
Setelah mengatakan hal itu, Devan langsung berlalu dari sana. Namun langkahnya terhenti saat suara Bima terdengar.
"Jangan pernah mengharapkan hal yang tak akan pernah terjadi. Karna aku tidak akan pernah membiarkan kak Devan mengambil Mala dari Bima. Kecuali jika nanti Bima tiada, Aku ikhlaskan kak Devan bersama dengan Mala" Ucap Bima sambil menatap Devan.
Mendengar hal itu membuat Devan bingung. Tidak tau harus menjawab apa atas perkataan Bima. "Kak. Jika aku tiada nanti, aku titip Mala sama kak Devan. Tapi satu hal yang harus selalu kak Devan ingat. Jangan buat hati Mala terluka. Jangan pernah mengulang kesalahan masa lalu yang dulu sudah membuat Mala sangat terluka. Tapi aku mohon, Selama aku masih ada, Jangan pernah punya niatan untuk mengambil Mala dari Bima. Biar bagaimana pun, Buat Bima Mala adalah segalanya kak"
"Bima tidak bisa hidup tanpa Mala. Mala adalah dunia Bima kak. Aku tadi tidak sengaja menamparnya karna aku tidak suka mendengar perkataan Mala yang selalu berkata pembawa sial. Karna Mala bukan pembawa sial" Ucap Bima lagi
"Awas saja kalau sampai kamu melakukan hal itu lagi Bim. Aku benar-benar akan merebut Mala kembali bagaimanapun caranya" Seru Devan dan langsung berlalu meninggalkan Bima dan Mala
Setelah kepergian Devan. Bima menatap Mala yang saat ini masih terdiam. Pria itu membangunkan Mala dan memeluknya sangat erat"Maafkan aku yang tadi sudah menyakitimu sayang. Aku benar-benar tidak ada niatan untuk itu. Aku melakukan semua itu hanya karna aku tidak mau mendengar kamu mengatakan pembawa Sial. Aku tidak suka kata-kata itu sayang" Ucap Bima lembut sambil membelai rambut Mala
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang kita pulang ya. Kamu istirahat. Besok pagi kita kembali ke rumah sakit. Biarkan saja malam ini Sifa yang jaga Bintang di sana"
"Iya" Jawab Mala dengan suara seraknya.
Bima membawa Mala pergi dari sana. Hujan masih terus membasahi kota itu. Seakan mengerti jika suasana hati Mala saat ini.
Di Dalam rumah Winarto
"Sampai kapan pun, Aku tidak akan pernah memaafkan Mala. Karna dia, Semuanya jadi seperti ini. Aku kehilangan orang-orang yang paling aku sayangi" Ucap Nara dengan suara seraknya
"Jangan seperti itu sayang. Disini tidak ada yang harus di salahkan. Aku tau bunda dan ayah kecelakaan karna ingin mengantar makanan untu Mala. Tapi hal itu bukan berarti Mala menjadi penyebabnya. Semua sudah rencana yang telah tertulis sayang" Ucap Andra sambil mendekap Nara
"Mala memang pantas di salahkan mas. Jika saja tadi bunda mendengarkan perkataan Nara, Semua ini tidak akan pernah terjadi. Saat ini pasti bunda sama ayah masih ada disini sama kita" Ucap Nara di sela isak tangisnya
****
Setelah berlalu dari hadapan Bima dan Mala. Devan memang langsung pulang. Namun entah kenapa perkataan Bima masih bisa terngiang dan terdengar jelas pada pendengaran Devan.
"Maafkan aku Bim. Bukan nya aku egois. Tapi aku memang tidak rela saat melihat kamu menampar Mala. Entah kenapa hati kecilku tidak bisa terima itu Bim. Dan jika sampai kamu mengulanginya lagi, Jangan salah kam aku jika aku benar-benar mengambil Mala kembali dari pelukan kamu" Ucap Devan sambil terus melajukan mobilnya
Devan ternyata tidak pulang ke kediaman kedua orang tuanya. Devan memilih untuk pulang ke apartemen. Karna memang hanya apartemen yang menyimpan begitu banyak memori indah yang telah Devan lalui bersama dengan Mala.
Seketika Devan merasa sangat menyesal karna sudah membuang semua barang-barang Mala yang tertinggal di sana. Penyesalan itu mulai terbesit dalam benaknya.
"Aku harus mengambil kembali barang-barang itu" Ucap Devan sambil berjalan setengah berlari agar bisa segera tiba di sana
Dengan langkah cepat, Devan masuk lift dan langsung menuju lantai 15. Karna memang unit Devan ada di lantai itu.
Setelah Lift itu berhenti. Devan langsung keluar dan kembali berjalan cepat menuju tempat sampah yang tadi pagi sudah menjadi tempat Devan membuang barang-barang milik Mala.
"Aku harus menemukan kembali semua barang-barang itu. Bodohnya aku. Kenapa tidak memikirkan dua kali. Kenapa malah main buang begitu saja. Dasar bodoh" Umpat Devan pada dirinya sendiri
Devan masih terus berusaha mencari barang-barang itu. Namun ternyata hasilnya nihil. Karna tidak ada apapun di sana. Hanya ada kotak bekas makanan. Kemungkinan besar sampah yang tadi pagi sudah di ambil petugas kebersihan.
Devan menundukkan wajahnya sedih saat tidak menemukan apa yang dia cari. Pria itu menundukkan wajahnya dan langsung masuk ke dalam apartemennya.
Kedua matanya membulat saat melihat apa yang dia cari ternyata ada di dalam apartemennya. Kok bisa? Seingat Devan tadi pagi Devan sudah membuangnya ke tempat sampah.
Devan mendekat dan langsung melihat barang-barang itu"Kenapa barang-barang ini bisa ada disini. Bukan kah tadi pagi sudah aku buang. Tapi bagaimana bisa ini ada disini" Ucap Devan sambil mengambil satu persatu barang-barang Mala.
Devan mengerutkan keningnya saat melihat ada sepucuk surat yang terselip disana. Pria itu langsung mengambil dan membacanya.
*Jangan pernah berusaha melupakan hal yang sulit kamu lupakan. Karna hal itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tetaplah jaga hatimu untuk cintamu. Percayalah, Suatu saat takdir akan menyatukan kalian kembali. Karna sekuat apapun kamu berusaha, Jika rasa cintamu lebih besar dari pada usahamu. Semua akan sia-sia.
Semangat. Jangan pernah menyerah. tetaplah jaga hati untuk cintamu*.
Setelah membaca isi surat itu membuat Devan mengerutkan kecil keningnya. "Siapa yang sudah menulis ini" Ucapnya pelan
Setelah itu, Devan masuk ke dalam kamarnya dan kembali mengingat semua hal indah yang dia lalui bersama Mala di sana.
"Memang benar apa yang orang ini katakan. Semakin aku berusaha. Rasanya semakin aku menyakiti diriku sendiri. Seberat itu membuang rasa cinta terhadap Mala" Ucap Devan pelan
"Memang benar. Terkadang berusaha melupakan hanya akan membuat ku merasa lebih terluka. Teramat sakit untuk sekedar membuang cinta ini. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang Mala. Jika pernikahan kontrak kita sudah membuat aku mencintaimu sebesar ini. Bahkan rasa cinta itu lebih besar dari pada rasa cintaku pada diriku sendiri"
"Tapi kenapa harus sekarang. Kenapa cinta itu harus sebesar ini setelah kamu menjadi milik saudaraku sendiri. Seperti mimpi yang tak pernah aku inginkan. Menjadi kakak ipar mantan istriku. Sungguh miris sekali" Ucap Devan sendu