Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Tidak Bisa hidup tanpamu


"Sadar Mala, Aku mohon sadarlah" Ucap Leon sambil terus berusaha mengeluarkan Air dari tubuh Mala. Namun wanita itu belum juga sadarkan diri. Jalan satu-satunya hanyalah memberi Mala nafas buatan.


"Tidak ada cara lain. Dia harus segera mendapatkan nafas buatan" Ucap dokter Leon sambil melirik ke arah Devan dan Wilson


"Ya sudah lakukan saja dokter Leon. Bukankah itu akan membuat Mala segera sadar" Timpa Wilson


"Iya kan Van?" Ucap Wilson lagi


"Iya dokter Leon. Jika memang memberi Mala nafas buatan bisa menyadarkannya, Maka lakukan saja dokter" Ucap Devan sambil menatap Leon dan Mala


"Ya sudah siapa di antara kalian yang akan memberikannya nafas buatan?"


"Aku gak bisa. Devan saja" Ucap Wilson


"Tidak, Aku juga tidak bisa. Yang ada nanti bukannya memberikan nafas buatan, Malah saya keterusan ingin menciumnya" Ucap Devan yang tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Astaga, Mesum sekali anda" Ucap dokter Leon


"Ya sudah kalau begitu dokter saja yang memberikannya nafas buatan" Sela Wilson


Mendengar perkataan Wilson membuat Leon begitu terkejut, Karna saat ada di dekat Mala seperti ini saja jantungnya sudah berdegup kencang, Apa lagi memberinya nafas buatan!


"Lah kok malah jadi saya?" Ucap Leon sambil melirik ke arah Devan dan Wilson


"Sudahlah dokter, Cepat lakukan sebelum Mala kenapa-napa. Memangnya dokter mau Mala tidak selamat karna dokter tidak cepat bertindak?"


"Ya sudah"


Leon mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir ranum Mala untuk memberikan wanita itu nafas buatan. Biarpun Mala dalam keadaan tidak sadarkan diri, Tapi Leon merasa jika detak jantungnya berdetak lebih cepat dari pada saat normal.


"Astaga, Kenapa jantungku berdetak secepat ini. ingat Leon kamu tidak boleh mencintai istri Bima, dia itu istri sahabat kamu. kamu harus buang jauh-jauh perasaan ini sebelum terlambat. maafkan aku Bim, aku tidak bermaksud mencium istri kamu. hanya saja aku ingin menyelamatkan istri kamu, ini darurat" Leon bermonolog dalam batinnya


Uhukk....uhukk. Mala berbatuk dan sadar dari pingsannya. Wanita itu mengerjabkan kedua matanya yang sudah membengkak karna tidak berhenti menangis.


"Bima dimana?" Tanya Mala setelah sadar


Nama pertama yang Mala tanyakan tetaplah Bima. Leon,Devan dan Wilson yang mendengar itu hanya bisa saling lirik. Entah apa yang akan mereka jawabkan.


"Aku tanya Bima dimana?" Sentaknya lagi


Tak lama kemudian. Datang Sunder juga istrinya serta kedua orang tua Mala dan Devan.


"Mala, Kamu baik-baik sanjll9776vvbbchfhfhhfhdhdhdhja kan nak. Kamu sudah membuat bunda panik dan khawatir sayang" Ucap Alundra dan langsung membawa tubuh Mala dalam pangkuannya.


"Bima dimana bunda? Bima dimana? Mala mau bertemu dengan Bima bunda, Mala mohon pertemukan Mala dengan Bima" Ucap Mala di sela isak tangisnya


Melihat Mala seperti itu membuat Alundra tak kuasa menahan air matanya yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya.


"Bunda tau ini berat buat kamu nak. Tapi percayalah, Suami kamu baik-baik saja dan akan segera kembali" Ucap Alundra sambil membelai rambut Mala


"Kenapa semua ini harus terjadi pada Mala bunda. Setelah kedua anak Mala hilang, Sekarang Mala harus kehilangan Bima juga. Kenapa dunia harus tidak adil seperti ini. Hiks...hiks..."


Semua orang menatap Mala dengan penuh iba. Terutama Devan yang menatapnya begitu dalam. Rasa sakit itu selalu saja dia rasakan setiap kali Mala menyebutkan nama Bima.


"Wilson benar, Aku harus segera move on dan mencari wanita pengganti Mala. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, Sepertinya Mala memang sudah benar-benar mencintai Bima" Ucap Devan dalam batinnya sambil menatap Mala


"Lebih baik sekarang kita segera bawa Mala kembali ke rumah sakit" Ucap Leon yang mulai menghawatirkan keadaan Mala


"Aku tidak mau. Aku mau tetap di sini menunggu Bima hingga kembali. Dia pasti sedang berusaha pulang untukku" Ucap Mala sambil menatap pantai dengan kedua mata bengkaknya.


"Tapi nak. Kondisi kamu juga masih kurang baik. Bagaimana kamu bisa mencari Bima dengan keadaan seperti ini" Ucap Alundra yang mencoba membuat Mala mengerti


"Kalau bunda sama yang lain mau pulang, Pulang saja, Aku masih mau disini" Ucap Mala lagi


Mendengar jawaban Mala membuat semua orang hanya diam. Memang seperti itulah sifat Mala. sangat keras kepala.


Di saat semua orang sedang terdiam. Tiba-tiba ponsel Sunder berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Dengan cepat sunder memencet tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


πŸ“ž:Halo selamat pagi tuan Sunder


πŸ“ž:Pagi. Dengan siapa dan ada perlu apa?


πŸ“ž:Saya Hendra tuan. Saya ingin memberikan kabar bahwa tuan muda saat ini sedang ada di rumah saya


πŸ“ž:Apa. Anak saya ada di tempat anda. Sherlock sekarang


Tut....tut...tut..


Setelah itu sambungan telponnya terputus. Melihat raut wajah Sunder yang tidak bisa di tebak membuat semua orang penasaran.


"Ada apa pi?" Tanya Lina pada Sunder


"Ada kabar baik mi. Ini soal Bima"


Ma yang mendengar nama Bima di sebut langsung menoleh ke arah kedua mertuanya. "Ada apa dengan Bima pi?" tanya Mala langsung


"Bima selamat nak. Dan sekarang dia sedang ada di rumah orang yang baru saja menghubungi papi. Sebentar lagi kita ke sana" Ucap Sunder lembut pada Mala


Di Tempat Hendra


"Damar. Coba kamu liat detak jantungnya. Kenapa dia belum juga sadarkan diri" Ucap Nina pada Damar


"Kakak bener juga. Kenapa dia belum juga sadar dari semalem. Apa kita bawa saja ke rumah sakit?"


"Kita tunggu papa pulang dulu" Ucap Nina sambil terus memandang wajah Bima yang pucat


Tak lam kemudian. Hendra datang bersama dengan Darwin. Melihat kedatangan Darwin membuat Nina langsung keluar dari dalam kamar tamu. Karna Nina memang belum setuju dengan rencana papanya yang mau menjodohkan dirinya dengan Darwin.


"Nina, Tolong buatkan Darwin minum" Ucap Hendra pada Nina


"Mas Darwin sudah tau sama dapur di rumah ini kan? Bisa dong ambil minum sendiri"Ucap Nina dan langsung keluar dari sana


"Dasar anak itu memang ya. Benar-benar bikin saya darah tinggi" Ucap Hendra setelah kepergian Nina


"Sudah tidak apa-apa pak. Yang di katakan Nina memang benar, Saya bisa ambil minum sendiri ke dapur" Balas Darwin sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Oh iya pak. Kenapa kita gak bawa dia ke rumah sakit saja. saya takut karna sampai sekarang dia belum juga sadar" Ucap Darwin lagi


"Iya pa. Apa tidak sebaiknya dia kita bawa ke rumah sakit?" Timpal Damar


"Tidak perlu, Sebentar lagi keluarganya akan datang"


"Benarkah. Apa itu artinya tuan Sunder akan datang kesini pa?"


"Iya Damar. Tuan Sunder sendiri yang akan menjemput kesini"


"Akhirnya aku bis melihat wajah tuan Sunder dari jarak dekat. Seperti apa ya pa wajahnya. Kenapa anaknya bisa setampan ini. Pasti ada banyak wanita yang mengincarnya" Ucap Damar sambil memperhatikan Bima


"Dia sangatlah tampan Damar" Ucapnya lagi


Tak lama kemudian. Rombongan dari keluarga Sunder sudah tiba di sana. Karna yang datang ikut menjemput Bima bukan hanya Sunder dan Lina. Tapi juga semua anggota keluarga dan juga Leon yang ikut ke sana.


Tok....tok...tok...


Mendengar suara ketukan pintu membuat Hendra langsung bangkit dari duduknya.


"Itu pasti mereka sudah datang" Ucapnya dan melangkah kan kakinya menuju ke arah pintu utama.


"Silahkan masuk tuan" Ucap Hendra sopan


"Iya terimakasih. Di mana anak saya?"


"Ada di kamar tuan. Sekarang masih belum sadarkan diri" Ucap Hendra sambil menunjukkan ke arah kamar tamu.


Mendengar suara bising dari ruang tamu membuat Nina yang bari saja masuk ke dalam kamarnya langsung keluar lagi karna penasaran dengan suara bising di rumahnya.


"Ada apa ya. Tumben sekali rame" Ucap Nina sambil melangkahkan kakinya menuruni anak-anak tangga.


"Astaga. Siapa mereka?" Ucap Nina sambil memperhatikan satu persatu orang yang datang. Tapi netra Nina berhenti pada seorang wanita yang sedang menggunakan baju rumah sakit dengan kedua mata yang terlihat membengkak.


"Siapa wanita itu. Kenapa penampilannya berantakan sekali" Ucap Nina sambil terus melangkahkan kakinya


Setelah tiba di kamar tamu. Mala berjalan dan menatap Bima yang saat ini benar-benar ada di depan matanya.


"My boy, Kamu benar-benar ada disini" Ucap Mala sambil terus mendekat ke arah Bima yang masih setia menutup kedua matanya.


"Biar aku periksa keadaannya dulu Mala" Ucap Leon dan langsung memeriksa keadaan Bima


Dapat Leon lihat jik ada beberapa memar di tubuh Bima. Mungkin hal itu karna terjadinya benturan selama di bawa arus sungai.


"Bagaimana Leon. Apa keadaan Bima mengkhawatirkan?" Tanya Lina pada Leon


"Tidak tante. Keadaan Bima tidak terlalu menghawatirkan. Hanya saja ada banyak luka memar di tubuhnya. Kemungkinan besar itu karna benturan saat di bawa oleh arus sungai" Terang Leon


"Baguslah kalau begitu" Balas Lina yang bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan Leon


"Tapi kenapa Bima belum sadar Leon?"


"Itu mungkin badannya sedang kelelahan tante. Kita tunggu saja. Sebentar lagi Bima pasti akan segera sadar"


Setelah Leon selesai melakukan pemeriksaan. Mala kembali mendekat ke arah Bima dan menggenggam tangannya sambil tidur di atas dada bidang itu.


"My boy, Sadarlah. Aku ada disini untuk kamu my boy. Aku mohon sadarlah" Ucap Mala yang terdengar begitu lirih


"Aku mohon bangun my boy" Ucap Mala di atas dada bidang Bima. Wanita itu belum menyadari jika Bima sudah membuka kedua matanya.


Bima juga memberikan kode kepada semua orang yang ada di sana untuk tidak mengatakan pada Mala jika Bima sudah sadar.


"Aku mohon bangun Bim. Jangan seperti ini. Hikss..hiks.."


"Apa kamu tau, Aku hampir mati karna terlalu menghawatirkan kamu Bim. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu" Ucap Mala lagi


Mendengar perkataan Mala membuat Bima mengangkat kedua sudut bibirnya. "Jadi kamu sudah mengakui jika sudah jatuh cinta terhadap suamimu yang tampan ini sayang" Ucap Bima tiba-tiba