Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Khawatir


Mendengar penuturan vino tentu saja membuat devan menjadi kepikiran, Apa mungkin itu adalah mala istrinya? Pertanyaan seperti itu tentu saja selalu terbesit dalam benaknya, Kalau memang iya, itu artinya devan harus menyusul ke negara itu,


" Aakkkkkggghhhh, kenapa hidupku jadi seperti ini" Teriak devan sambil mengacak rambutnya.


Perasaan devan semakin tak menentu, bahkan tidak ada kata yang bisa menjabarkan apa yang pria itu rasakan saat ini,


Vino keluar dari area apartemen, hari ini pria itu ada janji dengan wanita pujaan hatinya. yaitu mega aulia. Seorang gadis yang sudah berhasil mengambil hatinya sejak pandangan pertama.


" Selamat siang mega, maaf aku telat" ucap vino lembut pada seorang gadis cantik yang duduk sendiri di kursi sebuah cafe


" Iya vin silahkan duduk, aku juga baru sampek kok"


Vino duduk di depan kursi mega, pria itu memilih tempat duduk yang langsung menghadap ke arah wanita yang sudah berhasil memikat hatinya sejak beberapa bulan yang lalu.


Vino dan mega kenal lewat aplikasi dating. Sebenarnya pria itu sengaja ikut mendaftarkan diri di aplikasi itu. sejak mendengar bahwa mega punya keinginan untuk mencari jodoh dalam aplikasi dating,


Sebenarnya vino adalah kakak kandung dari sindy. tapi pria itu menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris utama pratama Corp. Pria itu jatuh hati pada mega sejak pertama kali melihatnya saat ikut sindy ke kediaman orang tuanya.


Saat itu Sindy dan mega ada tugas kuliah yang kebetulan di kelompokkan berdua. sedangkan mala satu kelompok dengan doni. Vino yang kebetulan sedang menginap di kediaman orang tuanya untuk menemani sindy, karna papa dan mama mereka sedang ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.


" Mau pesan apa?" tanya vino pada mega


" Aku jus alpukat aja"


" Makannya?"


" Nggak usah, lagi gak pengen makan" Jawab mega lembut


Mendengar jawaban mega, tentu saja membuat vino menautkan kedua alisnya, pria itu terkekeh kecil saat mendapat jawaban seperti itu. " Apa kamu makan kalau pas lagi pengen saja,hmmm?"


" Eh bukan seperti itu. maksudnya aku lagi gak laper" jawabnya sambil menunduk


" Oh oke"


Kemudian vino memanggil salah satu waiters untuk memesan sesuatu. seorang wanita datang menghampiri meja mereka.


" Iya mau pesan apa pak, bu?" ucapnya sopan


" Pesen jus alpukat dua sama kentang goreng, itu aja wes mbk,"


Pelayan ini mencatat pesanan vino, lalu berlalu dari hadapan mereka berdua, selama menunggu pesanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya. sesekali mega melirik ke arah vino hingga manik mata mereka bertemu untuk beberapa saat, namun dengan cepat mega memutus pandangan itu. tubuh mega berdesir saat tangan vino menggenggam tangannya.


" Aku mencintaimu mega" ucapnya lembut


Mendengar pernyataan dari vino entah kenapa jantung mega berdegup kencang, tubuhnya menegang. tangannya sudah di penuhi keringat dalam genggaman vino. belum sempat mega menjawab waiters yang tadi sudah kembali dengan membawa pesanan vino.


Di aussie mala sedang sibuk dengan urusan kuliahnya. sebab selain mengambil fakultas kedokteran, mala juga mengambil fakultas perbisnisan. wanita itu sudah benar-benar nekat akan ucapannya beberapa bulan yang lalu, bahwa akan mengambil kembali perusahaan almarhum papa dan mamanya.


" Akhirnya kelas terakhir selesai" gumamnya sambil merenggangkan otot tangannya.


" Mala, aku duluan ya, soalnya aku ada janji sama papa dan mamaku" ucap kania. wanita yang sudah menjadi teman mala selama kuliah di negara ini


" Iya kania, tidak masalah"


[ Hai honey. apak kabar. aku kangen banget sama kamu honey] pekik doni seperti biasa


[ hai mala. aku kangen banget sama kamu. kamu kapan pulang ke indonesia] timpal sindy


[ Aku juga kangen banget sama kalian. kalau soal pulang ke indonesia aku masih belum tau. mungkin 5 atau 6 tahun lagi] ucap mala sendu


[ kenapa lama sekali honey, itu waktu yang sangat lama]


[ Entahlah don. ada misi yang harus aku tuntaskan] ucap mala lagi. setelah mengatakan hal itu sambungan telfonnya terputus, Ternyata ponsel mala habis baterei. wanita itu terlalu sibuk dari pagi sampai lupa ngecas,


" Mereka siapa mala?" tanya kania yang masih berdiri di samping mala


" Mereka adalah sahabat aku di jakarta. kapan-kapan aku kenalin ya"


Langkah kaki seseorang mengalihkan perhatian dua wanita yang sedang mengobrol santai. Siapa lagi kalau bukan bima, sudah seperti biasa pria itu akan datang menjemput tiap jam empat sore. karna bima menunggu mala sudah lebih dari setengah jam, namun mala belum juga ada tanda-tanda keluar dari dalam kelasnya. di hubungi juga tidak bisa, akhirnya bima menghampiri kelas mala yang ada di lantai 8.


Pria itu menyilang kan tangan nya di dadanya. memperhatikan wanita yang sudah membuatnya khawatir ternyata sedang berbincang ria dengan salah satu temannya.


Melihat kedatangan bima. kania langsung pamit pada mala. sebab wanita itu sudah ada janji dengan kedua orang tuanya.


" Mala aku duluan ya" ucapnya sambil berlalu dari hadapan mala.


Setelah kepergian kania, bima mendekat ke arah mala. pria itu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. hal itu membuatnya semakin mempesona di mata setiap wanita.


" Kamu membuatku khawatir" ucapnya lembut


" Kenapa kamu menghawatirkan ku, kan aku lagi belajar," pekiknya


" Kamu tau ini jam berapa calon istri? setengah jam aku sudah menunggumu di parkiran"


" Benarkah? memangnya ini jam berapa?" tanya mala sambil membulatkan kedua matanya


" Jam 5 sore, sudah ayo pulang. aku mau kamu dandan yang cantik. nanti malam kita makan diluar dengan kedua orang tuaku"


" Baiklah," ucapnya santai. namun beberapa detik kemudian wanita itu bangkit dari duduknya setelah menyadari perkataan bima


" A....apa, makan sama kedua orang tua kamu,?" teriaknya kaget


" Iya calon istri, kenapa kaget gitu. kan cuma makan sama calon mertua, tenang saja papi sama mami gak galak kok, mereka gak bakal makam kamu, jadi tenang saja gak usah takut" pungkasnya santai


" Iya tapi aku takut mereka gak bisa nerima aku kalau tau aku hamil" lirihnya sendu


" Calon istriku tenang saja ya, mereka berdua sudah tau semuanya, bahkan mereka tidak pernah mempermasalahkan itu,"


Mala hanya diam tak menjawab apapun. mereka berdua sudah keluar dari kelas mala. saat sedang berjalan menuju parkiran tiba-tiba perut mala kram, wanita itu menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.


melihat itu tentu saja membuat bima khawatir. dengan cepat bima menggendong mala untuk segera sampai ke dalam mobilnya, banyak siswa yang mengikuti langkah bima dari belakang. ada yang membukakan pintu mobil pria itu,


" Bertahan mala, kita akan segera ke rumah sakit"