Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Pov Devan dan Bima


"Kenapa wajah mereka begitu mirip dengan Bima, Apa memang mereka adalah anak kandung Bima" Ucap Devan yang terdengar begitu lirih


Saat melihat raut wajah kedua anak itu membuat Devan merasa sangat kecewa. Rasa bahagia yang sudah sempat dia rasakan menjadi luntur saat ini juga.


Pov Devan


Betapa kecewanya saat melihat kedua bayi yang aku pikir adalah darah dagingku, malah memiliki wajah yang sangat mirip dengan sosok laki-laki yang sudah mengambil cinta wanitaku. Wanita yang hingga saat ini masih begitu aku cintai.


Jika di tanya apakah aku terluka? Itu sudah pasti jawabannya iya. Bahkan luka tak berdarah ini sudah membuat aku merasa sangat tidak berarti lagi.


Bagaimana caranya agar aku bisa berpaling pada wanita lain? bagaimana caranya agar perasaan ini hilang dari dalam hatiku? Apa karna rasa cintaku sudah sedalam itu, Makanya aku begitu susah untuk sekedar melupakan.


Pernikahan kontrak itu sudah membuatku menjadi seperti laki-laki bodoh yang tidak laku. Padahal masih begitu banyak wanita cantik yang ingin menjadi istriku, Menjadi sosok terdekatku. Bahkan ada yang jauh lebih dari pada Mala.


Tapi kenapa rasanya begitu sulit melupakan sosok itu. Dia sudah benar-benar menjadi ratu dan pemilik hati ini. Lagi-lagi relung hatiku terasa begitu pedih saat teringat ketika dia mengatakan cinta pada pria lain, Pria yang sudah berstatus sebagai suaminya. Saudara sepupuku sendiri, Albima.


Bagaimana caranya agar rasa ini hilang? Aku benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan rasa yang sudah terabaikan. Rasanya begitu sakit dan pedih.


"Apa aku terlalu berharap jika mereka adalah anak-anakku" Ucapnya sambil terus memandang wajah kedua anak itu.


"Siapa kamu?'Suara itu membuat Devan membalikkan tubuhnya melihat ke arah Nadia


"Jadi kamu yang sudah membawa mereka kesini?" Tanya Devan balik


"Kamu siapa? Tidak perlu ikut campur" Ucap Nadia lagi pada Devan


"Untuk apa kamu membawa mereka?" Tanya Devan yang tidak menghiraukan pertanyaan Nadia


"Jawab! Atau kamu mau aku laporkan ke kantor polisi" Ucap Devan dingin.


"Laporkan saja. Toh hidup ku sudah tidak ada gunanya lagi, Aku sudah kehilangan semuanya" Ucap Nadia sendu sambil menjatuhkan air matanya


"Maafkan aku yang sudah membawanya, Ini semua hanya karna obsesi yang aku miliki pada Bima. Aku membawa anak-anaknya karna wajah mereka begitu mirip dengan Bima" Terang Nadia


"Apa kamu mencintai Bima?"


"Begitulah"


"Aku benar-benar minta maaf. Kalau kamu memang mau melaporkan aku ke kantor polisi, Silahkan saja. Aku sudah lelah dengan hidup ini" Ucap Nadia


Wanita itu semakin terisak saat mengingat apa saja yang sudah Nadia lewati selama ini. Kehidupannya benar-benar hancur setelah pertemuannya dengan Andika Sanjaya.


Seorang pengusaha muda yang sudah menjanjikan kemewahan kepada Nadia yang saat itu kehilangan harta kekayaan kedua orang tuanya.


Bodohnya, Nadia yang sudah terbiasa hidup mewah langsung mengiyakan apa yang sudah Andika katakan.


"Aku tidak akan melaporkan mu ke kantor polisi. Asal kamu mau membantu untuk melakukan tes DNA pada anak ini" Gumam Devan dan membuat Nadia mengerutkan keningnya


"Apa maksudmu, Untuk apa kamu mau melakukan tes DNA pada anak orang? Sangat tidak masuk akal"


"Turuti saja apa perintahku. Atau kamu mau aku laporkan ke kantor polisi"


"Baiklah, Tapi ini tidak gratis. Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku"


"Bantu aku membalaskan dendam rasa sakit hatiku pada seseorang"


Devan mengangkat sebelah alisnya saat mendengar perkataan Nadia."Bisa di atur, Asal kamu mau membantuku melakukan tes DNA pada kedua anak ini"


"Baiklah, Deal" Ucap Nadia sambil melihat ke arah Devan


"Kapan kita akan melakukan tes DNA?"


"Lebih cepat lebih baik" Jawab Devan dan langsung keluar dari dalam kamar itu. Namun sebelum keluar, Devan masih mengatakan sesuatu pada Nadia yang sudah tersenyum senang. Akhirnya ada seseorang yang mau membantunya membalaskan rasa sakit itu terhadap Andik sanjaya.


"Jangan pernah mencoba untuk keluar dari tempat ini, Atau kamu akan tau akibatnya"


"Kau tidak perlu khawatir, Sepertinya tempat ini cukup aman untukku bersembunyi"


Di Aussie


Pov Albima


Bima memperhatikan Mala yang saat ini sedang menyiapkan obat untuknya. Pria itu selalu mengangkat kedua sudut bibirnya saat mengingat perkataan Mala saat itu. Sebuah ungkapan yang sudah terekam jelas pada ingatan Bima.


Jika di tanya bahagia? Jawabannya sudah pasti sangat. Aku sangat bahagia ketika istriku mengatakan jika tidak bisa hidup tanpa ku. Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya di cintai oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidup ini.


Rasa bahagia yang selama ini belum pernah aku rasakan! betapa bahagianya saat aku membuka kedua mataku dan mendengar sebuah kejutan yang sudah sekian lama aku nantikan.


Sebuah pengakuan cinta dari wanita yang sangat aku sayangi. Wanita yang sudah menjadi separuh duniaku. Wanita yang sudah membuatku merasakan kembali getaran yang sudah sangat lama tidak aku rasakan.


Ternyata memang benar apa yang sudah di katakan para pepatah. Jangan pernah menyerah untuk hal yang ingin kamu miliki. Karna seorang wanita bisa luluh jika selalu di berikan perhatian serta cinta yang begitu besar.


Terkadang aku sedih saat mengingat akan penyakit yang saat ini aku derita. Bagaimana jika waktu memanggilku? Bagaimana jika aku sudah benar-benar harus pergi untuk selamanya.


Aku mulai takut akan hal itu. Bukan takut akan sebuah kematian, Tapi aku belum siap untuk meninggalkan sosok yang selama ini ingin selalu aku bahagiakan.


Bagaimana jika hal itu sampai terjadi? Seandainya saja ada sebuah keajaiban yang membuat hidupku bertahan lebih lama lagi. Aku ingin selalu membuat istriku bahagia.


Aku terluka saat melihat wanita ku menjatuhkan air mata berharga itu, Apalagi setelah kehilangan Langit dan Bintang. Kedua bayi kembar yang dia lahir kan beberapa hari yang lalu.


Aku berjanji akan memberikan pelajaran kepada siapapun yang sudah membawa mereka pergi dan membuat wanita ku menjatuhkan berlian berharganya.


Aku tidak ingin lagi melihat ada air mata yang membasahi kedua pipinya. Air mata itu terlalu berharga untuk ku.


Ketakutan terbesar ku adalah, Waktu. Aku takut waktu membawaku pergi jauh dan tidak bisa menyediakan bahuku untuknya bersandar.


Namun sebelum kepergian ku, Aku ingin menyiapkan sosok pengganti yang juga bisa menyayangi Mala seperti aku menyayangi istriku. Bahkan, Kalau bisa lebih dari pada apa yang sudah aku lakukan untuk nya.


Sempat terbesit dalam benak ku untuk mengembalikan istriku pada mantan suaminya, Laki-laki yang sudah pasti juga mencintai Mala sama sepertiku. Siapa lagi kalau bukan Saudara sepupuku, Kak Devan.


"My boy, Kamu makan dan minum obat dulu ya, Aku sudah sangat merindukan kamu yang selalu memberikan aku sebuah kejutan" Suara itu membuat ku tersadar, Jika saat ini aku harus memanfaatkan sisa waktu yang aku miliki.


Aku tersenyum hangat padanya,"Iya sayang. Aku akan segera sembuh untuk mu, Setelah itu kita akan mencari langit dan Bintang ya" Jawabku sambil menatap kedua sorot matanya yang terlihat begitu sendu.


"Jangan sedih sayang. Anak kita akan segera kembali. Aku berjanji akan membawa mereka untuk mu" Ucap ku sambil membawa Mala dalam dekapanku