
"Maafkan aku yang masih memiliki sisa rasa ini Bim" Batinnya sambil menatap Bima yang terlihat benar-benar tulus mencintainya
Merasa sangat bersalah atas rasa yang masih tertinggal dalam relung hatinya yang paling dalam. Mala tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Rasa itu masih sedikit tersisa untuk Devan.
Mala terus menatap raut wajah Bima yang masih menunjukkan senyuman termanisnya. Senyuman paling pulus yang selalu Bima berikan.
"Kamu makan ya sayang. Biar aku suapi" Ujarnya lembut sambil membuka kotak nasi yang sudah Bima belikan untuk Mala
"Tidak perlu seperti itu my boy, Aku bisa makan sendiri"
"Tidak menerima penolakan sayang. Ayo buka mulutnya sayang. Aku suapi kamu ya"
Akhirnya Mala tak lagi membantah. Mala menuruti perkataan Bima dan membuka mulutnya. "Aaaaa" Ucap Bima sambil menyuapi Mala
Mala tersenyum sambil menerima suapan itu"Sini gantian, Kamu juga belum makan, Jadi biarkan aku juga suapi kamu ya" Ucap Mala pelan
"Tapi aku hanya beli satu sayang. Karna terlalu buru-buru sampai membuat aku lupa membeli makanan untuk diriku sendiri"
Memang begitulah Bima. Terkadang dia melupakan dirinya sendiri jika sudah berhubungan dengan Mala. Wanita yang sudah menjadi dunianya.
Mendengar itu membuat Mala menatap Bima sambil mengambil napas pelan. "Kebiasaan deh kamu itu my boy. Jangan terlalu prioritaskan aku, Karna kesehatan kamu juga penting" Ucap Mala sambil mengambil alih makanan di tangan Bima
"Karna memang kamu adalah hal yang harus selalu aku prioritaskan sayang. Kamu segalanya" Jawab Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Aku tau itu My boy. Tapi kamu juga harus ingat kesehatan kamu sendiri" Ucapnya
"Ayo buka mulutnya. Aaaa"
Bima tersenyum sambil membuka mulutnya saat Mala menyuapinya. Ini adalah pertama kalinya Bima merasakan di suapi oleh istrinya. Dan hal itu tentu saja membuat Bima selalu mengukir senyum. Senyum yang amat manis. Siapapun yang melihat itu pasti akan langsung terpana.
****
Tanpa terasa hari berlalu. Malam ini Mala menggendong Bintang yang tiba-tiba saja rewel. Entah apa penyebabnya Mala juga tidak paham.
Sudah berbagai cara Mala lakukan untuk mencoba menenangkan Bintang. Namun Bintang tetap saja tidak mau berhenti menangis.
Melihat Bintang seperti itu membuat Mala menjadi semakin panik. Terlebih lagi saat ini Mala sedang sendirian menjaga Bintang. Karna Bima masih pulang untuk mengambil barang-barang Mala dan juga melihat keadaan Langit yang mereka tinggal pada Sifa di rumah.
"Sayang, Kamu kenapa kok nangis terus. Mommy bingung harus melakukan apa?" Ucap Mala sambil terus menimang Bintang dengan cara yang biasanya Mala gunakan.
Biasanya, Cara yang Mala lakukan selalu bisa membuat Bintang tenang. Tapi tidak dengan malam ini. Entah kenapa Bintang semakin keras nangis nya.
Bahkan suara tangisan itu sampai terdengar ke luar ruangan Bintang dan membuat beberapa orang di sana datang dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.
"Kenapa anaknya bu. Kenapa nangis-nangis seperti itu?" Tanya seseorang pada Mala yang baru saja masuk
"Saya juga tidak tau bu. Anak saya tidak biasa nangis seperti ini. Saya bingung harus dengan cara apa lagi menenangkannya" Ucap Mala sambil terus mencoba menenangkan Bintang
"Sino bu, Biar saya coba tenangkan dia. Kebetulan saya adalah seorang baby siter" Ucap wanita itu
Tak pikir panjang, Mala memberikan Bintang pada orang itu. Sejenak Bintang memang langsung tenang. Tapi hal itu tidak bertahan lama. Karna beberapa saat kemudian, Bintang langsung kembali menangis sangat langsung
"Nangis lagi bu. Apa mungkin anak ibu merasakan ada yang sakit ya. Biar saya panggil kan dokter ya" Ucap Orang itu dan langsung membalikkan tubuhnya
Namun langkahnya terhenti saat melihat kedatang dokter Rendi di ruangan itu"Ada apa Mala?" Tanya Rendi pada Mala
"Saya juga tidak tau dokter Rendi. Tiba-tiba saja Bintang nangis seperti ini. Padahal tadi baik-baik saja. Tiba-tiba Bintang nangis dengan sangat keras. Jujur saya bingung harus melakukan apa dokter" Terang Mala pada dokter Rendi
Mendengar penjelasan Mala membuat Rendi mengambil stetoskop dan langsung memeriksa keadaan Bintang. Namun menurut Rendi semuanya baik-baik saja. Tapi apa yang sudah membuat Bintang menangis sampai seperti itu.
"Semuanya baik. Tapi kenapa Bintang bisa menangis seperti ini ya" Ucap Rendi sambil memperhatikan Bintang
"Apa mungkin dia haus. Atau popoknya basah?" Tebak Rendi
"Popoknya sudah saya ganti Dok. Susu juga Bintang sudah habis satu botol. Tapi tetap saja terus menangis seperti ini. Saya tidak tau harus melakukan apa lagi" Ucap Mala dengan wajah paniknya
Tak berselang lama. Ada seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan itu dan mengatakan sesuatu yang membuat Mala merasa bingung.
"Mbk. Sejak tadi saya mendengar anaknya nangis-nangis terus. Ini biasanya kalau orang dulu kata. Akan ada sesuatu hal buruk terjadi, Entah itu menimpa papanya atau mamanya. Tapi yang pasti anggota keluarganya" Terang ibu-ibu itu
Mendengar perkataannya membuat Mala terdiam beberapa saat. Masih mencoba mencerna kata-kata itu.
Sejenak Mala merasa takut dan khawatir dengan apa yang baru saja ibu-ibu itu katakan"Masa iya bu. Memang itu benar?" Tanya Mala yang memang belum pernah mendengar akan hal ini
"Iya mbk. Itu menurut kepercayaan orang jaman dulu. Saya saran kan agar mbk dan suami serta keluarganya hati-hati saja ya. Untuk sekedar menjaga-jaga jika yang tak di inginkan terjadi" Terang ibu itu dan langsung keluar dari sana
"Biar aku coba tenangkan Bintang ya. Akan aku lakukan seperti aku menenangkan Tania jika sedang menangis" Ujar Rendi sambil mengambil anak itu dari dekapan Mala.
Tanpa di sangka, Ternyata Bintang bisa tenang dalam dekapan Rendi. Anak itu akhirnya bisa tertidur dalam gendongan Rendi.
Melihat Bintang sudah tertidur, Mala bisa bernafas cukup lega. Akhirnya anaknya sudah bisa tenang dan tidur dalam dekapan dokter Rendi. .
Setelah memastikan Bintang benar-benar tertidur, Rendi menidurkan anak kecil itu di atas ranjangnya.
"Dia sudah tertidur, Jangan pikirkan apa yang baru saja ibu-ibu itu katakan. Itu hanyalah takhayul" Ujar Rendi dan langsung keluar dari sana
Setelah kepergian dokter Rendi. Mala duduk sambil menatap wajah Bintang yang sudah sangat lelap dalam tidurnya. "Sebenarnya apa yang mau kamu katakan sama mommy sayang. Jangan buat mommy takut ya nak" Ujar Mala sambil menggenggam tangan Bintang
Jemari-jemari kecil itu Mala tempelkan pada pipi kanannya. Merasakan kelembutan setiap ruas jemari milik Bintang. Mencoba menenangkan hatinya yang di penuhi rasa gelisah.
Mala memang takut. Benar-benar takut. Apalagi perkataan ibu itu terus terngiang jelas pada indra pendengarannya.
"Semoga tidak akan pernah ada hal buruk yang terjadi pada keluarga ku"Ucap Mala sambil menatap Bintang
Tak berselang lama, Ponsel Mala berdering. Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Andra. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Mala mengerutkan kecil keningnya.
Ada apa? Tumben kak Andra telpon. Pikirnya
Karna penasaran, Akhirnya Mala menjawab telpon itu. Telpon yang sudah berbunyi berkali-kali.
π:Halo kak. Ada apa? Tumben kak Andra telpon Mala?
Andra tak langsung menjawab. Pria itu masih terdiam beberapa saat. Tapi yang pasti Mala bisa mendengar suara bising di sana. Seperti suara isak tangis Nara.
π:Halo kak Andra. Kok kak ngomong. Kak Andra masih di sana kan?
π:Ayah dan Bunda meninggal dek
Mendengar itu membuat Mala terdiam sejenak. Mala masih mencoba mencerna perkataan itu. Andra pasti sedang bercanda. Atau ini hanyalah sebuah mimpi.
"Tidak. Ini hanya mimpi, Ayah sama bunda tidak mungkin meninggal" Ujar Mala dalam batinnya
π:Dek. Kamu dengar kakak kan?
π:Kak Andra tadi bilang apa? Kak Andra sedang bercanda kan?
π:Kaka tidak sedang bercanda dek. Ayah sama bunda meninggal karna kecelakaan saat menuju ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan yang kamu minta tadi sore
π:Apa!!
Setelah itu Mala langsung memutuskan sambungan telponnya. Mendadak pasokan oksigen sangat sulit untuk masuk pada rongga paru-parunya.
"Tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi buruk" Ucap Mala yang terdengar sangat lirih dengan tubuh yang sudah merosot ke lantai
"Apanya yang tidak mungkin sayang" Ucap Bim yang baru saja kembali
Melihat Mala seperti itu membuat Bima mempercepat langkahnya dan langsung mendekat pada Mala. "Ada apa sayang. Apa yang sedang terjadi. Kenapa kamu sampai nangis seperti ini?" Tanya Bima sambil membawa Mala dalam dekapannya
"Ayah dan bunda meninggal Bim" Ucapnya lirih
"Tolong katakan jika ini hanyalah mimpi buruk Bim. Tolong kamu katakan bahwa ini hanyalah mimpi buruk ku saja"Ucap Mala
Tak berselang lama. Air matanya meluruh dan membasahi kedua pipinya. Bima hanya terdiam karna tidak tau harus mengatakan apa Pria itu mengambil ponsel Bima dan melihat panggilan terakhir yang ternyata dari Andra.
Melihat nama Andra membuat Bima menelpon nomor itu kembali karna merasa penasaran dengan apa yang baru saja Mala katakan. Pada dering pertama, Ternyata Andra langsung menjawab telponnya.
π:Halo kak. Apa benar jika ayah dan bunda meninggal?
π:Iya Bim. Saat ini jenazah mereka sedang menuju rumah sakit BERLIAN untuk di jahit luka-lukanya. Karna kondisi mereka sangat memperihatinkan
π:Bagaimana ceritanya kak?
π:Nanti aku ceritakan. Tapi yang pasti, Mobil mereka tabrakan dengan mobil tronton
π:Inalillahi.
Setelah sambungan telponnya terputus, Bima kembali menatap Mala yang sudah sangat terisak. Berita ini tentu saja membuat Mala merasa sangat syok. Persis seperti apa yang dia alami 1 tahun yang lalu.
"Kenapa mimpi buruk ini harus terjadi lagi" Ucap Mala yang terdengar sangat lirih