
"Bukankah kamu pernah mengatakan jika kamu ingin menjadi wanita karir yang hebat. Belajarlah untuk hal itu sayang. Karna dunia bisnis itu kejam. Dan aku mau kamu mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi" Ucapnya begitu lembut sambil membelai Mala lembut
Mendengar perkataan Bima membuat Mala mengerti. Bahkan kata-kata itu bukan hanya dari Bima dia mendengarnya. Namun juga dari kedua orang tua angkatnya dulu.
Ingat ya nak. Kalau kamu nanti mau menggantikan posisi papa. Kamu harus bisa menjadi wanita kuat dan tangguh. Karna dunia bisnis itu kejam sayang. Ingat, Dalam bisnis, Uang tidak ada saudaranya. Siapapun akan melakukan hal apa saja yang bisa membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Berhati-hatilah. Karna terkadang orang terdekat yang akan menjadi duri di dalam daging
Kata kata itu tiba-tiba saja terngiang pada indra pendengaran Mala. Wanita itu baru menyadari satu hal dari apa yang dia dengar dari Bima ataupun papanya dulu.
"Aku baru mengerti my boy. Ternyata apa yang kamu ucapkan sama persis dengan apa yang dulu sering aku dengar dari mendiang papa. Maafkan aku yang selama ini kurang peka dengan apa yang kamu katakan my boy" Ucap Mala sambil menatap Bima
"Itu semua karna aku benar-benar takut kehilangan kamu my boy. Tanpa aku sadari, Ternyata kamu sudah seperti separuh jiwaku" Seru Mala dan langsung memeluk Bima
Sedangkan Bima yang mendengar perkataan Mala akhirnya bisa bernafas lega. Akhirnya Mala sudah bisa mengerti apa maksud dari perkataannya. Walaupun sebenarnya semua bukan hanya tentang itu.
Bima ingin berjaga-jaga agar jika sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi Mala bisa mengatasi semuanya. Bima ingin Mala bis menjaga dirinya sendiri. Karna tidak selamanya Bima bisa ada dan melindungi Mala seperti semestinya.
"Terimakasih sayang. Terimakasih karna kamu sudah mau mengerti maksud aku" Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala
"Aku sangat mencintaimu sayang" Pungkas Bima lagi
"Aku juga sangat mencintaimu my boy"
Setelah itu, Bima menatap kedua bola mata Mala dan dan langsung mendekatkan wajahnya. Pria itu mencium lembut bibir ranum Mala.Menikmati setiap inci rongga mulut Mala yang saat ini juga sedang menikmati setiap ciuman yang Bima berikan.
Angin sepoy juga suara ombak yang menjadi sakti kemesraan mereka berdua. Ciuman itu terhenti saat Mala tanpa sengaja mendengar suara yang tidak asing untuk nya.
Mala, I love you so much
Suara itu tiba-tiba terdengar jelas pada indra pendengaran Mala dan membuat nya melepaskan ciuman yang sudah semakin intens."Suara itu. Apa aku sedang tidak salah dengar" Ucap Mala dalam batinnya
Bima yang melihat Mala melepaskan pangutan bibirnya langsung mengerutkan keningnya"Ada apa sayang?" Ucapnya lembut
"Apa kamu mendengar suar seseorang?" Tanya Mala pada Bima
"Suara seseorang? Tidak sayang, Aku tidak mendengar suara siapapun. Memangnya kenapa sayang " Jawab Bima yang terdengar begitu lembut
"Oh tidak apa-apa my boy. Tadi aku seperti mendengar suara seseorang"Ucap Mala sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ada siapapun di sana. Hanya ada Mala dan Bima di tempat itu.
"Suara siapa yang baru saja aku dengar. Kenapa seperti tidak asing untukku" Ucap Mala dalam batinnya
Setelah itu, Bima membawa Mala mendekat ke arah pinggir pantai. Kemudian Bima mengajak Mala untuk bermain air bersama. Ini adalah momen yang selama ini selalu di bayangkan oleh Bima.
Bima menyiramkan air pada Mala. Melihat itu membuat Mala membalasnya. Kali ini mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih yang saling mencintai.
"Ayo kejar aku sayang"Seru Bima setelah membuat pakaian wanita itu basah
"My boy. Kamu curang ih. Aku kejar kamu. Sini jangan lari My boy" Ucap Mala sambil berlari mengejar Bima
Jika di lihat seperti ini mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih yang begitu mencintai.
Di Tempat Lain
Leon melirik Rani yang saat ini sedang berjalan berdua dengan Sifa di depannya. Pria itu membisikkan sesuatu pada Wilson untuk mengajak Sifa ke tempat yang lain.
"Wilson. Kemarilah, Aku ingin berbicara sebentar" Ucap Leon sambil menarik tangan Wilson
"Ada apa?"
"Tolong kamu bawa Sifa dong. Aku sedang ingin berbicara serius sama Rani" Ucap Leon sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Baiklah. Semangat. Semoga sukses" Ucap Wilson sambil mengangkat tangannya dan memberikan semangat pada Leon
"Kamu juga semangat buat mendapatkan Sifa."
"Sayangnya aku sudah bisa mendapatkan hatinya Sifa" Seru Wilson sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Setelah itu, Wilson berjalan cepat dan memanggil Sifa. Sifa yang mendengar namanya di panggil seketika menghentikan langkahnya"Ada apa mas?" Ujar Sifa sambil membalikkan tubuhnya
"Kemarilah. Kita lebih baik pergi ke tempat itu yuk. Sepertinya di sana tempatnya lebih bagus" Ucap Wilson dan langsung menarik tangan Sifa.
Wanita itu hanya mengangguk dan langsung mengikuti langkah kaki Wilson dan mengekor di belakangnya. Namun tiba-tiba saja Sifa teringat akan kejadian di mana dia dan Wilson harus datang terlambat.
Entah kenapa pikiran Sifa selalu terganggu dengan sosok wanita yang dia temui di jalan saat sedang mengisi bensin.
"Maaf. Saya tidak sengaja" Ucap seseorang yang baru saja menabrak tubuh Sifa
"Iya mbk tidak apa-apa. Kalau jalan hati-hati ya" Ujar Sifa sambil melihat ke arah wanita itu
Wanita itu diam saja, Tatapannya terlihat kosong, Serta air mata yang terus berjatuhan"Mbk, Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sifa lagi.
Namun wanita itu masih diam tak bergeming. "Kenapa kamu jahat, Kamu sudah membuat aku kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupku. Hiks..hiks..."
"Aku benci sama kamu Albima. Kenapa kamu harus membuat aku kehilangan kedua orang tuaku. Apa kamu tidak tau bagaimana rasanya menjadi aku. Aku memang mencintaimu, Tapi kamu lihat saja, Aku akan membalas apa yang sudah kamu perbuat." Ucapnya dengan penuh kebencian
Mendengar itu membuat Sifa mengerutkan keningnya. Ada apa dengan wanita ini, Kenapa dia menyebutkan nama Albima. Apakah nama itu hanyalah sebuah kebetulan. Atau memang yang dia maksud adalah Albima kakaknya*.
""Sifa" Panggil Wilson lagi.
Hal itu membuat Sifa tersadar"Ada apa Sifa? Aku perhatiin sepertinya kamu sedang ada hal yang di pikirkan" Tanya Wilson sambil menatap Sifa
"Mas, Aku masih kepikiran dengan wanita tadi. Siapa dia sebenarnya ya. Kenapa dia bisa menyebutkan nama Albima. Itu hanya sebuah kebetulan atau memang yang dia maksud adalah kak Bima?" Ucap Sifa sambil menatap Wilson
"Aku juga penasaran dengan wanita itu. Tapi kalau memang yang dia maksud Albima kakak kamu, Bagaimana bisa dia mengenalnya. Bukankah selama ini Bima itu tinggal di Aussie? Tidak mungkin kan kalau mereka saling mengenal" Ucap Wilson
"Iya sih mas. Tapi perkataan Wanita itu terus saja terngiang begitu saja. Aku menghawatirkan kak Bima"
"Sudah. Itu pasti yang dia maksud Bima lain. Sudah jangan terlalu di pikirkan"
"Iya mas"
Meninggalkan Sifa dan Wilson. Saat ini kita beralih pada Leon dan Juga Rani yang sedang duduk di sebuah ayunan yang ada di pantai itu.
"Rani" Panggil Leon lembut sambil menoleh ke arah Rani
Rani yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh pada Leon yang saat ini sudah tersenyum begitu lebar menampakkan deretan gigi putihnya.
"Astaga. Kenapa dengan jantungku" Ucap Rani dalam batinnya saat kedua manik matanya tanpa sengaja bertemu dengan kedua manik mata Leon
"Iya kak. Ada apa?"
"Aku mencintaimu" Jawab Leon dan langsung berhasil membuat Rani terlihat begitu terkejut
Leon menyatakan cinta? Apakah saat ini Rani sedang bermimpi? Tentu saja tidak. Karna ini adalah kenyataan. Leon sedang mengungkapkan perasaannya.
"Apa aku tidak salah dengar kak?"
"Tidak Rani. Aku tau, Ini mungkin masih sangat dini untuk di katakan cinta. Tapi itulah yang aku rasakan. Jantungku selalu berdetak setiap kali aku melihat kamu" Seru Leon yang terdengar begitu tulus
Rani masih diam. Wanita itu masih mencerna perkataan Leon tentang perasaannya. Jika hanya merasakan jantung berdetak, Maka bukan hanya Leon. Karna saat ini Rani juag merasakan apa yang baru saja Leon katakan.
wanita itu juga merasa jantungnya bertalu-talu setiap kali mendapat pesan atau pun melihat Leon. Apa ini yang di namakan cinta? Tapi entahlah. Rani masih terlalu bingung untuk langsung menyimpulkan.
"Kok diam saja Rani" Ucap Leon lagi
"Aku bingung kak"
Perkataan Rani membuat Leon mengerutkan keningnya. Rani bingung, Memangnya apa yang harus dia bingungkan. Bukankah tadi Leon hanya menyatakan perasaannya. Lalu apa yang harus membuatnya bingung.
"Bingung? Bingung karna apa?" Tanya Leon penasaran
Rani tak langsung menjawab. Wanita itu hanya menoleh ke arah Leon dan semakin memperdalam tatapannya" Aku bingung dengan perasaanku sendiri kak. karna aku pun merasakan hal yang sama" Ucapnya pelan
"Apa maksud kamu Ran. Merasakan hal yang sama. Maksudnya kamu"
"Iya kak. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan"
Mendengar itu seketika membuat Leon terlihat begitu girang. Sepertinya sebentar lagi Leon akan melepas masa jomblonya.
"Kamu serius Rani. Aku tidak sedang bermimpi kan? Kalaupun aku bermimpi. Aku mau tidur selamanya"
"Tapi sayangnya ini bukan mimpi kak. Ini kenyataan"
"Apa itu artinya kita jadian?" Tanya Leon sambil menggenggam tangan Rani
"Maunya kakak bagaimana?"
"Ya aku maunya kita jadian. Kalau perlu langsung nikah" Ucap Leon cepat
"Gercep sekali kak. Aku belum lulus sekolah. Masih ada cita-cita yang harus aku wujudkan"
"Bercanda sayang. Mulai sekarang kita jadian ya. i Love You Rani" Ucap Leon dan langsung mencium kening Rani penuh cinta
"I Love You More kak Leon"