Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Sisa rasa


πŸ“²: Saya mau kamu mencari tau siapa pelakunya yang sudah membunuh anak saya


πŸ“²:Baik, Tuan. Saya akan berusaha mencari siapa pelakunya.


πŸ“²:Good. Saya mau mendapat kabar secepatnya. Kalau perlu kamu cari detektif terbaik yang kamu tau


πŸ“²:Siap laksanakan, Tuan. Saya janji akan memberikan kabar kurang lebih 2x24 jam


Setelah itu, Sanjaya langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu mengepalkan kuat kedua tangannya. Apalagi saat teringat akan Andika. Satu-satunya hal yang dia miliki.


"Siapapun yang sudah berani menghabisi Andika, Dia akan membayar dengan hal yang serupa. Darah akan di bayar dengan darah!" ucap Sanjaya sambil terus mengepalkan kuat kedua tangannya. Matanya memerah, Sangat terlihat jelas jika saat ini pria patuh baya itu sangat marah akan kejadian yang sudah menimpa anaknya.


****


Di Tempat Lain


"Pa, Papa sudah tidur apa belum?" tanya Yasmine pada Wijaya


"Belum, Ma. Papa belum bisa tidur. Ada apa?" balasnya sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Yasmine.


Yasmine tak langsung menjawab, Wanita itu masih mengambil nafas sejenak sambil menatap ke arah Langit dan juga Bintang yang memang tidur di tengah-tengah mereka.


"Ada apa, Ma? Kenapa mama melihat mereka seperti itu?" Tanya Wijaya lagi.


"Papa liat deh wajah mereka. Kalau mama perhatikan, Sepertinya wajah mereka berdua memang lebih mirip dengan Bima. Hidungnya, Matanya. Semuanya persis seperti Bima" ucap Yasmine sambil terus menatap kedua bayi mungil yang saat ini sedang tertidur lelap dan damai.


"Mama benar, Mereka berdua memang lebih mirip dengan Bima. Tapi bukan kah hasil tes DNA sudah menjawab jika mereka berdua adalah anak-anak Devan. Cucu kita, Ma" balasnya.


"Iya, Pa. Tapi bagaimana bisa wajahnya lebih mirip dengan Bima dari pada Devan?"


"Iya, Sih pa. Tapi apapun itu, Intinya mama sangat bersyukur, Akhirnya sekarang kita sudah punya cucu seperti apa yang kita inginkan selama ini. Allah sudah menjawab doa-doa kita, Pa" ucap Yasmine sambil mengusap pipi Langit.


Wijaya mengangkat kedua sudut bibirnya"Iya, Ma. Akhirnya saat ini kita sudah menjadi kakek dan juga nenek ya. Papa masih tidak menyangka"balas Wijaya yang terdengar sangat bahagia.


"Tapi pa, Apakah masih ada kesempatan Devan bersama dengan Mala"ucap Yasmine sambil menatap Wijaya


"Entahlah, Ma. Mengingat saat ini Mala sudah bersama dengan Bima, Papa tidak yakin jika Devan bisa kembali lagi dengan Mala. Sepertinya kesempatan itu hanya ada 1% saja" ucap Wijaya pada Yamine.


Yasmine yang mendengar itu hanya mengambil nafas pelan sejenak. Ada rasa sedih saat mendengar perkataan suaminya. Apa memang sudah tidak ada lagi kesempatan buat Yasmine melihat Devan bahagia bersama dengan Mala dan juga kedua anak mereka.


"Sudahlah, Ma. Jangan mengharapkan hal yang tak seharusnya kita harapkan. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Mala sudah menjadi milik orang lain" ucap Wijaya sambil mengusap pucuk kepala Yasmine.


"Papa benar juga. Tidak semua masalalu bisa di ulang, Karna terkadang kita memang harus menatap kedepan tanpa memperdulikan apa yang sudah pernah terjadi di belakang" balas Yasmine sambil mengambil nafas pelan.


*******


Tanpa terasa hari sudah berlalu, Malam sudah berganti dengan teriknya matahari pagi ini. Cuacanya sangat cerah, kicauan burung serta hembusan angin menerpa lembut wajah Mala yang saat ini sedang berdiam diri di taman rumah sakit. Duduk di salah satu kursi panjang di sana.


Sejak tadi, Pandangan Mala terus fokus pada sepasang suami istri yang sedang terlihat bahagia bersama dengan sosok bayi kecil yang saat ini ada dalam dekapan orang itu. Tiba-tiba saja Mala teringat akan Devan dan juga kedua anaknya.


"Astaga, Kenapa aku malah membayangkan nya bersama dengan mas Devan"ucap Mala sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Come on, Mala. Kamu harus bisa menghapus sisa memorie yang masih tersisa dalam ingatanmu. Ingat, Saat ini sudah ada Bima yang harus mendapatkan rasa cintamu seutuhnya. Dia suamimu, Dia adalah satu-satunya laki-laki yang selalu merelakan hidup dan juga matinya untukmu" ucap Mala sambil memejamkan sejenak kedua matanya.


"Bisa bisa bisa. Bagaimanapun caranya, Aku harus bisa membuang sisa rasa ini. Aku gak boleh mengecewakan Bima, Karna aku tau bagaimana kecewanya saat mengetahui orang yang di cinta masih memiliki sisa rasa untuk mantannya" ucap Mala lagi.


Wanita itu terus saja menatap pasangan yang tak jauh dari tempatnya, Perlahan air matanya mendadak jatuh begitu saja."Mereka terlihat sangat bahagia, Apakah aku juga bisa seperti itu?" gumamnya pelan sambil mengusap kedua matanya.