Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa kecewa Devan


Sesudah pamit pada semua orang di sana. Devan keluar dengan membawa sejuta rasa sakit yang amat dalam. Sebuah luka tak berdarah yang saat ini sedang Devan rasakan. tidak pernah menyangka jika pernikahan kontrak yang sudah dia lakukan sudah menghadirkan cinta yang begitu dalam.


"Selamat tinggal Mala, semoga kamu bisa selalu bahagia bersama dengan Bima. Laki-laki yang saat ini sudah sangat kamu cintai" Ucap Devan dalam batinnya.


"Aku rela melepaskan kamu, Bima adalah laki-laki yang tepat untuk menjadi tempat kamu bersandar. Sepertinya cinta Bima lebih besar dari pada rasa yang aku miliki"Batin Devan lagi sambil menoleh ke arah Mala yang saat ini juga sedang melihat ke arah nya.


"Maafkan aku mas. Bukan maksudku mau melukai hati mu, Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini.Tapi memang ini yang terbaik untuk kita berdua. Semoga kamu bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari pada aku. aku mohon lupakan semua tentang kita. Karna kamu sudah tergantikan oleh laki-laki yang selama ini sudah memberikan bahu ternyaman nya untuk ku bersandar" Mala bermonolog dalam batinnya


Setelah itu, Mala kembali menatap Bima dengan penuh sayang. Rasa yang Mala miliki ternyata sudah sejauh ini.


"Ayo makan lagi my boy. Setelah ini kamu minum obat ya" Ucap Mala lembut


"Iya sayang. Terima Kasih kamu sudah mau perhatian sama aku"Ucap Bima sambil tersenyum hangat


"Tidak perlu berterimakasih Bim. Ini sudah menjadi tugas ku sebagai seorang istri. Bahkan apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan semua perlakuan kamu, Lelakiku" Ucap Mala pada Bima


Sunder yang sejak tadi memperhatikan anak laki-laki nya juga ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini sedang Bima rasakan.


"Semoga kebahagiaan ini bertahan selamanya anakku" batinnya


Di saat semua orang sejak tadi memperhatikan Mala dan Bima. Lain dengan Wilson. Semenjak kedatangan Sifa, Pria itu hanya memfokuskan pandangannya pada wanita cantik berstatus dokter yang sudah berhasil mengambil hatinya.


"Benar-benar seperti bidadari tak bersayap" Ucap Wilson tanpa sadar di saat suasana ruangan itu hening.


Sedetik kemudian, Wilson menutup mulutnya setelah sadar apa yang baru saja dia katakan. Karna saat ini semua mata tertuju pada Wilson dengan penuh tanda tanya.


"Siapa yang bidadari tak bersayap?" Tanya Leon yang saat ini memang paling dekat dengan Wilson


"Sifa" Ucapnya lagi yang masih tanpa sadar.


Setelah mengatakan hal itu, Wilson membulatkan kedua matanya serta menutup mulu dengan kedua tangannya.


"Astaga apa yang baru saja aku katakan!" Ucap Wilson dalam batinnya


Sifa yang mendengar itu langsung menundukkan wajahnya yang sudah sangat merona. Ini pertama kalinya Sifa mendengar laki-laki menyebutnya sebagai bidadari tak bersayap.


"Kode keras ini" Ucap Bima yang sengaja mau menggoda Sifa


"Jika kamu mencintai Sifa. Om setuju kok nak. Iya kan Wi?" Ucap Sunder pada Wilson


"Aku apa kata Sifa saja kak. Jika Sifa mau sama Wilson. Lebih baik tidak perlu pacaran, Langsung nikah" Ucap Wijaya yang langsung membuat Wilson serta Sifa saling lirik.


"Lampu hijau itu Sifa. Lebih baik seperti itu. Enak langsung halal" Ucap Bima lagi


Setelah mendengar itu, Wilson mendekat ke arah Sifa. Pria itu memberanikan diri untuk mengatakan pada Sifa tentang apa yang di rasakan Wilson selama ini.


"Sifa, Aku memang mencintaimu. Apa kamu mau menikah dengan ku, Menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak ku" Ucap Wilson pada Sifa


Sifa yang bingung harus menjawab apa hanya bisa menoleh ke arah orang tuanya.


"Udah terima saja Sifa" Ucap Bima lagi


"Tapi apa yang membuat mu mencintai ku?"


"Aku tidak tau apa alasannya. Tapi yang pasti kamu sudah berhasil mengambil hatiku. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama kita Sifa. Kamu terlihat berbeda dengan yang lain" Ucap Wilson yang ingin meyakinkan Sifa.


"Ikuti apa kat hati mu Nak"


Mendengar ucapan sanga mama, Sifa terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya Sifa juga tidak bisa membohongi perasaanya, Sifa mengakui jika dia juga memiliki rasa yang sama seperti Wilson. Bahkan rasa itu lebih dalam dari pada rasa Sifa terhadap Rendi.


"A...aku juga mencintai mu Mas" Jawabnya yang berhasil membuat Wilson mengangkat kedua sudut bibirnya.


Sifa tak menjawab. Wanita itu hanya memberi anggukan pada Wilson.


Tidak pernah menyangka jika hari ini Wilson bisa mendapatkan hati Sifa juga restu orang tua Sifa. Apakah jalan cinta Sifa dan Wilson akan mulus.


Di jakarta


"Kalian siapa sih. Kenapa kalian mengurung ku di sini?" Tanya Nadia saat Alex mengurungnya di sebuah kamar


"Tidak perlu banyak tanya. Dia dan jangan ke mana-mana" Jawab Alex dingin dan langsung mengunci pintu kamar itu meninggalkan Nadia yang saat ini sedang menatap kedua bayi Mala.


"Dasar pria aneh" Ucap nya.


Nadia mendekat serta mengambil salah satu anak itu. Melihat mereka membuat Nadia teringat kepada bayi yang beberapa hari yang lalu Nadia lahir kan.


Nadia meneteskan air matanya saat mengingat jalan hidup yang sudah dia lalui. Jalan hidup yang tak pernah Nadia bayangkan sebelumnya.


Nadia melahirkan seorang anak dari Andika Sanjaya. Laki-laki yang sudah membuat hidup Nadia hancur seperti saat ini. Orang yang sudah membuat Bima celaka.


"Aku sangat membenci ku Andika. Gara-gara kamu, Aku kehilangan semuanya. Ayah ku, Ibuku, anakku. Semua pergi karna dirimu. Akan aku pastikan, Suatu saat nanti aku akan kembali untuk membalaskan apa yang sudah kamu perbuat" Ucap Nadia dengan penuh kebencian.


Di tempat Lain


"Eh Sindy. Kamu sudah dengar belom kabar tentang Mala?" Tanya Doni pada Sindy.


"Belum Don. Memangnya ada apa dengan Mala?"


"Serius lo belum tau. Kudet banget sih"


"Enak aja bikang gue kudet. Memangnya ada apa dengan Mala?"


"Gak tau juga sih. Ini gue juga lagi nunggu Mega buat cerita. Kayaknya dia tau semuanya deh"


"Gue gampar juga lo. Bilang gue kudet taunya dirinya sendiri juga gak tau apa-apa"


"Ya kan gue cuma ngasih info doang"


"Terserah lo aja deh Don"





Tanpa terasa hari sudah berganti. Hari ini Devan akan datang ke tempat di mana Alex sudah mengamankan Nadia. Pria itu berjalan cepat saat sudah tiba di alamat yang sudah di sherlock oleh Alex sebelumnya.


"Selamat pagi pak"


"Dimana wanita itu?" Tanya Devan langsung


"Dia ada di kamar pak" Jawab Alex pelan


Setelah mendengar itu. Devan langsung berjalan ke arah kamar yang di tunjuk oleh Alex. Rasanya Devan ingin cepat-cepat sampai di kamar itu, Tapi gak tau kenapa langkahnya terasa begitu berat.


Ketika sudah tiba di sana. Devan meminta Alex untuk membuka pintu kamar itu, Saat pintu kamar terbuka lebar, Devan bisa melihat kedua bayi mungil sedang bermain dan tertawa di dalam kamar itu.


Devan mendekat dan menatap lekat Langit dan Bintang. Betapa kecewanya Devan saat melihat wajah kedua anak itu begitu mirip dengan Bima.


"Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Bima. Apa mereka memang benar-benar anak kandung Bima" Ucap Devan pelan