
Setelah cukup puas menghabiskan waktu di taman rumah sakit, Sifa membawa Mala kembali ke ruangannya. Sifa kembali melakukan pemeriksaan pada Mala dan melihat kondisi luka yang di sebabkan oleh Andika.
"Bagaimana, Sif. Apa aku sudah boleh pulang? Aku tidak betah ada disini, pengen pulang. Kangen sama Langit dan Bintang" ujar Mala sambil menatap pada Sida yang sedang memeriksa keadaanya.
"Sepertinya luka kak Mala sudah membaik. Baiklah, sore ini kak Mala sudah boleh pulang. Tapi jangan lupa harus rutin minum obat yang akan aku berikan. Kakak tunggu disini ya, biar aku resep kan obat sekalian menebusnya" Sifa melangkah pergi meninggalkan Mala.
Di saat Mala masih menunggu Sifa buat menebus obat untuknya, tiba-tiba saja Wilson datang dan menemuinya di ruangan itu.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" ujar Wilson sembari mendekat pada Malam
"Menurut Sifa sore ini aku sudah boleh pulang. Apa kamu kamu menjemput Sifa?" Selaman Sifa memang bermalam di rumah sakit. Selain jadwal tugas untuk berjaga, Sifa juga diminta oleh Bima untuk menemani Mala.
Wilson menggeleng, Karna memang kedatangannya ke rumah sakit bukan untuk menemui Sifa apalagi menjemputnya. Hanya saja Wilson ingin menemui Mala dan membicarakan soal Devan.
Entah kenapa saat melihat raut wajah sendu Devan hari itu membuat Wilson merasa sangat iba. Sebagai sahabat lama lama dia tentu saja ingin tau sebenarnya hati Mala saat ini untuk siapa. Tidak ada maksud lain, Karna untuk saat ini Wilson sudah benar-benar bisa move on dari Mala semenjak bertemu dengan Sifa yang sudah bisa mengambil hatinya sejak beberapa Minggu yang lalu.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu?" tanya Mala saat Wilson menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" gumamnya yang masih terus menatap Mala.
Mala sedikit mengerutkan keningnya"Tanya sesuatu? Tentang apa?" balasnya pelan.
"Tentang perasaanmu terhadap Devan"
Entah kenapa saat mendengar nama Devan jantung Mala berdetak cepat, ada sebuah getaran yang Mala sendiri tidak bisa memahaminya.
Hening.... Sejenak ruangan itu hening karna Mala diam tak langsung menjawab pertanyaan yang baru saja Wilson lontarkan untuknya."Kenapa kamu diam?" Wilson masih menatap wajah wanita itu.
Dari ini Wilson sudah bisa mengartikan jika sebenarnya Mala masih menyimpan rasa akan Devan. kedua matanya sama sekali tidak bisa membohongi perasaan yang masih tersisa untuk Devan.
"Apa yang kamu tanyakan! Sudah jelas-jelas aku tidak ada rasa lagi untuk mas Devan. tentu saja untuk saat ini aku sudah mencintai Bima, suamiku. Sosok yang selalu mengorbankan hidup dan matinya untuk ku" balas Mala sambil memalingkan wajahnya ke lain arah..
"Benarkah? Tapi kedua matamu berkata sebaliknya, Mala. Kamu masih ada rasa sama Devan kan?" Wilson kembali mengulangi perkataannya.
"Sekali aku bilang tidak ya tidak. Lagian apa urusannya denganmu, Lebih baik kamu urus perasaanmu sendiri, dan aku ingatkan, tidak usah ingin tau tentang perasaanku, Wilson. Karna aku tidak mau Bima sampai mendengar apa yang kamu tanyakan hari ini"
Wilson diam tak lagi bertanya, cukup paham dengan apa yang baru saja Mala katakan padanya. Mungkin memang benar tidak seharusnya Wilson menanyakan hal ini, Karna jika sampai Bima mendengarnya hal itu bisa membuat Bima salah paham.
"Maafkan aku, Bukan maksudku kepo dengan perasaanmu" ujar Wilson dan langsung keluar dari ruangan rawat Mala. Meninggalkannya yang sudah kembali teringat akan setiap kenangan bersama dengan Devan.
Bohong jika rasa Mala terhadap Devan sudah benar-benar hilang, Karna kenyataan yang sebenarnya rasa itu masih tersisa. Biarpun selama ini Mala sudah berusaha membuang semua sisa rasa yang hingga detik ini dia simpan untuk mantan suaminya.
"Kamu memang benar, Wil. Sebenarnya hingga detik ini aku masih mencintai mas Devan. Entah kenapa melupakannya tak semudah yang aku pikirkan. padahal Bima lebih segala-galanya dari pada mas Devan." Mala memejamkan kedua matanya sejenak lalu mengambil nafas dan membuangnya kasar.
Setiap momen manis yang pernah mereka lali di masa lalu berhasil melintas begitu saja, membuat Mala mengusap dada kirinya yang terasa berdenyut nyeri. "Aku merindukan semua itu, Tapi ini tidak boleh. Ini hal yang tidak boleh aku rasakan" ujar Mala pada dirinya sendiri.