Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Masih sangat mencintai


"Ini hasilnya Van" Ucap Nadia dengan sedikit ragu-ragu untuk memberikan hasil tes itu pada Devan


Melihat amplop coklat itu membuat jantung Devan bertalu. Devan merasa sangat takut untuk sekedar membuka amplop itu.


"Semoga hasilnya cocok" Ucap Devan dalam batinnya


Cukup lama Devan hanya memandang amplop coklat itu. Rasa takut sudah sejak tadi Devan rasakan. Bagaimana reaksi nya setelah melihat hasil tes DNA yang ternyata sudah Sifa tukar sampelnya.


Dengan hati yang berat, Akhirnya Devan membuka amplop itu dengan sangat pelan. Hatinya terus bertalu. Seketika detak jantungnya seakan berhenti berdetak, Dunianya seakan berhenti berputar, Kakinya terasa sangat lemas setelah hasil tes itu sudah bisa dia lihat.


Melihat hasil itu. Dada Devan terasa sangat sedak. Tak berselang lama, Butiran bening itu berhasil lolos dan membasahi kedua pipi putihnya.


"Tidak mungkin!" Ucapnya yang terdengar begitu lirih


Tak lama kemudian. Devan terduduk lemas dengan pandangan yang sudah berkaca-kaca. "Ini benar-benar tidak mungkin. Padahal aku sudah sangat yakin jika mereka berdua adalah darah dagingku" Ucap Devan lirih


Nadia yang melihat Devan begitu shock serta terpukul membuat Wanita itu mendekat dan langsung memeluk tubuh Devan serta membelai lembut punggungnya.


"Aku tau bagaimana perasaan mu Van. Kamu pasti merasa sangat kecewa. Tapi apa kamu lupa dengan perkataan ku hari itu, Di lihat dari wajahnya saja sudah terlihat jelas jika mereka adalah anak-anak Bima" Ucap Nadia sambil membelai lembut punggung Devan


Devan yang mendengar itu hanya bisa diam. Ternyata apa yang katakan Nadia memang benar. Tapi Devan yang terlalu percaya diri sudah memutuskan harapannya sendiri.


"Kenapa ini bisa terjadi. Kenapa aku harus merasa ada ikatan batin dengan mereka berdua" Ucapnya pilu


"Sudahlah Van. Hanya ikatan batin tidak akan membuktikan jika mereka adalah anak kamu"


"Padahal aku sudah memiliki harapan bersama dengan mereka"


"Sudah, Aku tau kenyataan ini sangat berat. Tapi mau bagaimanapun, Ini adalah kebenarannya Van. Jangan terus-terusan berharap akan hal yang tidak mungkin" Ucap Nadia yang terdengar begitu lembut.


"Karna jika di lihat dari wajahnya saja sudah terlihat jika kedua anak itu adalah anak dari Bima" Ucap Nadia lagi


Entah kenapa, Devan terdiam dengan perkataan Nadia. Pria itu semakin terisak dalam dekapan Nadia. Dekapan yang sudah baru dua kali Devan rasakan.


"Tolong bawa aku ke pantai Nadia. Aku ingin membuang kesedihanku di sana." Ucap Devan tiba-tiba


Mendengar perkataan Devan membuat Nadia melepaskan pelukannya sambil menatap raut wajah Devan yang terlihat begitu pilu.


"Baiklah. Tapi apakah kamu masih ingin membunuhku?" Tanya Nadia ragu-ragu


"Kalau kamu masih mau aku bunuh. Maka bersiaplah akan aku lakukan nanti setelah tiba di pantai" Ucap Devan dingin


Glekkk


Nadia menatap Devan dengan perasaan yang sangat takut serta was was. Wanita itu merasa jika saat ini Devan sedang serius dengan apa yang baru saja Devan katakan.


"K..kamu s..serius Van?"


"Kalau kamu masih banyak ngomong. Aku bunuh sekarang"


Nadia menatap ngeri ke arah Devan yang saat ini tidak menampakkan senyuman sama sekali. Wajah Devan datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Kita pergi sekarang" Ujar Devan dingin dan langsung menarik tangan Nadia


****


"Sayang, Hari ini kita mau kemana?" Tanya Bima lembut pada Mala yang tengah sibuk mengurus kedua anak mereka


"Aku ikut apa kata kamu saja my boy. Yang penting kita harus liburan"


"Pantai? Ide yang bagus. Kita ajak Sifa sama Leon juga bagaimana?"


"Boleh sayang. Rame-rame kan enak. Aku kasih tau mereka dulu ya"


Setelah itu. Bima keluar dari dalam kamarnya. Pria itu menemui Leon dan Sifa yang sama-sama sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mereka berdua sama-sama mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa terlihat bahagia seperti itu?" Tanya Bima yang begitu penasaran


"Kepo" Jawab Leon sambil terus memainkan ponselnya


"Hari ini aku dan Mala akan pergi liburan ke pantai. Apa kalian berdua mau ikut?" Tanya Bima pada Sifa dan Leon.


Sifa dan Leon yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Bima yang saat ini sedang berdiri di hadapan mereka.


"Mau mau. Aku mau ikut kak. Sudah lama juga aku tidak Healing. Nanti aku akan mengajak Wilson biar makin rame" Ucap Sifa yang terlihat sangat bahagia


"Ya sudah. Kalau begitu aku juga akan mengajak Rania. Besok kan hari minggu, Dia libur sekolah"


"Wanita incaran kamu masih sekolah Leon?"


"Iya, Kenapa memangnya?"


"Masih bocil dong"


"Ya kenapa memangnya. Asal kamu tau ya Van. Dia itu seperti bidadari tak bersayap yang pernah aku temui" Ucap Leon sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Sama Mala lebih cantik siapa?"


"Ya tentu saja Mala si calon istri masa depanku lah Van"


Leon menundukkan wajahnya saat Bima memberikan tatapan tajam pada Leon. Hal itu juga tentu saja membuat Leon ingin tertawa, Sepertinya Bima sudah benar-benar mencintai Leon


"Kak, Aku sudah mengajak Wilson. Sebentar lagi dia akan datang kesini"


"Wiihh, Gerak cepat kamu Sifa. Aku tidak boleh kalah, Masa iya aku mau jadi nyamuk. Aku juga harus mengajak Rania"


Di Tempat Lain


Setiap hari, Rani terus saja memperhatikan Adelia yang semakin hari semakin tidak memiliki semangat hidup. Wanita itu juga terlihat semakin kurus. Tidak ada hari tanpa memikirkan anaknya yang dia pikir sudah meninggal.


"Aagggggrh. Kenapa hidupku jadi seperti ini" Ucap Adelia sambil meneteskan air matanya


"Kenapa hidupku harus berakhir dengan sangat menyedihkan, Hikss...hiks ..Apa salah jika aku masih ingin bahagia, Aku menyesal sudah melakukan semua itu" Ucap Adelia yang terdengar begitu lirih


"Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Hidupku sudah tidak berarti lagi. Aku hidup dalam kegelapan. Jadi lebih baik aku mati saja" Ucap Adelia dan bersiap untuk menusuk perutnya sendiri dengan pisau yang ada di tangannya.


Namun. Apa yang Adelia lakukan terhenti karna ada seseorang yang dengan cepat mengambil alih pisau itu serta langsung memeluk tubuh Adelia begitu erat.


Adelia yang merasa ada tangan yang melingkar di perutnya terlihat sangat marah. Karna orang itu sudah menghalanginya untuk mengakhiri hidup yang menurutnya tidak adil.


"Siapa kamu? Kenapa kamu harus menghalangi aku untuk bunuh diri. lepaskan, Aku sudah lelah dengan hidup ini" Ucap Adelia di sela isak tangisnya.


Rendi masih diam tak bersuara. Pria itu hanya terus memeluk tubuh Adelia begitu erat. Sudah sangat lama Rendi ingin memeluk tubuh ini.


"Jangan seperti ini, Aku masih sangat mencintaimu" Ucap Rendi yang terdengar begitu lembut