yang sebenarnya. Aku takut dia akan mengambil mereka berdua dari kita" Ucap Mala yang terdengar begitu lirih


Bima yang melihat raut wajah takut Mala langsung membawa wanita itu dalam dekapannya."Tenanglah, Semua akan baik-baik saya sayang" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut seperti biasa