
Andika Sanjaya, Anak laki-laki dari tuan Heru Sanjaya. Seorang psikopat si raja tega yang rela melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Andika lahir di indonesia namun di besarkan luar negri oleh kedua orang tuanya, Lebih tepatnya di Aussie. Semenjak kecil, Andika memang sudah terbiasa dengan kelakuan ayahnya yang selalu menghalalkan segara cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk menyabotase mobil kakak kandungnya sendiri dan mengalihkan semua asetnya dari Abraham pada Sanjaya.
Ya, Heru sanjaya adalah adik kandung dari bapak Abraham. Orang tua angkat Mala yang sudah meninggal karna sebuah insiden kecelakaan satu tahun yang lalu.
Karna sifat iri yang Heru miliki, Pria itu merencanakan sebuah kecelakaan yang tentunya akan langsung membuatnya mendapatkan seluruh harta Abraham.
Andika tersenyum puas saat mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya jika istri dari Albima sudah terluka, Tepat seperti yang Andika minta.
Pria itu menyesap ****** rokok yang ada di tangannya sambil terus menatap jalanan yang terlihat banyak kendaraan berlalu lalang di bawah sana.
"Akan saya pastikan kamu merasakan apa yang pernah saya rasakan, Albima! Karna nyawa, Akan di balas nyawa" ucapnya sambil menginjak ****** rokok yang sudah habis.
Semenjak kepergian Latisa. Andika memang tidak pernah lagi mau serius dalam menjalin hubungan. Yang terpenting buat Andika adalah, Wanita itu bisa memuaskannya. Seperti halnya Nadia yang sudah menjadi salah satu korban Andika.
"Karna Bima, Aku kehilangan wanita yang amat aku cintai" ucap Andika lagi dengan kedua tangan mengepal kuat.
Sungguh Andika merasa sangat dendam terhadap Bima. Biarpun di sini kematian Latisa bukan Bima yang melakukannya. Namun tetap saja, Buat Andika, Bima yang menjadi penyebab utama kematian wanita itu.
"Aku akan membuatmu hancur, sehancur-hancurnya, Albima" ucap Reno lagi
****
Bima turun dari Rooftop dengan kedua tangan yang masih mengepal kuat. Giginya mengatup serta kedua mata yang terlihat sangat merah. Kali ini, Apa yang sudah Andika sanjaya lakukan sudah benar-benar melewati batas.
"Awas kamu Andika. Kali ini, Aku akan memberikan kamu pelajaran yang tak kan pernah kamu lupakan!" ucap Bima sambil terus melangkah kan kakinya menuju ruangan operasi.
"Bagaimana kak, Apa operasinya sudah selesai?"
"Belum. Kita tunggu saja dulu" jawab Devan sambil menoleh sekilas pada Bima.
Devan yang menyadari raut wajah Bima yang terlihat sangat marah tentu saja membuatnya merasa sangat penasaran. Akhirnya, Devan Memutuskan untuk menanyakan apa yang baru saja Bima lakukan di Rooftop rumah sakit.
"Ada apa Bim. Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Ada hal yang harus aku lakukan setelah ini kak. Ini soal siapa yang sudah melukai Mala"
"Siapa memangnya?
"Andika sanjaya namanya"
Devan terdiam sejenak, Masih berusaha mengingat nama Andika sanjaya yang tidak terlalu asing pada indra pendengarannya.
"Tunggu-tunggu. Aku seperti tidak asing dengan nama itu, Seperti pernah mendengarnya. Tapi di mana ya"
Devan masih terus berusaha mengingat nama Andika sanjaya. Dia teringat ketika bayangan Nadia terlintas begitu saja.
"Aku ingat, Andika sanjaya ini kan orang yang sering Nadia sebut. Apa jangan-jangan itu adalah orang yang sama"
"Malam ini aku harus terbang ke Aussie kak. Andika harus merasakan apa yang sudah dia perbuat!"
"Aku ikut, Bim. Karna mau bagaimanapun, Hal ini terjadi karna Mala berusaha menolongku"
"Baiklah. Kita tunggu sampai keadaan Mala baik-baik saja"
1 Jam kemudian. Lampu ruangan operasi menyala. Dan itu menandakan jika operasinya sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Melihat itu membuat Bima bisa bernafas lega.
"Alhamdulilah operasinya berjalan lancar, Pak. Dan saat ini, Istri anda masih dalam pengaruh obat bius"
"Saya boleh masuk kan Dok?"
"Silahkan pak. Sebentar lagi istri anda akan di pindah ke ruangan rawat"
Setelah Bima sudah masuk ke dalam ruangan operasi dan menemui Mala yang masih memejamkan kedua matanya, Tiba-tiba saja telpon Devan berdering. Ada panggilan masuk dari sang mama.
Melihat nama mamanya yang tertera di layar ponselnya, Membuat Deva mendengus kesal, Pria itu sudah bisa menebak jika mamanya menelpon pasti karna ingin mengingatkannya perihal kencan buta nanti malam.
π:Halo ma, Ada apa?
π:Jangan lupa soal kencan buta nanti malam ya Van. Karna mama sudah mengatakan pada Tasha.
π:Maaf, Ma. Tapi sepertinya malam ini Devan todak bisa. Ada hal penting yang harus Devan selesaikan ma. Ini soal Mala
π:Van, Mama kan sudah katakan, Lupakan Mala nak. Jangan membuang-buang waktu menanti wanita yang sudah menjadi milik saudaramu sendiri.
π:Ma, Saat ini Mala sedang di rawat di rumah sakit. Mala habis di operasi karna di tadi dia menyelamatkan Devan ma.
π:Apa maksud kamu, Van. Mama tidak paham
π:Ceritanya panjang ma. Akan Devan ceritakan kalau sudah ada waktu. Tapi yang pasti, Ini semua terjadi karna Mala mau menolong Bima.
Setelah mengatakan hal itu, Devan memutuskan sambungan telponnya. Pria itu membiarkan sang mama yang sudah menyimpan begitu banyak pertanyaan dari apa yang baru saja Devan katakan.
"Ada apa ma? Kenapa wajah mama terlihat bingung seperti itu?" tanya Wijaya setelah melihat raut wajah istrinya.
"Entahlah pa. Tadi kan mama telpon Devan dan mengingatkan dia soal kencan buta yang sudak kita rencanakan. Tapi Devan mengatakan jika dia tidak bisa karna ada hal yang harus dia urus"
"Hal apa ma?"
"Itu dia yang membuat mama bingung pa. Tapi yang pasti, Devan mengatakan jika semua ini adal hubungannya dengan Mala yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit"
"Mala di rawat. Karna apa ma, Sakit apa?"
"Mama juga tidak tau pa. Tapi ini ada hubungannya dengan Devan"
*****
"Sayang. Cepat sadar sayang. Aku mohon kamu buka mata" ucap Bima sambil mengusap lembut rambut Mala
Tanpa sadar, Air mata Bima meluruh begitu saja saat melihat wanitanya terbaring lemah seperti itu"Tunggu aku Andika! Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal. Darah, Harus di balas dengan darah!" ucap Bima dalam batinnya
Sedangkan Devan hanya bisa melihat Mala dari ambang pintu. Mau mendekat juga Devan merasa tidak enak terhadap Bima.
"Kenapa kamu harus mengorbankan dirimu sendiri Mala. Seharusnya aku yang ada di sana saat ini" ucap Devan sambil terus menatap Mala dan Bima dari jauh.
"Jangan memperhatikan hal yang akan membuatmu luka, Van. Karna hal itu hanya akan membuat perasaaan mu menjadi semakin sakit"
Mendengar suara itu, Devan membalikkan tubuhnya dan menatap sosok yang baru saja berbisik tepat pada telinga kirinya.
"Wilson"
"Ya, Van. Aku hanya mau mengingatkan kamu, Jangan membuang waktu untuk cinta yang tentu saja tidak akan bisa kamu miliki" ucap Wilson lagi