Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Mengatakan pada Bima


Devan menatap langit-langit kamarnya. Mengusap dada kirinya yang berdenyut nyeri. Rasanya benar-benar sakit saat teringat akan perkataannya Bima.


Tanpa dia sadari, Jam ternyata sudah menunjukkan pukul 01:00 tengah malam. Itu artinya sudah lebih dari satu jam Devan hanya terdiam tanpa mau memejamkan kedua matanya.


Entah kenapa rasanya malam ini sangat sulit untuk tidur. Karna setiap kali Devan memejamkan kedua matanya. Bayangan Mala bersama Devan selalu muncul begitu saja.


Dan hal itu tentu saja mampu membuat Devan merasa hatinya sangat sakit "Kenapa harus sesakit ini" Ucap Devan dan bangun dari tempat tidurnya.


Pria itu keluar dari dalam kamarnya dan berdiri di balkon kamarnya. Menatap ribuan bintang yang terlihat sangat indah di atas sana. Hal itu mengingatkan Devan pada Mala. Wanita yang dulu selalu menghabiskan waktu bersamanya di apartemen ini.


"Seandainya waktu bisa aku putar kembali. Mungkin hari ini aku masih bisa merasakan kebahagiaan yang dulu selalu aku rasakan"


"Tapi sekarang semua hanyalah tinggal kenangan. Kenangan yang teramat susah untuk aku lupakan" Ucap Devan lagi


"Kenapa perasaanku harus sebesar ini Mala. Aku benar-benar mencintaimu" Ucap Devan lagi


Di Tempat Lain


Bima dan Mala sudah sampai di kediaman kakek Lustama. Saat ini Bima sedang membawakan Mala teh hangat dan juga sepiring nasi goreng. Karna memang Mala belum makan malam.


"Sayang" Panggil Bima sambil melangkah mendekat pada Mala


Mendengar suara itu membuat Mala menoleh kebelakang"Iya my boy" Jawabnya pelan


"Aku bawakan kamu teh jahe hangat sama nasi goreng. Kamu makan dulu ya, Kamu kan cuma makan tadi pagi"


Mala menggeleng"Aku gak laper my boy" Jawabnya pelan


"Sayang, Biarpun kamu tidak lapar. Tapi kamu harus tetap makan. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit sayang. Aku suapi ya"


"Tapi aku gak nafsu makan Bim"


"Sedikit aja sayang. Setidaknya biar perut kamu tidak kosong ya. Aku suapi. Ayo buka mulutnya" Ucap Bima dengan nada yang sangat lembut


Akhirnya Mala mengangguk. Wanita itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Bima. Nasi goreng yang Bima masak dengan tangannya sendiri.


"Beli nasi goreng di mana. Memangnya jam segini masih ada warung yang buka ya?"


"Siapa yang bilang beli sayang. Ini aku masak sendiri. Khas untuk istri tercintaku" Ucap Bima sambil menyuapi Mala.


"Memangnya kamu bisa masak?"


"Ya bisalah sayang. Apa pun bisa Bima lakukan. Suami kamu ini paket komplit yang bisa dalam segala hal" Ucap Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Kamu ada ada saja my boy"


"Kan bener sayang. Tampan? Iya. Pinter? Iya. Sukses? Juga iya. Pinter masak? Iya juga. Jadi aku adalah paket komplit buat kamu. Bagaimana rasanya masakan aku?"


"Iya deh. Kamu memang peket komplit terbaikku. Kalau soal rasa menurut aku ini ya lumayan lah" Jawab Mala sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Bima semakin mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat Mala tersenyum. Biarpun senyuman itu masih terlihat kaku, Tapi setidaknya Bima sudah bisa melihat senyuman yang sejak tadi sempat hilang dari raut wajah Mala.


"Gitu dong sayang senyum. Biar cantik nya gak hilang" Ucap Bima lembut pada Mala.


Setelah selesai makan. Bima meminta Mala untuk istirahat. Sedangkan Bima masih ingin memeriksa pekerjaannya lewat online. Namun, Saat Bima sudah keluar dari dalam kamar, Pria itu menerima sebuah panggilan masuk dari anggota black flowers yang tidak ikut ke indonesia.


Dtttttt Dtttttt Dttttt


Mendengar suara dering ponselnya membuat Bima langsung menjawab panggilan itu. Namun sebelum menjawab, Bima masih masuk ke dalam kamar tamu agar tidak ada satu orang pun yang bisa mendengar apa yang akan dia bicarakan dengan seseorang di ujung telpon.


πŸ“ž:Halo, Ada apa kamu telpon tengah malam seperti ini?


πŸ“ž:Mohon maaf tuan muda. Saya terpaksa menelpon anda tengah malam seperti ini. Saya hanya mau mengingatkan tuan muda untuk hati-hati di sana


πŸ“ž:Kenapa memangnya?


πŸ“ž:Karna anak Lendri dan juga Luis saat ini sedang ada di indonesia dan ingin melakukan balas dendam atas apa yang sudah terjadi kepada kedua orang tuanya


πŸ“ž:Benarkah? Seperti apa wajah anak kedua orang itu. Kirimkan fotonya


πŸ“ž:Baiklah. Terimakasih sudah memberitahu saya


Setelah itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu mengepalkan kuat kedua tangannya"Tidak akan aku biarkan kalian melakukan bakas dendam. Karna dalam masalah ini yang salah adalah orang tua kalian sendiri" Ujar Bima dan langsung keluar dari sana


Di saat Bima keluar dari kamar tamu. Tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Andre. Pria itu baru saja masuk ke dalam rumah kakek Lustama.


"Andre. Dari mana kamu? Kenapa belum tidur jam segini?" Tanya Bima pada Andre


"Tuan muda. Saya tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya" Ucapnya sambil menundukkan wajahnya


Mendengar itu membuat Bima mengerutkan keningnya"Apa yang sudah mengganggu pikiran kamu Andre?" Tanya Bima begitu penasaran


Sejenak Andre masih terdiam. Pria itu masih cukup bimbang akan hal yang selama ini dia ketahui. "Andre kenapa kamu diam saja?" Tanya Bima lagi


Andre mengangkat wajahnya sambil melirik ke kanan dan juga ke kiri"Ada apa dengan mu Andre? Kenapa terlihat gelisah seperti itu?" Tanya Bima lagi


"Bagaimana ya. Apa ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan siapa Reno sebenarnya pada Tuan Bima" Ucap Andre dalam batinnya


"Andre. Ada apa dengan kamu. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Tanya Bima lagi


"Mungkin memang ini adalah waktu yang tepat. Biar masalah ini tidak selalu mengganggu pikiranku" Ucap Andre sambil menatap Bima


"Ikut saya tuan. Ada hal penting yang mau saya katakan pada tuan muda. Ini sangat penting. Tapi saya tidak bisa bicara disini. Kita bicara di kamar tamu itu saja" Ucap Andre dan langsung masuk ke dalam kamar tamu yang tadi Bima gunakan untuk mengangkat telpon.


Bima tak menjawab. Pria itu hanya mengekor di belakang Andre masuk ke dalam kamar tamu. Setelah Bima sudah masuk ke dalam kamar itu, Andre langsung mengunci pintunya untuk menjaga-jaga takut ada yang masuk tiba-tiba.


"Ada apa Andre. Hal apa yang mau kamu katakan pada saya?" Tanya Bima sambil menatap Andre


Andre tak langsung menjawab. Pria itu masih menatap Bima dan mengambil nafas panjang sebelum mengatakan apa yang mengganggu pikirannya pada Bima.


"Ini soal Reno tuan"


Bima mengerutkan keningnya sambil mendekat pada Andre"Ada apa dengan Reno?" Tanya Bima pelan


Andre masih diam. Pria itu kembali meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakan semuanya pada Bima"Mungkin memang ini adalah waktu yang sangat tepat" Batinnya


"Reno sebenarnya adalah seorang penghianat yang sangat pandai menggunakan topeng di depan semua orang"


"Apa maksud kamu?. Saya tidak paham"


"Andre adalah anak dari Luis" .


Betapa terkejutnya Bima saat mendengar apa yang baru saja Andre katakan. "Jangan bercanda. Jangan mengada-ngada" Ucapnya yang masih belum percaya


"Saya tidak mengada-ngada tuan. Apa yang saya katakan memang benar adanya. Kemarin saya tidak sengaja melihat foto Reno bersama dengan seorang perempuan dan juga 2 pria paruh baya yang ternyata adalah Luis juga Lendri" Terang Andre


"Sebenarnya, Beberapa bulan yang lalu, Saya pernah memergoki Reno yang sedang menukar obat-obatan milik tuan dengan obat yang isinya adalah bubuk cabe"


"Apa!!"


"Tuan ingat kan, Saat tuan meminta saya mengambil berkas yang ketinggalan di apartemen. Saat itulah saya tidak sengaja melihat Reno menukar obat-obatan milik tuan. Dan setelah Reno keluar dari sana, Saya coba liat iso daro kapsul itu. Ternyata isinya adalah bubuk cabe"


"Tapi tuan tenang saja. Karna saya sudah menukar kembali semua obat-obat itu dengan yang asli. Selama ini saya selalu meminta seseorang membeli obat seperti punya tuan muda pada dokter Leon"


"Dan sejak saat itulah saya penasaran apa yang menjadi alasan Reno melakukan semua itu. Hingga pertanyaan itu terjawab saat kemarin di rumah sakit Reno menitipkan ponselnya pada saya. Saat itu saya membaca pesan yang kontaknya Reno kasih nama sepupu."


"Apa isi pesannya?"


"Isi pesannya. Orang itu menanyakan dimana tempat tinggal tuan di indonesia. Karna katanya sekarang dia sedang ada di jakarta"


"Tepat seperti apa yang Deri katakan tadi. Ternyata orang itu Reno. Jadi selama ini tanpa aku sadari sudah menyimpan ular di kandang ku" Ucap Bima sambil mengepalkan kuat kedua tangannya


"Tapi tuan Bima jangan pernah mengatakan jika tau dari saya ya"


"Kamu tenang saja. Untuk saat ini, Lebih baik kita bersikap seolah tidak tau apa-apa. Biarkan saja Reno mengira kita seperti orang bodoh"


"Pantas saja. Setiap kali ada Reno, Saya selalu ada dalam bahaya. Ternyata dia otaknya. Astaga, Selama tahun kenapa saya tidak menyadarinya" Ucap Bima sambil mengepalkan kedua tangannya