Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Halusinasi


Wijaya yang melihat itu hanya bisa mengambil nafas berat. Pria paruh baya itu tau betul apa yang saat ini sedang Devan rasakan.


Apalagi Yamine, Dia mengikuti langkah Devan bersama dengan Lina dan Alundra. Para laki-laki masih tetap stay di sekitaran sungai untuk mencari keberadaan Bima. Sedangkan para wanita ikut menemani Mala ke rumah sakit.


"Astagfirullah Mala. Kenapa kamu jadi seperti ini nak" Ucap Lina sambil menggenggam tangan Mala


"Bertahan sayang. Kami semua sangat menyayangimu" Ucap Yasmine tiba-tiba


Mobil yang membawa Mala langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Keadaan Mala benar-benar membuat mereka semua khawatir. Rasa takut mulai terbesit dari diri Alundra.


Melihat keadaan Mala seperti itu membuat butiran bening itu lolos begitu saja dari kedua mata Yasmine. Karna biar bagaimanapun. Wanita itu sudah sangat menyayangi Mala seperti anaknya sendiri.


"Bertahan nak. Mama tau kamu pasti kuat dan bisa melewati semua ini. kamu pasti bisa" Yasmine bermonolog dalam batinnya


30 menit kemudian. Mobil itu sudah tiba di sebuah rumah sakit terdekat. dan di sana ternyata sudah ada beberapa suster dan dokter yang menunggu dengan menyiapkan brankar untuk Mala.


Saat sudah di atas brankar. Tiba-tiba detak jantung Mala sempat berhenti. Namun nadinya masih bisa berdenyut walaupun sudah tidak berdenyut normal.


"Ini anak saya kenapa dokter. Kenapa nafasnya berhenti!?" Tanya Alundra dengan suara seraknya


"Anak ibu kritis. Kita harus bawa dia secepatnya ke ruangan ICU agar bisa segera mendapatkan penanganan" Ucap dokter Leon yang memang kebetulan sedang bertugas hari ini.


Mendengar perkataan dokter Leon membuat tangis Alundra semakin menjadi. Tak pernah terbayang sebelumnya jika hal ini akan terjadi pada putrinya.


Setelah tiba di ruangan ICU. Bima langsung memasang alat ventilator dan alat medis lainnya. Melihat Mala seperti itu membuat Leon penasaran dengan apa yang sudah terjadi, Karna sudah 1 minggu Leon tidak bertukar kabar dengan Bima.


"Kenapa tadi pas datang tidak ada Bima di antara mereka?" Ucap Leon sambil memperhatikan Mala


Entah kenapa setial memandang wajah Mala, Leon merasa seperti ada getaran dari dalam hatinya. Apa Leon menyimpan rasa pada wanita yang tak lain adalah istri dari sahabatnya sendiri?


"Kenapa setiap kali aku melihat wajahnya, Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa aku mencintainya? tapi ini masih terlalu dini untuk dikatakan cinta! " Ucap dokter Leon sambil mengusap dada kirinya


Setelah itu dokter Leon keluar dan menemui 3 wanita paruh baya yang sedang menunggu di luar ruangan dengan wajah khawatir khas mereka masing-masing.


Melihat dokter yang menangani Mala sudah keluar, Lina langsung berjalan ke arah Leon yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.


"Bagaimana keadaan mantu mami Leon?" Tanya Lina pada Leon. Karna Leon sudah bersahabat dengan Bima sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Sehingga Lina sudah sangat mengenal Leon.


Sebelum menjawab Leon masih mengambil nafas berat. Tapi mau tidak mau, Dia harus mengatakan hal yang sebenarnya. Kebenaran tentang keadaan Mala saat ini


"Keadaan istrinya Bima sangat menghawatirkan tante. untuk saat ini Mala kritis, begitu banyak luka serta lebam di sekujur tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi mami. Bima kemana? Kenapa dia tidak ikut mengantar istrinya kesini?" Tanya Leon yang memang sudah sangat penasaran sejak tadi.


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Leon membuat Lina terdiam untuk beberapa saat. Wanita paruh baya itu begitu mencemaskan keadaan Bima yang saat ini masih belum di ketahui dimana keberadaannya.


"Bima hilang Leon" Ucap Lina yang terdengar begitu lirih


"Apa! Bika hilang mi? Kok bisa, Apa yang sebenarnya terjadi. Bima hilang dan istrinya terluka seperti ini?" Tanya Leon yang semakin penasaran.


"Bima dan Mala mengalami kecelakaan dan mobil yang Bima bawa jatuh ke sungai yang kebetulan arusnya sangat besar. Hingga saat ini Bima masih belum bisa di temukan!"


"Apa! Astagfirullah. Aku turut berduka ya mami. Lalu bagaimana tentang anak mereka berdua, Apa sudah di temukan?"


Lina hanya menggeleng, Raganya memang ada di rumah sakit bersama dengan Yasmine juga Alundra. Tapi jiwanya menghilang entah kemana.


Di saat seperti itu membuat Lina mengingat akan mendiang saudaranya Lani. Pasti Lani akan sangat sedih jika mendengar bahwa anak yang amat di cintanya hilang di bawa arus.


Di Jakarta


Karna kedua orang tuanya sedang keluar negeri. Oleh karena itu Nara memutuskan untuk tidak masak hari ini. Wanita itu bersiap dan berniat akan memberikan sebuah kejutan untuk Andra yang saat ini masih sangat sibuk di rumah sakit.


Nara menggendong Dania lalu keluar dari rumahnya. Nara tidak pergi bersama dengan supir, Tapi kali ini wanita itu akan menggunakan taksi online yang sudah dia pesan beberapa saat yang lalu.


Nara yang terlalu semangat akan memberikan kejutan pada Andra langsung memesan taksi pada sebuah akun yang tanpa Nara sadari namanya adalah Nathan Arganta.


"Sayang. Hari ini kita main ke tempatnya ayah mau ya sayang. Kita kasih ayah kejutan, Pasti ayah akan sangat bahagia" Ucap Nara pada Dania putrinya


Setelah menunggu sekitar 20 menit lamanya. Akhirnya taksi yang Nara pesan sudah tiba di depan rumahnya. Wanita itu belum menyadari siapa supir dari taksi itu.


"Jalan pak" Ucap Nara pelan sambil duduk dan melihat ke arah jendela


Setelah di tengah perjalanan. Suara seorang laki-laki yang masih begitu familiar terdengar jelas pada indra pendengaran Nara.


"Nara, Maafkan aku" Ucap Nathan sendu


Nara yang awalnya begitu bahagia karna akan memberikan kejutan pada Andra langsung terlihat begitu pucat saat mendengar suara laki-laki yang amat dia benci.


"Nathan. Ngapain kamu di sini. Berhenti Nathan!" Ucap Nara dengan nada yang terdengar penuh kebencian


"Nara, Aku mohon maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Nara. Izinkan aku membahagiakan kamu juga anak kita" Ucap Nathan begitu memohon


"Jangan pernah meminta sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak mungkin Nathan. Waktu itu kami sudah mengambil sebuah keputusan yang sudah membuat aku sempat kehilangan kewarasan jiwaku karna ulah mu!" Ucap Nara tanpa ekspresi


Mendengar perkataan Nara membuat Nathan menghentikan laju mobilnya. Pria itu menoleh ke arah Nara juga Dania yang saat ini sedang tertidur lelap dalam dekapan Nara.


"Aku benar-benar menyesal Nara. Ijinkan aku mengulang semuanya. Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu. Aku mohon berikan aku kesempatan kedua"


"Kesempatan itu pernah ada tapi kamu tidak pernah menggunakan nya dengan baik. Sekarang aku sudah bahagia dengan laki-laki yang saat ini menjadi suamiku juga ayah dari anakku"


"Aku tegaskan sekali lagi. Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Kita hanyalah sebuah masa lalu yang sampai kapan pun tidak akan pernah terulang kembali"


"Aku sangat sangat membencimu, Aku mohon, Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depan mataku" Ucap Nara dengan penuh kebencian


Dulu Nara memang sangat mencintai Nathan. Karna cintanya yang terlalu besar hingga membuat Nara rela memberikan kehormatan yang dia miliki untuk Nathan.


Wajah tampan yang dimiliki oleh Nathan sudah berhasil membuat Nara terbuai. Apalagi semua perhatian serta cinta uang dulu sudah Nathan berikan langsung mampu meluluhkan hati Nara.


Karna rasa cinta yang Nara miliki begitu besar, Wanita itu rela menyerahkan mahkota yang selama ini dia jaga buat laki-laki yang dia pikir juga mencintainya. Tapi ternyata Nara salah! Karna rasa cinta Nathan tidak sebesar rasa yang dia miliki untuk pria itu.


Saat itu, Nathan tiba-tiba menghilang setelah Nara mengatakan jika dirinya hamil dan minta pertanggung jawaban atas apa yang sudah Nathan perbuat.


Karna ulah Nathan, Abraham serta Aminah harus menanggung rasa malu karna kehamilan Nara yang tanpa adanya sosok suami.


Semua perkataan orang-orang saat itu berhasil membuat jiwa Nara terguncang hingga membuatnya harus hidup di dalam rumah sakit jiwa untuk beberapa bulan.


"Maafkan aku Nara. Aku tau, Aku memang benar-benar salah. Tapi mau bagaimanapun, Dania masih putriku, Darah daging ku" Ucap Nathan sendu


"Jangan pernah mengakui jika anakku adalah putrimu. Aku tidak sudi dia memiliki ayah yang tidak bertanggung jawab sepertimu Nathan. Bagi Dania, Ayahnya hanyalah mas Andra, Selamanya!" Ucap Nara dan langsung turun dari taksi itu


Nathan tak lagi bisa berkata apa-apa. Pria itu memandang punggung Nara dengan penuh rasa penyesalan. Apa yang sudah Nara katakan memang benar adanya, Dirinya tidak pantas untuk di katakan sebagai ayah dari Dania.


Setelah turun dari taksi. Nara mencari tempat duduk yang sepi. Wanita itu sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sesak di dadanya. Rasa sakit dan luka yang sudah hampir terkubur, Sekarang harus terbuka lagi karna kehadiran Nathan.


Nara memandang wajah damai putrinya yang masih tertidur lelap. Kedua matanya sudah di penuhi dengan butiran bening yang langsung berhasil lolos begitu saja.


Wajah Dania memang begitu mirip dengan Nathan. Dan terkadang hal itu membuat Nara sering menangis dalam diam.


"Kamu bukan luka sayang. Kamu adalah anugrah. Maafkan mama yang terkadang terlintas menyesali kehadiran kamu. Kenapa wajah kamu harus mirip dengan laki-laki tidak tau diri itu. Mama tidak terima Dania, Mama yang berjuang sendiri. Tapi kenapa yang ada dalam diri kamu hanyalah dominan dari Nathan!" Ucap Nara di sela isak tangisnya


Di Aussie


Sifa yang mendengar jika Mala sedang kritis di rumah sakit langsung datang ke rumah sakit itu. Wanita itu berjalan dengan langkah lebar tanpa melihat ke arah sekitar.


Tanpa Sifa sadari, Ternyata juga ada seseorang yang sedang berjalan cepat dari arah berlawanan. Hingga tubuh mereka bertabrakan dan membuat tubuh Sifa sedikit oleng. Karna pria itu juga berjalan tanpa melihat ke depan, Pandangannya masih fokus pada gambar seseorang yang ada di ponselnya.


Tangan kekar Wilson dengan cepat menahan tubuh Sifa sehingga wanita itu tidak sampai terjatuh ke lantai. sedangkan ponselnya dia biarkan jatuh begitu saja.


Deg!


Jantung Wilson berdetak begitu cepat saat melihat siapa wanita yang saat ini ada dalam dekapannya. baru saja Wilson berharap ada sebuah keajaiban untuk mempertemukannya dengan wanita yang sudah membuat jalannya tidak fokus.


"Astaga. Ini beneran apa aku halusinasi. apa karna aku terlalu memikirkan Sifa sehingga membuat aku terbayang wajah wanita itu" Ucap Wilson dalam batinnya.


Pria itu mengerkab kan kedua untuk memastikan jika wanita yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Sifa. Entahlah, Akhir-akhir ini Wilson memang sering memikirkan Sifa dan selalu memperhatikan gambar Sifa yang dia ambil secara diam-diam saat makan malam waktu itu.


Wilson masih terdiam sambil mendekap Sifa hingga kedua manik mata mereka bertemu untuk beberapa saat. "Pak Wilson" Ucap Sifa lembut


"Astaga. sekarang bukan hanya wajahnya. bahkan suara Sifa terngiang jelas. Ini benar-benar tidak beres. aku sudah berhalusinasi tingkat tinggi. sepertinya setelah ini aku harus konsultasi dengan dokter" Ucap Wilson lagi dalam batinnya


"Pak Wilson" Panggil Sifa lagi


Mendengar suara Sifa membuat Wilson tersadar. Ternyata yang ada di hadapan matanya memang benar-benar Sifa. Wilson tidak sedang berhalusinasi. Apa iya Sifa benar-benar jodoh Wilson seperti yang beberapa saat dia katakan.


"K...kamu benar-benar Sifa?" Tanya Wilson memperjelas


"Iya pak Wilson saya Sifa. pak Wilson kenapa ada di rumah sakit ini juga?"


"Iya, Ayah saya sedang dirawat disini. Kalau kamu ngapain, Siapa yang sakit?


"Kak Mala. Dia baru saja mengalami kecelakaan, Dan sekarang kondisinya masih kritis"


"Apa!! Mala kritis?"Pekik Bima begitu terkejut


"Iya pak. Kak Mala kritis, Sedangkan kak Bima masih belum di temukan hingga saat ini"


"Apa!!'


Lagi-lagi Wilson di buat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Ada banyak hal yang ingin Wilson tanyakan. Tapi tiba-tiba Sifa mau mengambil ponsel Wilson yang terjatuh di lantai.


"Maaf pak Wilson. ponselnya jatuh" Ucap Sifa dan mau mengambil ponsel itu


Namun dengan cepat Wilson mengambil ponselnya saat baru menyadari jika di layar ponselnya saat ini masih menunjukkan gambar Sifa.


"Hampir saja Sifa yang akan mengambil ponsel ini. Gak bisa bayangin bagaimana jika sampai Sifa tau kalau selama ini Diam-diam aku menyimpan fotonya" Lagi-lagi Wilson bermonolog dalam batinnya sambil tersenyum kikuk ke arah Sifa


"Kalau begitu saya duluan ya pak Wilson" Ucap Sifa dan langsung berlalu dari hadapan Wilson


Setelah kepergian Sifa. Wilson kembali menatap layar ponselnya yang masih memperlihatkan gambar Sifa


"Untung saja tadi aku buru-buru ambil. Kalau tidak Sifa pasti akan tau kalau selama ini aku menyimpan fotonya dalam ponselku" Ucap Wilson


Tanpa terasa hati sudah semakin sore. Tapi sampai detik ini belum juga ada tanda-tanda keberadaan Bima di sepanjang sungai.


Sudah setiap sudut sungai tidak ada yang terlewat. Semua tim sar serta anggota black flower sudah menyusuri sungai tanpa ada yang terlewat. Namun mereka semua belum juga bisa menemukan dimana keberadaan Bima.


INI PART PANJANG. KARNA SEBENARNYA INI 2 BAB AKU JADIKAN SATU. NANTI MALAM UP BAB PANJANG LAGI. JANGAN PERNAH BOSEN BACA KARYA RECEH AKU YA KAK. TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA🙏🏻